Senja tampak mondar mandir di kamarnya. Ia bingung untuk menolak permintaan Bayan yang ingin bercinta dengannya malam ini.
Padahal ia sudah berjanji pada Karto untuk tidak melakukan 'itu' hingga dapat jawaban dari masalahnya.
" Kamu kenapa sayang ?" tanya Bayan sambil memeluknya dari belakang. Terasa hembusan nafas Bayan di tengkuknya, membuat Senja merinding.
" A... Aku..., Aku gapapa sayang...," jawab Senja sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Bayan.
" Apa Kamu ga kangen sama Aku ?" tanya Bayan di telinga Senja.
" Aku kangen banget Mas sama Kamu. Tapi...," ucapan Senja terputus saat ada ketukan di pintu kamar mereka.
" Siapa ?" tanya Bayan.
" Maaf Mas Bayan, Pak Karto memaksa ketemu sama Mas Bayan dan Mbak Senja sekarang ...," jawab pelayan rumah Bayan.
Senja tersenyum karena tahu bahwa Karto sudah dapat solusi dari pertanyaannya.
" Pak Karto, tumben..., Ya suruh tunggu sebentar," kata Bayan lagi.
Bayan menatap Senja dan menggandeng tangan Senja untuk menemui Karto di ruang tamu.
" Selamat malam Mas Bayan, maaf mengganggu...," sapa Karto sopan.
" Malam Pak Karto. Ah santai aja. Ada apa Pak Karto cari Saya malam-malam gini, kayanya penting banget ?" tanya Bayan.
" Bisa kita ngobrol di tempat lain Mas ?, ini urgent banget," bisik Karto.
" Ooo gitu..., Gimana kalo di ruang kerja Saya ?" ajak Bayan sambil melangkah ke ruang kerjanya.
Karto dan Senja mengikuti Bayan dan masuk ke dalam ruang kerja Bayan. Karto lalu menutup pintu dan menguncinya. Ia tahu ruangan itu adalah ruangan kedap suara. Maka ia yakin ucapannya kali ini tak akan didengar oleh orang lain selain mereka bertiga.
" Bicaralah Pak Karto...," kata Bayan sambil duduk di sofa dan menggamit lengan Senja untuk ikut duduk bersamanya.
" Maafkan Saya sebelumnya. Apa Mas percaya dengan hal mistis atau sesuatu yang berkaitan dengan hal ghaib...?" tanya Karto hati-hati.
" Mmm..., Saya percaya. Kan Allah Swt memang menciptakan dunia itu nyata dan ghaib, terus apa masalahnya ?" tanya Bayan tak mengerti.
" Maaf lagi. Mas harus percaya bahwa selama Senja hamil, Mas ga boleh menyetubuhinya hingga ia melahirkan anaknya...," kata Karto tegas.
" Tunggu, Pak Karto panggil istri Saya Senja, bukan Mbak Senja ?" sindir Bayan agak emosi karena menganggap istrinya tak dihargai oleh mantan supirnya itu.
Selama ini Bayan memang menolak dipanggil 'Tuan' oleh bawahan dan pelayannya. Bayan lebih suka dipanggil 'Mas' Bayan. Dan itu berarti istrinya juga harus dipanggil 'Mbak' sebagai ganti panggilan 'Nyonya'.
" Pak Karto Bapakku Mas...," kata Senja menyela.
" Apa ?!" Bayan terlonjak kaget.
" Iya, Aku anak Pak Karto dari istri pertamanya, Bu Rusti...," kata Senja lagi.
Pak Karto melanjutkan cerita Senja.
" Waktu awal Mas Bayan mengajak Senja kerumah ini, Saya sudah mengenalinya sebagai anak kandung Saya dari istri Saya, Rusti. Saya langsung mengenalinya karena kemiripan wajah Senja dengan Ibunya. Saya mengajukan resign, karena Saya ga mau Mas Bayan terluka akibat ulah Senja yang tak disadarinya...," ujar Karto sambil menunduk. Ia merasa berat harus menceritakan kisah hidupnya lagi.
" Senja ga bakal melukai Saya Pak...," kata Bayan membela Senja sambil memeluknya erat.
" Secara sadar iya, tapi Kita ga tau apa yang bisa dilakukan Senja pada Anda saat ia dalam pengaruh iblis...," kata Karto.
" Apa ini ?, Sayang coba bantu jelasin, Aku ga mau salah paham denger cerita ga jelas kaya gini...," pinta Bayan pada Senja.
" Senja adalah keturunan Kuyang, makhluk halus berupa kepala tanpa badan yang mengincar bayi untuk dimangsa...," kata Karto sebelum Senja membuka mulut.
" Astaghfirullah..., apa sudah selesai Pak Karto menghina dan memfitnah istri Saya ?" tanya Bayan tak suka.
" Saya ga memfitnah Mas, Saya cuma...," ucapan Karto terputus karena Bayan sudah berdiri dan menggandeng tangan Senja, membawanya keluar dari ruang kerja miliknya.
Tinggal lah Karto seorang diri di ruangan itu.
Karto keluar dan segera menutup pintu.
Karto memaklumi reaksi Bayan mendengar ceritanya itu. Karto bahkan bangga karena anaknya mendapatkan cinta dan kepercayaan yang besar dari suaminya.
Karto tersenyum sambil mengusap wajahnya, lalu berjalan keluar untuk kembali pulang kerumahnya, tempat Ayu dan Sarah tinggal. Rumah Karto memang hanya berjarak sepuluh meter saja dari pagar rumah Bayan.
Di dalam kamar, Bayan memandangi Senja dengan seksama membuat Senja merasa risih.
" Kamu serius sama ucapan Kamu tadi ?" tanya Bayan.
" Aku anaknya Pak Karto? Aku serius. Dulu, namanya Genta. Begitu pindah kesini, Bapak ganti nama jadi Karto...," kata Senja.
" Terus soal kuyang itu ?" tanya Bayan lagi.
" Itu semacam kutukan di keluarga Aku...
Ingat ga saat Aku sering nolak Kamu dulu ?, Kamu selalu tanya alasannya. Sekarang Kamu tau, itu alasan Aku nolak Kamu dulu...," kata Senja lirih dengan air mata yang menggenang.
" Sayang...," panggil Bayan sambil memeluk dan mencium Senja mencoba memberi kekuatan pada istrinya itu.
" Tapi itu bener Mas...," keluh Senja sambil membenamkan wajahnya di pelukan suaminya, ia menangis keras.
" Tapi Aku belum pernah liat Kamu jadi kuyang. Mungkin aja kutukan itu udah luntur atau ga berlaku sama Kamu...?" kata Bayan mencoba menghibur.
" Itu terjadi beberapa hari yang lalu Mas...," kata Senja lirih.
" Maksud Kamu, Kamu juga jadi kuyang ?" tanya Bayan tak percaya sambil menjauhkan tubuhnya dari Senja.
Ssnja hanya menangis tanpa menjawab pertanyaan Bayan. Hatinya hancur, saat menyadari sikap Bayan yang refleks menjauh ketika mendengar kejujuran dari mulutnya.
" Kamu takut kan Mas, Aku cinta sama Kamu. Tapi Aku ga tau apa yang Aku lakuin kalo lagi ga sadar, Aku bisa aja bunuh Kamu, Aku ga mau itu terjadi...," rintih Senja.
Bayan memeluk Senja dan menghapus air matanya. Senja menolak dan berdiri menjauh.
" Kita pisah aja Mas, itu yang terbaik buat Kita dan anak Kita...," kata Senja menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Bayan bagai disambar petir saat mendengar pernyataan Senja.
" Aku ga mau, Kita cari jalan lain." kata Bayan tegas.
Bayan meraih tubuh Senja dan memeluknya erat dan terus memeluknya,meski Senja berontak sekuat apapun Bayan tak melepas pelukannya itu.
" Kita pikirkan besok lagi yaa..., ingat Kamu lagi hamil. Kasian si kecil kalo Bundanya terlalu capek dan kebanyakan pikiran...," bujuk Bayan lembut.
" Tapi Mas...," Senja masih bersikukuh.
" Kita tidur dulu ya, Aku bakal turutin saran Bapak Kamu untuk ga lakuin itu. Kita tidur dan besok dibahas lagi. Ok...?" kata Bayan sambil menyelimuti tubuh Senja, lalu mengecup keningnya.
Senja mengangguk dan tak lama ia pun tertidur setelah lelah menangis.
Bayan memandangi Senja yang tertidur karena lelah menangis. Diusapnya pipi Senja dengan lembut, kemudian mengecupnya lama. Bayan juga menghirup harum aroma tubuh istrinya, meresapinya dalam.
" Bagaimana Aku bisa jauh darimu, sedangkan Kamu adalah hidupku. Sayang..., jangan takut. Kita hadapi semua bersama yaa...," bisik Bayan lembut di telinga istrinya itu.
Malam itu Bayan tak bisa tidur. Ia memandangi wajah Senja tanpa bosan. Memeluk dan menciumnya berkali-kali meskipun Senja tak sekalipun memberi respon. Bayan pun turun dari tempat tidur. Memandang ke langit dengan perasaan resah. Ia memutuskan sholat hajat setelah dilihatnya jam menunjukkan pukul dua dinihari.
Sejak pekerjaannya bertambah banyak dan sibuk, Bayan memang tak lagi sholat sunah di tengah malam. Ia hanya menunaikan sholat fardhu setiap harinya. Dan kini ia sadar, mungkin Allah sedang menegurnya melalui Senja.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
Muhammad Ridho Abydzar
ulun dari sampit kalteng....
2022-03-22
2
Muhammad Ridho Abydzar
mantap... alim... dan penuh tanggung jawab.... siippp ceritanya
2022-03-22
1