Sapporo Hotel.
Di salah satu kamar hotel, seorang wanita duduk di depan cermin. Penampilannya terlihat sangat cantik dan anggun. Bibirnya mengukir senyuman indah saat melihat pantulan wajah cantik miliknya melalui cermin. Dua pria yang bertugas menjadi tata rias terlihat sangat teliti mempoles make up di wajah wanita yang baru saja menginjak usia 25 tahun itu.
“Nona muda, anda terlihat sangat cantik. Malam ini anda adalah Ratunya,” bisik salah satu pria dengan senyum puas hasil riasannya.
“Terima kasih,” ucap wanita itu dengan hati yang sangat bahagia.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Seorang pria berjas hitam berjalan masuk ke dalam kamar tersebut. Ada sebuah kado di genggaman tangannya. Pria itu mengukir senyuman saat melihat wajah cantik wanita yang ada di hadapannya.
“Selamat ulang tahun, Adikku tercinta,” ucap pria itu.
Wanita itu beranjak dari kursi yang ia duduki. Ia berlari untuk memeluk tubuh pria yang sudah sangat ia rindukan, “Kak Aleo, akhirnya Kakak pulang juga. Selamat ulang tahun juga. Bukankah kita lahir di tanggal yang sama?” ucap Leona pelan.
“Ya. Tapi aku tidak suka ulang tahun sepertimu. Setiap tahun selalu ada pesta.” Aleo mengusap pipi Leona dengan lembut. Pria itu sangat rindu dengan adiknya. Ia menarik lagi tubuh Leona ke dalam pelukannya, “Paman Biao awalnya tidak mengijinkan. Tapi, saat Kakak bilang ini demi ulang tahunmu. Ia mengijinkan Kakak,” ucap Aleo sambil mengusap lembut punggung adik kesayangannya.
Wanita itu bernama Eleonora Edritz Chen. Putri kesayangan dari Serena Wang dan Daniel Edritz Chen. Pria yang kini memeluk tubuhnya adalah Aleonora. Mereka kakak adik yang saling menyayangi dan selalu kompak selama ini.
Namun, beberapa bulan terakhir ini. Daniel meminta Aleo untuk mengurus masalah perusahaan cabang Amerika. Mau tidak mau, pria itu harus menuruti permintaan sang Ayah. Sejak kecil, baik Aleo maupun Leona adalah dua anak yang penurut dan tidak pernah membakang. Mereka sangat menyayangi Serena dan Daniel. Didikan Serena dan Daniel yang selalu dipenuhi dengan rasa cinta telah menghasilkan anak yang memiliki sifat lemah lembut dan penurut seperti mereka berdua.
Leona melepas pelukannya. Wanita itu memandang kotak kecil yang ada di genggaman Aleo. Bibirnya mengukir senyuman, “Apa ini untukku?” ucapnya penuh harap.
“Ya, Leona. Kakak memesannya secara khusus dari Amerika.” Aleo memberikan kotak kecil itu kepada sang adik. Ia cukup yakin dan percaya diri, kalau Leona akan senang dengan hadiah yang ia berikan saat itu.
Leona menerima kado tersebut. Ia membuka kotak itu dengan hati-hati. Bibirnya mengukir senyuman saat melihat sebuah kalung berlian yang sangat indah di dalamnya. Dengan segera ia meminta dua tata riasnya untuk membuka kalung yang sempat melingkar di leher jenjangnya. Wanita itu memakai kalung pemberian Aleo dengan hati yang sangat gembira.
“Ini sangat indah,” ucap Leona sambil memandang pantulan dirinya melalui cermin yang ada di depannya. Jemarinya mengusap lembut kalung berlian itu dengan bibir tersenyum indah.
“Ok, sepertinya tamu undangan sudah berkumpul. Ayo kita ke lokasi pesta.” Aleo merangkul pinggang adiknya. Pria itu membawa adik tercintanya pergi meninggalkan kamar hotel tersebut.
Di Lokasi pesta, para tamu undangan telah berkumpul. Di sebuah meja berukuran luas, telah duduk beberapa orang dengan obrolan ringan yang selalu membuat canda tawa. Ada Serena, Daniel, Shabira dan Kenzo di meja tersebut.
“Andai saja Kak Emelie dan Kak Zeroun bisa datang, pasti acara ini akan semakin seru,” ucap Shabira sambil mengatur posisi duduknya.
“Mereka pasti sangat sibuk dengan urusan negara hingga tidak bisa hadir pada malam ini,” jawab Serena dengan senyum indah. Wanita tangguh yang dulu terlihat sangat cantik itu kini sudah mulai terlihat tua. Kulit wajahnya terdapat kerutan. Ia tidak lagi terlihat seperti wanita tangguh. Seorang pria yang berada di sampingnya mengukir senyuman indah.
Walau sudah berumur dan memiliki banyak kerutan di wajah, tapi Daniel tetap romantis. Rasa cinta dan sayangnya terhadap sang istri tidak pernah berkurang. Pria itu memuja dan mencintai Serena hingga maut memisahkan mereka nanti.
Sorak tepuk tangan terdengar begitu meriah. Eleonora telah tiba di lokasi pesta. Wanita itu merangkul lengan kakaknya dengan senyuman indah. Ia berjalan ke meja yang di duduki Serena dan yang lainnya.
“Mama,” ucap Leona kegirangan. Wanita itu memeluk ibunya dengan rasa bahagia, “Terima kasih. Pesta kali ini sangat mewah dan Leona suka.” Leona mendaratkan kecupan sayangnya kepada sang ibu. Wanita itu tidak lagi bisa berkata-kata. Hanya ciuman sayang itu yang mewakili rasa terima kasihnya terhadap ibu tercintanya.
“Mama bahagia, jika kau bahagia sayang,” ucap Serena sambil mengusap lembut lengan Leona.
“Ayo, Ma. temani aku meniup lilin dan memotong kue,” pinta Leona dengan nada manja.
“Mama sudah tua. Malu di lihat teman-temanmu nanti,” ucap Serena dengan tawa kecil.
“Mama....” Leona memajukan bibirnya.
Serena mengukir senyuman. Wanita itu beranjak dari kursi yang ia duduki. Daniel merangkul pinggang Serena dan menemani wanita itu untuk mendampingi Putri tercintanya.
Pesta ulang tahun itu berlangsung dengan begitu mewah dan meriah. Sebagai ahli waris keluarga Chen, Leona bebas melakukan apa saja yang ia inginkan. Tidak hanya harta dari sang ayah. Kakak kesayangannya juga sudah memiliki pundi-pundi kekayaan dari hasil kerja kerasnya selama ini.
Aleo seorang Presdir di perusahaan S.G. Group yang baru saja berkembang di Amerika. Mengalahkan kejayaan Cabang San Fransisco yang pernah di tangani oleh Biao. Sedangkan Leona, ia lebih memilih untuk menjadi seorang model. Wajahnya yang sangat cantik memang telah mendukung cita-citanya untuk menjadi model terkenal.
Serena mengukir senyuman sambil memandang putri tercintanya yang sedang tersenyum indah. Rasanya tidak ada kebahagiaan yang jauh lebih indah daripada melihat kedua anaknya tersenyum.
“Sudah 25 tahun. Semua berlalu begitu cepat. Sepertinya baru semalam aku berada pada posisi itu. Terima kasih, Tuhan. Kau memberikanku keluarga yang sempurna seperti sekarang,” gumam Serena di dalam hati.
Dari kejauhan, seorang pria berjas abu-abu baru saja tiba. Pria itu mengukir senyuman kepada beberapa wanita yang terlihat terpesona atas wajah tampannya. Pria itu bernama Kwan. Putra kesayangan Kenzo dan Shabira. Kini ia menjadi Ceo di perusahaan Z.E Group menggantikan posisi Kenzo.
“Kak Leona, selamat ulang tahun,” ucap Kwan dengan senyum indah.
“Kwan, kau terlambat. Kuenya sudah di potong,” protes Leona sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Kak, Kakak pasti tahu. Sangat sulit melewati para wanita di lantai bawah. Wajah tampanku ini tidak ada saingannya.” Kwan terlihat percaya diri dengan penampilannya malam itu.
“Hmm, apa kau yakin karena ketampananmu itu kau terlambat?” Kenzo dan Shabira muncul di belakang Kwan. Sepasang suami istri itu mendekati posisi Putranya berdiri.
Kwan memutar tubuhnya. Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Papa, kenapa Papa bisa ada di sini. Ini pesta anak muda. Papa sudah berusia lebih dari 50 tahun. Seharusnya papa dan mama di rumah saja istirahat.”
“Kwan, apa kau sudah berhasil menyelesaikan masalah di perusahaan?” Kenzo memasang wajah serius. Pria itu terlihat tidak tertarik dengan kalimat yang baru saja diucapkan putranya.
“Hemm, sudah Pa. Para investor masih mau menanam saham di Z.E Group. Mereka tidak jadi pergi,” jawab Kwan dengan kepala menunduk.
“Lihat Aleo. Dia bisa mengurus beberapa perusahaan sekaligus. Kau hanya mengurus satu saja sudah membuat perusahaan itu hampir bangkrut hari ini.” Kenzo melipat kedua tangannya di depan dada. Seperti itu karakternya sejak tua. Suka protes dan membanding-bandingnya putranya dengan putra Daniel. Ia tidak menyangka, kalau sifat pembakang miliknya akhirnya menurun di dalam diri Kwan. Walau begitu, tetap saja Kenzo tidak ingin mengakui kelemahannya.
“Sudah-sudah,” ucap Shabira dengan suara yang sangat pelan, “Kwan, jangan ulangi lagi. Kau harus menjadi pria yang lebih sabar. Tidak semua masalah harus di selesaikan dengan kekerasan.” Shabira menepuk pundak putranya.
“Ya, Ma. Maafkan Kwan,” ucap pria itu. Ia mengangkat kepalanya lalu menatap wajah Leona. Ada senyum licik di sudut bibirnya. Dengan gerakan cepat ia menarik tangan Leona dan membawa wanita itu pergi meninggalkan semua orang yang telah berkumpul di sana.
“KWAN!” teriak semua orang.
Leona hanya tertawa kecil. Kejadian penculikan ini bukan yang pertama kali terjadi. Hampir setiap tahun, Kwan menculiknya dan membawanya pergi berjalan-jalan untuk bersenang-senang.
“Kali ini kita mau kemana?” ucap Leona sambil berlari kencang mengikuti jejak kaki Kwan.
“Meksiko,” jawab Kwan cepat.
“Apa kau yakin? Itu sangat jauh,” ucap Leona tidak percaya.
Kwan menghentikan langkah kakinya. Pria itu menatap wajah Leona dengan seksama, “Hanya satu minggu. Kita akan jalan-jalan di sana. Aku bosan berada di perusahaan. Kak, kali ini kau yang harus menolongku,” ucap Kwan dengan wajah memohon, “Aku belum berhasil membujuk para investor itu agar kembali menanam saham di perusahaan.”
“Kau berbohong tadi?” Wajah Leona berubah serius.
Kwan mengangguk pelan, “Sekali ini saja bantu aku, tolong. Mama dan Papa tidak akan marah ketika aku kembali nanti,” bujuk Kwan dengan wajah memelas.
“Hmm, baiklah, Ayo kita berangkat ke Meksiko,” jawab Leona dengan bibir tersenyum.
***
Ilustrasi hanya khayalan author. Jika ada yang bilang kurang cocok... kalian bisa khayalin wajah yang kalian suka🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 367 Episodes
Comments
Its me Ann
keren kok Thor aku suka😘🥰❤️
2022-01-30
0
" sarmila"
ini baru d mulai udh kbyng bkln seru karna enaknya😍😍😍😍😍😍
2021-09-07
1
Maia Mayong
psta ny dtggl gtu z y Leona ..
2021-09-01
0