Vote sebelum membaca ❤
.
.
Chaeyoung dengan telaten memakaikan seragam Yuri. Anak kecil itu kini sudah masuk playgroup.
Yuri katanya sudah tak sabar ingin sekolah, padahal usia putrinya masih kecil sekali. Tapi Chaeyoung juga tak mungkin tidak mengabulkan permintaan Yuri, lagi pula Ia kasihan jika Yuri selalu bosan bermain di rumah sedangkan sahabatnya Soobin sekolah.
"Sayang ingat ya, jangan nakal kalo di sana."
"Iya Mommy, Yuri gak bakal nakal janji."
Chaeyoung mengecup pelan kening Yuri, sebelum menggendong anak itu turun ke bawah. Ini sudah jam enam pagi dan Yuri harus segera siap-siap berangkat sekolah.
"Pagi kesayangan Daddy."
Jungkook bergantian mengecup kening anak dan juga istrinya yang sedang sarapan. Pria itu duduk lalu memperhatikan penampilan Yuri.
"Sayang yakin mau sekolah?"
Yuri mengangguk dengan masih mengunyah roti.
"Iya, soalnya Yuri udah besal."
Chaeyoung kadang merasa gemas sendiri pada Yuri. Anak itu memang sudah berusia empat tahun lebih, tapi masih belum bisa mengucapkan R dengan jelas. Paling Yuri hanya sudah bisa menyebut namanya dengan benar saja, aneh memang.
"Ya udah nanti biar Daddy anter ya."
"Aku juga ikut ya."
Jungkook mengangguk singkat pada Chaeyoung, lalu mulai menikmati sarapannya.
Setengah jam kemudian mereka sudah berangkat bersama untuk mengantar Yuri sekolah. Sepanjang perjalanan itu juga, Chaeyoung merasa sedih.
Kini mungkin Ia akan kesepian karena tak ada teman di rumah. Biasanya pasti Yuri akan berceloteh di rumah, tapi mungkin kini rumah akan sepi karena anak itu masuk sekolah.
Ketiga orang itu turun saat sudah sampai depan playgroup. Chaeyoung berjongkok di hadapan Yuri.
"Sayang nanti Mommy akan jemput, jadi jangan pulang sendiri ya, tunggu Mommy."
"Iya Mommy."
"Jangan nakal ya, dengerin apa kata guru oke."
"Oke Daddy."
Yuri pun mengecup bergantian pipi Jungkook dan juga Chaeyoung, lalu anak itu melambaikan tangannya dan melangkah masuk ke dalam sekolah.
Jungkook menoleh pada Chaeyoung yang berdiri di sampingnya, Ia tahu jika ibu dari anaknya itu belum rela jika Yuri masuk sekolah. Bahkan semalam wanita itu menangis karena besok Yuri akan masuk sekolah.
"Udah ya sayang, Yuri kan cuma sekolah. Lagi pula gak bakal lama kok, paling jam sepuluh juga udah pulang."
Chaeyoung menghembuskan nafasnya pelan, benar juga mungkin dirinya terlalu berlebihan ya. "Iya."
"Ya udah biar aku anterin kamu pulang."
"Gak usah, aku mau belanja dulu. Bahan makanan udah habis, kamu berangkat ke kantor aja."
"Yakin?"
"Iya, udah sana nanti telat."
Jungkook mengangguk lalu menciun kening Chaeyoung sebelum masuk ke mobil. Mobil itupun pergi meninggalkan Chaeyoung.
Sedangkan Chaeyoung langsung menyetop taxi untuk menuju ke super market.
Saat sampai wanita itu langsung bergegas membeli bahan makanan. Mulai dari daging, sayur sampai bumbu. Sekalian Chaeyoung memang suka langsung beli banyak agar tak bolak-balik belanja.
Hampir satu jam akhirnya troli belanjaannya sudah penuh. Merasa semua sudah di beli Chaeyoung pun menuju kasir, tapi saat akan pergi Ia tak sengaja melihat kerumunan orang di dekat kasir.
Karena penasaran Chaeyoung mendekat untul melihat, dan betapa terkejutnya Ia melihat seorang wanita yang dikenalnya jatuh pingsan dengan bayi yang menangis keras.
"Ya Tuhan Yeonjun."
Chaeyoung langsung mengambil alih Yeonjun yang sedang menangis di pangkuan orang. Wanita itu kemudian meminta tolong agar menelphone kan ambulance.
Ya wanita yang pingsan adalah Sana.
Saat sudah sampai rumah sakit Chaeyoung menunggu di luar kamar perawatan, sambil menenangkan putranya yang kini sudah tenang.
"Sayang udah ya jangan nangis lagi, Mama disini."
"Mamama."
Chaeyoung mengusap rambut anak itu pelan, jujur tadi Ia kaget sekali melihat itu. Tapi kenapa bisa kebetulan ya?
Tak lama Chaeyoung berdiri saat melihat seorang dokter keluar ruangan.
"Bagaimana keadaannya dokter?"
"Kalau boleh tahu, ibu siapanya pasien ya?"
"Em saya te-temannya."
"Bisa kita bicara di ruangan saya, karena ini penting."
Chaeyoung mengangguk lalu mengikuti dokter itu. Yeonjun tidur dan itu membuatnya tak terlalu kesulitan.
"Kanker."
"Apa?"
Kaget itulah yang Chaeyoung rasakan, apa Chaeyoung tak salah dengar?
Wanita itu menggeleng pelan. "Kanker?"
"Iya, setelah di periksa lebih lanjut ternyata pasien mengidap kanker."
Chaeyoung menggigit bibir bawahnya karena tak tahu harus berbicara apa. Kanker? Setahunya itu adalah penyakit berbahaya, tapi sejak kapan Sana punya penyakit itu. Sedangkan selama ini Chaeyoung merasa Sana baik-baik saja.
"Meskipun kanker mematikan dan membutuhkan pengobatan yang lama, bukan berarti penyakit itu tidak dapat di sembuhkan. Semakin cepat kanker di tangani, kemungkinan untuk sembuh juga semakin besar."
"Jadi masih bisa sembuh?"
"Ya, dan sebaiknya pasien harus cepat melakukan kemoterapi."
"Ya nanti saya akan bicara pada suaminya, kalau begitu saya permisi."
Chaeyoung keluar ruangan itu, pikirannya kosong. Dengan keberanian Chaeyoung masuk ke dalam ruangan itu.
Disana Sana berbaring dengan damai. Chaeyoung mulai sadar ternyata wanita itu berubah karena penyakitnya.
Perhatian Chaeyoung terlalih pada Yeonjun yang dari tadi terlelap di pangkuannya. Matanya langsung berkaca-kaca karena membayangkan bagaimana nasib anak itu yang masih sangat kecil.
Entah apa yang Chaeyoung rasakan. Bahagia karena wanita yang telah merebut suaminya itu sakit atau sedih karena suatu hal. Sebagai seorang ibu Chaeyoung sadar jika ingin sekali melihat anaknya tumbuh sampai dewasa, dan Sana? Chaeyoung bahkan tak tahu bagaimana hidup wanita itu.
"Chaeyoung."
Bisikan itu membuat Chaeyoung mengalihkan pandangannya. Sana sudah sadar tapi wajah wanita itu pucat sekali.
"Jangan bilang Jungkook ya."
Chaeyoung mengernyitkan keningnya. "Kenapa?"
Sana hanya tersenyum sendu menahan rasa sesak di dadanya.
"Aku gak mau dia khawatir, lagi pula sebentar lagi juga aku akan pergi." Ucapnya lirih.
"Apa maksud kamu? Jangan bicara seperti itu Sana."
"Penyakit ini udah aku obati lima tahun lalu, tapi.. tapi hiks kenapa kembali lagi." Isak Sana.
Chaeyoung menatap sendu Sana yang terisak di ranjang rumah sakit. Entah sejak kapan tangannya terulur menggenggam tangan kanan wanita itu erat. "Jangan menyerah Sana, masih ada harapan."
"Tidak, aku akan mati Chaeng hiks!"
"Jangan ucapkan itu! Yakinlah Sana, demi Yeonjun. Kasihan dia masih sangat kecil, kau tak mau melihatnya tumbuh?"
Sana merasa dadanya sangat sesak mendengar perkataan Chaeyoung. Ia menatap putranya yang terlelap di pangkuan Chaeyoung.
Siapa ibu yang tak mau menemani anaknya tumbuh sampai dewasa, melihat perkembangan buah hatinya. Tapi rasanya Sana tak akan bisa karena penyakit ini menghalangi semua itu. Kanker yang ada pada tubuhnya sudah kembali bersarang lagi, dan itu membuatnya takut.
"Bertahanlah demi kau dan juga Yeonjun, Sana. Berdo'a lah meminta penyembuhan pada Tuhan."
Sana terharu melihat ketulusan Chaeyoung. Kenapa wanita itu begitu baik padanya, sedangkan Ia sudah jahat karena merusak pernikahan Chaeyoung.
Tuhan apakah ini hukuman padanya karena sudah menghancurkan kebahagiaan orang lain? Menyakiti wanita sebaik Chaeyoung.
"Maafkan aku." Bisik Sana.
Chaeyoung terdiam mendengar itu. Ia menatap Sana dalam, entah kenapa jantungnya berdetak cepat. Chaeyoung tersenyum kecil pada Sana. "Ya, aku memaafkanmu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments
Yani mulyani
karma ...
2020-12-11
0
Agus Jagong
kaya ftv indosiar aja,,,,ku menangis🤭🤭🤭
2020-12-01
3
Dessy Puji Yuniati
terlalu baik ...
2020-10-26
0