Anna nampak kesulitan saat menjalani proses persalinan. Bayangan gumpalan hitam yang dua kali dilihatnya tadi membuat perasaannya campur aduk. Dalam kondisi tertekan seperti itu membuat konsentrasi Anna buyar hingga tak bisa mengejan sesuai arahan sang dokter.
Bayan yang mendampingi Anna pun tak kalah cemas. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan Anna dan bayi mereka.
"Aku ga kuat Yah, Aku ga kuat. Ini sakiiittt ...," rintih Anna dengan wajah dipenuhi air mata.
"Sabar ya Sayang. Kamu bisa kok, Kamu kan Ibu yang kuat. Fokus Sayang, dengerin apa kata dokter Manda yaa," bujuk Bayan sambil mengecup kepala sang istri berulang kali.
"Tapi ini susah Yaahhh ..., bayinya ga mau keluar. Keliatannya dia masih takut sama gumpalan hitam di rumah tadi," kata Anna setengah berbisik.
"Bukan dia yang takut tapi Kamu Anna. Kamu yang terus mengingat sesuatu yang belum pasti keberadaannya. Aku udah bilang kalo itu cuma ilusi, kenapa Kamu ga ngerti juga sih Sayang. Tolong jangan kaya gini dong. Ini berbahaya untuk Kamu dan bayi Kita," kata Bayan putus asa.
Mendengar perdebatan Anna dan Bayan membuat dokter Amanda tahu jika Anna memang tak ingin menyelesaikan proses persalinan secara normal. Akhirnya dokter Amanda memutuskan melakukan operasi Caesar untuk mengeluarkan bayi dari rahim Anna secepatnya.
Bayan dan Anna pun setuju karena mereka memang tak punya pilihan. Apalagi kondisi Anna kian melemah dan tampak pucat.
Setelah Bayan menandatangani berkas persetujuan operasi di dalam ruangan bersalin, Anna pun menjalani operasi Caesar. Tak butuh waktu lama bayi dalam rahim Anna pun lahir.
Bayi berjenis kelamin laki-laki itu tak menangis saat dilahirkan. Hal itu kembali membuat dokter Amanda dan team panik. Namun setelah diupayakan berbagai cara, tiga menit kemudian bayi laki-laki itu pun menangis dengan keras hingga membuat dokter Amanda dan team merasa lega. Bayan dan Anna nampak tersenyum bahagia saat mengetahui bayi mereka baik-baik saja.
Setelah bayi dibersihkan, bayi diserahkan kepada Anna untuk disusui. Lagi-lagi keanehan terjadi dan itu membuat Bayan khawatir.
Jika di kelahiran Nathan dulu Anna terlihat siap dan fit, kali ini justru sebaliknya. Dan saat bayi Nathan didekatkan pada ibunya, Nathan dengan sigap mencari put*ng susu ibunya lalu menyusu dengan lahap. Tapi bayi kedua mereka kali ini terlihat berbeda. Ia terlihat tenang dan tak berusaha melakukan sesuatu untuk mencari put*ng sang ibu seolah tak menginginkan ASI perdananya.
Setelah beberapa saat menunggu namun bayi itu tak berusaha apa pun, akhirnya dengan gemas Bayan membantu mendekatkan bayinya dengan ASI sang istri. Tindakannya mau tak mau membuat semua orang di dalam ruangan itu tertawa.
"Kasian dok, kelamaan," kata Bayan memberi alasan.
"Iya gapapa Pak," sahut dokter Amanda sambil tersenyum.
Sementara itu ruang tunggu Nathan nampak kembali terlelap di pangkuan Yumi. Yumi yang terkantuk-kantuk tersentak kaget saat mendengar suara tangis bayi dari ruang bersalin. Ia tersenyum bahagia sambil mengucap hamdalah berkali-kali.
"Alhamdulillah. Nathan sekarang jadi Kakak beneran deh. Selamat ya Nathan," bisik Yumi sambil mengusap pipi gembil Nathan dengan lembut.
Nathan nampak menggeliat kecil dan itu membuat Yumi kembali tersenyum. Ia menatap Nathan dengan sayang seolah Nathan juga anaknya. Yumi kembali teringat bagaimana ia bisa mengenal Nathan dan kedua orangtuanya itu.
Awalnya Yumi bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah salah satu tetangga Anna. Ia tak menetap di rumah majikannya itu. Yumi akan datang pagi dan pulang saat sore hari. Karena mereka sering berpapasan, maka Yumi pun mengenal Anna.
Suatu hari Anna dibuat terkejut saat melihat Yumi tengah dimaki oleh tetangganya itu. Saat itu Yumi dituduh mencuri uang yang katanya tertinggal di saku baju yang dicuci Yumi. Walau sudah menyangkal dan berusaha membuktikan dirinya tak bersalah, namun Yumi tetap dimaki. Bahkan Yumi terancam penjara karena tak mau mengembalikan uang yang dicurinya itu.
Anna maju untuk menengahi dan bersedia mengganti uang yang katanya dicuri Yumi. Saat itu Anna yakin jika Yumi tak mencuri sama sekali.
"Cuma tiga ratus ribu aja kok ribut sampe suaranya kedengaran kemana-mana dan manggil satu kampung segala Bu," kata Anna sambil mencibir.
Wanita yang tadi memaki Yumi pun tak peduli. Ia masuk ke dalam rumah sambil membanting pintu. Sesuatu yang bakal ia sesali karena ternyata pencurinya bukan Yumi melainkan anaknya sendiri.
Dan saat wanita itu mengetahui siapa pencuri sebenarnya, ia minta maaf dan meminta Yumi kembali bekerja padanya. Namun Yumi menolak. Apalagi saat itu ia selesai berkemas karena sebentar lagi akan dijemput Anna untuk bekerja di rumah barunya.
Wanita itu memohon dengan sangat karena setelah Yumi pergi ia kesulitan mencari pengganti. Namun tekad Yumi untuk pergi sudah bulat. Apalagi Yumi terlanjur sakit hati dengan ucapan sang mantan majikan.
Yumi memang pernah menikah namun ditinggal suaminya karena tak bisa memberi keturunan. Dan kata 'mandul' seringkali diucapkan sang majikan untuk menyakiti perasaan Yumi. Padahal bukan itu yang terjadi. Justru suami Yumi lah yang tak bisa melaksanakan tugasnya dengan baik hingga Yumi tak kunjung hamil meski pun mereka telah menikah selama sebelas tahun.
Saat pertama kali masuk ke rumah Bayan dan Anna, Yumi merasa senang. Apalagi Bayan juga menyambutnya dengan ramah. Yumi diperlakukan bak keluarga di rumah itu. Meski pun begitu Yumi tak besar kepala, ia tetap menjalankan tugasnya dengan baik.
Yumi ikut bahagia saat Anna diketahui hamil. Yumi juga ikut antusias menyambut kelahiran sang bayi yang kemudian diberi nama Nathan itu. Rasa rindu Yumi pada buah hati terobati dengan kehadiran Nathan. Apalagi Anna memang tak menggunakan jasa pengasuh bayi hingga ia ikut dilibatkan saat mengasuh Nathan.
Kebahagiaan Yumi pun bertambah saat Anna diketahui hamil anak kedua. Namun Yumi sedikit kecewa karena Anna memutuskan menggunakan jasa pengasuh bernama Arti. Hal itu membuatnya sedikit berjarak dengan Nathan. Namun Yumi mengerti kerepotan Anna dan hanya bisa menatap iri saat Nathan menggelayut manja pada pengasuh barunya itu.
Lamunan Yumi buyar saat Bayan keluar dari ruang bersalin dengan wajah berbinar. Kemudian Bayan menggendong Nathan lalu membawanya ke ruang rawat inap Anna. Yumi pun mengekori dari belakang.
Sambil berjalan mengekori Bayan di koridor Rumah Sakit, Yumi mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Saat itu tak sengaja Yumi melihat gumpalan hitam melayang cepat menuju atap. Dan melihat benda itu membuat bulu kuduk Yumi meremang. Entah mengapa saat itu Yumi menyesal karena tak mempercayai ucapan Anna tadi.
"Apa itu yang bikin Bu Anna shock tadi. Hiiiyyy ... serem banget sih. Pantesan Ibu ketakutan sampe gemetaran tadi," batin Yumi gusar sambil mengusap tengkuknya.
Karena tak fokus, Yumi tak sengaja menabrak Bayan yang telah berhenti melangkah. Tentu saja itu membuat Bayan menoleh dan bertanya.
"Kamu gapapa Yum ?" tanya Bayan.
"Mmm ... ga - gapapa Pak. Mungkin karena ngantuk Saya jadi ga merhatiin jalan," sahut Yumi tak enak hati.
"Oh gitu. Kamu bisa tidur di kamar Ibu nanti. Kan ada tempat tidur cadangan di sana," kata Bayan sambil tersenyum.
"Iya Pak, makasih," sahut Yumi.
Bayan pun mengangguk lalu membuka pintu kamar rawat inap VIP itu. Terlihat Anna yang terbaring di atas tempat tidur ditemani seorang perawat. Ada box bayi kosong di sampingnya. Keliatannya bayi Anna masih belum diantar ke sana.
Setelah meletakkan Nathan di atas tempat tidur, Bayan menyuruh Yumi istirahat. Yumi mengangguk dan memilih sofa untuk tempat berbaring. Tak lama kemudian Yumi nampak telah terlelap hingga membuat Bayan dan Anna tersenyum.
\=\=\=\=\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
FiaNasa
jangan² yg dilihat itu adalah kuyang,,tp aq kok curiga ya sama arti
2023-06-20
1