Ibu Sasi memandangi mobil yang dikemudikan Tommy hingga mobil itu hilang dari pandangan. Hati ibu menghangat dipenuhi kebahagiaan.
Memang Tommy bukanlah pria pertama yang datang dan dekat dengan Sasi. Dulu bahkan ibu pernah sangat berharap pada Reza. Teman kantor sekaligus sahabat Sasi yang secara terang-terangan mengatakan suka pada Sasi. Juga Davin, yang sering datang ke rumah untuk sekedar ngobrol santai dengan Sasi. Berharap bisa dekat dengan Sasi.
Tapi Sasi seakan tak pernah menganggap lebih teman-teman lelakinya yang terang-terangan mengharapkan cintanya. Sasi dengan santai menanggapi semua ungkapan perasaan mereka. Tak menerima ataupun membalas perasaan mereka dan memilih tetap bersahabat saja. Hingga satu per satu mereka mundur dan menyerah untuk mengejar cinta Sasi.
Hal itulah yang membuat ibu sangat khawatir anaknya jadi perawan tua dan terpaksa menghubungi mbah Ageng untuk minta pertolongannya.
Tapi hari ini demi melihat tatapan mata Sasi yang seakan bersinar dan menyimpan perasaan pada Tommy, ibu merasa Tommy telah berhasil menyentuh hati Sasi yang dingin. Satu-satunya temannya yang bisa membuat Sasi membuka hatinya.
" Rum, panen durian sama klengkeng kemarin masih ada?" tanya ibu pada mbak Rumi .
" Masih ada bu...mau disiapkan? " Mbak Rumi menjawab majikannya.
" Iya, bawakan pake keranjang yang besar ya Rum. Pilih yang paling besar dan bagus. Kelengkengnya ambilin yang masih seger dan masih di tangkainya.Taruh di mobil. Saya mau kasih ke orang." jawab ibu Sasi.
" Inggih bu" jawab mbak Rumi .
Ibu bermaksud ke rumah Mbah Ageng. Kebetulan kebun durian dan kelengkengnya sedang panen, jadi bisa buat buah tangan ke rumah mbah Ageng.
Rumah tua itu kelihatan tertutup rapat. Namun begitu mobil memasuki halaman dan ibu turun dari mobil, pintu rumah sudah dibuka dari dalam oleh pelayan mbah Ageng. Apa mbah punya CCTV ? Entahlah. Ibu tak ingin berpikir.
" Mbah Ageng ada mbok?" tanya ibu .
" Ada nyonya, monggo silakan ditunggu sebentar. Beliau masih di belakang. Tapi sudah tahu kalau nyonya datang."
" Iya. Terima kasih. Oh iya mbok, itu ada durian dan klengkeng. Tolong dibawa masuk ya, kasih tau tempatnya saja, biar sopir saya yang angkat" ibu menunjuk ke arah mobil di depan rumah.
" Iya. Baik nyonya." wanita paruh baya itu mengangguk dan beranjak keluar rumah.
Saat itulah mbah Ageng muncul dari ruang tengah. Khas dengan lurik dan blangkonnya.
" Nggowo opo wae to nduk?(Bawa apa saja nak?) Kok repot-repot." tegur mbah Ageng.
" Mboten (tidak) repot mbah. Kebetulan kebon duren sama klengkengnya sedang panen."
" Ada perlu apa nduk?"
" Tidak ada mbah. Saya cuma mau berterima kasih. Tadi ada teman Sasi datang ke rumah. Kelihatannya mereka saling tertarik mbah. Apakah dia yang mbah maksud selama ini?" ibu tak sabar lagi mendengar jawaban menyenangkan dari mbah Ageng.
Mbah Ageng terkekeh melihat betapa antusias ibu Sasi bertanya.
" Kamu itu kok selalu saja begitu. Grusa-grusu ( terburu-buru). Mbok sabar to nduk. Ini baru dimulai. Ke depan masih banyak tantangan dan halangan yang akan dihadapi anakmu." Mbah Ageng bertitah penuh penekanan.
" Maaf mbah. Saya memang ndak sabaran. Ngapunten ( maaf). Tapi saya senang sekali karena saya yakin kali ini Sasi juga ada rasa sama yang ini mbah. Sasya bisa melihat itu di mata anak saya mbah."
" Mbah juga tahu itu. Tapi mahkluk lain yang mbah ceritakan itu ternyata tidak mau mengalah begitu saja. Dia masih kekeh ingin memiliki anakmu sendiri. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah lebih kuat berdoa. Memohon pada Sang Maha Esa agar perasaan mereka dikuatkan sehingga mampu menghadapi apapun halangan di depan"
" Bocahe bagus yo nduk ( Anaknya tampan )? Nah yang di alam lain baguse juga ndak kalah. Mereka ini seimbang. Tapi tetap salah kalau beda alam. Begitu kan?. Jadi bagaimanapun, yang alamnya sama pasti lebih besar kesempatannya.."
Ibu cuma mengangguk-angguk mendengar penuturan mbah Ageng. Teringat pada sosok Tommy yang pada pandangan pertama sudah merebut perhatiannya.Hatinya kembali gundah. Mengapa jalan cinta putri sulungnya itu demikian rumit?
Ibu Sasi tidak tahu bahwa Tommy sudah empat tahun bersama dengan Sasi sebagai bos dan asisten. Dan selama itu tak ada perasaan dn hubungan lebih diantara keduanya. Bukti bahwa jalan cinta Sasi dan Tommy memang panjang sebelum sampai pada titik ini. Hal itu tentu diketahui mbah Ageng lewat mata batinnya.
" Sudah, jangan sedih begitu. Mbah yakin mereka kuat dan akan mampu mengalahkan halangan itu."
" Mudah-mudahan begitu mbah. Amiin. Apa ada lagi yang harus saya lakukan selaun berdoa mbah?" tanya ibu.
" Airnya sudah diminum Sasi kan?" tanya Mbah ageng.
" Sudah mbah,sudah ..maaf mbah...apa air yang diawa Sasi itu yang minum Tommy ya mbah? Kok jadi Tommy yang diterima Sasi, padahal saya pikir itu air dikasih ke Reza." Ibu Sasi tampak bingung.
Lagi-lagi mbah Ageng terkekeh.
" Makanya mbah kan ndak nyuruh kasih ke siapa to nduk? Soalnya mbah tahu, air itu akan mencari tuannya sendiri. Dan sekarang kamu tahu kan?"
" Inggih mbah, leres. Jadi bukan salah sasaran ya mbah?"
Mbah Ageng terbahak-bahak.
" Itu kalau kamu yang mikir begitu. Di dunia ini tidak ada yang salah dan kebetulan nduk. Semua sudah ada yang ngatur dan digariskan. Tinggal bagimana dan dari sudut mana kita memandangnya. Kalau dipandang dari sudut yang benar, yang salah bisa jadi benar. Tapi bisa juga sesuatu yang benar akan kelihatan salah jika dilihat dari sudut yang salah."
" Ngerti kowe(kamu) nduk?"
"Inggih mbah, nuwun ( terima kasih) nasehatnya." ibu mengangguk.
" Yo wes,Ora usah kakehan penggalih, didongani wae. Mugo-mugo pungkasane mangayubagyo"(Ya sudah tak usah banyak pikiran, didoakan saja semoga berakhir bahagia)"
" Inggih mbah, nuwun. Kalau begitu saya mohon pamit. Sugeng dalu ('selamat malam)"
Ibu membungkuk hormat dan keluar dari rumah itu. Tak lama mobil ibu sudah meninggalkan halaman rumah mbah Ageng.
Sampai di rumah, ibu melihat mobil Tommy baru saja parkir di halaman.
Ibu melihat Tommy turun dan membukakan pintu untuk Sasi. Membuat seberkas senyum terbit di bibir ibu. Semoga lelaki sopan dan tampan itu benar-benar jodoh putrinya, sebait doa tanpa sadar terlantun.
Mobil ibu masuk halaman.
Tommy dan Sasi duduk di kursi kayu yang ada di tengah teras rumah yang berbentuk pendopo( joglo).
" Kalian baru pulang?" Sapa ibu setelah turun dari mobil.
" Iya bu" Sasi dan Tommy menjawab bersamaan.
" Sudah malam, saya langsung pamit saja bu" Tommy berdiri dan menyalami ibu.
" Wah kok buru-buru? Ndak ditawari makan atau minum dulu to Sas?" tanya ibu sambil menyalami Tommy.
" Terima kasih ibu. Tadi sudah makan. Lain kali saja bu." Tommy menolak sopan.
" Ya sudah. Hati-hati di jalan ya...ibu masuk dulu" ibu kemudian meninggalkan Sasi dan Tommy berdua di pendopo.
Sasi berdiri. Mengikuti Tommy yang melangkah keluar pendopo.
Sampai di samping mobil, tiba-tiba Tommy menarik tangan Sasi dn menggenggamnya lembut beberapa saat.
Jantung Sasi berdebar.
" Makasih untuk hari ini Sas, I'm so happy. Sampai ketemu Senin ya.."
" Iya mas, sama-sama. I'm happy too" balas Sasi lembut.
" Kamu masuk gih, sudah malam!" Bisik Tommy setelah melepaskan genggaman tangannya pada Sasi.
" Iya ..." Sasi mengangguk.
Tomy kemudian masuk mobil dan melambaikan tangan pada Sasi .
Sasi membalas lambaian tangan Tommy dan bergegas masuk rumah begitu mobil Tommy meninggalkan halaman rumahnya.
Langkahnya ringan seakan melayang di udara. Apakah aku jatuh cinta?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Atik Suasmi Nasa
ditunggu thor lanjutkan
2021-06-17
1
Sulasih
lanjut
2021-06-17
1
Kareda Kapoor
lanjut thor.....
ceritanya bagus?"
2021-06-16
1