Tommy dan Sasi duduk berhadapan menikmati makanan pesanan mereka. Sesekali saling pandang dan tersenyum. Sesuatu yang selama empat tahun kebersamaan mereka sebagai bos dan asisten tidak pernah terjadi.
Dulu, Biasanya mereka makan siang, bahkan makan malam sekedar makan saja. Hanya suara sendok garpu dan piring beradu. Sudah makan , kembali ke pekerjaan masing-masing. Kecuali saat makan dengan klien. Barulah mereka sekedar basa-basi dengan klien mereka. Sama sekali tak ada interaksi khusus antara boss dan asisten itu.
POV Tommy
Aku sudah tak tahan untuk mengklaim Sasi sebagai kekasihku. Aku ingin Sasi hanya jadi milikku. Aku tak mau Sasi akrab dengan lelaki lain, meskipun itu dengan dalih teman. Dia milikku.
Aku begitu cemburu melihat Sasi dan Reza saat itu. Mereka tampak akrab sekali. Saling bercanda dan tertawa tanpa rasa canggung di ruangan Sasi.
Tapi apa dayaku selain menegur mereka dengan alasan masih jam kerja. Kalau mereka bertemu bahkan berkencan di luar jam kerja apa yang bisa aku lakukan. Aku tak berhak melarang karena kenyataannya statusku dan Sasi cuma teman saat ini.
Aku ingin mengungkapkan perasaanku ini pada Sasi secepatnya. Aku ingin semua tahu Sasi milikku. Tapi kapan? Aku berencana mengajaknya makan nanti malam dan mengulang kembali memintanya jadi pacarku.
Kalau dulu aku memintanya jadi pacar tanpa pertimbangan, saat ini setidaknya aku yakin Sasi juga menyukaiku. Aku tahu dia suka diam-dia.menatap dan memperhatikanku, seperti halnya aku yang sering stalking dia.
Aku ingin memintanya dengan makan malam istimewa, sayang nanti malam ada acara dengan klien. Sedangkan aku tak mau menunda lagi. Rasanya semakin ditunda, semakin menyiksa diriku sendiri. Jadi kuputuskan saat ini juga akan aku sampaikan isi hatiku pada Sasi.
Sasi sudah menyelesaikan makannya. Dia sedang minum es kelapa muda. Saat itulah dia bertanya padaku.
" Sudah ingat apa yang mau dikatakan tadi mas? " suaranya yang selalu.membuatku rindu menyapa telingaku.
" Ehm...iya. Sasi ..." Aku menjeda ucapanku. Sebenarnya aku takut dito'lak lagi . Aku takut kecewa. Tapi aku harus tahu jawabannya bukan?
" Iya..mas.."
" Sasi , aku mau ngulang yang pernah aku bilang sama kamu dulu. Kamu mau ya jadi pacarku? Aku sungguh-sungguh. Aku pengen kita lebih dekat dan saling mengenal. Bukan cuma sebagai teman, tapi sebagai kekasih, teman dekat yang saling menyayangi. Sasi..?"
Aku tak tau lagi. Semua kata indah yang sudah kususun untuk mengatakan perasaanku pada Sasi hilang entah kemana. Berganti kegugupan yang luar biasa. Padahal gadis di depanku ini adalah bawahanku. Yang bukan saja sering kuajak bicara, bahkan dulu sering menerima omelan dan kemarahanku jika pekerjaannya tak sesuai inginku.
Tapi sekarang aku seperti pengemis yang mengharap belas kasihnya. Apakah ini karma?
Sasi terpaku menatapku. Mungkin dia bingung karena aku mengganti panggilan menjadi aku kamu bukan lagi saya kamu. Please Sasi terima ya? Mohonku dalam hati. Aku yakin Sasi bisa membaca isi hatiku.
" Sebenarnya saya belum yakin mas. Tapi saya akan coba. Kita jalan bersama. Mas mau sabar kan sampai saya benar-benar yakin dengan perasaan saya?"
Splash....
Serasa air pegunungan menyiram hatiku. Rasanya sejuk mengalir dalam jiwaku yang telah lama gersang. Terserah dia bilang mau mencoba, tapi dia mau jalan bersama. Itu sudah cukup buatku. Sisanya biar waktu yang bekerja buatku. Tanpa terasa aku tertawa lirih. Bahagia tak terkira..
" Makasih sayang..I"ll do everything you want." bisikku sambil menggenggam jemarinya yang lembut.
" Ehh...sudah main sayang -sayang aja. Malu ih mas.." Wajah cantiknya merona. Aku makin gemas melihatnya.
" Kenapa? Memang aku sayang sama kamu kok.Kamu tahu? Sejak kencan pertama kita, aku sudah ingin banget panggil kamu sayang. Tapi takut kamu menolak karena kita bukan apa-apa. Tak ada hubungan spesial. Tapi sekarang kamu pacarku. Kesayanganku, jadi aku berhak panggil kamu sayang...dan kamu gak boleh protes."
Aku makin mempererat genggaman tanganku. Sasi menunduk malu. Wajahnya yang merona tertutup rambut indahnya yang terurai.
Kuselipkan rambut yang menutup wajahnya ke belakang telinganya. Dia makin malu dan memalingkan wajahnya ke samping. Tapi tak kubiarkan dia berpaling. Ku sentuh lembut dagunya sehingga dia menatapku.
" Cantiknya pacarku..." aku refleks mengucapkannya melihat wajahnya yang merah merona. Sasi memang tampak cantik sekali di mataku siang ini. Aku benar-benar mabuk kepayang.
" Sudah ih...mas..gombal terus..malu.." Sasi menunduk lagi.
Aku tertawa bahagia. Now, you are mine ,my dear...
Kami agak terlambat kembali ke kantor. Biar saja. Aku bosnya. Bahkan jika Sasi mau ,aku tak akan kembali ke kantor hari ini. Aku akan menemani Sasi menikmati hari pertama kami sebagai pasangan kekasih.
Tapi Sasi tak mau. Bahkan dia minta kami merahasiakan dulu stasus baru kami . Setidaknya sampai dia siap menyandang stasus pacar boss. Siap menerima.omongan orang, dan siap menghadapi para fans yang selama ini mengejarnya atau mengejarku?Begitu katanya.
" What ever you want dear.." aku menyetujui semua syaratnya. As long as you love me baby... Bisikku dalam hati.
Sepanjang perjalanan aku tak melepas tangannya dari genggamanku. Wajahnya merona sepanjang hari itu. Aku jatuh cinta. Dan aku yakin Sasi merasakan yang sama denganku.
Sampai di kantor dia melepas genggaman tanganku. Kami turun seperti biasa. Aku biarkan Sasi yang sengaja mendahuluiku. Aku menyusul di belakangnya. Tapi aku tak biaa menahan sesuatu yang membuncah dari dalam hatiku, sehingga senyumku selalu terkembang siang hingga sore itu. Oh my! I was crazy...Sasi, my dream girl jadi milikku.
POV Sasi
Boss nembak aku untuk kedua kali. Aku tak bisa menolàk karena kenyataannya aku pun menyukainya meski belum yakin untuk jadi pacarnya. Jadi ku bilang padanya ayo kita coba jalan bersama, dan kuminta sabar agar aku makin yakin di sisinya.
Belum apa-apa..baru semenit juga kuterima cintanya, dia sudah berani memanggilku sayang. Aku bilang itu berlebihan. Tapi dia bilang itu sudah jadi mimpinya sekian lama, untuk memanggilku dengan panggilan kesayangan. Uhh so sweet ngga sih?...aku harus bagaimana?
Aku jadi mabuk oleh perlakuan gentlenya.Aku ingin pingsan rasanya. Wajahku panas, tubuhku meremang tak tertahan lagi...ampun mas boss..!
Saat pulang, di mobil dia tak melepas genggaman tangannya yang hangat dan lembut itu. Aku benar-benar dibuatnya luluh lantak tak bertulang, lunglai seperti jelly konyaku. Please, enough my boss!"
Kutinggalkan dia dan masuk ruanganku dengan terburu, aku tak sanggup menatap wajah tampannya lagi. Aku takut benar-benar pingsan jika memaksa melihatnya.
Kusandarkan diri di belakang pintu ruanganku. Entah berapa lama sampai detak jantungku berangsur normal, ketika tiba-tiba pintu diketuk.
Ku buka pintu dan kudapati seorang kurir membawa sebuket mawar merah dan sekotak coklat dalam wadah berbentuk hati. Haishh..
" Mbak SasI? " tanya mas-mas kurir itu.
" Iya saya..."
Dia menyerahkan buket bunga dan coklat padaku,, minta tanda tanganku kemudian pergi berlalu. Apalagi ini? Dadaku berdegup kencang lagi setelah sempat mereda.
Sebuah kartu kudapati terselip di buket yang wangi itu.
*Thanks to being mine*
Mas B mu*
OMG! Badanku gemetaran . Aku ingin berteriak. Aku ingin berguling-guling dan memeluk sesuatu. Atau seseorang? Anyone help me??
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Ina Marlina
cooocwett 💖💖
2022-03-10
0
nnda
kering" dah gigi gua nyengir in si saksi sama si mas bos
2022-02-01
1
Chia Rachman
mas bosss.. aku padamu...😘😘😘
2021-11-08
1