Meksiko.
“Yeeeeee,” teriak Leona dan Kwan secara bersamaan.
Mereka baru saja tiba di sebuah hotel mewah yang ada di Meksiko. Hotel itu memiliki kolam renang luas dan indah yang terbentang di pinggiran pantai. Kwan dan Leona memilih lantai paling tinggi dengan pemandangan laut yang sangat indah.
“Akhirnya, kita bisa ada di Meksiko hari ini,” ucap Kwan dengan wajah berseri.
“Ya. Pemandangan yang sangat indah,” sambung Leona sambil menatap pemandangan laut lepas yang tersaji di depan matanya. Bukan hanya itu, hembusan angin yang sangat sejuk kini menerpa tubuhnya. Memberikan rasa nyaman yang tidak lagi bisa diungkapkan dengan kata-kata.
“Kak, aku mau kembali ke kamar. Sore nanti kita jalan-jalan,” ucap Kwan sebelum memutar tubuhnya. Pria itu terlihat tenang dan santai walau kini semua orang telah mengumpat kesal terhadapnya.
Leona mengukir senyuman. Wanita itu juga memutuskan untuk tidur dan beristirahat. Selama di pesawat, ia menghabiskan waktu dengan Kwan untuk bercerita. Hingga waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat tidak ada lagi.
Leona tidak lagi ingat dengan kakak kandung dan kedua orang tuanya yang kini sangat mengkhawatirkannya. Wanita itu tahu, tidak lama lagi kembarannya pasti akan segera tiba di Meksiko.
“Aku ingin istirahat. Setelah Kak Aleo tiba, aku akan mengajaknya untuk berjalan-jalan dan berbelanja,” gumam Leona di dalam hati sebelum menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
***
Sapporo.
“Meksiko? Daniel apa kau pernah berpikir berapa jarak Meksiko dengan Sapporo?” Serena beranjak dari sofa yang ia duduki saat suami tercintanya memberi kabar keberadaan dua anak mereka saat itu.
Daniel sudah takut-takut sejak awal. Walau sudah cukup lama hidup berumah tangga dengan Serena. Tapi, tetap saja tidak bisa menghilangkan rasa takut Daniel terhadap Serena.
“Sayang....” Daniel berusaha membujuk sang istri agar tetap tenang.
“Maafkan aku, Serena,” ucap Kenzo dengan wajah bersalah. Pria itu juga sangat kesal dan murkah dengan sikap putra tunggalnya. Di tambah lagi, sudah puluhan panggilan yang ia layangkan di ponsel Kwan namun tidak ada satupun yang di angkat oleh pria berusia 24 tahun itu.
“Kenapa aku harus menghadapi dua pria yang memiliki sifat yang sama seperti ini,” ucap Daniel sambil bersandar di sofa. Pria itu menatap langit-langit ruang keluarga dengan wajah lelahnya.
“Apa kau menyalahkanku juga?” ucap Kenzo tidak terima. Pria itu tahu dirinya salah karena tidak berhasil menghalangi Kwan pergi membawa Leona. Tapi, ia tidak terima disalahkan oleh Daniel seperti itu.
“Dulu kau juga sering membawa Serena kabur. Sekarang anakmu telah meniru sifatmu itu.” Daniel merubah posisi duduknya. Pria itu menatap wajah Kenzo dengan seksama, “Anehnya, kenapa harus putriku yang menjadi korbannya. Kenapa putramu itu tidak mencari wanita lain saja untuk di bawa kabur.”
Kenzo melipat kedua tangannya di depan dada, “Kalau putrimu aku tidak khawatir, Justru kalau Kwan membawa kabur wanita lain aku tidak akan bisa setenang ini.”
“Kau tenang sekarang? Kenzo, putriku telah di bawa kabur oleh putra kesayanganmu itu dan sekarang kau bilang kau jauh lebih tenang?” Daniel mengeryitkan dahi dengan wajah serius.
“Daniel, kau ti-”
“HENTIKAN!” teriak Serena dan Shabira secara bersamaan.
Daniel dan Kenzo menatap wajah istri masing-masing sebelum menghela napas. Mereka tidak lagi berani mengeluarkan kata. Dua pria yang sudah berumur itu memutuskan untuk mengunci mulut mereka sebelum mengatur posisi duduk mereka dengan nyaman.
“Daniel, apa Aleo sudah berangkat?” ucap Serena sambil menatap wajah Daniel.
“Sudah, Sayang. Aleo sudah di pesawat menuju ke Meksiko. Aku juga sudah menghubungi Biao agar melacak keberadaan Leona dan Kwan saat ini.” Daniel menatap wajah Serena dengan wajah bersungguh-sungguh. Ia tidak ingin disalahkan lagi.
Serena mengangguk pelan sebelum mengeluarkan batuk. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja tenggorokannya terasa gatal. Semua orang memasang wajah panik saat melihat Serena batuk dengan wajah kesakitan.
“Sayang,” ucap Daniel pelan. Pria itu segera beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Serena. “Apa kau baik-baik saja? Aku akan meminta Dokter untuk memeriksa keadaanmu.”
“Kak, sepertinya sakit kakak semakin parah. Sebaiknya kakak banyak-banyak istirahat saja. Jangan pikirkan masalah Kwan dan Leona. Biar aku dan Kenzo yang mengurus semuanya. Kenzo juga sudah mengirim pengawal untuk melacak keberadaan mereka saat ini.” Shabira beranjak dari sofa yang ia duduki. Wanita itu mendekati Serena berada.
“Serena, sebaiknya kau istirahat saja. Maafkan aku. Tapi, aku janji kalau dua hari lagi, Leona sudah ada di rumah ini,” sambung Kenzo.
Serena mengangguk pelan sambil memegang dadanya. Wanita itu menatap wajah Daniel sebelum mengeluarkan kata, “Antarkan aku ke kamar.”
Daniel mengangguk pelan sebelum membantu Serena menuju ke kamar. Shabira hanya bisa menghentikan langkah kakinya. Wanita itu kembali duduk di sofa yang di duduki Kenzo. Satu tangannya memijat kepalanya yang terasa pusing.
“Sayang, jangan memikirkan Kwan. Aku tidak ingin kau sakit,” ucap Kenzo sambil memeluk tubuh Shabira.
“Kwan sudah keterlaluan kali ini. Aku akan mengurungnya di kamar nanti,” ucap Shabira penuh dendam. Wanita itu ingin sekali menjemput putranya hingga ke Meksiko. Namun, ia tidak lagi memiliki keinginan untuk berpergian jauh lagi. Shabira ingin istirahat di rumah untuk menikmati masa tuanya bersama suami tercinta.
“Sepertinya Kwan meniru sifat kita. Dia tidak bisa di atur dan keras kepala. Tidak suka perusahaan dan suka berpergian. Bukankah saat muda dulu kita seperti itu?” Kenzo menatap wajah Shabira dengan senyum kecil.
Shabira mengangguk pelan. Wanita itu melihat foto Tuan dan Ny. Edritz di dinding. Bibirnya mengukir senyuman, “Bukankah waktu terasa cepat. Sepertinya baru semalam kita berkumpul di ruangan ini bersama dengan mereka. Tapi, hari ini kepergian mereka sudah menginjak usia 15 tahun.”
Kenzo memandang foto Tuan dan Ny. Edritz juga. Pria itu mengukir senyuman indah, “Setiap manusia pasti akan mati. Hanya waktu dan caranya saja yang tidak kita ketahui. Mereka pergi dalam waktu yang berdekatan. Aku juga tidak ingin melihatmu pergi, Sayang. Jika saatnya telah tiba aku ingin pergi lebih dulu,” ucap Kenzo dengan ketulusan.
Shabira menatap wajah Kenzo dengan mata berkaca-kaca. “Kenapa kau membicarakan kematian? Itu membuatku sedih.” Wanita itu menghapus buliran air mata yang tiba-tiba saja menetes.
Kenzo menarik tubuh Shabira. Pria itu memeluk istri tercintanya dengan begitu erat, “Aku mencintaimu, Sayang.”
“Aku juga mencintaimu....”
Di dalam kamar, Serena duduk bersandar sambil memandang wajah Daniel. Wanita itu masih belum bisa merasa tenang saat putri tercintanya tidak ada di depan mata. Walau sudah cukup lama ia tidak ada di dunia gelap penuh darah itu. Tapi, tidak tahu kenapa. Serena merasa dirinya selalu diincar oleh orang-orang yang ingin menuntut balas atas perbuatan dirinya di masa lalu. Hal itu yang menyebabkan Serena tidak pernah mau melepas Leona pergi terlalu jauh tanpa pengawasan. Selalu ada Aleo selama ini yang mendampingi putri tercintanya.
“Sayang, jangan melamun seperti itu.” Daniel memegang tangan Serena dan mengusapnya dengan lembut.
Serena menghela napas. Wanita itu mengukir senyuman kecil, “Andai aku tidak sakit-sakitan seperti sekarang. Pasti aku sudah menjemputnya saat ini.”
“Sayang, usia kita tidak lagi mudah. Kau sudah memasuki usia 53 tahun. Lalu aku 56 tahun. Kita sudah tua. Kita sudah ada di posisi Mama dan Papa, saat usia kita masih muda.” Daniel tertawa kecil, “Sayangnya, Mama dan Papa dulu memiliki orang kepercayaan yang bisa mereka andalkan untuk menyelesaikan masalah. Tapi, saat ini. kita tidak memiliki orang yang seperti itu. Sangat sulit menemukan orang kepercayaan yang bisa setia seperti Biao dan Tama.” Daniel kembali membayangkan momen-momen indahnya saat masih muda.
Serena menepuk pelan pundak Daniel. “Semua akan baik-baik saja. Kita masih punya Aleo. Aku sangat yakin kalau Aleo bisa menjaga dan melindungi Leona dari orang-orang jahat. Bukankah Kwan juga memiliki ilmu bela diri yang hebat? Bahkan jauh lebih hebat dari pada Aleo.”
Daniel mengangguk pelan, “Ya, Sayang. Aku yakin semua akan baik-baik saja.” Daniel menggenggam tangan Serena semakin erat sebelum mengecupnya berulang kali. Pria itu sangat sayang kepada Serena.
***
Besok malam crazy up ya. Malam ini satu dulu 🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 367 Episodes
Comments
Aya Vivemyangel
Yaa baru inget kisah serena n daniel waktu liat profil othor 😂😂 krn emang dah lama bacay jd lupa" ingat , mlh dl q penggemary si secondlif si Zeroun 😂😂 tryt ini dah cerita anky aja 💖💖💖💖 lope deh
2023-01-04
0
Mutiara
lanjut ksini aku bacanya thor
2022-07-16
0
Maia Mayong
tenang saja Serena ,, Leona brsma Kwan jauh lbih tennag dgn spupu sndri
2021-09-01
0