Saat melihat pantulan wajahnya di cermin, Senja kaget bukan kepalang.
Wajahnya berubah menyeramkan, alis mencuat, kulit wajahnya memerah dan berkeriput, taring yang muncul disudut mulutnya,serta suara geraman yang keluar dari mulutnya.
Senja juga merasa seluruh badannya panas tak terkira, rasa haus yang teramat sangat juga menderanya. Senja sangat tersiksa dengan keadaannya.
Masih diambang keaadarannya, Senja merasa badannya melayang, bukan, tapi hanya kepalanya yang melayang lepas dari badannya.
Senja menjerit ketakutan, tapi bukan suara jeritan manusia yang keluar dari bibirnya, melainkan suara geraman yang menyeramkan yang terdengar.
Senja panik menyaksikan tubuh dan kepalanya terpisah. Kepala tanpa badan itu terus berputar-putar berkeliling di dalam kamar itu. Seolah kebingungan mencari jalan keluar. Kesadaran Senja kian menipis dan akhirnya hilang sama sekali. Kepala Senja yang sekarang menjadi kuyang itu lalu keluar dari kamar, dan terus melayang menuju keluar rumah melalui pintu yang terbuka atau 'dibiarkan' terbuka.
Kepala tanpa badan dengan organ dalam yang meneteskan darah itu melayang dan melesat jauh meninggalkan rumah Bayan.
Di samping rumah Bayan, di tempat yang tersembunyi, nampak seorang pria yang menutupi wajahnya menatap ke angkasa kearah kepala tanpa badan itu lenyap.
Dia tersenyum miris dengan air mata menggenang.
Pria itu tetap berdiri menunggu disana, menunggu kepala tanpa badan itu kembali ke dalam rumah. Setelah lama menunggu, hari mulai mendekati fajar. Adzan Subuh menggema di wilayah itu.
Tiba-tiba kepala tanpa badan itu melesat cepat masuk ke dalam rumah melalui pintu yang masih terbuka.
Sang pria segera menutup pintu dan pergi dari rumah itu.
Di dalam kamar, Senja sudah kembali seperti semula. Kepala dan badannya kembali menyatu. Senja tampak kelelahan dan tertidur di atas tempat tidur. Di mulutnya tampak bekas darah segar yang kemudian mengering. Tampak wajah Senja yang tersenyum puas dalam tidurnya.
\=\=\=\=\=
Tok tok tok
" Mbak Senja..., Mbak Senja..., bangun Mbak...," suara pelayan di rumah Bayan memanggil nama Senja berulang kali sambil terus mengetuk pintu.
Senja membuka matanya, ia nampak masih tak percaya dengan apa yang dialaminya semalam. Tapi suara ketukan pintu itu begitu mengganggunya. Senja beranjak untuk membuka pintu. Tapi saat melewati cermin, Senja melihat pantulan wajah nya yang nampak berantakan, dan ada noda darah di sekitar mulutnya. Senja pun urung membuka pintu.
" Iyaaa..., Saya udah bangun Bi, kenapa...!?" tanya Senja setengah berteriak sambil membersihkan noda di wajahnya itu.
" Tadi Mas Bayan telephon, pesan kalo Mbak Senja bangun minta di telephon balik...," sahut si pelayan.
" Iya Bi, makasih ya...," kata Senja sambil menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi, Senja membereskan kamarnya yang berantakan. Membersihkan kekacauan yang dibuatnya semalam saat ia berubah menjadi 'kuyang' tanpa disadari.
\=\=\=\=\=
Senja sedang duduk di taman bunga, yang letaknya agak jauh dari rumah utama sambil menikmati sore yang hangat. Di depannya ada meja kecil yang terdapat teh hangat dan cemilan. Sesekali Senja membaca majalah yang ada di pangkuannya.
Sore itu Bayan sedang dalam perjalanan pulang dari Bali. Dan Senja berjanji untuk menunggu kedatangannya.
Senja ingat dua hari yang lalu Bayan marah besar karena HP Senja tak bisa dihubungi. Ia lalu menitip pesan pada pelayan rumah agar Senja segera menghubunginya.
Rupanya HP milik Senja lowbatt, dan Senja tak tahu itu. Jadi saat Bayan menelephon dan tak ada koneksi, ia membanting Hpnya dengan marah.
" Assalamualaikum Mas...," sapa Senja di awal.
" Wa alaikumsalam, Kamu gimana sih, darimana, pergi kemana, sama siapa...?!" tanya Bayan tanpa jeda.
" Aku di rumah aja kok Mas, ga kemana-mana...," jawab Senja santai, ia tahu suaminya sedang cemburu.
" Kok ga bisa ditelephon ?, sengaja matiin HP ya biar Aku ga tau Kamu dimana ?" tanya Bayan galak.
" HP ku tuh lowbatt sayang..., Aku ga tau, dari ssmalem Aku tidur jadi ga cek Hp. Maaf ya sayang...," kata Senja mencoba merayu suaminya.
Mendengar ucapan Senja ditambah kata 'sayang' membuat Bayan luluh. Suaranya pun melunak.
" Aku kan kangen sama Kamu, eh yang dikangenin malah ga bisa di telephon...," rajuk Bayan seperti anak kecil.
" Maaf...," kata Senja lembut.
" Aku mau liat Kamu sekarang, kita video call yaa...," pinta Bayan.
" Iya...," jawab Senja lagi.
Senja tersenyum mengingat kekonyolan Bayan saat itu.
" Ehm..., permisi...," sapa Karto mantan supir Bayan.
Senja menoleh dan terkejut. Ia belum pernah sedekat ini dengan Karto. Saat berdekatan seperti ini, Senja seperti pernah mengenal Karto. Tapi dimana ?...
" Iya..., ada apa Pak...? tanya Senja ramah.
" Boleh Saya bicara sama Mbak Senja secara pribadi ?" tanya Karto sambil menunduk.
" Silakan, Bapak mau ngomong apa...?" tanya Senja lagi.
" Maaf kalo Saya kasar. Tinggalkan Mas Bayan sekarang !!" kata Karto tegas.
" Apa...?!" Senja berdiri dari duduknya.
" Saya tau siapa Kamu sebenarnya. Mas Bayan itu orang baik, Kamu ga layak bersanding dengannya...!" kata Karto sambil menatap tajam kearah Senja.
" Bapak ga salah ngomong kan...?, Saya ini istri sah Mas Bayan, Kami saling mencintai. Memangnya Anda siapa kok nyuruh Saya ninggalin Suami Saya...?!" tanya Senja marah.
" Saya cuma mantan supir Mas Bayan. Saya mengabdi di rumah ini sejak Mas Bayan masih kecil. Begitu orangtuanya pindah, Saya memilih tetap bersamanya karena Saya menyayanginya seperti anak Saya sendiri...," kata Karto sedih.
" Anda sadar status diri Anda yang cuma supir, jadi jangan melewati batas Anda !!" sergah Senja marah.
Karto dan Senja saling menatap. Aneh, mereka berdua merasa ada getaran di hati mereka.
" Kamu bisa saja mencelakainya...," kata Karto tajam.
" Aku mencintainya, Aku ga mungkin mencelakainya...," sahut Senja sinis.
" Aku yang membukakan pintu agar Kau bisa keluar malam itu. Aku juga yang mematikan lampu semua ruangan dan menunggumu kembali ke kamar tanpa ada seorang pun yang tau...," kata Karto pelan.
Tapi suara pelan Karto tetap membuat Senja bagai tersambar petir mendengarnya.
Dan Senja jatuh terduduk di kursinya.
" Kau...?!"
Senja menutup wajahnya dengan kedua tangan sejenak. Mengusap wajahnya lalu menoleh kearah Karto yang tengah menatap tajam padanya.
" Aku tau siapa sebenarnya dirimu sejak pertamakali Mas Bayan membawamu kesini...," ucap Karto, " Jika Kamu memang mencintai Mas Bayan, tinggalkan dia, Kamu bisa membunuhnya tanpa sengaja saat tak sadar..., Pergilah. Aku akan merahasiakan semuanya...," kata Karto sambil berlalu.
" Aku ga bisa !, Aku akan tetap bersamanya, apapun yang terjadi. Kau tak berhak mengaturku !" teriak Senja galak.
" Aku berhak..., karena Aku adalah Bapakmu !" kata Karto sambil mendekati Senja yang tampak shock mendengar pengakuan Karto.
" Kau bohong..., Bapakku sudah mati...," kata Ssnja dengan suara dan tubuh bergetar.
" Ini Aku, Bapakmu, Genta...," kata Karto sambil menunjukkan tanda lahir di lengan atas sebelah kanannya.
Senja kaget dan menangis. Tangannya terulur meraba tanda lahir yang ada di lengan kanan Karto.
Senja ingat, dulu semasa kecil ia sering main dokter-dokteran. Karto / Genta adalah pasiennya. Dia akan membalut tanda lahir Bapaknya itu dengan kain yang dianggap perban seolah-olah tanda lahir itu adalah luka yang harus diobati. Dia hapal betul bentuk dan tekstur kulit di tanda lahir itu.
Senja menangis kencang saat berhasil meraba tanda lahir Karto.
" Bapak..., Bapak..., kemana aja Bapak selama ini...?" rintih Senja.
" Maafin Bapak Nak...," kata Karto sambil memeluk Senja anaknya, anak yang ditinggalkannya dua puluh tahun yang lalu.
Mereka berdua menangis terisak sambil saling memeluk.
Di rumah utama tampak beberapa pelayan yang mengenal Karto sedang melihat adegan Senja dan Karto yang saling memeluk itu.
Mereka kasak kusuk membicarakan Karto.
" Kita semua tau kalo Karto itu pelayan senior, tapi ga usah pake peluk segala lah. Ga tau diri banget sih...,"
" Iya bikin Mas Bayan salah paham aja deh ntar...,"
" Tapi Mbak Senja juga lagi nangis tuh kayanya, kenapa ya...,"
" Kali aja ada omongannya yang bikin sedih. Kan Pak Karto emang tau semua hal tentang Mas Bayan...,"
Ujar para pelayan yang saling bersahutan itu saat melihat Senja dan Karto.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
Sumiati
mudah2n ada yg bisa nolong senja ada kiyai gtu thor kaya di novel kamu yg lain
2021-05-05
1
Sumiati
ko dri awal baca ga bisa komen ya ?
2021-05-05
1
any Sulistiani
Makasih Abii atas suportnya...
2020-12-25
0