Pagi-pagi sebuah pick up memasuki halaman rumah Sasi. Bak pick up itu penuh box karton air mineral botol.
" Apa-apaan itu bu? Ibu yang pesan air mineral satu pick up? Buat apa bu? Apa ibu mau punya hajatan?" Sasi memberondong ibunya denga pertanyaan ketika wanita paruh baya itu mengatur sopir dan kenek pick up untuk menata box-box itu ke gudang belakang.
" Sudah kamu diam saja. Kamu kan tiap hari bawa air mineral. Kebetulan pabrik kasih diskon besar kalau beli banyak." ibu tersenyum
Sasi menggelengkan kepalanya. Masih tak habis pikir. Tapi kemudian tak mau ambil pusing dan melangkah pergi. Kembali ke kamarnya dan meneruskan kegiatannya bersiap pergi ke kantornya.
" Bu...Sasi berangkat ya...?" Sasi mencium punggung tangan ibunya lalu mencium kedua pipi ibunya.
" Iya nduk. Nih air mineralnya bawa ini saja. Satu buat kamu. Satunya lagi buat Reza ya..biar makin lengket sama kamu. Kasih perhatian dikit kan nggak papa?" Ibu memasukkan dua botol air mineral ke tas bekal Sasi.
Sasi tertawa kecil. " Ibu aneh-aneh saja. Biasanya mereka yang berebut kasih air ke Sasi. Ngapin Sasi yang jadi repot?"
" Sasi tolong kali ini kamu nurut ibu ya nduk? Demi kebaikan kamu. Biar segera nyusul adikmu. Ibu nggak akan mati dengan tenang sebelum ibu lihat kamu menikah" mata ibu terlihat memohon.
" Ibu ngomong apa sih..iya..iya Sasi nurut sama ibu . Ibu jangan ngomong aneh-aneh lagi ya.." Sasi memeluk ibunya. Dia merasakan kekhawatiran ibunya. Tiba -tiba Sasi merasa bersalah karena selalu membantah ibunya. Padahal Sasi tahu niat ibu baik meskipun menurutnya caranya salah dan tak masuk akal.
" Ini air ajaib dari mbah Ageng ya.." Sasi tertawa kecil. Hatinya merasa geli tapi tak mau menyakiti hati ibunya.
" iya. Kamu bawa ya. Jangan lupa lakukan seperti yang ibu bilang tadi. Kasih ke Reza ya..?"
" Iya bu siap! Ibu juga siap-siap mantu ya..." Sasi masih tertawa-tawa menggoda ibunya, menganggap lucu dan tak masuk akal semua yang dikatakan dukun itu melalui ibunya.
Ibu cuma mengelus dada dan menggelengkan kepalanya melihat Sasi yang sangat kentara meremehkan dan tidak mempercayai mbah Ageng sama sekali.
Di kantor Sasi..
" Sasi hari ini kamu ikut saya keluar. Siapkan berkas proyek Rumah sakit Sumber Waras. Kita akan mengeceknya siang ini."
" Baik pak" Sasi menutup telponnya. Segera menyiapkan berkas yang dimaksud bosnya. Mengganti heelsnya dengan sneaker nyaman dan mengambil 2 safety helmet yang tergantung di dinding ruangannya. Untuknya dan untuk sang bos tentunya
Bos Sasi. Bastomi Putra Perdana. Biasa dipanggil Tommy. Ganteng seperti umumnya boss..hehe..pendiam tak banyak omong. Bikin sungkan yang ada disekitarnya karena bingung mau ngomong apa. Seperti Sasi sekretaris merangkap asistennya , yang selaly dibuat mati kutu karena tak tahu harus ngomong apa dengan bossnya.
Sasi sama sekali tak tertarik pada sang boss. Baginya bosnya terlalu membosankan. Nggak ada asik-asiknya. Kaku dan kurang gaul. Lebih asik ngobrol dengan Reza, manajer marketing yang flamboyan, atau Davin sang manajer personalia yang manis dan penuh perhatian.
Tak lama bosnya sudah berdiri di depan pintu ruangannya.
" Ayo!" seru sang Bos sambil berlalu.
Sasi mengikuti dibelakang bosnya. Membawa tablet berisi data-data penting, beberapa berkas dan tas jinjing berisi helmet dan air mineral.
Terik matahari dan debu beterbangan menyambut merka saat turun dari mobil. Sasi menyerahkan masker dan safety helmet pada bosnya.
" Terima kasih!" singkat sang bos menyambut masker dan helmet dari Sasi dan langsung mengenakannya. " Mana berkasnya? " sambung sang bos.
Sasi segera memberikan berkas yang dibawanya.
" Nanti kalau saya bilang foto, kamu foto pake hp kamu. Terus kirim ke email saya." perintah Tommy tanpa melihat Sasi.
" Siap pak!" sahut Sasi singkat.
Tanpa banyak kata Sasi mengikuti sang bos yang mulai berkeliling kompleks rumah sakit baru yang pembangunannya sudah mencapai 90 persen itu. Sesekali Tommy melihat berkas yang dibawanya sambil mencocokkan dengan kondisi real yang dilihatnya.
Hampir satu jam Sasi mengikuti langkah Tommy berkeliling area proyek. Tidak ada obrolan berarti. Dasar boss sepi. Sasi cuma mengeluh dalam hati Mulutnya serasa kaku ingin bicara tapi merasa malas memulai pembicaraan dengan bosnya yang pendiam itu.
Di beberapa tempat Sasi memotret bangunan dan akses jalan di sekitarnya sesuai arahan Tommy.
Tenggorokan Sasi serasa kering. Matanya pedih tersapu debu yang beterbangan di area proyek. Sasi menyesal lupa tak membawa kaca mata hitamnya. Karena tak tahan haus Sasi duduk di atas bangku kayu yang ditemuinya. Mengambil air mineral di tas yang dijinjingnya dan segera meneguk isinya dengan cepat.
Glek...glek....glek....Ahh...segarnya...Sasi menghela nafasnya.
" Keterlaluan kamu ya..? Minum sendiri. Mana minum saya?"
Sasi melotot terkejut mendengar suara bosnya. Hampir saja dia menyemburkan air yang diminumnya. Sasi meringis ke arah bosnya.
" Maaf haus banget pak. Bapak mau minum?" Buru-buru Sasi mengambil air mineral dari tas yang dibawanya dan menyerahkannya kepada Tommy.
Tanpa menunggu Tommy pun membuka botol air mineral dari Sasi dan meneguknya hingga tak bersisa.
Saat melihat Tommy meneguk minumannya, barulah Sasi sadar.
" Duh padahal itu air dari dukun kan harusnya aku kasih ke Reza atau Davin, kok jadi si boss yang minum...? "
Sasi bergumam dalam hati. Bodo amat lah...hahaha..lagian gak akan ngaruh juga. Mana mungkin air minum doang bisa bikin orang lengket seperti yang ibu bilang. Siapa juga yang bakalan percaya omong kosong seperti itu.
Sasi diam-diam juga bersyukur ibunya membawakan dua botol air mineral padanya. Padahal tadi Sasi sempat mau menolaknya. Kalau tadi dia cuma membawa satu botol, bagaimana dia menghadapi bossnya?
" Kenapa Sas, kok bengong gitu. Nyesel kamu airmu saya minum?"
What? Sasi tersentak. Rupanya tanpa sadar Sasi terpaku menatap bossnya yang sedang minum.
" Hehe...enggak pak. Panas banget nih, lihat bapak minum saya jadi pengen minum lagi...hehe.." Sasi tertawa malu.
" Ya sudah ayo balik ke kantor. Progresnya lumayan bagus kok. Sudah sesuai laporan" tukas Tommy sambil merapikan berkas yang dibawanya lalu menyerahkannya pada Sasi.
" Siap pak!" Sasi mengikuti langkah bosnya ke mobil untuk kembali ke kantor.
Sepi...sepi...tak ada pembicaraan di jalan. Benar-benar orang yang membosankan. Sasi menggerutu dalam hati. Saking bosannya Sasi pun ketiduran di samping bossnya .
" Kita makan siang dulu." Suara berat sang boss menyadarkan Sasi dari lelapnya.
" Eh..oh..baik pak" Haduh bisa-bisanya aku ketiduran . Sasi mengutuki dirinya sendiri.
" Mau minum kopi?" tawar Tommy.
Sasi meringis menyadari bosnya sedang menyindirnya yang ketiduran tadi.
" Hehe...maaf pak " Sasi tersenyum ke arah bossnya."Habis sepi banget kan jadi ngantuk..." Sasi setengah bergumam pelan.
" Kamu bilang apa?" tanya Tommy
" Hehe..enggak pak.." Sasi meringis lagi.
Sasi melihat sedikit senyum samar di ujung bibir bosnya. Eh kalau senyum dia manis juga. Sasi menepuk dahinya sendiri. Coba dia sering-sering senyum , kan nggak boring akunya...
" Lihat apa Sas?" suara dingin dan kakuTommy menyadarkan Sasi.
" Hehe...enggak pak.."
Sasi buru-buru menghabiskan makanannya. Duh Sasi, kamu mikir apa sih...rutuk hati Sasi.
Boss sepi..Bastomi Putra Perdana
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
YuniSetyowati 1999
Pendiam & ngirit bicara.Seperti gong yang jika tidak dipukul tak akan bunyi.Kaku seperti kanebo kering.Dan dingin mengalahkan freezer.
2025-03-28
0
YuniSetyowati 1999
Lah lah lah 😱 malah salah sasaran.Bidiknya anak buah, dapetnya pohon buah 😅 siap2 jd nyonya kanebo kamu Si 🤭😁
2025-03-28
0
🍭ͪ ͩ🇸 🇺 🇱 🇱 🇾🍒⃞⃟🦅
lah iya Reza banyak omong wong jurusannya bgtu ,
itu bos cuma bilang hemm ,gitu aja
duitnya banyak
🤣
2025-03-10
0