Aleo memutar tubuhnya. Pria itu sangat kenal dengan suara adiknya. Ia memutar tubuhnya dengan bibir tersenyum. Tidak sama dengan Kwan. Pria itu terlihat semakin panik dan kebingungan. Ia berjalan untuk mendekati wanita tanpa busana yang kini ada di kamarnya. Pria itu menarik paksa tangan wanita itu dan membawanya ke kamar mandi.
Aleo memandang wajah Kwan sekilas sebelum membuka pintu. Pria itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan adik kesayangannya. Aleo menarik handle pintu hingga membuat pintu tersebut terbuka lebar.
“Kak Aleo?” teriak Leona kegirangan. Wanita itu memeluk Aleo dengan bibir tersenyum indah.
Aleo membalas pelukan Leona. “Kau membuatku khawatir.”
“Maafkan aku,” ucap Leona dengan suara pelan. “Aku kehilangan Kwan. Apa dia ada di dalam?” Leona mengangkat wajahnya untuk memandang wajah Aleo.
“Hmm,” jawab Aleo malas. “Ayo kita ke kamar. Kwan masih mandi. Kita akan bertemu dengannya saat makan malam nanti.”
Aleo menarik tangan Leona. Pria itu segera menutup pintu kamar Kwan agar Leona tidak menyadari kejadian yang ada di dalam. Dengan wajah tersenyum, Leona mengikuti ajakan Aleo. Walau sedikit kesal karena di tinggal sendirian di rumah sakit, tapi Leona bisa kembali tenang. Setidaknya, Kwan baik-baik saja.
Di dalam kamar mandi Kwan menghela napas lega. Pria itu menatap wajah wanita yang kini ada di hadapannya. Bibirnya mengukir senyuman kecil. Dengan gigi menggertak Kwan mencekik leher wanita tersebut.
“Siapa yang melakukan semua ini?” ucap Kwan dengan wajah menahan emosi.
“Ma-maafkan saya. Saya di ancam akan di bunuh jika tidak melakukan hal ini,” ucap wanita itu terbata-bata.
Kwan melepas tangannya. Pria itu menarik tubuh wanita itu dan mendorongnya ke bak mandi yang ada di sana. “Jika kau tidak mau mengaku. Aku yang akan membunuhmu saat ini,” ancam Kwan dengan wajah penuh emosi.
“Ampun, Tuan. Ampun,” ucap wanita itu lirih.
Kwan terlihat kesal. Pria itu mengambil vas bunga yang ada di dalam kamar mandi. Dengan penuh emosi Kwan memegang erat vas tersebut dan ingin melemparkan vas bunga ia ke arah kepala wanita tersebut.
“Maafkan saya, Tuan. Mereka adalah orang yang paling berkuasa di Meksiko. Saya tidak tahu siapa mereka. Saya hanya pernah dengar kalau mereka adalah Devils. Maafkan saya. Jangan bunuh saya,” ucap wanita itu semakin ketakutan. Ia berlutut di bawah kaki Kwan dengan tetes air mata ketakutan. “Tolong bebaskan saya, Tuan.”
Kwan menatap wajah wanita itu dengan rasa kasihan. Ia menghela napas sebelum meletakkan vas bunga itu kembali ketempatnya. “Pergilah.”
Wanita itu menghapus air matanya. Ia menarik handuk lalu melilitkan di tubuhnya untuk menutupi tubuhnya yang polos. “Terima kasih, Tuan.” Wanita itu pergi meninggalkan kamar mandi. Ia tidak lagi ingin bertemu dengan pria kejam seperti Kwan.
Kwan menghela napas. Pria itu tidak lagi tahu harus berbicara apa. Kehadirannya di Meksiko seperti mendapat sambutan buruk dari penguasa yang ada di daerah situ. Kwan sendiri tidak tahu, dimana letak kesalahannya. Sejak awal ia dan Leona tidak pernah mencari masalah dengan orang-orang yang berkuasa di kota besar tersebut.
“Sepertinya aku harus lebih berhati-hati lagi,” gumam Kwan di dalam hati.
***
Leona menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Wanita itu terlihat sangat lelah. Kedua matanya terpejam dengan tangan yang sengaja di rentangkan. Ia terlihat tidak peduli dengan Aleo yang kini menatap wajahnya dengan ekspresi bingung.
“Apa semua baik-baik saja?” ucap Aleo pelan. Pria itu duduk di tepian tempat tidur. Ia mengusap lembut rambut Leona dengan penuh kasih sayang.
“Tentu saja. Aku sangat menikmati liburanku saat ini,” jawab Leona masih dengan mata terpejam.
Aleo menghela napas. “Hmm, baiklah. Jika lelah, istirahat saja dulu. Kakak mau nonto televisi saja,” ucap Aleo sebelum beranjak.
Dengan gerakan cepat Leona menahan tangan Aleo. Waniat itu mengukir senyuman penuh arti. “Kak, ayo kita jalan-jalan. Kau juga harus menikmati keindahan kota Meksiko pada malam hari.”
“Hmm, ya. Sekarang aku ingin duduk di sana dulu. Nanti malam aku akan menemanimu jalan-jalan.” Aleo mengacak-ngacak rambut Leona. Pria itu juga melepas ikat rambut yang ada di kepala Leona. “Begini jauh lebih cantik.”
Leona mendengus kesal. “Aku mau mandi saja.” Wanita itu beranjak dari tempat tidur sebelum berjalan ke arah kamar mandi. Ia merasa tidak nyaman dengan tubuhnya yang kini terasa lengket. Leona juga ingin mengganti baju yang sudah seharian ia pakai.
Aleo mengukir senyuman sebelum menggeleng pelan kepalanya. Tingkah laku Leona selalu saja membuatnya ingin tertawa. “Sudah cukup lama aku tidak melihat tingkah laku Leona yang seperti ini.”
Aleo berjalan mendekati sofa. Tiba-tiba saja pintu terbuka. Kwan muncul di ruangan itu. Ia berjalan mendekati posisi Aleo berada. Sedangan Aleo, ia memandang wajah Kwan sekilas sebelum melanjutkan kegiatannya menonton televisi.
“Pria sibuk bisa menonton juga?” sindir Kwan. Pria itu berjalan ke arah kulkas untuk mengambil minuman dingin yang tersedia. “Dimana Kak Leona, Kak?”
Kwan mengambil dua kaleng minuman bersoda. Pria itu memberikan satu kepada Aleo sebelum meneguk satunya lagi sendirian.
“Kwan, kenapa kau tidak bisa menghilangkan sifat burukmu itu. Apa kau tidak takut jika suatu saat nanti ada wanita yang tiba-tiba muncul di hadapanmu dan meminta pertanggung jawabanmu?” Aleo membuka minuman tersebut sebelum meneguk isinya secara perlahan.
Kwan menyandarkan tubuhnya di sofa. Pria itu hanya bisa diam tanpa berani menjelaskan. Ia tidak ingin Aleo tahu masalah yang baru saja mereka hadapi.
“Tidak akan ada. Aku pria yang sangat hati-hati, Kak. Aku berani menjamin, kalau wanita yang aku tiduri tidak akan mungkin hamil.” Kwan meneguk minuman kaleng yang ada di tangannya.
Aleo mengangguk pelan. “Semoga saja kau selalu beruntung, Kwan.”
Kwan memandang ke arah Televisi. “Aku tidak yakin akan beruntung kali ini. Sepertinya aku harus segera membujuk Kak Leona untuk kembali ke Sapporo. Semakin lama berada di kota ini semakin membuatku tidak tenang dan khawatir. Semoga saja Kak Leona mau mengikuti keinginanku,” gumam Kwan di dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 367 Episodes
Comments
Aya Vivemyangel
Knp g crita aja sih si kwan Im ini
2023-01-04
0
Sahril Banong Potabuga Lasene
lemah juga bodoh semuanya pemeran utamnya
2021-08-21
0
Riyanti
Nunggu up.. jadi baca ulang ☺️
2021-05-31
0