Serena dan Shabira saling memandang. Mereka menghela napas. Sudah bukan masanya lagi mereka berlari dan menangkap orang. Dua wanita itu sadar dengan umur mereka. Melihat kelakuan anak kesayangan mereka seperti itu, mereka hanya bisa mengatur napas agar tidak terasa berat.
“Ma, biar Aleo yang urus,” ucap Aleo sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Pria itu memberi perintah kepada pengawal S.G. Group untuk menjaga adik kesayangannya. Memang selama ini seperti itu yang ia lakukan untuk melindungi adiknya. Menyebarkan puluhan pengawal agar Leona terhindar dari bahaya.
“Aleo, Leona menjadi tanggung jawabmu. Papa mempercayakan semuanya kepadamu, Nak.” Daniel menepuk pelan pundak putranya.
Aleo tersenyum indah, “Semua akan baik-baik saja, Pa. Pasti dua hari lagi mereka pulang,” ucap Aleo dengan keyakinan.
“Sudah malam, ayo kita pulang. Tamu undangan juga sudah mulai habis,” ucap Serena sambil merangkul lengan Daniel.
Daniel mendaratkan kecupan di pucuk kepala Serena, “Ya. Kau juga harus menjaga kesehatanmu. Ingat, kata Dokter jangan terlalu banyak pikiran agar kau tidak jatuh sakit lagi,” ucap Daniel sambul mengusap lembut rambut Serena. Di matanya, Serena masih tetap sama. Cantik, seksi dan selalu membuatnya tertarik. Wanita terbaik yang akan selalu ia cintai.
Serena mengukir senyuman. Wanita itu mengajak Daniel melangkah pergi dari lokasi pesta. Diikuti Shabira dan Kenzo di belakang. Sedangkan Aleo, pria itu lebih memilih untuk tidur di kamar hotel yang kini menjadi gedung pesta adiknya. Ia ingin mengurus beberapa pekerjaan malam ini di kamarnya.
“Setelah menyelesaikan pekerjaan ini, aku akan menjemput Leona besok,” gumam Aleo di dalam hati sebelum berjalan pergi. Pria itu tidak pernah menyangka, kalau kali ini adik kesayangannya tidak ada lagi di negara yang sama dengan dirinya. Wanita itu telah pergi ke tempat yang sangat jauh dari jangkaunnya saat ini.
***
Pagi yang indah, Aleo terbangun saat mendengar deringan ponselnya. Pria itu meraba tempat tidurnya untuk mencari ponselnya yang masih berdering. Kedua matanya masih terpejam. Ia merasa tubuhnya lelah dan tidak bersemangat untuk bangkit.
Setelah menemukan ponselnya di bawah bantal, Aleo meletakkan ponselnya di telinga. Pria itu mangusap matanya dengan lembut, “Hmm, ada apa? Dimana dia?” ucapnya dengan suara serak dan mata yang masih berat.
“Nona muda berangkat ke Meksiko dengan pesawat pribadi milik keluarga Daeshim, Tuan,” ucap lawan bicara Aloe dari kejauhan.
“Oh,” sambung Aleo dengan mata yang masih terpejam. Dalam hitungan detik kedua mata pria itu melebar. Rasa kantuk yang sempat memenuhi kelopak matanya telah hilang entah kemana, “Apa kau bilang? Meksiko?” ucap Aleo sekali lagi untuk memastikan kalau apa yang ia dengar tidak salah.
“Benar, Tuan. Saya sudah mengirim orang yang ada di Amerika untuk mengikuti Nona Eleonora. Mereka akan segera tiba dan menjaga Nona di Meksiko,” ucap pengawal itu lagi.
Aleo tidak lagi tertarik memperdebatkan masalah itu di telepon. Pria itu mematuskan sambungan teleponnya. Ia mencari nama Leona di ponselnya. Hatinya merasa tidak tenang saat mendengar kabar adik kesayangannya tidak ada lagi ada di negara yang sama dengan dirinya.
Sudah berulang kali Aleo menghubungi Leona, Tapi tidak ada satupun yang di angkat. Pria itu semakin frustasi. Ia tidak tahu harus menjawab apa kepada kedua orang tuanya nanti. Dengan gerakan cepat Aleo berjalan ke arah kamar mandi. Pria itu ingin membersihkan dirinya sebelum nanti memikirkan cara untuk membawa Leona kembali ke Sapporo.
“Aku hampir lupa kalau ia kini sudah berusia 25 tahun. Kenapa aku bisa ceroboh seperti ini,” umpat Aleo kesal di dalam hati.
Aleo membuka pakaiannya lalu membasahi tubuhnya di bawah pancuran shower. Kedua matanya terpejam sambil memikirkan cara untuk membujuk Leona segera pulang sebelum Kedua orang tuanya menyadari semua yang telah terjadi. Akhir-akhir ini kondisi Serena kurang baik. Aleo tidak ingin Ibu tercintanya jatuh sakit hanya karena memikirkan keadaan Leona yang belum tahu bagaimana.
Sudah 25 tahun Daniel dan Serena berhasil menyimpan masa lalu mereka. Putra dan putrinya tidak pernah tahu, bagaimana kehidupan Ibu mereka dulunya. Di mata mereka selama ini, Mama tercinta hanya wanita lemah yang tidak akan mungkin bisa berkelahi. Mereka menyamakan Serena dengan wanita tua yang seumuran dengannya.
Setelah selesai mandi dan memakai pakaiannya, Aleo melekatkan ponselnya ditelinga. Pria itu ingin menghubungi Daniel. Selama ini hanya Papa tercinta yang menjadi tempatnya untuk curhat segala masalah yang menimpahnya.
“Pa, Aleo pagi ini berangat ke Meksiko,” ucap Aleo sambil berjalan cepat meninggalkan kamar hotel.
“Kau baru saja pulang. Bahkan mama sudah menyiapkan makan siang untukmu dan Leona. Bawa adikmu segera pulang,” ucap Daniel dengan nada pelan namun sedikit menekan.
“Itu masalahnya, Pa. Leona ke Meksiko bersama Kwan,” sambung Aleo sambil menekan tombol lift.
“Apa kau bercanda Aleo? Meksiko sangat jauh. Bagaimana ia bisa pergi sejauh itu tanpa meminta ijin dari kami dulu?” Daniel mulai meninggikan suaranya.
“Pa, Leona sudah berusia 25 tahun. Ia tidak lagi anak kecil yang bisa kita atur. Papa tenang dulu. Aleo akan mengurus semuanya. Aleo pasti akan membawa Leona pulang.” Aleo masuk ke dalam lift. Pria itu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Sekali lagi ia menghela napas sambil membayangkan wajah Leona, “Awas saja kau Kwan!” umpatnya kesal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 367 Episodes
Comments
" sarmila"
s kwan na kudi d tekke hela🤣🤣🤣🤣🤣
2021-09-07
0
Nur Inuhan
apa kabar anaknya pangeran zeroun yaa thor, seganteng bapaknya kah ,.
2021-07-26
0
Nona Cherry Jo
hallo kak sisca.. jumpa lagi di karyamu ini
..tetap semangat ya kak... aku salah satu penggemar akan karyamu.. love you kak sisca 💕🙏
2021-06-29
0