Siang itu, setelah selesai meeting, Sasi bersiap hendak makan siang di kantin. Beberapa saat lagi jam istirahat. Sasi masih merapikan mejanya ketika sesosok pria tampan memasuki ruangannya.
" Hai dear, lama gak ngedate. Makan siang yuk!"
" Hai Dav, iya nih kamu ke mana aja. Udah jarang mampir ke rumah juga?" Sasi membalas tos tangan Davin.
Tentu saja Davin cuma bercanda soal ngedate. Buat Sasi ngedate versi Davin adalah nongkrong bareng di kafe, lunch atau sekedar ngobrol di teras rumah. Tanpa tendensi apa-apa. Just for fun and for friend. Seperti halnya Reza. Keduanya sudah seperti kakak dan sahabat bagi Sasi.
Yang Sasi tidak tahu atau sengaja abai dan tak mau tahu adalah kenyataan bahwa Davin dan Reza sedang bersaing mendapatkan hatinya. Saling sikut, saling tikung dan sleeding sudah jadi kebiasaan dua rekan sekantor Sasi itu. Padahal keduanya adalah sepasang sahabat lama. Intinya selama janur kuning belum melengkung, Sasi boleh didekati dan dikejar siapa saja. Who knows?
" Nggak salah nona? Justru kamu yang kemana aja. Lembur mulu kerjaannya. Kalau aku ke rumah trus kamunya nggak ada, emang aku mau ngapelin ibu?" Davin tertawa masam sambil mengacak-acak rambut Sasi.
" Ish...rambutku baru disisir tahu! Hehe...iya juga ya...gimana dong? Akhir-akhir ini kerjaan banyak banget nih. Kamu juga tahu kan banyak tender proyek besar ?" Sasi menatap Davin sedih .
" Hmmmm...ia deh yang jadi soulmate boss, kemana-mana ikut boss. Jangan-jangan nanti kamu beneran jadian lho Sas sama si boss. Secara kalian sama-sama jomblo.trus kerjaannya berduaaaaan terus kaya truk gandeng..haha.." Davin menggoda Sasi. Yang digoda cuma cemberut malas.
" Jadi kamu kesini mau ngeledekin aku doang ini?" rajuk Sasi.
" Hahahah.....enggak dong cantik, tadi kan mas Davin udah bilang mau ngajak lunch.." Davin tertawa-tawa senang melihat wajah Sasi yang menggemaskan.
" Sok ganteng banget kamu mau dipanggil mas..." Sasi meninju pelan lengan Davin lalu berjalan mendahului pria itu keluar ruangan.
Davin mengikuti langkah Sasi sambil tertawa-tawa. Mereka berjalan beriringan sambil ngobrol dan bersenda gurau layaknya sahabat karib. Sesekali tangan Davin merangkul pundak Sasi untuk melindungi gadis itu saat mereka berpapasan dengan rombongan karyawan lain yang juga hendak beristirahat, atau bersimpangan jalan dengan OB yang membawa trolley peralatan.
Yang tidak tahu pasti menyangka mereka adalah sepasang kekasih. Dimana tampak sekali sang pria sangat melindungi wanitanya, dan sang wanita tampak nyaman berada disisi prianya yang penuh perhatian. Uhh...!
Seperti sepasang mata elang yang kini juga menatap Sasi dan Davin. Dari depan pintu ruangannya Tommy menatap nanar kepergian Sasi dan Davin. Dua orang anak buahnya yang tampak begitu akrab dan riang berjalan bersama entah mau ke mana.
Davin tampak sudah terbiasa merangkul Sasi. Sementara Sasi juga tampak nyaman dalam rengkuhan Davin. Begitulah yang ditangkap mata Tommy. Hatinya sedikit tercubit. Mungkin mereka akan makan siang bersama seperti niatnya barusan.
Tommy mengurungkan niatnya keluar ruangan.Merasa sedikit kecewa karena niatnya untuk pertama kali mengajak Sasi makan siang saat berstatus sebagai teman dan bukan sebagai boss, ternyata kalah start dari Davin. Ia Lebih memilih kembali ke ruangannya dan memanggil OB untuk membelikannya makan siang.
" Aku telat nih!" keluhnya bergumam. Oke besok aku harus lebih proaktif mendekati Sasi. Jangan sampai aku keduluan Davin. Belum lagi Reza. Sainganku banyak banget sih untuk mendekati Sasi...
Tommy menyandarkan tubuhnya di sofa. Merasa aneh karena tiba-tiba ingin mendekati Sasi, bahkan masih merasa aneh saat mengingat tiba-tiba saja memimpikan Sasi malam itu, juga saat dengan konyolnya dia menembak Sasi jadi pacarnya . Ternyata aku juga bisa konyol...hahaha...Tiba -tiba saja kerongkongannya terasa kering. Dia berdiri dan mengambil sebotol air mineral yang selalu disiapkan Sasi di kulkasnya.
********
Di tempat lain, di sebuah rumah tua yang tampak angker, Mbah Ageng sedang tersenyum puas. Merasa usahanya mulai menampakkan hasil dan tak sia-sia.
Mata batinnya menangkap seraut wajah lelaki muda yang meskipun samar tapi terlihat terang auranya. Sedang mendekat ke arahnya. Mbah Ageng melafalkan doa-doa dengan khidmat. Hanya dia yang tahu apa isi doa dan mantranya.
" Lanjutkan perjuanganmu anak muda, mbah mendukungmu dari sini" bisik mbah Ageng pelan. Masih dengan mata terpejam dan sikap semedi.
Tiba-tiba mbah Ageng tersentak pelan. Ketika.dari belakang sang pemuda beraura terang itu tampak seringai kecil dari seraut wajah tampan beraura biru. Sesosok pria berbeskap kain sutra yang indah. Masih muda dan berbadan tegap. Wajah itu menatap tajam pada mbah Ageng. Bahkan sikap tubuhnya terkesan menantang.
" Rupanya kamu mulai terusik tuan?" bisik mbah Ageng bicara sendiri.
" Kuharap kamu menyadari perbedaan kalian dan tidak terus memaksakan mengikat hati gadis itu." mbah Ageng bergumam-gumam sendiri.
Mbah Ageng membuka mata sambil mengelus jenggot putihnya. " Sasi...sasi...kelihatannya ini tidak akan mudah nduk.." Masih sambil bicara sendiri, mbah Ageng melangkah pelan ke bagian belakang rumahnya. Membakar dupa dan meletakkannya di bokor(sejenis wadah berbentuk bakul terbut dari tembaga atau kuningan)berwarna emas yang tersedia di meja batu.
Aroma dupa membuat suasana hening dan angker di rumah mbah Ageng semakin mencekam.
Kembali ke Kantor Tommy...
Jam istirahat telah berakhir. Semua karyawan sudah kembali ke pekerjaannya masing-masing. Tommy tahu Sasi juga pasti sudah kembali ke mejanya.
Entah mengapa timbul niat di hatinya untuk mengerjai sekretaris cantiknya itu. Salah sendiri makan siang dengan Davin. Padahal dirinya juga ingin makan siang bersama Sasi. Eh..kok jadi Sasi yang salah?
Tommy mengangkat telpon dan memanggil Sasi untuk ke ruangannya. Tak lama pintu diketuk.
Tok...tok..
" Masuk aja Sas" Tommy menatap Sasi yang membuka pintu lalu masuk ke ruangan dan menutup pintu kembali...seperti slow motion....
" Ya pak?" Sasi berdiri di depan Tommy yang duduk di Sofa.
Di meja tampak beberapa box makanan bertuliskan nama resto terkemuka langganan Tommy. Juga dua gelas minuman yang tampak menggugah selera.
" Kamu sudah makan siang?" tanya Tommy pura-pura, padahal dia melihat Sasi dan Davin pergi makan tadi.
" Sudah dong pak, jam istirahat tadi saya sudah makan"
" Wah kamu makan kok nggak ngajak-ajak? Padahal saya pengen lunch bareng kamu lho."
" Hehe ya maaf pak, biasanya kan bapak yang ngajak saya. Kalau saya yang ngajak, lancang namanya pak" Sasi meringis . Aneh banget sih boss? gumamnya pelan.
" Eh, kamu lupa kalau sekarang kita juga berteman? Sesama teman wajar kan ngajak makan atau ngajak jalan? Duduk dulu Sas" Tommy menunjuk sofa di depannya.
Sasi mengangguk dan duduk.
" Hehe...iya pak. Besok-besok saya ajak ya pak kalau mau makan. Tapi saya masih sungkan pak. Rasanya kok nggak sopan gitu..hehe..." Sasi menatap Tommy ragu-ragu.
" Kalau kamu sungkan terus, kapan kita jadi dekat seperti kamu sama Davin? Atau sma Reza?"
Sasi tercengang. Ehh...si bos tahu kalau aku dekat sama Davin dan Reza?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Sry Handayani
nah looh
2024-04-17
0
Santi👠
bukannya di awal sasi sepertinya tau ya kalau reza sama davin ngejar dia?
2024-04-13
0
anggrymom
judule horror, tp isinya koplak gara2 tingkah pak big boss 😄😄😄😄
2021-11-26
0