DUARR DUARR
Suara peluru terdengar begitu memekakan telinga. Namun, untuk suara tembakan tersebut. Aleo dan Kwan berada dalam kondisi aman. Lily terperanjat kaget saat melihat beberapa pasukan miliknya tergeletak tidak bernyawa. Wanita tangguh itu memutar tubuhnya untuk melihat sumber suara yang baru saja terdengar dari arah belakang.
Biao dan pasukannya baru saja tiba. Mereka memegang senjata api dan siap untuk melawan pasukan milik Lily. Kwan dan Aleo mengukir senyuman indah saat melihat paman tercinta mereka telah muncul untuk menolong. Dengan gerakan cepat, Lily memutar tubuhnya dan menyerang tubuh Kwan. Tapi, Aleo segera menangkis gerakan Lily malam itu.
Biao hanya duduk di depan mobil untuk melihat Kwan dan Aleo bertarung. Pria itu ingin melihat sejauh mana kemampuan bela diri Aleo yang selama ini ia ajarkan. Malam ini bukan sepenuhnya menjadi malam yang menegangkan dan menakutkan. Melainkan malam penuh pelajaran untuk Kwan dan Aleo. Karena mereka bisa menerapkan secara langsung di dalam kehidupan nyata ilmu bela diri yang selama ini mereka miliki. Menang kalahnya malam itu, tergantung kualitas yang mereka hasilkan.
Lily wanita yang cukup tangguh. Sebagai pemimpin, wanita itu memiliki sejuta strategi untuk menghindari pukulan lawannya. Selama ini ia sudah sangat sering berhadapan dengan lelaki petarung. Baginya Kwan dan Aleo tidak ada apa-apanya. Masih di bawah kemampuan yang ia miliki.
Biao tetap diam di depan mobil sambil memperhatikan cara bertarung Lily. Tidak ada kata lain yang dipikirkan Biao selain memuji wanita itu karena ilmu bela dirinya yang sangat hebat. Bahkan Kwan dan Aleo yang menghadapi wanita itu terlihat kewalahan dan kesulitan untuk mencapai kemenangan.
“Baru saja 30 menit yang lalu aku menghubungi Daniel di Sapporo. Detik ini aku sudah berhasil menemukan mereka,” ucap Biao di dalam hati. Pria itu beranjak dari posisinya. Melihat Kwan dan Aleo sudah kesulitan dan lelah melawan Lily, Biao lebih memilih maju dan memutuskan untuk bertarung melawan wanita yang usianya jauh di bawahnya itu.
Lily memandang wajah Biao dengan sorot mata yang sangat tajam. Wanita itu menatap beberapa pengawal miliknya yang belum muncul. Ada jebakan hebat yang sudah disiapkan Lily malam itu. Tadinya ia ingin menggunakan jebakan itu untuk membunuh Leona. Tidak di sangka, justru targetnya lolos dan ia kini harus berhadapan dengan tiga pria yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan masalahnya.
“Sekarang!” perintah lily kepada bawahannya.
Seluruh pasukan milik Lily melempar bom asap. Rencana awalnya, setelah bom asap itu mengepul dan menghalangi pandangan Leona, detik itu juga ia menusukkan belati kepada Leona. Tapi, untuk keadaan seperti ini. Lily lebih memilih untuk menusuk ketiga pria yang kini mengepungnya.
Biao sudah sangat paham teknik murahan seperti itu. Sejak dulu selalu saja ia menemui musuh yang berusaha menyerang dengan cara seperti ini. Bahkan tidak jarang kabur dengan cara seperti ini juga. Dengan gerakan cepat Biao mengeluarkan pistol yang tersimpan. Pria itu mengeluarkan satu tembakan. Tidak terlihat jelas memang. Asap itu mengepul dan menghalangi jarak pandang matanya.
DUARR
Satu tembakan di layangkan Biao. Salah sedikit saja bidikannya mungkin bisa melukai Kwan atau Aleo. Dua pria itu berdiri tidak jauh dari Lily. Tapi, tidak terdengar suara apapun. Hingga tidak lama kemudian, asap itu hilang bersama dengan angin dingin yang baru saja berhembus kencang. Lily dan seluruh pasukannya menghilang tanpa jejak. Ada darah di permukaan tanah yang menjadi tempat Lily berdiri sebelumnya. Biao memandang bercak darah itu dengan hati yang sangat puas.
“Paman, apa Paman baik-baik saja?” Aleo berjalan mendekati Biao berdiri.
Biao mengangguk pelan sebelum memasukkan pistolnya. Pria itu memeriksa keadaan sekitar. Ia mengeryitkan dahi saat tidak menemukan keberadaan Leona di sana.
“Dimana adikmu, Aleo?” ucap Biao dengan wajah serius.
Aleo menggeleng pelan. “Aku tidak tahu, Paman. Leona menghilang saat kami sibuk bertarung. Padahal sejak awal aku memintanya untuk menunggu di dalam mobil,” jawab Aleo dengan wajah sedih.
Kwan memandang ke arah hutan. Walau ragu, tapi pria itu sangat yakin kalau kakak sepupunya berlari ke sana untuk menyelamatkan diri.
“Kwan, apa yang kau pikirkan?” tanya Biao sambil mengikuti arah pandang Kwan.
“Saya berpikir kalau Kak Leona lari ke sana?” ucap Kwan sambil menunjuk ke arah hutan.
Biao memberi perintah kepada pasukan yang menjaganya untuk masuk ke dalam hutan dan memeriksa keadaan di dalamya. Sedangkan untuk Kwan dan Aleo, Biao mengajak dua pria itu untuk kembali ke hotel dan membersihkan diri. Dua pria itu terlihat kotor dan kelelahan. Ada juga beberapa luka yang harus di obati agar tidak infeksi. Kwan dan Aleo tidak bisa menolak jika Biao sudah memberi perintah. Mereka lebih memilih untuk menuruti perintah Biao walau kini mereka masih sangat mengkhawatirkan keberadaan Leona.
Kwan dan Aleo masuk ke dalam mobil yang sama dengan mobil Biao. Dua pria itu duduk di belakang. Ada supir dan Biao di bangku depan. Keempat pria itu berada di dalam mobil yang melaju kencang menuju ke gedung hotel yang selama dua hari di tempati Kwan dan Leona.
“Aleo, sebaiknya kau segera menghubungi orang tuamu. Mereka sangat mengkhawatirkanmu sekarang,” ucap Biao sambil memutar tubuhnya agar bisa melihat wajah Aleo dengan jelas.
“Baik, paman.” Aleo mengeluarkan ponselnya. Pria itu sudah berulang kali menghubungi nomor Serena namun tidak ada yang angkat. Sedangkan nomor Daniel, juga tidak bisa di hubungi. Karena di waktu yang bersamaan, Leona telah menghubungi Daniel. “Tidak bisa,” ucap Aleo dengan wajah bingung.
“Biar aku saja,” ucap Kwan sebelum mengotak-ngatik ponselnya. Pria itu melekatkan ponselnya di telinga dengan napas yang mulai normal. Bibirnya mengukir senyuman saat sang ibu yang mengangkat teleponnya.
Setelah selesai menghubungi Shabira. Kwan memasukkan ponselnya ke dalam saku. Kali ini gantian ponsel Biao yang berdering. Pria itu terlihat sedikit bingung ketika melihat nomor asing di layar ponselnya.
Biao mengangkat ponselnya tanpa mengeluarkan kata lebih dulu.
“Paman Biao, ini aku. Leona,” ucap Leona dengan suara pelan.
“Leona?” ucap Biao dengan wajah bahagia. “Dimana saat ini kau berada?”
“Paman, aku baik-baik saja. Aku merasa sangat lelah dan butuh istirahat. Wanita itu mengincarku. Ia berada sangat dekat denganku saat ini. Aku tidak ingin ketahuan. Paman, temui aku di gedung kosong yang ada di pinggiran kota. Besok jam lima sore. Aku baik-baik saja. Seseorang menjagaku dengan baik,” ucap Leona pelan.
“Leona, kau bersama siapa? Biar Paman jemput malam ini juga,” ucap Biao dengan wajah semakin khawatir.
“Paman, maafkan aku tidak bisa memberi tahu keberadaanku. Percaya padaku. Aku akan baik-baik saja.” Leona terlihat menyakinkan.
Biao menghela napas. “Baiklah. Paman akan menunggumu di gedung itu besok. Aleo dan Kwan bersama Paman saat ini. Kau tidak perlu khawatir, Leona.”
“Terima kasih, Paman,” ucap Leona sebelum memutuskan panggilan teleponnya.
Biao memandang layar ponselnya. Pria itu menghubungi seseorang yang bisa membantunya saat ini. Siapa lagi kalau bukan putri tercintanya.
“Sayang, apa kau bisa membantu Papa? Leona baru saja menghubungi Papa. Tapi, tidak memberi tahu keberadaannya saat ini,” ucap Biao dengan suara penuh harap.
“Ok, Daddy. Aku akan membantumu. Kirimkan uang untuk aku berbelanja,” ucap wanita di dalam telepon dengan suara centil.
“Hmm, baiklah. Laksanakan dulu tugasmu. Uangnya akan Papa transfer setelah pekerjaanmu memuaskan,” jawab Biao sebelum menghela napas.
“Baik, daddy...emmuach.”
Biao menggeleng pelan sebelum memasukkan ponselnya ke dalam saku. Pria itu membuang tatapannya ke luar jendela mobil dengan bibir tersenyum. “Dia mewarisi bakat ibunya,” gumam Biao di dalam hati dengan bibir tersenyum.
Ok, yang kepo sama anak Biao. Akan segera muncul part-nya... 🥰 like, komen dan vote.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 367 Episodes
Comments
Dini Ratna
hohoho....
aku excited banget ketemu ma lanjutan cerita y serena dan daniel...
seru kali y klo anak serena-daniel,kenzo-shabira,biao-(lupal,tama-(....) dan anak y zeroun-emely bersatu...
sesenang itu aku ketemu ma mereka
2021-11-07
0
Nur Inuhan
Biao emang keren dr dulu, q blm sempat baca kisahnya biao, bis ini deh,,
2021-07-26
0
Nona Cherry Jo
kak sisca nasty.. 💕💕💕💕
2021-06-29
0