Tommy bergegas bangun dan melangkah ke wastafel. Mencuci mukanya dengan air dingin. Berharap dinginnya air akan menghempas bayangan mimpi panas yang baru saja dialaminya.
Astaga!!
Tommy bergulingan di kasur. Alih-alih melupakan mimpi gilanya, bayangan dirinya yang tengah mencumbu Sasi semakin jelas dan nyata berkelebatan di depan matanya. Hampir satu jam dan matanya masih belum bisa terpejam. Padahal waktu masih menunjukkan jam satu malam.
"Gila!!" pekiknya tertahan.
Tommy segera bangkit dari ranjang menuju kulkas kecil di sebelah nakas. Mengambil sekaleng minuman beralkohol ringan dan meneguknya pelan. Efek alkohol dan tubuhnya yang lelah akhirnya membuatnya terlelap juga. Jam dua dini hari.
Esoknya Tommy bangun dengan tubuh penat dan kepala sedikit pusing.
Drrtt.....drrtt....getaran ponsel di nakas membuatnya refleks mengambil benda pipih itu.
Glek!! Seraut wajah cantik yang tengah tersenyum tercetak jelas di layar ponselnya. Wajah cantik yang semalam telah membuatnya kelimpungan tak bisa tidur
Ehm..diteguknya salivanya yang tiba-tiba saja tercekat di tenggorokannya.
Bodoh! rutuknya dalam hati. Padahal tiap pagi memang gadis itu akan mengingatkannya pada jadwalnya hari ini. Dia sendiri yang meminta Sasi menyampaikan jadwalnya sebelum berangkat ke kantor. Tapi gara-gara mimpi sialan itu Tommy jadi salah tingkah sendiri.
" Ya.." akhirnya suaranya yang setengah tercekat keluar juga.
" Selamat pagi Bos...hari ini ada meeting dengan..bla..bla..bla..." Suara Sasi seperti rentetan petasan gantung menyebutkan sederet jadwal meeting dan kunjungan proyek.
" Hemmm. Oke" jawabnya singkat seperti biasanya setelah Sasi mengakhiri rentetan jadwalnya.
" Selamat pagi pak. Saya tutup telponnya..." Sasi mengakhiri panggilan.
" Hmm"
Tommy menyandarkan tubuhnya di sofa. Kepalanya masih terasa berat. Tapi mau tak mau dia bergegas ke kamar mandi. Pekerjaan yang menumpuk telah menantinya.
Setelah sarapan dengan setangkup roti tawar, Tommy berangkat ke kantor seperti biasa, diantar Jono sang sopir pribadi.
" Selamat pagi pak.." Tommy sedikit terjengkit ke belakang ketika Sasi menyapanya.
" Pp...pagi...!' gumamnya singkat setengah tercekat dan segera berlalu dari hadapan Sasi. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.
" Shit!" rutuknya pelan.
Gara-gara mimpi sialan itu aku jadi salah tingkah sendiri. Padahal Sasi kan nggak tahu juga kalau aku memimpikannya? Kenapa aku yang jadi kacau beginii? Batin Tommy bermonolog sendiri.
" Dasar aneh" Sasi mengambil cermin kecil di laci mejanya. Mematut wajah cantiknya dari dahi , mata, hidung , pipi , bibir hingga dagunya.
" Nggak ada yang aneh. Kok si bos kaya lihat hantu gitu ya saat lihat wajahku? Ah what everlah. Terserah!" Sasi menepis semua keheranannya atas sikap Tommy pagi ini.
Dengan bergegas Sasi melangkah ke ruangan bosnya membawa tab dan berkas-berkas yang harus ditandatangani Tommy. Tidak lupa dua botol air mineral untuk disimpan dalam kulkas di ruangan sang bos seperti biasanya.
" Tok..tok..." Sasi mengetuk pintu ruangan bosnya.
" Masuk!" singkat suara berat Tommy dari dalam.
Sasi membuka pintu dan menutupnya kembali. Berjalan ke arah bosnya yang nampak sibuk memperhatikan laptop di meja. Tanpa sedikitpun melihat ke arah Sasi.
" Ehm...!" Sasi berdehem pelan karena sang bos tampak masih sibuk menatap laptopnya padahal Sasi sudah berada di depan mejanya.
Tommy mengangkat wajahnya menatap Sasi.
" Ini berkas-berkas dari semua departemen yang harus ditandatangani pak. Saya tunggu atau saya tinggalkan disini saja untuk Bapak periksa?" Sasi berinisiatif bertanya karena Tommy cuma terbengong menatapnya tanpa mengatakan apapun.
" Ehm. Tinggalkan saja. Jadwal meeting jam sepuluh ya? Siapkan saja semuanya!" Tommy mengusap tengkuknya pelan. Tampak salah tingkah dan sedikit gugup. Wajahnya tampak merona merah.
" Bapak sakit? Apa saya perlu mengundurkan jadwal meeting? Atau Bapak berkenan diwakili ?"
" Nggak...nggak perlu. Saya cuma kurang tidur semalam. Tolong suruh OB bikinin saya kopi." Tommy memijit pangkal hidungnya menetralisir degup jantungnya yang menggila di depan gadis cantik di depannya itu.
" Baik Pak!" Sasi bergegas keluar dan menuju pantry untuk menyuruh OB. Namun tidak ada OB di sana, akhirnya Sasi berinisiatif membuatkan kopi untuk bossnya itu.
Saat Sasi kembali ke ruangan bossnya, pintu tampak sedikit terbuka. Mungkin dia lupa menutup saat keluar tadi. Jadi Sasi masuk begitu saja.
" Pak...ini kopinya" Sasi memanggil Tommy yang sedang menutup matanya sambil bersandar di sofa.
" Taruh situ saja!" sahut Tommy tanpa membuka matanya.
" Baik pak, saya permisi. Oh iya mau mengingatkan setengah jam lagi meeting dimulai" Sasi menaruh kopi di meja dan bergegas meninggalkan bosnya.
" Hah??" Tommy membuka matanya. Mendapati Sasi yang melangkah pergi keluar ruangan. Padahal dipikirnya OB yang mengantarkan kopi.
"Shit, aku tidak boleh seperti ini" keluh Tommy sambil mengacak rambutnya sendiri. Saat itulah tiba-tiba pintu ruangannya kembali di ketuk.
" Ya. Masuk!"
" Kakakku yang tampan....apa kabar?" seraut wajah tampan yang mirip dirinya namun dalam versi lebih muda muncul di balik pintu. Baskara , adik semata wayangnya.
" Ck...ngapain kamu?" Tommy berdecak malas, lalu menyeruput kopi di hadapannya.
" Jangan bilang uang bulananmu sudah habis ya...gak ada tambahan.!" tambahnya kemudian disambut tawa renyah Baskara.
" Dih...pelit banget punya kakak kaya..tega banget adiknya terlunta-lunta. Ayolah Mas...kemarin beli jersey baru limited edition Mas, jadi kekuras deh jatah bulanannya..." Baskara merengek tanpa malu di depan Tommy.
" Minta papa sana!" Tommy tampak makin kesal.
" Udah. Tapi nggak dikasih malah diomelin" Baskara memasang wajah sedih.
" Memang berapa harganya?" Tommy akhirnya tak tega juga melihat wajah memelas adiknya.
" Cuma tiga juta mas...ya..ya...?" Senyum mulai terbit di wajah Baskara.
" Hah?? Tiga juta kamu bilang cuma? Pantes aja papa gak kasih. Kamu tuh boros banget. Kalau udah kerja terserah kamu. Ini masih belum bisa cari uang sudah sok-sok an beli barang mahal."
" Please kak..udahan ngomelnya. Udah kenyang diomelin mama sama papa. Tambahin jatah bulanan ya Mas??"
" Duh pusing ku denger suaramu. Oke kali ini aku kasih. Tapi kalau kejadian begini lagi jangan harap aku kasih!" Tommy mendengus kesal.
" Yess!! Terima kasih Masku yang paling ganteng. Tuhan memberkatimu mas.." Baskara mengecup tangannya lalu mengarahkan ke Tommy seperti ciuman jarak jauh.
" Cihh..jijik tau nggak..udah sana pergi. Aku ada meeting." bersamaan dengan itu tampak Sasi berdiri di depan pintu yang terbuka. Menjemput Tommy untuk pergi bersama ke ruang meeting.
" O M G. Bidadari...." Baskara bergumam takjub ketika matanya menangkap sosok Sasi di depan pintu ruangan kakaknya. Hampir saja air liurnya menetes.
" Pantesan Mas kerasan di kantor...ada pemandangan indah tiap hari..." Baskara masih menatap Sasi tanpa berkedip.
Tommy menoyor kening adiknya. " Pulang nggak.? Atau nggak jadi dikirim nih uangnya?" ancam Tommy.
"Ampun mas..oke..oke..aku pulang. Kirimin juga nomornya sang bidadari ya Mas..?" bisik Baskara sambil tersenyum nakal ke arah Sasi.
" Baaassss....!!" Tommy menggeram.
" Oke..Oke...pulang ini...bye mas.." Baskara buru- buru meninggalkan kakaknya. Tapi di depan pintu dia masih sempat mengajak Sasi berkenalan dan menjabat tangan gadis itu.
" Kenalin..Baskara ! " sambil tersenyum manis.
Sasi menyambut jabat tangan Baskara tapi cuma tersenyum tanpa menyebut namanya. Membuat Baskara makin terpesona.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
YuniSetyowati 1999
Cie cie yg malu
2025-03-29
0
Ass Yfa
sedunia nyata ada lo pelet kayak gitu efek samping nya emang gitu pernah dengar dulu waktu masih Sd, tapi ngga bisa mencerna obrolan mereka apa, tetangga seh... yg ngobrol.... obrolan sesama cewek gitu
2024-05-06
0
Sry Handayani
masnya dingin adeknya terlalu cair😅😅
2024-04-17
0