Vote sebelum membaca ❤
.
.
"Gak!!"
Chaeyoung terkejut mendengar teriakan itu. Wanita itu menatap tak percaya Jungkook, apa suaminya baru saja menolak permintaannya.
Chaeyoung terkekeh miris. "Kenapa? Lepaskan saja aku, biar kau bisa hidup bahagia dengan wanita itu dan juga.. calon bayi kalian."
Jungkook terkejut mendengar akhir kalimat dari Chaeyoung. Jadi benar jika Chaeyoung sudah tahu jika Sana hamil.
"Gak Chaeng aku gak bisa, jangan minta yang itu aku mohon." Ucap Jungkook sendu. Jujur sebenarnya hati Jungkook bisa merasakan apa yang kini Chaeyoung rasakan, wanita itu pasti sangat terluka, karenya.
Chaeyoung kembali meneteskan air matanya.
Egois.
Itulah sifat Jungkook. Kenapa tak lepaskan saja Ia. Chaeyoung juga ingin bahagia, seperti rumah tangganya dulu sebelum wanita itu hadir.
"Apa kau pernah mengerti bagaimana perasaanku Jungkook?"
Jungkook mengangkat wajahnya. Pria itu hanya diam, menatap sendu istrinya yang terlihat sangat rapuh.
Chaeyoung menggeleng pelan. "Tidak, kau memang tak pernah mengerti bagaimana perasaanku.
Aku terluka, sakit. Kau dulu pernah berjanji akan membahagiakan kami, tapi kau.. bohong." Isak Chaeyoung. Ia benci karena terlihat lemah sekarang.
Jungkook menghembuskan nafasnya pelan, mencoba mengurangi rasa sesak di dadanya. Matanya sudah berkaca-kaca melihat istrinya. Perlahan Jungkook mendekat dan memeluk tubuh Chaeyoung.Walaupun istrinya itu memberontak di pelukannya, tapi kekuatan Chaeyoung tak seberapa baginya. Jungkook memeluk erat Chaeyoung, seakan takut kehilangan.
Ya, Jungkook sadar jika dirinya sangat egois. Ia bahkan tak pernah memikirkan bagaimana perasaan Chaeyoung. Tapi Jungkook juga tak ingin kehilangan Chaeyoung, wanita itu adalah segalanya baginya. Jungkook tak akan pernah melepaskan Chaeyoung, sampai kapanpun juga. Silahkan kalian mengatainya pria egois.
"Maaf Chaeng, maaf. Aku tidak ingin kita berpisah." Bisik Jungkook. Tak terasa Jungkook ikut meneteskan air matanya.
Jungkook melepas sejenak pelukan mereka. "Jika kita berpisah, bagaimana dengan Yuri? Dia masih kecil Chaeng, jangan sampai putri kita kehilangan kasih sayang dari sosok orangtuanya."
Chaeyoung menundukan kepalanya. Wanita itu terdiam mendengar penjelasan suaminya. Memang benar apa yang di katakan Jungkook, tapi di sini Ia yang paling tersakiti. Chaeyoung seperti menjadi pemeran baik yang harus selalu mengalah demi ke bahagiaan orang lain, tapi sungguh hatinya tak sekuat itu.
"Ijinkan aku untuk memperbaiki hubungan kita Chaeng, maaf jika aku belum bisa menjadi suami yang baik bagimu. Tapi beri aku kesempatan sekali lagi agar aku bisa memperbaiki semua kesalahan itu."
Chaeyoung menghembuskan nafasnya pelan, mencoba mengurangi rasa sesak di dada. Perkataan pria itu seperti bersungguh-sungguh, apalagi Chaeyoung melihat bekas air mata di pipi Jungkook. Apa Ia harus memaafkan lagi pria itu dan memberinya kesempatan?
"Baiklah, tapi aku ingin sendiri dulu."
Jungkook tersenyum lega mendengarnya. "Iya, aku akan tidur di kamar ta-"
"Aku ingin pulang, membawa Yuri."
Jungkook menggeleng kencang. "Gak! Aku udah bilang kita gak akan berpisah Chaeng, tolong sayang jangan bicara itu lagi."
Chaeyoung akhirnya memberanikan menatap Jungkook. "Aku butuh waktu sendiri dulu Jungkook, aku ingin pulang sebentar. Melihatmu malah membuat hatiku semakin hancur, sampai aku tenang." Bisik Chaeyoung, kekuatannya sudah terkuras habis.
Chaeyoung ingin pulang ke rumah orangtuanya. Ia butuh sendiri, menenangkan hatinya yang terluka. Chaeyoung tak bisa jika kini harus berpura-pura menguatkan hatinya, padahal dirinya sangat terluka.
Pikiran itu tiba tiba saja melintas di pikirannya. Chaeyoung akan ke Australia bersama Yuri. Ya hanya dengan Yuri saja sudah cukup.
"Baiklah, tapi aku akan selalu menunggumu di sini. Kembalilah Chaeng, aku tak bisa hidup tanpamu."
Chaeyoung pun melangkah pergi dari sana menuju kamarnya tanpa perlu menjawab Jungkook.
Sedangkan Jungkook langsung meluruh di lantai. Pria itu menangis tersedu. Apa yang telah Jungkook lakukan? Ya Tuhan kenapa Ia tega sekali melukai hati seorang wanita yang begitu tulus mencintainya.
Chaeyoung sangat berarti baginya. Jungkook tak bisa membayangkan kehidupannya tanpa Chaeyoung, Ia sudah sangat bergantung pada wanita itu.
Hidup tanpa seorang ayah membuat dirinya kurang kasih sayang. Jungkook saat itu berjanji akan menyayangi keluarganya, dan tak akan menghianati pernikahannya seperti yang dulu ayahnya lakukan. Tapi ternyata buah yang jatuh memang tak akan jauh dari pohonnya, Ia juga selingkuh.. Jungkook tak jauh beda dari ayahnya saja.
"Maafkan aku Chaeng, jangan tinggalkan aku hiks."
🍂
Yuri menatap heran mommy nya yang sedang memasukan pakaiannya ke dalam koper kecil. Anak itu turun dari kasurnya sambil memeluk boneka kelincinya.
"Mommy baju Yuli mau di kemanain?"
Chaeyoung menoleh, Ia tersenyum kecil melihat putrinya yang terjaga dari tidurnya. "Sayang mau gak ikut mommy ke rumah oma sama opa?"
Yuri menatap berbinar Chaeyoung. "Benelan kita mau ke oma? Mauuu." Riangnya.
Dan Chaeyoung tersenyum lebar karena ternyata Yuri mau ikut bersamanya untuk pergi ke Australia.
"Daddy ikut gak mommy?"
Pertanyaan Yuri membuat Chaeyoung terdiam sejenak. Chaeyoung tak tahu apakah jika Ia mengatakan Jungkook tak ikut, apa putrinya itu masih akan pergi bersamanya.
"Gak sayang, Daddy banyak pekerjaan di sini."
Chaeyoung bisa melihat raut sedih di wajah mungil itu. Apa Yuri kecewa karena Jungkook tak ikut? Huh, kenapa Yuri harus dekat sekali dengan suaminya ya.
"Nanti Daddy nyusul kok, kita duluan pergi ke rumah omanya ya sayang." Ucap Chaeyoung sambil mengusap rambut hitam Yuri.
"Ya udah."
Yuri berjalan dan naik ke kasur, lalu merebahkan diri. Yuri masih setia menatap mommynya, anak kecil itu lalu teringat saat kejadian tadi siang.
Yuri pun kembali mendudukan tubuhnya. "Mommy maaf."
Chaeyoung yang mendengar suara Yuri kembali menoleh. "Hm kenapa sayang?"
"Tadi siang mommy nangis pasti kalena Yuli. Yuli janji gak bakal lama lagi di kamal mandinya, bial mommy gak nunggu lama." Ucap Yuri pelan. Mata bulat itu kini sudah berkaca-kaca mengingat mommy nya yang menangis.
Chaeyoung merasakan dentuman keras di dadanya. Ya Tuhan putrinya itu begitu polos. Bahkan Yuri menyalahkan dirinya sendiri, padahal itu sama sekali bukan salah Yuri.
Chaeyoung menggigit bibir bawahnya mencoba menahan air matanya agar tak keluar. "Gak sayang, itu bukan salah Yuri." Wanita itu berjalan mendekat dan memeluk tubuh putrinya erat. "Udah ya sekarang bobo lagi, besok kan kita mau pergi."
Pernikahaan yang Ia jalani bukanlah impian setiap orang, tapi mau di kata apa ini adalah takdirnya. Chaeyoung hanya bisa menerima takdir Tuhan dan menjalaninya. Mungkin tanpa Yuri, Chaeyoung sudah menyerah dan memilih mundur saja dengan pernikahannya. Tapi Chaeyoung memikirkan Yuri, putrinya masih kecil.
Chaeyoung tak mau Yuri menjadi anak yang broken home. Yuri harus tumbuh dengan kasih sayang dari sekelilingnya. Biarlah Chaeyoung yang yang mengalah, bukankah seorang ibu memang harus banyak berkorban demi kebahagiaan anaknya?
Chaeyoung menciun kening Yuri, putrinya sudah tertidur lelap.
Wanita itu bangkit perlahan karena takut penggerakannya mengganggu Yuri yang tertidur. Chaeyoung lalu keluar dari kamar bernuansa pink itu.
Ini sudah malam sekali, lebih baik sekarang Ia tidur saja. Besok Ia akan berangkat ke luar negeri dan melakukan penerbangan di waktu pagi. Syukurlah semua keperluannya sudah di siapkan.
Tapi wanita itu terlebih dahulu menuju dapur karena merasa haus. Setelah meminum air, Chaeyoung kembali ke kamar. Saat akan menaiki tangga langkahnya terhenti melihat satu objek di ruang tamu.
Disana Jungkook tertidur dengan damai di sofa dengan keadaan tv yang masih menyala. Entah kenapa Chaeyoung merasa kasihan melihatnya. Padahal tadi mereka baru saja bertengkar, tapi hati kecilnya tak bisa berbohong jika merasakan kasihan pada Jungkook.
Akhirnya Chaeyoung masuk ke kamar di lantai bawah, membawa selimut dan juga bantal. Lalu kembali ke ruang tamu.
Awalnya Chaeyoung ragu karena takut membangunkan pria itu, tapi jika tidur seperti ini kasihan juga Jungkook pasti kedinginan dan juga pegal. Dengan perlahan Chaeyoung mengangkat kepala Jungkook lalu menyimpan bantal di bawah kepala pria itu. Setelahnya Chaeyoung menyelimuti tubuh suaminya sampai sebatas leher.
Chaeyoung menjongkokan badannya, kini Ia dapat melihat langsung wajah tampan suaminya, karena Jungkook tertidur dengan posisi menyamping.
Tangan kanannya terulur mengusap rambut Jungkook. "Jungkook jika aku memintamu untuk memilih antara aku dengan Sana, kau akan memilih siapa?"
Chaeyoung terkekeh miris, perlahan sebutir air mata menetes dari pelupuk matanya. "Apa yang aku pikirkan, tentu saja kau pasti akan memilih dia" Ucapnya lirih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments
Juli Juliana Ambar
bacanya sambil nyesek thor 😭😭😭
2021-07-18
0
Ari Lestari
ikutan sedih....
2021-01-08
0
Ning Nining
air mata ini tak bisa dtahan,,nyesekkkk,sesakkkk😭😭😭
2020-12-26
0