Meksiko
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Leona dan Kwan berjalan-jalan di kota Meksiko. Mereka berbelanja beberapa baju yang akan mereka kenakan selama tinggal di Meksiko. Leona dan Kwan terlihat sangat kompak. Mereka memang pantas menjadi adik kakak. Hanya ada tawa yang terdengar di sepanjang jalan. Kwan merangkul pundak Leona dengan satu tangan membawa belanjaan Leona. Sedangkan Leona sibuk dengan permen lollipop yang baru saja ia beli.
“Kau harus berterima kasih padaku. Wanita-wanita itu tidak berani mendekatimu karena ada aku di sampingmu,” ucap Leona sambil memakan permen lollipop yang ada di tangannya.
“Wajahmu sangat galak. Wanita-wanita cantik itu tidak berani mendekatiku, karena berpikir kalau kau adalah bodyguardku,” ledek Kwan dengan tawa kecil.
Leona mencubit perut Kwan dengan gigi menggertak, “Beraninya kau mengataiku sebagai bodyguard. Mana ada bodyguard secantik aku.” Leona menyingkirkan tangan Kwan dari pundaknya. Wanita itu berjalan lebih dulu dengan langkah kaki yang cepat.
“Kak, kau mudah sekali tersinggung,” ucap Kwan sebelum mengejar langkah kaki Leona.
Leona duduk di kursi besi yang ada di pinggiran jalan. Wanita itu menikmati pemandangan indah di tengah kota. Ada banyak pengunjung yang berlalu lalang di hadapanya. Bibirnya tersenyum indah.
“Setelah ini aku akan mengajak Kak Aleo untuk berkeliling dunia,” ucap Leona dengan suara pelan.
“Kenapa tidak mengajakku saja?” sambung Kwan yang tiba-tiba saja sudah duduk di samping Leona.
Leona memiringkan kepalanya untuk memandang Kwan, “Mengajakmu tidak akan bisa berpergian dengan tenang. Kau akan terus-terusan di kejar-kejar para investor. Belum lagi Paman Kenzo dan Tante Shabira yang akan terus-terusan menghubungimu.” Leona membuang lolipopnya yang sudah tidak enak lagi ke tong sampah. Wanita itu bersandar untuk menatap langit biru yang indah.
Kwan menghela napas. Semua yang dikatakan Leona benar. Kwan tidak bisa memiliki kebebasan yang sama dengan Aleo. Pria itu hanya dengan menggunakan ponsel saja sudah bisa menyelesaikan masalah. Sedangkan dirinya, sudah berjuang keras hingga mengadakan pertemuan di restoran mewah tapi tetap saja tidak berhasil.
“Kak, apa kau tidak pernah memiliki keinginan untuk memiliki kekasih?” Kwan menatap wajah Leona dengan seksama. Sudah cukup lama ia berada di samping Leona. Tapi, belum pernah sekalipun ia melihat Leona dekat dengan pria. Kalau dilihat dari sikap Daniel dan Serena serta Aleo, mereka tidak pernah melarang Leona memiliki kekasih.
“Aku takut,” jawab Leona sambil memejamkan mata. Hembusan angin yang sangat kencang membuat matanya terasa berat dan ingin terpejam.
Kwan mengeryitkan dahi, “Kenapa harus takut? Kau seorang model, Kak. Kau juga putri kesayangan dari pengusaha terkenal. Di tambah lagi, kau adik kesayangan seorang pria yang kini sedang naik daun. Tidak sulit bagimu untuk mendapatkan pria yang sempurna.”
Leona mengukir senyuman, “Hidupku sudah pusing menghadapi dua pria seperti kau dan kak Aleo. Aku tidak ingin tambah pusing dengan bertambah satu pria lagi,” jawab Leona asal saja.
Kwan tertawa kecil. Pria itu ikut bersandar dan memandang langit yang sangat indah. Tiba-tiba saja ia ingat akan sesuatu yang belum ia beli. Pria itu duduk sambil menatap wajah Leona, “Kak, ada sesuatu yang ingin aku beli. Apa kau mau menungguku di sini?”
Leona mengangguk pelan masih dengan mata terpejam. Wanita itu tidak mau mengucapkan satu katapun. Kwan tersenyum. Pria itu memandang wajah beberapa pengawal S.G. Group yang sejak tadi mengawasinya dari kejauhan.
“Kak Aleo benar-benar pria yang siaga. Dalam waktu singkat, kota ini sudah dipenuhi pengawal S.G. Group,” gumam Kwan di dalam hati. Pria itu beranjak dari kursi tersebut dan pergi meninggalkan Leona sendiri di tempat itu.
Leona membuka matanya saat Kwan telah menjauh. Wanita itu mengukir senyuman kecil, “Aku akan mengerjaimu Kwan. Ayo kita bermain petak umpet.” Leona beranjak dari duduknya. Wanita itu menatap beberapa paper bag yang berisi barang belanjaannya. Ia mendengus kesal dengan wajah tidak bersemangat, “Bagimana bisa aku pergi dan meninggalkan barang-barang ini?” ucap Leona pelan. Ia belum tahu kalau sudah banyak pengawal S.G.Group di dekatnya. Wanita itu mengambil ponselnya dari dalam tas. Tapi, ia tidak menemukan ponsel miliknya. Ia kembali berpikir dengan wajah melamun.
Leona mundur beberapa langkah. High heelsnya menginjak batu kerikil hingga membuat keseimbangannya hilang begitu saja. Dari kejauhan, ada seorang pria mengendarai sepeda dengan laju yang sangat cepat. Tubuh Leona terjatuh ke belakang. Wajah wanita itu sangat panik. Ia melirik sepeda yang sudah sangat dekat dengan tubuhnya. Kejadian itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Leona tidak lagi bisa mencegah tubuhnya agar tidak terjatuh.
Tiba-tiba saja tangan kekar memegang pinggangnya. Leona merasa tubuhnya di tarik hingga akhirnya ia terhindar dari tabrakan sepeda yang sedang melaju cepat itu. Namun, tidak seindah yang ia bayangkan. Pria yang menarik tubuh Leona juga kehilangan keseimbangannya. Pria itu justru jatuh dan menind*ih tubuh Leona. Dengan sangat pas dan seperti di sengaja, bibir pria itu mendaratkan bibirnya di bibir merah Leona.
Leona melebarkan kedua matanya sambil menatap dua mata pria yang baru saja mencuri ciuman pertamanya. Kedua mata Leona mengerjap. Satu tangannya berada di dada bidang pria itu. Leona mematung saat merasakan bibir lembut dan asing yang kini menyentuhnya.
Tiba-tiba saja pria itu menjauh dari tubuh Leona. Kwan berdiri di sana. Ia menarik kaos pria itu dengan wajah memerah. Tangannya terkepal kuat. Kwan membuat pria itu berdiri tegab di hadapannya sebelum melayangkan pukulan ke wajah pria tersebut. Tepat di rahang kanannya. Dengan pukulan keras dan sangat menyakitkan.
Leona masih tergeletak di jalanan berbatu dengan wajah mematung. Ia syok dan tidak menyangka dengan kejadian yang baru saja menimpahnya. Hanya ada langit biru yang kini memenuhi pandangan matanya. Satu tangannya terangkat ke atas dan menyentuh bibir miliknya dengan lembut.
Kwan tetap asyik menghajar pria yang sudah berbuat kurang ajar terhadap Kakak tersayangnya. Wajah pria itu memerah, “Rasakan ini pria breng*sek!” teriak Kwan dengan suara lantang.
Leona tersadar dari lamunannya saat mendengar teriakan Kwan. Wanita itu beranjak dari posisinya tergeletak. Ia membersihkan debu yang mengotori seluruh tubuhnya lalu memandang wajah pria yang menolongnya kini sudah babak belur. Leona segera berdiri dan berusaha menolong pria itu. Pukulan Kwan sangat kuat dan dipenuhi dendam. Leona tidak ingin Kwan sampai membunuh pria yang sudah menolongnya.
"Kwan, hentikan!" teriak Leona dengan wajah panik. Ia memandang wajah pria itu dengan seksama.
Sudah banyak darah dan luka di wajah pria itu. Tapi Kwan tidak juga mau menghentikan aksinya. Baginya itu belum cukup setimpal dengan perbuatan pria itu yang sudah berani mencium bibir Leona.
Leona terlihat bingung. Kini semua orang yang berdiri di pinggiran jalan telah memperhatikannya. Wanita itu menarik tangan Kwan dengan wajah takut. "Aku mohon, hentikan!" ucap Leona dengan wajah memelas.
Tapi rasanya percuma saja. Kwan masih tidak memperdulikan jeritan Leona. Baginya, Leona seperti berlian yang sangat berharga. Tidak ada yang boleh menyentuh Leona sembarangan.
Leona mengatur napasnya. Hanya ada satu cara untuk membuat Kwan menghentikan aksinya. Dengan mata terpejam, Leona membuat tubuhnya tidak bertenaga. Wanita itu ingin pura-pura pingsan saja.
Kwan menatap wajah Leona sekilas. Pria itu membulatkan kedua bola matanya saat melihat Leona memejamkan mata dengan tangan di atas kepala. Kwan menghempaskan tubuh pria itu ke jalanan sebelum menangkap tubuh Leona.
“Kak,” ucap Kwan dengan wajah panik. Pria itu menepuk pelan pipi Leona agar wanita itu mau membuka mata.
Leona membuka mata saat merasakan kedua tangan Kwan sudah ada di tubuhnya. Wanita itu menatap wajah pria itu dengan seksama, “Apa yang kau lakukan!” teriak Leona. Wanita itu berdiri lalu memandang pria yang menolongnya. Hatinya sedih ketika melihat pria itu kini sudah tergeletak dengan penuh luka.
Leona maju beberapa langkah. Namun, gerakannya terhenti saat Kwan menahan tangannya. Pria itu menggeleng pelan dan melarang Leona untuk mendekat. Tapi, Leona keras kepala. Wanita itu ingin mendekati pria yang telah menolongnya.
Kwan menghela napas. Ia mengangkat tubuh Leona lalu membawanya pergi. Pria itu meletakkan tubuh Leona yang ringan di atas pundaknya. Kwan menatap beberapa pasukan S.G. Group untuk mengurus pria itu dan barang belanjaan bawaannya.
“Kwan, lepaskan aku,” teriak Leona dengan tubuh berontak. Wanita itu tidak lagi bisa melihat dengan jelas karena kini kepalanya berada di posisi terbalik, “KWAN!”
Kwan hanya tersenyum kecil. Ia tahu kalau pria itu yang menyelamatkan Leona dari bahaya. Tapi di depan matanya sendiri, pria itu sengaja mendorong tubuh Leona hingga berhasil mencium bibirnya, “Hari ini aku tidak menghabisi nyawamu karena kau sudah memiliki jasa melindungi Kak Leona dari bahaya,” gumam Kwan di dalam hati. Ia tidak lagi peduli. Pria itu memutuskan untuk membawa Leona ke mobil dan kembali ke hotel.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 367 Episodes
Comments
Widya ayu🤗
Lagi baca ulang ni... siapa yg malam ni lagi baca novel ni ☺️..like komenku... 🤣🤣🤣🤣
2021-08-10
2
Riani El fian
hahaaaaaaa si KWAN ya,,,,
bener2 tu jagain berlian 🤭
2021-07-28
0
Marlyne Lia Lyne
gara gara di cium syok sampai linglung gk sadar yg nolong i nya di pukuli kwan. masa sih gk bisa teriak untuk menghentikannya.. apa saat itu dia msh bdoh ya belom jd bos mafia
2021-07-22
1