Leona terus berlari kencang mengikuti jejak kaki Zean. Wanita itu semakin ketakutan saat mendengar suara tembakan yang begitu mengerikan. Ia mengkhawatirkan Aleo dan Kwan.
Hutan itu sangat sunyi dan dingin. Sesekali terdengar suara binatang hutan yang begitu menyeramkan. Jalanan yang mereka lalui juga sebuah jalan yang dipenuhi rerumputan yang semak. Jarak pandang mereka terhalangi rerumputan yang rimbun. Hanya ada cahaya rembulan yang menembus pepohonan hingga membuat seberkas cahaya terang.
Leona merasa sangat lelah. Ia sudah terlalu jauh berlari. Walau selama ini ia sangat suka berlari, tapi berlari dengan orang asing seperti Zean membuat debaran jantungnya tidak bisa tenang. Bahkan napasnya sesak dan sulit di atur.
Zean membawa Leona berlari sejauh mungkin agar tidak terjangkau oleh Lily dan yang lainnya. Pria itu tidak ingin terus-terusan gagal.
Hingga beberapa saat kemudian. Leona menghentikan langkah kakinya. Wanita itu menatap wajah Zean dengan saksama.
"Zean, bagaimana dengan kak Aleo dan Kwan? Aku tidak ingin meninggalkan mereka. Aku ingin bersama mereka." Terlukis jelas wajah khawatir Leona malam itu. Kedua matanya tampak berkaca-kaca. Bibirnya gemetar karena sedih dan takut.
Zean juga menghentikan langkah kakinya. Pria itu memutar tubuhnya lalu memandang wajah Leona dengan wajah bingung.
"Leona, kita tidak bisa kembali. Orang-orang jahat itu mengincarmu," ucap Zean dengan wajah yang serius.
Leona mengeryitkan dahi. "Zean, bukankah kau di rumah sakit? Kenapa sekarang bisa ada di sini?" tanya Leona dengan wajah curiga.
Zean terlihat sangat tenang. Pria itu memegang kedua tangan Leona dengan wajah yang sangat meyakinkan. "Karena dirimu, Leona. Aku merasa firasat buruk ketika Lily menemuiku tadi di rumah sakit."
Leona kembali mengingat wajah wanita yang tadi menarik tangannya. Wanita itu memang sama dengan wanita yang ia temui di rumah sakit.
"Dia Lily. Wanita yang memimpin wilayah Meksiko. Aku tidak tahu apa tujuannya ingin mencelakimu. Dia tadi datang menemuiku dan memintaku untuk mencelakimu, Leona. Aku tidak ingin melakukan hal itu. Lily mengancamku. Setelah ia pergi, aku berusaha kabur dari rumah sakit dan mencari keberadaanmu," ucap Kwan dengan wajah bersungguh-sungguh.
Leona tertegun ketika mendengar penjelasan yang diberikan oleh Zean. "Kita tidak saling kenal. Untuk apa kau mengorbankan nyawamu hingga seperti ini?"
Zean menarik tangan Leona sebelum mengusapnya dengan lembut. Pria itu juga mendaratkan satu kecupan di punggung tangan Leona. "Aku mencintaimu, Leona."
Leona terperanjat kaget ketika mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Zean. Ini pertama kalinya bagi Leona ada pria yang menyatakan cintanya secara terang-terangan. Sudah banyak pria yang selama ini berusaha dekat dengan Leona. Namun, karena ada Kwan di sisi Leona. Pria-pria itu tidak ada yang berani lebih dekat lagi dengan Leona.
"Maaf, tapi aku-"
"Aku tidak memintamu untuk menerima cintaku, Leona. Aku hanya ingin kau tahu, kalau aku telah jatuh cinta sejak pertama kali melihatmu. Aku sadar, kalau kita berasal dari kelas yang berbeda. Wanita kaya seperti dirimu tidak akan mungkin mau dekat dengan pria jalanan sepertiku. Tapi, ada satu hal yang harus kau tahu, Leona. Aku akan mengorbankan seluruh nyawaku hanya untuk melindungi nyawamu. Hidupmu adalah hidupku. Selamanya akan seperti itu."
Leona kembali membisu. Wanita itu tidak tahu harus berbicara apa lagi. Sejak pertama kali melihat Zean, Leona sudah merasa nyaman. Wanita itu merasa kalau dirinya juga jatuh cinta kepada Zean. Hanya saja ia masih ragu untuk mengakuinya.
"Aku tidak bisa memikirkan hal lain saat ini. Aku sangat mengkhawatirkan Kak Aleo dan Kwan." Leona menunduk dengan wajah sedih.
Zean mengukir senyuman kecil. "Jangan khawatir. Aku akan membantumu untuk bertemu dengan mereka lagi. Untuk saat ini, sebaiknya kita cari tempat yang aman saja dulu."
Leona mengangguk pelan. Kini yang ada di dalam hatinya. Ia ingin segera menemukan tempat yang aman sebelum menghubungi Serena dan Daniel di Sapporo. Tidak ada lagi yang bisa ia percaya dan ia mintai tolong selain kedua orang tuanya. Walaupun kini Zean terlihat baik dan bisa di percaya.
***
Sapporo.
"Apa maksudmu, Biao?" ucap Daniel dengan wajah serius.
Serena yang saat itu sedang duduk di sebuah sofa menatap Daniel dengan wajah khawatir. Ekpresi wajah Daniel sangat mencurigakan. Di tambah lagi, sejak awal perbincangan Daniel dan Biao di telepon membahas masalah Meksiko.
"Baiklah. Aku akan segera ke sana," ucap Daniel sebelum memutuskan panggilan teleponnya.
"Ada apa, Daniel?" Serena beranjak dari duduknya. Wanita itu berjalan mendekati posisi Daniel berdiri.
"Sayang, kabar buruk." Daniel memegang tangan Serena. Pria itu menatap istrinya dengan tatapan penuh arti. "Aku kehilangan kontak dengan para pengawal S.G. Group yang ada di Meksiko. Biao dan timnya baru saja tiba di sana. Tapi, mereka tidak bisa menemukan kabar tentang Aleo, Leona dan Kwan. Ponsel mereka mati." Daniel berusaha menyampaikan kabar tersebut secara hati-hati. Ia tidak ingin Serena menjadi kepikiran dan kembali jatuh sakit.
"Apa Kenzo dan Shabira tahu soal ini?" Serena masih memasang wajah setenang mungkin walaupun kini ia belum mendapat kabar dari dua anak kembarnya.
"Mereka dalam perjalanan ke sini," jawab Daniel pelan.
Serena menghela napas. "Kita harus menjemput mereka ke Meksiko."
Daniel mengangguk setuju. "Ya, aku sudah menyiapkan pesawat untuk berangkat ke Meksiko."
"Daniel, aku takut jika apa yang aku khawatirkan selama ini menjadi nyata," ucap Serena Dengan wajah mulai sedih.
"Sayang, semua akan baik-baik saja. Walau usia kita sudah seperti sekarang. Tapi kita masih bisa bertarung dan menembak. Kita akan selalu melindungi keluarga kita. Percaya padaku. Semua akan baik-baik saja."
Daniel menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya. Pria itu mengusap lembut punggung Serena dan mengecup wajah wanita itu berulang kali.
"Daniel, seharusnya kita menceritakan semuanya kepada Aleo dan Leona. Mereka pasti mengerti dengan masa lalu kita." Serena mempererat pelukannya.
"Jika waktunya tiba. Kita akan menceritakan semuanya."
"Aku takut mereka tahu dari orang lain dan tidak bisa menerima masa laluku," sambung Serena dengan wajah sedih.
"Mereka sangat menyayangimu, Serena. Mereka tidak akan membencimu," jawab Daniel untuk kembali menyakinkan.
Serena hanya memejamkan mata sambil mengatur pikirannya untuk kembali tenang.
"Sudah cukup lama aku melewatinya. Tapi, masa lalu seperti baru terjadi semalam. Bau darah itu terus-terusan menganggu penciumanku. Bahkan suara tembakan dan ledakan itu juga terasa mengiang di telingaku," gumam Serena di dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 367 Episodes
Comments
Marhaban ya Nur17
kwan anaknya kenzo Sabrina y
2025-03-23
0
" sarmila"
bnr2 senam jntung
2021-09-07
0
Dewi Anggraini
seharusnya se Leona juga di bekali ilmu beladiri juga..
2021-07-07
0