Leona, Aleo dan Kwan sudah ada di sebuah restoran mewah. Mereka terlihat menikmati suasana malam saat itu. Beberapa pelayan terus saja muncul untuk menghidangkan aneka menu spesial untuk mereka. Lokasi restoran itu sangat private. Terletak di lantai sepuluh dengan pemandangan kota Meksiko pada malam hari.
“Kak, apa kau ke sini untuk menjemput kami?” ucap Kwan sambil mengunyah makanannya. Pria itu memang memiliki sifat buruk saat makan. Dia tidak pernah bisa diam untuk menikmati makan. Selalu saja mencari cara agar yang lain mengobrol saat makan.
“Hmm,” jawab Aleo malas. Pria itu tetap melanjutkan makan malamnya tanpa mau terpancing obrolan dengan Kwan.
“Kak, besok pagi kami ikut pulang ke Sapporo-”
“What?” sambung Leona cepat. Wanita itu menghentikan aktifitas makannya. Kedua matanya menatap wajah Kwan dengan tatapan tidak suka. Padahal mereka sudah sepakat untuk kembali setelah satu minggu di Meksiko. Ini baru dua hari. Seharusnya masih ada lima hari lagi untuk mereka bersenang-senang.
Aleo melirik wajah Leona sebelum melanjutkan makan malamnya. Pria itu terlihat sangat tenang. “Apa yang terjadi? Tumben mereka tidak sepemikiran,” gumam Aleo di dalam hati. Tidak ingin ikut ke dalam masalah antara Kwan dan Leona. Aleo lebih memilih makan saja dan duduk manis menjadi pendengar budiman.
“Kak, Tempat-”
“Gak! Aku masih mau disini!” Leona melepaskan sendok dan garpu yang ada di tangannya. Wanita itu mengambil tisu lalu membersikan mulutnya. Wajahnya benar-benar kesal. Leona beranjak dari kursi yang ia duduki lalu melangkah pergi meninggalkan meja makan.
“Leona!” teriak Aleo dengan suara lantang. Pria itu menghentikan aktifitas makannya. Menatap ke arah punggung Leona dengan saksama. Kedua matanya beralih ke arah Kwan dengn tatapan penuh tanya.
Kwan mengukir senyuman kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Maafkan aku Kak. Aku tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini.”
Aleo mendengus kesal sebelum beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu berjalan dengan tenang menuju ke tempat Leona kini berdiri. Wanita itu berdiri di sebuah balkon berukuran luas. Ia memandang keindaan kota yang di temani dengan hembusan angin malam yang dingin.
Aleo melepas jas miliknya lalu memakaikannya di tubuh Leona. Pria itu memeluk adik kesayangannya dari belakang sejenak sebelum ikut berdiri di pinggiran balkon. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku. Tanpa memandang, Aleo berusaha membujuk adik tercintanya.
“Kota ini sangat indah. Tapi, terlihat sedikit menyeramkan di balik keindahannya. Seperti ada masalah besar yang akan terjadi di kota ini,” ucap Aleo dengan wajah yang serius.
Leona hanya diam. Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada sambil mengatur napasnya agar kembali normal. “Aku bosan di Sapporo, Kak. Setelah pulang dari sini, aku ingin ke Brazil untuk melanjutkan bakatku menjadi model.”
Aleo mengangguk pelan. “Ya. Itu pilihanmu, Leona. Kakak cuma bisa mendukung semua cita-citamu. Bukankah kau sudah hampir menjadi model terkenal tahun lalu. Tapi, kau mundur dengan alasan yang tidak jelas,” ucap Aleo dengan dahi mengeryit.
Leona memandang wajah Aleo. “Aku tidak tahu kenapa aku tidak ingin melanjutkannya waktu itu. Aku sudah berusia 25 tahun. Kakak memiliki karir yang bagus di dunia bisnis. Setidaknya, aku juga harus memiliki karir yang bagus di dunia model. Aku juga ingin menghasilkan uang sendiri seperti Kakak.”
“Hmm, kemarilah.” Aleo membuka satu tangannya. Pria itu menarik tubuh Leona ke dalam pelukannya. “Lakukan sebuah pekerjaan dari hati. Kau tidak bisa memaksakan hatimu jika tidak menyukai pekerjaanmu, Leona. Kakak tahu, kau tidak suka dunia model. Kau melakukannya karena tidak ada pilihan lain. Kau tidak berbakat di bidang apapun hingga akhirnya memilih menjadi model. Wajah dan tubuhmu mendukung hingga kau bisa dengan mudah di terima di beberapa majalah besar. Bukankah begitu?”
Leona mengangguk pelan. “Aku tidak tahu. Dimana bakatku saat ini. Aku sudah berusaha belajar dalam hal apapun. Tapi, tidak ada yang bisa membuatku nyaman.”
“Kakak yakin, kau pasti akan menemukannya nanti. Sekarang, ayo kita makan lagi. Bukankah tadi kau bilang sangat lapar? Kenapa sekarang hanya makan satu suap saja?” bujuk Aleo dengan suara pelan.
Leona menggeleng pelan. “Kak, temani aku di Meksiko. Aku masih ingin ada di tempat ini.”
Aleo memejamkan mata untuk sejenak. Pria itu berusaha membagi waktu antara pekerjaan dan adik kesayangannya. “Baiklah. Kakak akan menemanimu selama di Meksiko. Lima hari lagi kan?”
Leona mengukir senyuman indah. Wanita itu mengangkat kepalanya untuk memandang Aleo. “Kakak serius?”
Aleo mengangguk setuju. “Ya. Kau adikku. Perusahaan bisa aku suruh orang lain untuk mengendalikannya. Tidak denganmu. Bahkan Kwan saja sudah mundur. Sebenarnya masalah apa yang kau timbulkan hingga Kwan menyerah ingin kembali ke Sapporo?”
Leona diam membisu. Wanita itu tidak berani mengatakan yang sebenarnya terjadi. “Aku hanya tidak menurut saja. Mungkin dia kesal karena aku ajak jalan-jalan dengan cara jalan kaki.”
Aleo tertawa riang. “Leona, Kwan tidak sama dengan kakak. Baiklah. Dengan kakak, kau bisa berjalan-jalan sambil berjalan kaki. Kita akan menjelajahi setiap sudut kota Meksiko.”
“Kakak yang terbaik,” sambung Leona cepat dengan wajah bahagia.
***
Lily duduk di bangku kemudi sambil memperhatikan gedung yang di jadikan Leona dan yang lainnya makan malam. Wanita itu sudah menyiapkan pasukan yang ia miliki untuk mencelakai Leona. Kedua matanya dipenuhi dendam dan sakit hati. Wanita itu tidak lagi mau duduk diam menonton pertunjukkan yang akan dilakukan oleh pria yang ia cintai.
Untuk menghilangkan rasa bosannya, Lily mengambil botol minuman dan meneguknya dengan saksama. Senjata api dan senjata tajam sudah melekat indah di tubuhnya. Setelah berhasil mengepung Leona di jalanan sunyi, wanita itu akan membunuh Leona dengan tangannya sendiri.
Tiba-tiba saja pintu terbuka. Zean masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Lily. Pria itu memandang ke depan dengan tatapan tidak terbaca. Lily memandang wajah Zean sekilas sebelum melanjutkan pengintaiannya. Wanita itu terus saja meneguk minumannya untuk menghilangkan rasa kesal di dalam hatinya.
Hingga tidak lama kemudian. Leona dan yang lainnya keluar dari gedung tersebut. Mereka masuk ke dalam mobil dengan wajah berseri. Ada senyuman indah di bibir Leona malam itu. Lily semakin kesal melihat Leon malam itu.
Dengan gerakan cepat Lily membuang botol minumannya. Ia menghidupkan mesin mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Diikuti dengan mobil-mobil yang berisi bawahannya Wanita itu tidak mau mengubah keputusannya walaupun kini Zean ada di sampingnya.
Zean menatap wajah Leona dengan tatapan serius. Pria itu tiba-tiba saja memikirkan rencana baru. Dengan hembusan yang sangat tenang, Zean duduk di kursinya dengan posisi nyaman. Bahkan pria itu lebih memilih memejamkan mata sambil menunggu tindakan Lily selanjutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 367 Episodes
Comments
" sarmila"
deg degan deh😥😥😥😥😥😥😥
2021-09-07
0
pembaca dalam hati
haha Leona mau ke Brazil mau nganterin nyawaa
2021-05-24
1
ana Imaa
ini lanjutan cerita dari anak anak para geng mafia
2021-01-18
0