Aleo baru saja tiba di bandara. Pria itu memasang wajah yang sangat kesal. Sudah sepuluh kali ia layangkan panggilan ke nomor pengawal yang ia utus untuk menjaga Leona di Meksiko. Tapi, tidak ada satu panggilanpun yang di jawab. Sambil memasang wajah kesal. Pria itu melangkah cepat menuju ke mobil. Sebelum tiba, pengawal S.G. Group sempat memberi tahu Aleo nama hotel tempat Leona dan Kwan tinggal.
“Mudah-mudahan saja mereka ada di hotel,” ucap Aleo sebelum masuk ke dalam mobil. Pria itu memandang keadaan sekitar sebelum mengotak-ngatik layar ponselnya lagi. Wajahnya terlihat serius saat melihat pekerjaan yang sudah menumpuk.
“Sepertinya aku tidak bisa lama-lama menemani Leona di sini. Aku harus bisa membujuk Leona untuk pulang ke Sapporo.” Aleo memasukkan ponselnya ke dalam saku. Pria itu memperhatikan keindahan kota Meksiko. Bibirnya mengukir senyuman kecil. Sekilas, Aleo menatap takjud atas keindahan kota tersebut. Hingga akhirnya Aleo setuju dengan keputusan Leona dan Kwan untuk memilih kota tersebut sebagai tempat bersenang-senang. “Seandainya saja pekerjaan tidak menumpuk. Maka aku akan menemani Leona berlibur di kota ini,” gumam Aleo di dalam hati.
Sudah sangat sering Aloe dan Leona melakukan perjalanan liburan ke luar negeri. Tapi, beberapa tahun terakhir ini, sejak Daniel menyerahkan S.G. Group kepada Aleo. Pria itu tidak lagi memiliki banyak waktu untuk bersama dengan Leona. Bahkan biasanya Aleo bisa menemani Leona melewati sesi pemotretan, tapi kali ini ia tidak lagi bisa.
Kehadiran Kwan di samping Leona, tidak selamanya memberikan dampak yang buruk. Pria itu juga bisa melindungi Leona dari bahaya. “Kwan. Pria itu bukan memikirkan Z.E Group, mala lebih memikirkan jalan-jalan.”
***
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan menuju ke rumah sakit. Akhirnya Leona dan Kwan tiba di depan rumah sakit. Mereka memanggil perawat yang ada di rumah sakit. Beberapa perawat muncul dan mengangkat tubuh Zean ke atas brangkar. Perawat lainnya mendorong brangkar tersebut dan membawanya menuju ke arah ruangan IGD.
Leona dan Kwan duduk di kursi yang ada di depan ruangan IGD. Leona memasang wajah yang tidak lagi tenang. Wanita itu tidak tahu harus bagaimana lagi. Kini pria yang baru saja menolongnya tidak sadarkan diri dengan tubuh terluka. Berbeda dengan Kwan. Pria itu duduk dengan santai sambil memainkan ponsel yang ada di genggaman tangannya. Tidak ada wajah bersalah sedikitpun. Pria itu justru berharap, Zean mati saja agar tidak lagi menyusahkan hidupnya.
“Kwan, bagaimana ini?” ucap Leona sebelum duduk di samping Kwan. Wanita itu meraih ponsel Kwan agar pria itu tidak terus-terusan cuek terhadapnya.
Kwan memperhatikan wajah Leona dengan seksama. “Kak, dia hanya orang biasa. Kita tidak kenal dengannya. Biarkan sajalah. Dokter pasti bisa mengobati lukanya,” jawab Kwan dengan tenang. Pria itu merebut paksa ponsel miliknya yang ada di tangan Leona. Namun, tidak berhasil. Leona menjauhkan ponsel tersebut dari jangkauan Kwan. “Kak!”
Leona menghela napas sebelum memberikan ponsel tersebut kepada Kwan. Ia melipat kedua tangannya di depan dada sembari membuang tatapannya ke arah lain. “Percuma saja berdebat dengannya,” gumam Leona di dalam hati.
Setelah beberapa menit menunggu. Seorang Dokter keluar dari dalam ruangan tersebut. Dokter itu berdiri di depan pintu sambil memandang wajah Kwan dan Leona secara bergantian. Leona beranjak dari duduknya. Wanita itu menarik tangan Kwan agar menemaninya menemui sang Dokter. Mau tidak mau, Kwan beranjak dari duduknya.
“Dok, bagaimana dengan keadaan pria tadi?” tanya Leona dengan wajah panik.
Dokter tersebut mengukir senyuman. “Kami sudah berhasil mengeluarkan pelurunya. Saat ini pasien masih belum sadar. Di lihat dari keadaannya, pasien butuh istirahat beberapa hari di rumah sakit. Kami harus memastikan hingga kondisinya benar-benar pulih. Sebelum memberinya ijin untuk pulang.”
Leona menghela napas lega. “Dok, lakukan yang terbaik untuknya. Berapapun biayanya akan saya tanggung.”
“Baik, Nona. Saya permisi dulu.” Dokter tersebut mengukir senyuman sebelum melangkah pergi.
“Kak, ayo kita pulang ke hotel,” ucap Kwan sambil menarik tangan Leona.
“Kwan. Kita tidak bisa meninggalkan pria itu sendirian di sini,” protes Leona. Wanita itu menghempaskan tangan Kwan yang memegang erat lengannya. “Setidaknya sampai dia bangun. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadanya.”
Kwan membuang tatapannya. “Hmm, baiklah. Terserah kakak saja.”
Leona mengukir senyuman. “Jangan marah. Aku tidak suka melihatmu marah seperti ini. Wajahmu yang tampan ini terlihat jelek.” Leona mencubit pipi Kwan dengan tawa tertahan.
Kwan menatap wajah Leona tanpa ekspresi. “Merepotkan sekali. Kita seharusnya ke sini berlibur. Kenapa harus menunggu pria asing di rumah sakit?”
Leona mengeryitkan dahi. Wanita itu kembali ingat dengan kejadian yang baru saja ia alami beberapa jam yang lalu. “Kwan, apa tidak sebaiknya kita memberi tahu kabar ini kepada Kak Aleo. Kak Aleo harus tahu kalau pengawal S.G. Group tewas karena melindungi kita.”
“Kak, Kak Aleo akan menyuruh kita segera pulang jika kita memberi kabar buruk seperti ini. Kita akan menceritakan semuanya nanti setelah pulang.” Kwan sangat tahu bagaimana sayangnya Aleo terhadap Leona. Pria itu tidak ingin rencana jalan-jalannya gagal hanya karena kekhawatiran Aleo yang berlebihan.
“Baiklah,” jawab Leona pasrah. Apa yang dikatakan Kwan memang benar. Jika Aleo sampai tahu soal kejadian mengerikan yang baru ia alami, maka pria itu tidak akan lagi memberikan ijin kepadanya dan Kwan untuk menghabiskan waktu satu minggu di Meksiko.
Terbukanya pintu IGD mengalihkan pandangan Kwan dan Leona. Mereka sama-sama memandang brangkar yang saat itu membawa tubuh Zean. Pria itu masih memejamkan mata dengan wajah yang sangat menyedihkan. Hati Leona tersentuh saat melihat keadaan Zean yang sedang berbaring lemah tak berdaya.
Leona mengikuti Zean dari belakang. Kwan juga ada di sana untuk menjaga Leona. Walau kesal, tapi Kwan juga tidak tega saat melihat keadaan Zean yang terlihat menyedihkan.
“Nona, apa anda keluarga pasien?” ucap salah satu perawat. Perawat wanita itu mencegah Leona dan Kwan masuk ke dalam ruangan Zean.
“Saya bukan keluarganya,” jawab Leona dengan senyum menyeringai.
“Nona, apa anda bisa membantu saya?” Perawat tersebut mengeluarkan ponsel dari dalam saku. “Ponsel ini milik pasien. Tadi, saat pasien ada di ruang IGD. Ponselnya terus-terusan berdering. Mungkin anda bisa membantu pasien untuk menghubungi keluarganya.”
Leona memandang ponsel itu dengan wajah bingung. Tangannya terangkat ke atas untuk menerima ponsel tersebut. “Kak. Sudahlah.” Kwan menahan tangan Leona. Pria itu menatap wajah perawat tersebut dengan tatapan tidak suka. “Apa kau tidak tahu siapa kami? Berani sekali kau memberi kak Leona pekerjaan seperti ini. Kami bukan saudaranya.Tolong jangan minta hal yang aneh-aneh. Berikan ponsel itu ketika pria itu bangun!” ucap Kwan dengan wajah tegas. Pria itu menggenggam tangan Leona dan membawanya masuk ke dalam ruangan Zean. Perawat wanita itu mereka abaikan begitu saja.
Perawat wanita itu mengukir senyuman tidak suka. “Sepertinya aku harus membuat pria itu menjauh dulu. Semua rencana Bos Zean bisa gagal jika pria itu terus-terusan ada di sampingnya,” ucap wanita itu dengan sorot mata yang tajam.
.
.
Bab selanjutnya up siang ya reader...kondisi author kurang sehat. jadi menghindari begadang smpek malam dlu.🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 367 Episodes
Comments
Marhaban ya Nur17
udh di setting krn Leona msh polos lah yyy 🤭 msh jd baik
2025-03-08
0
Aya Vivemyangel
Bener~bener terencana ,,
2023-01-04
0
Pia Palinrungi
thor bikin sean jatuh cinta sm leona spy dendamx hilang
2022-02-17
0