Senja dan Bayan mengikuti Karto ke halaman samping. Mereka berada di sebuah peternakan kuda milik keluarga Bayan. Kyai Mustafa yang meminta agar mereka berempat kesana malam itu.
Sebelumnya Karto menemui Kyai Mustafa untuk meminta bantuannya. Setelah menceritakan semua Karto pun mengaku cemas akan nasib Senja dan keluarga kecilnya yang baru saja dirintis.
Karto tak tahu apa lagi yang harus dilakukan untuk menangkal kutukan keluarga yang diterima Senja.
" Ini apa Pak...?" tanya Senja saat melihat ada kolam berisi cairan merah yang diyakini oleh Senja dan Bayan sebagai darah. Senja pun merasa mual dan hampir muntah.
" Ini darah sapi...," jawab Karto lirih.
" Hueekkk..., hueekkk...," Senja langsung berlari menjauh dan muntah tak jauh dari kolam darah itu.
" Sayang..., Kamu gapapa ?" tanya Bayan cemas.
" Aku cuma mual aja Mas...," kata Senja sedih.
" Ini adalah pengalih perhatian kuyang jika ia nanti merasuki tubuhmu. Saat berubah, pertama kali yang dicari adalah darah manusia. Nah darah ini bisa mengalihkan niat Kuyang itu untuk memangsa manusia...," kata Kyai Mustafa menjelaskan.
" Sebanyak ini Kyai ?" tanya Bayan tak percaya.
Darah sapi yang disediakan memang sangat banyak, karena memenuhi kolam yang biasa dipakai untuk menyediakan minum kuda dan sapi di sana saat tak di dalam kandang.
" Kita siapkan sebanyak ini, karena Kita tak tahu sampai batas mana makhluk jadi-jadian itu merasa kenyang dan puas...," jawab Kyai Mustafa sambil terus berdzikir.
Senja mulai berkeringat. Badannya terasa panas dan lehernya pun memerah. Ia mulai menggeram.
Menyadari hal itu, Kyai Mustafa menyuruh Karto membawa Senja ke dalam rumah yang tersedia di sana.
" Jangan lengah, tetaplah tenang. Berdzikir dan berdoa, itu yang terbaik," bisik Kyai Mustafa.
Karto mulai memadamkan penerangan di ruangan itu hingga gelap gulita. Tapi Bayan masih bisa melihat sosok Senja karena ada cahaya bulan yang masuk melalui ventilasi rumah.
Geraman itu makin kuat, nafas Senja pun terdengar makin berat. Tak lama Senja terjatuh tak sadarkan diri. Menunggu beberapa menit dengan perasaan tak menentu, akhirnya yang ditunggu pun muncul.
Hantu kepala tanpa badan alias kuyang itu berputar sejenak di atas tubuhnya. Lalu melesat cepat ke arah luar.
Bayan hampir menjerit saking kagetnya. Karto menutup mulut Bayan dengan telapak tangannya agar Bayan tak bersuara. Karto merasa ada air yang mengalir di tangannya. Karto tahu Bayan menangis melihat perubahan wujud istrinya.
Kuyang itu terbang melayang keluar, saat ia mengendus ada bau darah, dia berbalik dan menghampiri kolam darah yang sengaja disiapkan untuknya. Kuyang itu pun meminum darah di kolam dengan rakus.
Bayan nampak sangat shock melihat istri yang dicintai berubah menjadi siluman pemangsa darah. Tak hentinya ia berdzikir dan berdoa dalam hati.
Tiba-tiba kuyang itu berhenti dan menoleh ke arah Bayan yang sedang sembunyi. Matanya tampak merah, taringnya yang mencuat di sudut mulutnya nampak basah oleh darah yang masih menetes, dan geramannya pun semakin kuat menandakan kuyang itu marah.
Kuyang itu mendekat ke arah Bayan.
Bayan pun berdiri seolah menyambutnya.
" Mas Bayan, jangan !!" kata Karto.
" Biarkan dia...," kata Kyai Mustafa.
Bayan tak peduli ucapan Karto. Ia berdiri sambil terus menatap sendu ke arah kuyang jelmaan istrinya itu.
" Sayang..., Senjaku..., ini Aku, Bayan, suamimu...," isak Bayan dengan suara parau.
" Hhrrrr..., hhrrrr...,"
Kepala kuyang itu berhenti tepat di hadapan Bayan. Terjadilah saling tatap antara mereka.
Kuyang itu menggeram mendengar ucapan Bayan.
" Sayang..., Aku mencintaimu dan Anak Kita. Kembalilah Sayangku, jangan seperti ini...," pinta Bayan lemah dan akhirnya jatuh berlutut karena tak sanggup menatap Senja.
" Hhrrrr...!!"
Kuyang itu menggeram sekali lagi, berputar di dalam ruangan, dan akhirnya kembali merapat pada tubuhnya. Proses itu terjadi di depan Kyai Mustafa, Bayan dan Karto.
Mereka masih menatap tubuh Senja yang tergeletak di lantai rumah.
Setelah tak ada pergerakan, Kyai Mustafa minta agar tubuh Senja dipindahkan ke atas sofa. Bayan pun menggendong tubuh istrinya dengan hati-hati. Masih terdengar isak Bayan.
" Setelah melihat semuanya, apa Mas Bayan masih ingin bertahan dengan anak saya...?" tanya Karto hampir menangis.
" Saya sangat mencintainya, Saya akan bertahan hingga maut memisahkan Kami...," jawab Bayan mantap.
Kyai Mustafa lalu mengajak mereka segera meninggalkan peternakan itu.
" Jadi giman Pak Kyai, apa istri Saya bisa ditolong untuk keluar dari kutukan itu...?" tanya Bayan penuh harap.
" Sulit," jawab Kyai Mustafa singkat.
Semua terdiam, larut dengan pikiran masing-masing.
" Istrimu sedang hamil, ia harus memilih dirinya atau bayi dalam kandungannya yang mengalah, " kata Kyai Mustafa lagi.
" Apa tak bisa keduanya yang bertahan ?" tanya Karto.
" Kalian jangan serakah. Kalian hanya punya satu pilihan. Bayi atau ibunya...," kata Kyai Mustafa lagi.
Bayan tak peduli ucapan kedua orang pria sepuh di depannya. Ia hanya peduli nasib istrinya yang baru saja menjelma jadi iblis, dan sekarang terbaring lemah.
\=\=\=\=\=
Sejak kejadian hari itu Senja jadi sering melamun. Ia juga menjaga jarak dengan Bayan karena malu. Kesehatannya pun memburuk. Ia tak lagi semangat menjalani hidupnya, dan itu membuat Bayan sangat terpukul.
Bayan ada pada titik terendah saat dilihatnya Senja tak bahagia hidup bersamanya.
" Apa maumu...?" tanya Bayan di akhir malam itu.
" Lepaskan Aku. Biarkan Aku pergi membawa kutukan ini bersamaku...," kata Senja lirih.
" Apa Kau tak ingin bertahan bersamaku, Apa Kau tak mencintaiku...?" tanya Bayan sambil menggenggam tangan Senja.
" Aku sangat mencintaimu, sangat...," kata Senja sambil menangis.
" Ayo hadapi bersama, Kita pasti bisa...," kata Bayan sendu.
" Aku tak mau anakku jadi penerus darah iblis ini. Aku mencintaimu dan Anak Kita..., Biar Aku pergi bersama kutukan ini, agar tak ada lagi yang terluka karena Aku...," kata Senja sambil memeluk Bayan.
" Sayang maafin Aku, Aku gagal membuatmu bahagia bersamaku. Aku tak bisa membuatmu bangga memiliki Aku. Aku tak bisa melindungimu...," kata Bayan lagi sambil mempererat pelukannya.
" Jangan salahkan dirimu, ini takdir hidupku. Aku tak mau menyeretmu kedalam lingkaran takdirku. Menyerahlah, lepaskan Aku...," kata Senja sambil mengurai pelukan Bayan dan menjauh.
Bayan menangis keras dihadapan Senja tanpa merasa malu. Ia putus asa saat mendengar Senja akan meninggalkannya.
Lama Bayan menangis, hingga ia tersadar bahwa ia telah melampaui batas kemampuannya sebagai seorang manusia biasa.
Bayan berdiri, melangkah ke kamar mandi untuk berwudhu lalu menunaikan sholat sunah dua rokaat. Bayan memohon kepada Sang Khalik agar takdir hidup istrinya berubah. Dan memohon agar ia bisa bersama Senja hingga renta bersama. Bayan pun menangis dalam doanya.
Senja yang ada di kamar sebelah pun ikut menangis mendengar doa tulus suaminya.
" Aamiin...," kata Senja mengaminkan doa Bayan.
Sejak pulang dari peternakan waktu itu, Senja memang menjauh dari Bayan dan memilih pisah kamar. Ia tinggal di kamar yang bersebelahan dengan kamar yang ditempati Bayan. Ia selalu merasa bersalah dan kotor dihadapan Bayan, itulah yang membuatnya mengambil keputusan untuk menyudahi semuanya.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
Wulan Sari
lanjut Thor..
2024-01-01
1
riko.CM😎
sedih thorr😭🤣
2023-08-11
1
Ulun Kdi
Cerita horor tp menguras emosi dan mengandung bawang..🤭
2023-07-12
1