Beberapa saat kemudian.
Shabira dan Kenzo tiba di rumah utama. Di depan pintu, Daniel dan Serena sudah menyambut kedatangan mereka. Sama dengan wajah Daniel dan Serena. Shabira dan Kenzo juga memasang wajah panik. Sejak tadi mereka menghubungi Kwan tapi tidak juga mendapatkan kabar. Di tambah lagi, pengawal yang ia kirim untuk mencari Kwan dan Aleo telah menemukan jasad pengawal S.G. Group yang tidak lagi bernyawa. Mereka sangat yakin, kalau ada bahaya yang mengincar buah hati mereka saat ini.
“Kak, apa sudah ada kabar terbaru?” ucap Shabira sebelum berdiri di hadapan Serena. Wanita itu memegang kedua tangan Serena dengan wajah sangat khawatir. “Maafkan Kwan, Kak. Kalau bukan karena Kwan yang membawa Leona pergi, pasti semua ini tidak akan terjadi.” Terlihat jelas bagaimana wajah bersalah Shabira saat itu. Bahkan mata wanita itu memerah karena sejak tadi menangis membayangkan keadaan buruk yang kini menimpah Kwan dan Leona.
“Shabira. Leona juga sudah besar. Semua ini bukan kesalahan Kwan sepihak.” Serena memegang pundak Shabira dengan wajah sangat tenang. “Aku tidak tahu bagaimana keadaan mereka saat ini. Tapi, firasatku mengatakan kalau mereka masih baik-baik saja.”
Ponsel Daniel berdering. Pria itu mengeryitkan dahi saat melihat nomor asing di layar ponselnya. Perhatian semua orang terpusat pada ponsel yang di genggam Daniel. Dengan wajah penuh tanya, Daniel mengangkat panggilan masuk tersebut. Reaksi wajahnya berubah saat mendengar suara putri kesayangan di dalam telepon.
“Leona,” celetuk Daniel dengan senyuman indah.
Serena memandang wajah Daniel dengan saksama. Wanita itu merebut paksa ponsel Daniel dengan bibir tersenyum. Sejak semalam hanya suara Leona yang ingin ia dengarkan. “Leona... Dimana saat ini kau berada, Sayang? Apa kau baik-baik saja?” ucap Serena dengan wajah khawatir.
“Leona baik-baik saja, Ma. Mama jangan khawatir. Leona tidak tahu dimana Kak Aleo dan Kwan berada, Ma. Leona bingung.” Terdengar jelas suara ketakutan dan panik Leona saat itu.
“Sayang, katakan dimana posisimu berada saat ini. Paman Biao sudah ada di Meksiko. Ia akan menjemputmu dan melindungimu, Sayang.” Serena bisa kembali bernapas lega saat mendengar kabar kalau putri tercintanya baik-baik saja.
“Leona akan menghubungi Paman Biao. Mama dan Papa jangan khawatir,” ucap Leona dengan suara menyakinkan.
“Baiklah. Segera hubungi nomor Paman Biao, Sayang. Mereka masih di Meksiko menunggu kabar terbaru darimu.” Belum sempat pembicaraan Serena dan Leona berakhir, ponsel milik Kenzo juga berdering. Pria itu mengambil ponselnya dari dalam saku lalu mengukir senyuman indah.
“Kwan!” celetuk Kenzo.
Kali ini Shabira yang merebut paksa ponsel milik Kenzo. Wanita itu sudah tidak sabar mendengar suara putranya. “Kwan! Apa yang sudah kau lakukan? Dimana saat ini kau berada?” teriak Shabira dengan suara yang sangat keras.
Serena dan yang lainnya memandang wajah Shabira dengan wajah serius. Mereka menghela napas sebelum memutuskan untuk menjadi pendengar. Sejak memiliki anak laki-laki yang nakal seperti Kwan, Shabira tidak lagi bisa memasang suara lembut. Wanita itu sudah terbiasa berteriak sejak Kwan mulai berusia lima tahun. Bahkan hingga sekarang. Kwan memang selalu saja memancing Shabira agar berteriak dan marah terhadap dirinya.
“Ma, Mama tenang dulu. Bahkan saat berjauhan saja Mama masih marah-marah kepada Kwan,” ucap Kwan dari dalam telepon.
Kenzo yang mendengar ucapan Kwan terlihat menahan tawa. Tidak mau menjadi korban omelan Shabira, pria itu membuang tatapannya ke arah lain. Ia memasang wajah pura-pura tidak tahu daripada mendapat masalah.
“Dimana kalian saat ini? Apa Aleo bersama denganmu?” ucap Shabira cepat.
“Ya. Aku bersama Kak Aleo. Tapi, Ma. Kak Leona hilang. Kami belum menemukannya hingga sekarang.” Kwan menahan kata-katanya. “Ma, apa Mama tahu kalau Kak Aleo jago berkelahi. Bahkan jauh lebih hebat daripada Kwan,” sambung Kwan dengan suara yang serius.
“Kwan, bukan waktunya untuk membicarakan hal seperti itu. Leona baru saja memberi kabar. Ia akan menghubungi Biao. Saat ini Biao ada di Meksiko. Kau dan Aleo juga harus segera hubungi Biao,” perintah Shabira.
“Ma, kami juga selamat berkat bantuan Paman Biao yang datang tepat waktu. Sekarang kami dalam perjalanan ke hotel. Nanti Kwan hubungi lagi. Paman Biao berpesan kepada Mama dan Paman Daniel untuk tidak berangkat ke Meksiko. Kwan dan Kak Aleo akan pulang ke rumah Paman Biao besok. Lusanya kami akan kembali ke Sapporo.”
Shabira memejamkan mata dengan hati yang kembali tenang. “Baiklah kalau begitu. Sekarang cepat temui keberadaan Leona.”
“Baik, Ma. Kwan minta maaf sama Mama dan Papa. Semua karena Kwan,” ucap Kwan dengan suara mulai merendah.
“Kwan. Cepat kembali karena mama sangat mengkhawatirkanmu.”
“Kwan sayang Mama.”
Shabira memberikan ponsel tersebut kepada Kenzo. Wanita itu memandang wajah Serena dan Daniel secara bergantian. “Kak, Kwan dan Aleo sudah bersama dengan Biao. Mereka akan menemui Leona sebelum berangkat ke San Fransisco malam ini. Untuk sementara, mereka tinggal di rumah Biao. Mereka juga melarang kita untuk berangkat saat ini.”
Serena menghela napas lega. Bibirnya mengukir senyuman. Daniel memeluk pinggang Serena sebelum mendaratkan kecupan di pucuk kepala istrinya. “Semua baik-baik saja bukan? Sekarang jangan memikirkan hal yang aneh-aneh lagi. Biao pasti bisa mengatasi semuanya.”
Serena memandang wajah Daniel dengan senyuman. “Kau suami terbaik.”
Daniel mengukri senyuman. Pria itu kembali membayangkan usaha yang telah ia lakukan demi melindungi putra dan putrinya.
Beberapa hari yang lalu.
Daniel mengotak-ngatik ponselnya. Pria itu tidak bisa duduk tenang jika mendegar kabar putrinya yang kini berada di Meksiko. Satu-satunya orang yang paling dekat dengan Meksiko adalah Biao. Dengan wajah penuh harap, Daniel menghubungi Biao.
“Biao, aku butuh bantuanmu saat ini. Aku tidak yakin kalau pengawal S.G. Group bisa menjaga Leona dan Kwan. Meksiko memiliki banyak komplotan mafia. Aku khawatir jika salah satu mafia itu mengenal Leona dan Kwan sebagai anak kami.” Suara Daniel terdengar jelas sedang diselimuti kekhawatiran yang teramat sangat.
“Aku akan menjaga mereka, Daniel. Kau bisa duduk tenang di Sapporo,” jawab Biao dengan suara penuh percaya diri.
“Kau memang kakak yang bisa di andalkan.” Daniel kembali bernapas lega.
“Kita saudara. Aleo dan Leona juga sudah seperti anakku. Aku akan berusaha untuk melindungi mereka agar terhindar dari bahaya. Besok aku akan berangkat untuk mengawasi mereka secara diam-diam.”
“Terima kasih,” jawab Daniel sebelum memutuskan panggilan telepon tersebut.
Daniel tersadar dari lamunannya. Pria itu mengusap lembut punggung Serena sebelum mendaratkan satu kecupan lagi. “Mama dan papa tidak pernah salah mengangkat Biao menjadi anak angkat. Sejak dulu hingga sekarang, Biao selalu ada di saat aku mengalami kesulitan. Pria tangguh yang berubah menjadi si jenius tidak tertandingi,” gumam Daniel di dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 367 Episodes
Comments
Its me Ann
akhirnya si Miao kembali.dimana Tama dan zeroun?
2022-02-09
0
Dini Ratna
babang tama kemana,aku kangen lihat biao dan tama bertengkar...
2021-11-07
0
" sarmila"
kyaknya ini mh kumpul semua ya d sini
😍😍😍😍😍😍😍😘😘😘😘😘😘😘😘
2021-09-07
0