Keesokan harinya, Leona dan Kwan makan siang di sebuah cafe yang tidak jauh dari hotel. Mereka terlihat sangat bahagia dengan liburan dadakan mereka saat itu. Di tambah lagi, Leona dan Kwan sama-sama berasal dari keluarga yang berada. Apa saja yang mereka inginkan selalu saja cepat tiba di depan mata.
Setelah selesai makan, Kwan dan Leona lagi-lagi memutuskan untuk menjelajahi kota Meksiko dengan cara berjalan kaki. Sangat indah dan asyik untuk di pandang. Dengan berjalan kaki, mereka bisa menjelajahi kota Meksiko hingga ke gang sempit sekaligus.
Walaupun keputusan tersebut adalah keputusan sepihak yang dibuat oleh Leona. Kwan tidak pernah setuju dengan rencana jalan kaki tersebut. Setelah cukup lama berjalan, Leona dan Kwan memutuskan untuk berhenti. Mereka berdiri di pinggiran jalan sambil mengatur napas mereka yang terlihat berat.
“Kak, ayo kita kembali ke hotel. Aku lelah,” ucap Kwan. Bukan hanya berjalan-jalan di tengah kota. Bahkan sejak pagi saja Leona sudah mengajaknya berlari-lari di pinggiran pantai. Wanita berprofesi model itu terlihat tidak pernah lelah. Ia sangat hobi berlari-lari dan berpetualang seperti sang ibu dulunya.
“Sebentar lagi. Aku masih ingin menjelajahi bagian sana,” ucap Leona sambil menunjuk ke arah yang akan menjadi tujuan selanjutnya.
Kwan menggeleng pelan. Hatinya sungguh menyesal karena sudah membawa Leona ke Meksiko. Pria itu merencanakan jalan-jalan elit ala milyader. Tidak di sangka, saat ini justru dia dan Leona berjalan-jalan seperti rakyat biasa. Sungguh melelahkan dan sangat menguras tenaga.
Leona berdiri tegak dan merapikan rambutnya yang tergerai. Wanita itu mengambil pita lalu mengikat rambutnya agar tidak lagi merasa panas. Sambil mengikat rambut, Leona melihat seorang anak kecil yang berlari ketakutan. Leona terlihat sangat penasaran. Tanpa pikir panjang, wanita itu berlari mengejar anak kecil tersebut. Ia berniat untuk menolong anak kecil yang sedang bersedih itu.
Kwan mendengus kesal. Bahkan rasa lelahnya belum juga reda. Tapi kini Leona sudah berlari kencang meninggalkannya. Mau tidak mau, pria itu berlari kencang untuk mengejar Leona dari belakang.
Leona berlari ke arah gang sempit. Wanita itu tidak lagi sadar dengan lokasi yang kini ia tuju. Ada banyak simbol gangster yang menandakan suatu wilayah. Hingga pada akhirnya, langkah Leona terhenti. Anak kecil yang ia cari telah menghilang. Justru kini yang muncul di hadapannya adalah pria-pria berbadan tegab dengan senyum menyeringai.
“Hai, Nona. Serahkan harta bendamu kepada kami,” ucap pria yang berbadan tegab dan bewajah paling menyeramkan. Dilihat dari posisinya berdiri, sepertinya pria itu adalah pimpinan dari kelompok geng yang kini menghalangi langkah Leona.
Kwan baru saja tiba di lokasi. Pria itu memandang wajah semua pria yang menghalangi Leona. Ia menaikan satu alisnya. Sekali lagi Kwan memperhatikan keadaan sekitar yang terlihat sunyi. Namun, tidak jauh dari posisi mereka berada ada pasukan S.G.Group yang terlihat siaga. Kwan kembali bernapas lega dengan wajah yang sangat tenang.
“Tidak akan,” jawab Leona cepat. Wanita itu memutar tubuhnya untuk melihat wajah Kwan yang baru saja tiba.
Pria-pria itu memandang Leona dengan tatapan menghina. “Apabila kau tidak menyerahkan harta bendamu. Jangan salahkan kami, jika kami harus melukai tubuhmu yang berharga itu, Nona,” sambung pria itu sebelum memandang seluruh pasukan miliknya.
Leona menaikan satu alisnya. “Coba saja kalau kalian berani? Jika kalian berhasil menyentuhku, aku akan membayar kalian 1 juta dollar,” ucap Leona penuh kesombongan. Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada. Ada Kwan di samping tubuhnya saat ini. Ia tahu, bagaimana jagonya Kwan dalam berkelahi. Leona tidak pernah merasa takut sedikitpun saat adik sepupunya itu ada di dekatnya.
Kwan menaikan satu alisnya. Pria itu memasukkan kedua tangannya di dalam saku. Ia hanya diam untuk menonton tingkah laku Leona siang itu. Ia tidak tertarik sedikitpun untuk ikut campur dalam perdebatan Leona dengan para gangster yang kini menghadang jalannya.
“Nona, anda harus bisa memegang ucapan anda,” ucap salah satu pria berbadan kekar. Pria itu mengeluarkan sebuah belati dan memainkannya di hadapan Leona. Ia sengaja melakukan semua itu agar Leona ketakutan.
Leona memperhatikan belati itu dengan perasaan sedikit takut. Tapi, lagi-lagi rasa percaya dirinya dan gengsinya terlalu besar. Wanita itu tertawa keras dengan wajah riang. Membuat semua orang yang ada di lokasi tersebut terlihat kebingungan.
“Hanya segitu?” ucap Leona di sela-sela tawanya. “Bahkan saat kalian mengeluarkan senjata lebih berbahaya lagi, aku masih sanggup mengalahkan kalian,” sambung Leona dengan jemari menghapus tetes air mata. Wanita itu merasa sangat bahagia hingga membuat tetes air mata jatuh di sudut matanya.
Kwan menghela napas. Semakin lama sikap Leona semakin keterlaluan. Wanita itu tidak bisa berkelahi. Tapi, tingkah lakunya sudah seperti wanita tangguh yang terbiasa memimpin sebuah geng. Dari belakang Leona, Kwan hanya bisa menggeleng pelan. “Kali ini apa lagi yang ia pikirkan?” gumam Kwan di dalam hati.
Ketua gangster itu tersenyum kecil. Pria itu memberi perintah kepada seluruh pasukan yang ia bawa untuk mengeluarkan senjata mereka. Hingga dalam hitungan detik saja, seluruh gangster itu mengeluarkan senjata api yang mereka bawa. Semua ujung senjata api mengarah ke tubuh Leona berada.
“Lets play, Nona,” ucap pria itu dengan senyum penuh kemenangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 367 Episodes
Comments
Saenab
harusx Leona pintar beladiri Krn orang tuax adalah mafia walaupun model kan tidak ada salahx kalau pintar bela diri
2022-11-22
0
LENY
Leona sok jagosn padahal blm bisa apa2 kl SERENA sih boleh memang jagoan🙏
2021-06-20
0
Regita Regita
gadis sombong yg nackal
2021-04-17
0