" Pergilah, jangan dekati Aku lagi. Kau akan kecewa nanti...," kata Senja di dalam tidurnya.
Bayan yang masih duduk di samping Senja menatap Senja yang bermimpi dalam tidurnya.
" Kenapa harus kecewa ?" bisik Bayan.
" Aku tak seperti yang Kau pikirkan..., Aku adalah monster...," jawab Senja yang masih memejamkan matanya.
Mendengar jawaban Senja, Bayan pun tak dapat menahan tawanya. Tawa Bayan pun berhasil membangunkan Senja.
Ia bingung, lalu mengucek matanya, dan menoleh ke arah Bayan yang sedang tertawa.
" Hai monster..., apa tidurmu sangat nyenyak...?" goda Bayan.
Tapi kalimat Bayan membuat Senja langsung berdiri dan lari meninggalkan Bayan yang masih tertawa.
" Apa dia tau sesuatu ?, apa Aku keceplosan waktu tidur. Ah, dasar si**an, kenapa pake ketiduran segala sih...," gerutu Senja sambil memukuli dahinya gemas.
" Tunggu !" panggil Bayan.
Senja menoleh dengan malas. Senja terkejut saat Bayan menyodorkan buku hariannya yang tertinggal.
" Apa Kau membukanya ?, membaca isinya ?, Kamu tau ini adalah privacy, dan itu artinya ga sembarangan orang boleh tau isinya kecuali atas ijinku. Kamu mengerti ga... ?" berondong Senja dengan wajah merah.
" Aku tak suka membaca, tulisanmu jelek, jadi untuk apa membaca isinya, yang pasti juga tak menarik untuk dibaca...," jawab Bayan santai lalu pergi meninggalkan Senja yang masih berdiri disana.
Senja memasukkan buku itu ke dalam saku bajunya. Tak ada apa-apa disana. Hanya coretan tangan ayah dan ibunya. Yang mungkin bagi orang lain tak memiliki arti apapun. Senja menyimpannya, karena hanya itu kenangan yang ia miliki. Tak ada foto keluarga yang ia miliki. Kalaupun ada, Senja tak pernah berhasil menemukannya saat ia pulang dulu.
\=\=\=\=\=
Bayan melajukan mobilnya membelah malam. Sudah hampir tiga bulan status teman disandangnya. Bayan ingin lebih, tapi ia tak bisa memaksa Senja untuk menerima cintanya. Bayan hampir menyerah, tapi ia kembali bangkit saat mengenal Senja lebih dekat.
Bayan memandangi gadis di depannya dengan takjub. Ia memang meminta Senja menemaninya hadir ke sebuah undangan pernikahan. Saat ini mereka ada di sebuah butik langganan orangtua Bayan.
" Bagaimana penampilanku, Apakah Kamu ga akan malu membawaku bersamamu...?" tanya Senja.
" Kamu cantik, seperti biasa. Tapi lebih cantik saat tersenyum...," kata Bayan.
Pipi Senja memerah, ia sangat malu dipuji seperti itu, apalagi oleh Bayan. Senja pun mengikuti Bayan yang berjalan di depannya. Bayan berhenti dan menggandeng tangannya.
" Seperti ini, sebentar aja, supaya mereka percaya bahwa kita memang pasangan...," kata Bayan berharap.
Senja mengangguk. Tak ada salahnya bergandengan tangan, toh ia juga tak kenal siapa pun di pesta itu. Akan lebih aman jika Bayan menggandengnya bukan ?.
Bayan pun mengajak Senja masuk dan memberi ucapan selamat pada temannya yang menikah.
" Siapa...?" tanya pengantin pria.
" Ada dehh...," jawab Bayan.
" Jangan kelamaan lah, Lo tau sendiri, cewek cakep model gini banyak yang mau...," kata pengantin pria lagi.
" Makasih udah diingetin...," Bayan pun berlalu sambil membawa Senja menjauh dari tempat itu.
Senja hanya diam mendengar percakapan Bayan dengan temannya.
Senja tahu hubungannya dengan Bayan tak sesederhana yang ia kira. Banyak hal yang harus dipertimbangkan.
" Kenapa diam ?" tanya Bayan lembut.
" Mmm..., gapapa. Apa Kamu belom pernah ajak wanita lain ke pesta kaya gini ?" tanya Senja.
" Pernah," jawab Bayan singkat.
" Sekarang kenapa ajak Aku ?" tanya Senja penasaran.
" Karena Kamu wanita yang paling deket sama Aku, selain ibuku," jawab Bayan lagi.
" Cuma itu alasannya ?" tanya Senja sambil melengos.
" Kamu tau alasannya...," kata Bayan pelan.
Senja menatap Bayan yang juga tengah menatapnya. Senja suka pada pria dihadapannya, tapi ia takut membahayakan Bayan. Ia ingin mengatakan bahwa ia bukan manusia biasa, tapi ia tak sanggup kehilangan Bayan dan perhatiannya.
" Kenapa Kau menutup hatimu begitu rapat ?, tak adakah kesempatan untukku masuk dan menetap disana ?" tanya Bayan sambil mendekat ke arah Senja.
" Jangan..., Kau akan terluka nanti...," jawab Senja yang membalikkan badannya untuk menghindari Bayan.
" Aku ga takut...!" jawab Bayan tegas sambil menarik tangan Senja dan membawa Senja ke pelukannya.
Senja tertegun sesaat, menikmati aroma tubuh Bayan, meresapi hangat pelukan Bayan untuknya. Tapi kemudian ia berontak. Bayan mempererat pelukannya, dan tak membiarkan Senja lepas dari pelukannya.
Sia-sia usaha Senja, akhirnya ia pasrah dalam pelukan Bayan.
Beberapa menit memeluk Senja, meresapi hangat tubuhnya, menghirup aroma harum tubuh Senja, membuat Bayan terlena.
" Aku mencintaimu...," bisik Bayan penuh perasaan di telinga Senja.
" Bayan..., jangan...," suara lirih Senja.
" Aku mencintaimu..., dulu, kini, dan nanti..., selalu..., mencintaimu...," kata Bayan lalu mengecup kening Senja.
Ssnja menangis terharu mendengar ungkapan hati Bayan. Ia membuka matanya dan menatap Bayan yang masih memeluknya.
" Aku takut Kau terluka nanti...," isak Senja.
" Apa hanya itu alasanmu menolak Aku...?" tanya Bayan sambil menghapus air mata Senja dengan jarinya.
" Iya...," kata Senja parau.
" Jangan takut, Aku bisa menjaga diri dengan baik. Maukah Kamu bersamaku ?" tanya Bayan.
" Asal Kau janji bisa menjaga dirimu..." kata Senja datar.
Bayan tersenyum lebar. Akhirnya penantian cintanya berujung manis. Ia memeluk Senja dan mencium keningnya berulangkali. Lalu sekilas mengecup bibir Senja dengan lembut.
Malam itu adalah malam yang indah buat Senja dan Bayan.
\=\=\=\=\=
Bayan makin bersemangat dalam pekerjaannya. Setiap ada waktu luang, ia sslalu menyempatkan diri bertemu dengan Senja. Senja pun berusaha menjadi manusia seutuhnya. Tapi tetap ada rasa takut yang menghantuinya. Ia takut jiwa siluman itu muncul dan mencelakai Bayan, pria yang dicintainya.
Senja masih mencari informasi tentang cara mengatasi perubahannya menjadi 'monster' di waktu tertentu.
Hingga saat itu tiba. Saat Senja diperkenalkan dengan seluruh anggota keluarga Bayan, para sahabatnya, dan para pelayan setianya. Bayan sengaja mempersiapkan semuanya dengan maksimal karena selain memperkenalkan Senja pada semja orang terdekatnya, Bayan juga bermaksud melamar Senja untuk jadi istrinya.
" Perkenalkan..., ini Senja calon istriku...," kata Bayan mantap sambil memeluk pinggang ramping Senja yang berdiri di sampingnya.
Semua terkejut sekaligus senang atas pernyataan Bayan. Mulailah sahabat Bayan, Rama dan Riko, menjahilinya.
" Ehm..., pantes aja ngejar ga kenal waktu," sindir Rama.
" Sampe bisa ga doyan makan berhari-hari...," balas Riko sambil mengedipkan matanya.
" Rese Lo pada. Sayang, kenalin ini sahabat Aku, Rama dan Riko...,"
" Haii..., seneng deh bisa kenalan sama cewek yang bikin sahabat Gue mati kutu," sapa Riko hangat.
" Gue Rama, kalo mau tanya soal rahasia Bayan, sama Gue yaa...," kata Rama tak mau kalah.
" Haii..., Saya Senja...," kata Senja dengan senyum manisnya.
Bayan menarik Senja ke dalam pelukannya.
" Ga usah salaman sama senyum segala, mereka ngelunjak nanti," kata Bayan sengaja memperkeras suaranya.
Rama dan Riko pun menendang Bayan sambil berlalu dengan muka sebal.
Sementara itu di luar ruangan, seorang pria menatap Senja tanpa berkedip dengan mulut ternganga. Ia hampir bisa melupakan masa lalunya. Tapi melihat kehadiran Senja membuatnya merasakan sakit teramat sangat.
" Ayah..., ngapain disini sendirian ?" sapa seorang gadis yang merupakan putri hasil pernikahan dengan istrinya sekarang.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 249 Episodes
Comments
Wulan Sari
mungkin itu gentar ayahnya senja .yang d cari selama ini
2024-01-01
1
neng ade
apakah dia Gentar.. ayah nya Senja yg dlu dikabarkan hilang dan kini udh menikah lagi dan punya anak juga..
2023-06-18
1