Leona mematung. Wanita itu merasa, tiba-tiba saja tenggorokannya kering. Ia mengukir senyuman kecut sebelum melangkah mundur. Senjata-senjata api itu membuatnya takut dan tidak lagi berani menantang.
“Sepertinya mereka terlalu serius menanggapi ucapanku tadi,” bisik Leona kepada Kwan. Wanita itu bersembunyi di belakang tubuh Kwan sambil memegang lengan kekar pria tersebut. Ia tidak lagi berani menantang pria-pria yang kini berdiri di hadapannya.
Kwan menghela napas berat. “Dasar wanita!” umpatnya kesal.
“Kwan, apa kau bisa mengalahkan mereka? Mereka sangat banyak. Jika kau tidak bisa mengalahkan mereka, aku akan menghubungi polisi atau kita bisa kabur dengan cara berlari,” bisik Leona di telinga Kwan.
Kwan mengangguk pelan. Ia terlihat sangat setuju dengan kalimat yang baru saja dikatakan oleh Leona. “Kak, sebaiknya kau melepas high heelsmu dulu. Itu akan mempersulitmu saat lari nanti,” ucap Kwan dengan wajah serius.
Leona melebarkan kedua matanya. “Kwan, apa kau benar-benar tidak bisa mengalahkan mereka?” ucap Leona semakin takut. Sesekali wanita itu memandang wajah para gangster yang sudah siap menembak dirinya.
“Tentu saja ya. Jumlah mereka sangat banyak. Ditambah lagi, mereka memiliki senjata,” sambung Kwan cepat.
Leona memejamkan mata, “Habislah aku.”
“Hei, Nona! Serahkan uang satu jutanya maka aku akan membiarkanmu pergi,” teriak pria berbadan tegab itu lagi.
Leona tertawa kecil. “Kwan, cepat berikan mereka uang saja,” bisik Leona dengan perasaan campur aduk.
“Kak, jika pada akhirnya kita akan membayar mereka? Untuk apa ada negosiasi ini?” protes Kwan dengan alis saling bertaut.
“Aku hanya mengulur waktu,” bisik Leona.
Kwan mengangkat tangannya. Pria itu memetik jarinya satu kali. Bibirnya mengukir senyuman kecil, “Ok, lets play,” ucap Kwan dengan penuh percaya diri.
Leona memandang wajah Kwan dengan seksama. Setelah memberi sebuah kode, seluruh pasukan S.G. Group yang sejak tadi bersembunyi keluar. Mereka menodongkan senjata api dan mengelilingi gangster yang sempat menghalangi jalan Leona dan Kwan. Jumlah pasukan S.G. Group juga jauh lebih banyak dari pada gangster tersebut.
Leona melebarkan kedua matanya dengan tatapan tidak percaya. Detik itu juga ia baru sadar, kalau selama ini ia telah di jaga dan di awasi oleh seluruh pasukan milik keluarganya.
“Kwan, kenapa kau tidak bilang sejak awal?” ucap Leona dengan suara yang ketus. Wanita itu tidak lagi mau berbisik dan memasang wajah takut-takut. Ia cukup percaya diri, kalau seluruh pasukan miliknya pasti akan menang melawan gangster tersebut.
Kwan tertawa kecil. Pria itu mengangguk sedikit sebelum akhirnya, seluruh pasukan S.G. Group melakukan penyerangan. Baku tembak dan baku hantam terjadi di mana-mana. Beberapa pasukan S.G. Group juga ada yang berbaris di depan Leona dan Kwan untuk melindungi mereka.
“Kwan, ayo kita pergi dari sini,” ucap Leona. Wanita itu merasa ngeri saat melihat darah dimana-mana. Satu pemandangan yang tidak layak untuk ia lihat.
“Ayo,” jawab Kwan. Pria itu merangkul pundak Leona lalu membawa wanita itu pergi dari sana.
Baru beberapa langkah Kwan dan Leona berjalan, suara kegaduhan itu mulai senyap. Kwan segera memutar tubuhnya. Dalam hitungan detik, pasukan S.G. Group miliknya telah berbaring di permukaan jalanan. Bersamaan dengan gangster yang baru saja mereka serang. Pasukan S.G. Group yang tersisa juga terkena tembakan yang datang secara tiba-tiba dan tidak tahu asalnya dari mana.
Kwan menarik tangan Leona dan menyembunyikan tubuh wanita itu. Kini ia hanya sendiri. Tidak ada lagi orang yang bisa ia mintai pertolongan.
“Apa yang terjadi?” tanya Leona takut. Wanita itu memandang keadaan sekitar. tapi, tidak ada apapun dan siapapun di sekitar lokasi tersebut.
“Ada penembak jitu yang sengaja mengalahkan kita secara diam-diam,” jawab Kwan. Pria itu berjalan mendekati pasukan S.G. Group yang tergeletak. Ia mengambil sebuah pistol lalu menggenggamnya dengan erat. Sorot matanya terlihat menyelidik setiap gedung yang kini berada di dekatnya.
Beberapa pria muncul dari segala arah. Kali ini tidak ada senjata api atau balati. Pria-pria itu hanya menggunakan tangan kosong saja. Mereka mengepal kuat kedua tangan mereka sambil memandang Kwan dengan tatapan menghina.
Kwan mengukir senyuman tipis. Pria itu memberikan pistol yang ada di genggamannya kepada Leona. “Kak, tembak asal saja. Jika nanti aku kalah,” ucap Kwan pelan.
“Apa maksudmu?” protes Leona. Ia tidak ingin Kwan terluka apa lagi sampai kalah.
“Semua akan baik-baik saja,” sambung Kwan lagi. Pria itu menggenggam tangan Leona sebelum melangkah maju. Ia merapikan penampilannya dengan tatapan menghina. Pria itu sama seperti Kenzo. Tidak tahu akan menang atau kalau, yang terpenting penampilan tetap rapi. Walau dalam keadaan bertarung.
Leona memandang pistol yang ada di genggamannya. Wanita itu mengatur napasnya yang tiba-tiba saja berubah sesak. Sejak tadi, jalan yang kini ia lalui tidak ada dilewati satu orangpun. Sekilas, Leona berpikiran. Kalau anak kecil yang sempat ia ikuti tadi sengaja menjebaknya hingga ke tempat ini. Seperti satu keadaan yang telah direncakan.
Lamunan Leona terhenti saat mendengar suara pukulan di wajah. Wanita itu memandang ke arah Kwan yang kini sudah bertarung dan berjuang mati-matian. Satu lawan banyak, tentu saja sangat sulit. Tapi, sejak kecil Shabira dan Kenzo selalu melatih Kwan untuk menjadi pria yang tangguh. Hingga akhirnya ia bisa menjadi seperti sekarang.
Leona melangkah mundur. Ia bersandar di sebuah tiang besi sambil memandang Kwan. Ponselnya tiba-tiba saja berdering. Leona terlihat sangat bahagia ketika melihat ada nama Aleo di dalam layar ponselnya. Wanita itu ingin mengangkat panggilan telepon kakak kandungnya. Ia juga berharap, kalau Aleo bisa menolongnya detik itu juga.
Tiba-tiba saja, terdengar suara tembakan yang begitu memekakan telinga. Ponsel yang ada di genggaman Leona terpental hingga jauh. Wanita itu melebarkan kedua matanya dengan tangan gemetar, Ia mematung hingga beberapa detik dan tidak berani memandang wajah sang penembak. Bahkan pistol yang ada di genggaman tangannya juga terlepas dan jatuh di bawah kaki. Debaran jantung Leona semakin tidak karuan.
Kwan memandang sumber tembakan. Pria itu melebarkan kedua matanya. Seorang pria menggenggam sebuah pistol dan mengarahkannya ke posisi Leona berdiri. Sambil berusaha menghindari pukulan, Kwan memandang wajah Leona.
“Kak, awas!” teriak Kwan dengan wajah khawatir.
.
.
.
Like nya makin sedikit ya reader. 😌 Padahal itu semangat buat ngetik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 367 Episodes
Comments
Ms'shieqa
awal mula leona jdi mafia
2023-06-29
0
Marlyne Lia Lyne
leona omong gede tp gk bisa beramtem. sdh bgn br sadar dan ketakuyan
2021-07-22
0
Fadilah Herbalis Nasa
haduh dag Dig dug
2021-07-08
0