Senja menemui Karto di sebuah restoran sederhana. Ia menunggu kedatangan Karto sambil menyesap kopi yang dipesannya tadi.
" Maaf, Bapak kesiangan," sapa Karto saat tiba di hadapan Senja.
" Gapapa Pak. Senja masih punya waktu untuk Bapak," sahut Senja datar.
" Apa maksudmu, jangan bilang kamu mau ...."
" Iya Pak. Senja lelah, ayo kita sudahi semua ini," kata Senja santai.
" Bagaimana dengan Bayan ?, apa dia mengijinkanmu melakukan semuanya ?" tanya Karto.
" Aku udah bilang alasannya Pak. Mas Bayan mengerti kok. Ini juga buat Anak Kami. Aku ga mau dia mewarisi darah iblis ini," kata Senja sambil mengelus perutnya.
" Bapak ga bisa buat apa-apa. Tapi masih ada cara lain, Kamu masih bisa menyepi ke hutan seperti yang dilakukan ibumu dulu," kata Karto memberi solusi.
" Aku ga mau lari dan terus membiarkan iblis ini merajai tubuhku Pak," kata Senja tegas.
" Baiklah. Minggu depan purnama penuh. Bersiaplah," kata Karto sambil melangkah meninggalkan Senja dengan wajah penuh air mata.
Karto menangis karena ia tak bisa menyelamatkan istrinya dari pengaruh iblis dulu. Ternyata kini ia terjebak lagi dalam situasi yang sama. Karto mengusap matanya yang basah lalu berbalik menatap Senja yang masih duduk.
" Maafkan Bapak Nak," bisik Karto lemah.
\=\=\=\=\=
Malam itu purnama penuh kembali bertengger di langit, cahayanya yang berpendar indah tak membawa keindahan di hati Senja.
Senja memandangi tubuh suaminya yang tertidur lelap di sampingnya. Mereka baru saja bercinta melepaskan hasrat yang tertahan selama beberapa bulan ini.
Senja sengaja melanggar larangan bapaknya untuk tidak bercinta selama hamil. Tapi ia juga manusia biasa yang punya hasrat. Apalagi hormon kehamilannya yang terus mendesak dan memaksa untuk dituntaskan.
Sejak sore Senja sengaja merapat agar Bayan tertarik padanya. Sebagai laki-laki normal Bayan juga punya hasrat. Hanya karena kutukan itu ia harus susah payah menahan hasratnya untuk mencumbu sang istri. Apalagi penampilan Senja semakin menantang. Dengan bentuk tubuh yang membesar di beberapa bagian akibat kehamilannya, membuat Senja terlihat sangat menggai**hkan.
Akhirnya yang harus terjadi pun terjadi. Setelah selesai menunaikan sholat Isya, sekitar jam delapan malam, mereka pun bertemu untuk menuntaskan hasrat yang tertahan itu.
Keduanya saling memeluk dan tak ingin terpisah lagi. Sungguh kehidupan yang berat bagi mereka saat tinggal serumah tapi tak seranjang. Seolah itu hukuman berat yang mereka jalani tanpa tahu kapan berakhir.
" Aku mencintaimu, selalu...," bisik Bayan sebelum terlelap karena kelelahan.
" Aku juga mencintaimu, sangat...," kata Senja sambil mengecupi wajah suaminya yang tertidur.
Mereka menghabiskan malam seolah ini adalah malam terakhir bagi mereka. Berkali-kali Bayan dan Senja mengulangi penyatuan mereka. Hingga Senja mengeluh kelelahan, barulah Bayan berhenti.
Mereka saling menatap penuh cinta dengan nafas yang memburu.
Bayan menggeser tubuhnya dan kembali memeluk Senja hingga tertidur.
Kini Senja sudah rapi dan sedang menatapi suaminya yang masih terlelap. Ia mengecup lama bibir suaminya sebagai tanda perpisahan. Senja menangis lalu menutup pintu dan melangkah meninggalkan rumah Bayan, rumah yang penuh cinta itu.
\=\=\=\=\=
Senja tiba di peternakan, disana sudah ada Karto yang menunggunya.
Melihat kehadiran sang anak, Karto pun menyambutnya dengan pelukan.
" Menangislah ... Bapak tau ini berat buat Kamu. Maafkan Bapak Nak," rintih Karto.
" Sampaikan salam cinta dan rinduku untuk Mas Bayan. Pastikan kehidupannya baik-baik saja setelah Aku pergi. Bapak janji ya," pinta Senja diantara deru nafasnya yang memburu.
Karto mengangguk sedih lalu membiarkan Senja melangkah ke dalam rumah saat tubuhnya mulai terasa panas.
Saat mendebarkan itu terjadi lagi. Rasa panas dan sakit yang menyelimuti Senja membuatnya menggeram dan menggeliat. Lalu perlahan tubuh dan kepala Senja terpisah. Setelah lepas dari badannya, kepala tanpa tubuh itu melayang sejenak lalu melesat pergi mencari mangsa.
Dari tempat persembunyiannya Karto terus mengamati perubahan Senja. Tubuhnya bergetar karena tangis dan takut yang bercampur jadi satu.
Setelah kuyang itu pergi meninggalkan badannya, Karto mendekati tubuh tanpa kepala milik Senja dengan rasa takut yang membuncah. Ia memandangi sejenak leher yang berdarah dan tanpa kepala itu dengan perasaan berkecamuk. Sambil mengucap basmalah dan doa Karto pun mulai menaburkan pecahan kaca dan paku di atas luka yang menganga itu dengan perasaan hancur.
Setelah selesai menabur benda-benda kecil nan tajam itu Karto pun menjauh. Ia menangis karena tahu apa yang akan terjadi. Karto terus menangis sambil menunggu sang pemilik tubuh kembali.
\=\=\=\=\=
Sementara itu Bayan terbangun dengan perasaan puas dan gembira. Ia merasa senang bisa menuntaskan hasratnya bersama Senja. Masih dengan senyum di bibirnya, Bayan pun mencari istrinya di luar kamar. Bayan sempat mengira bahwa istrinya sudah tak terlalu memikirkan masalah kutukan itu dan bersedia menjalani hidup bersamanya seperti semula.
Namun Bayan mulai cemas karena tak menemukan Senja dimanapun. Ia bertanya pada penjaga rumah, dan akhirnya tahu bahwa Senja pergi meninggalkannya.
" Senjaaa..., Senjaaa...!!" teriak Bayan memanggil istrinya sambil berlari keluar rumah.
Bayan pun langsung melajukan mobilnya ke suatu tempat.
" Aku tau Kamu disana. Tunggu Aku sebentar. Please tolong jangan tinggalin Aku Sayang," celoteh Bayan tanpa henti.
Mobil Bayan berhenti di peternakan yang sepi. Ia turun lalu bergegas masuk ke dalam bangunan. Ia membuka pintu dengan kasar dan tak meihat apapun karena keadaan ruangan yang gelap gulita. Samar-samar Bayan mendengar isak tangis di sudut belakang pintu dan ia mengenali suara itu.
" Bapak..., dimana Senja ?" tanya Bayan.
Karto menghambur memeluk Bayan sambil menangis. Telunjuknya menunjuk ke suatu tempat. Bayan mengikuti arah yang ditunjuk Karto. Ia terkejut dan hampir pingsan. Ia melepaskan pelukan Karto dan menghampiri tubuh tanpa kepala itu.
" Apa yang sudah Kau lakukan ?!" teriak Bayan marah saat melihat pecahan kaca juga paku bertaburan di atas luka menganga di leher itu.
" Ini permintaan Senja," sahut Karto terisak.
" Kau tak berhak melakukan ini !, Aku suaminya, Aku tak ijinkan Kau melakukan ini!. Dia istriku, istriku !" teriak Bayan kalap.
Tiba-tiba kepala kuyang melayang masuk lalu mencari tubuhnya. Karto bergegas menarik Bayan untuk sembunyi.
Mereka menyaksikan bagaimana kepala kuyang itu berkali-kali gagal menyatukan tubuhnya. Kepala itu terus melayang, mencoba menyatu lagi, lalu melayang lagi. Begitu terus berulang-ulang. Sampai akhirnya fajar menyingsing. Dan geraman putus asa terdengar dari mulut kuyang jelmaan Senja itu.
Dari tempat persembunyian Bayan menangis menyaksikan penderitaan istrinya yang menjelma jadi hantu kepala tanpa badan itu.
Saat melihat fajar yang merekah, hantu tanpa kepala itu bergegas menyatukan badan dan kepalanya dengan rasa putus asa. Terdengar teriakan keras dan bunyi seperti bara api yang dimasukkan ke air.
Cess... cess... cess
" Aarrgghhh....!" jeritan menyayat dari hantu kepala tanpa badan itu terdengar menggema di kegelapan.
Setelahnya hening, sunyi.
Saat terdengar adzan di kejauhan, Bayan dan Karto memberanikan diri keluar dari persembunyian mereka lalu mendekati tubuh Senja yang tergeletak di lantai.
Bayan tak kuasa melihat Senja yang tengah berjuang antara hidup dan mati. Dengan sigap Bayan memangku tubuh istrinya yang mulai dingin itu. Dan dengan nafas terengah-engah Senja masih mencoba bicara.
" Maafkan A... Aku Mmmaass..., Aku mmmmen...cintai...mu...," kata Senja terbata-bata.
" Aku maafkan Kamu istriku Sayang. Pergilah dengan tenang, Aku mencintaimu, selalu...," bisik Bayan di telinga Senja lalu mencium keningnya lama.
" Ba..., Bapakkk...," suara Senja tercekat di kerongkongan.
" Iya Nak, pergilah. Bapak ikhlas. Biar Bapak yang jagain Mas Bayan," kata Karto dengan isak tangis tertahan sambil menggenggam tangan Senja.
Bayan menyibak rambut Senja dan menciumi wajahnya dengan air mata yang terus mengalir. Bayan tersenyum melepas Senja yang terlihat sulit bernafas sambil menatapnya penuh cinta.
" Pergilah cintaku, pergi lah sayangku...," bisik Bayan lagi dengan suara bergetar.
Senja tersenyum menatap wajah Bayan untuk terakhir kalinya. Perlahan Senja menutup matanya dan tubuhnya yang dingin itu berangsur membeku. Senja pun meninggal di pelukan suami yang sangat ia cintai.
Untuk beberapa saat suasana terasa mencekam. Bayan masih menangisi kepergian Senja sambil memeluk jasadnya.
Tiba-tiba terjadi keanehan. Jasad Senja dalam pelukan Bayan berangsur menyusut lalu perlahan hancur menjadi debu. Kemudian debu itu terbang keluar ruangan dan hilang di kegelapan. Hanya tersisa pakaian terakhir yang dipakai Senja dalam pelukan Bayan.
Melihat jasad istrinya hancur Bayan pun histeris. Bayan meraung keras lalu berlari keluar dengan pakaian Senja dalam pelukannya. Sambil menatap langit Bayan menjerit sekali lagi lalu jatuh tak sadarkan diri. Beruntung Karto masih berdiri di belakangnya. Dengan sigap Karto menyangga tubuh Bayan sehingga tak langsung jatuh ke tanah yang keras berbatu.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
Ulun Kdi
Luar biasa hebat authorx membuat cerita inni🙏🙏👍
2023-07-12
0
Muhammad Ridho Abydzar
sedih.....
2022-03-22
0