" Dimana rumahmu?" tanya si bos.
" Di jalan xxx pak..perempatan depan belok ke kiri.." Sasi menyebutkan alamat rumahnya.
" Kamu tahu Jon? " tanya si bos pada sopirnya.
" Tahu pak, sebentar lagi sampai" jawab Jono sambil tersenyum ke arah Sasi.
Ehh?? Sasi jadi ikut tersenyum.
" Rumah yang ada pendoponya pak Jon." Sasi menunjuk rumahnya.
" Siap mbak!" seru Jono.
Tomy ikut mendongak mendengar Sasi menunjukkan rumahnya. Tanpa kata. Muka datar seperti biasanya.
Begitu mobil berhenti di depan rumah, Sasi segera turun dari mobil.
" Terima kasih pak bos, pak Jono.." ucapnya sambil membungkukkan badan.
"Sama- sama mbak Sasi" cuma Jono yang menjawab. Sementara si bos cuma melirik sekilas tanpa ekspresi lalu kembali menekuri ponsel di tangannya.
" Dasar kulkas!" Sasi menggumam pelan sambil menjulurkan lidahnya kesal. Lalu bergegas membuka pintu pagar dan masuk kedalam.
Tanpa dia duga saat bersamaan Tommy memalingkan wajahnya dan melihat Sasi menjulurkan lidahnya. Gadis itu tak sadar karena kaca mobil yang pekat. Dia tidak sadar bosnya melihat tingkah konyolnya.
Tommy menggelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan.
" Aneh!" gumamnya pelan.
Entahlah, akhir-akhir ini Tomy merasa aneh. Sasi, asisten merangkap sekretarisnya itu tiba-tiba saja mengusik pikirannya. Padahal sebelumnya dia merasa biasa saja.
Memang diakuinya gadis itu memiliki wajah dan bentuk tubuh yang menarik. Bahkan Tommy juga tahu dua stafnya terang-terangan mengejar gadis itu. Tapi itu tak cukup membuatnya tertarik pada Sasi. Hanya pekerjaan gadis itu yang memuaskan lah yang membuatnya cocok bekerja dengan Sasi sampai saat ini.
" Langsung pulang Pak?" suara Jono memecah keheningan di mobil.
" Hmm...." Tommy cuma mendehem.
Untunglah Jono sudah hafal dan punya telinga super peka yang mampu menangkap sekedar deheman atau gumam pelan bosnya. Sudah terbiasa akan sifat dan tabiat pendiam plus cuek si bos.
Sementara itu...
Sasi bergegas ke kamarnya. Membayangkan berendam di bak mandi yang segar membuat Sasi tak memperhatikan ibunya yang sedang berdiri menatapnya.
" Lembur lagi ndhuk?" tanya ibu.
Sasi menoleh ke arah suara ibunya.
" Ehh..iya bu. Sejak kapan ibu disitu? Sasi nggak lihat..hehe.." sasi meringis.
" Sejak kamu masuk ibu disini. Kamu aja yang ngelamun jadi nggak lihat ibu."
Sasi tersenyum lalu menghampiri ibunya. Mencium tangan dan kedua pipi ibunya.
" Kamu dianter siapa ndhuk? Kok beda mobilnya sama Reza?" ibu menatap Sasi lembut.
" Itu...Sasi diantar bos Sasi bu. Namanya pak Tommy. Tadi ada kunjungan proyek dan pulangnya sudah malam. Jadi gak balik kantor langsung pulang. Sekalian Sasi diantar soalnya nggak bawa mobil.."
Sasi menjelaskan panjang kali lebar sama dengan luas demi supaya ibunya tidak semakin bertanya dan menduga yang tidak-tidak seperti biasa jika ada lelaki yang mengantarnya pulang.
Ibu tersenyum. " Reza gimana kabarnya? Kok sekarang jarang kelihatan.?"
" Iya bu, soalnya Sasi banyak lembur. Jadi jarang ketemu Reza. Nah itu mbah dukun gimana? Bukannya makin lengket kok malah Rezanya makin jauh sama Sasi bu? Jangan-jangan Mbah Ageng udah nggak manjur lagi jampii-jampinya ...hihihi..." Sasi terkikik sendiri menyadari kata-katanya yang absurd.
Sebenarnya Sasi ingin sang ibu sadar bahwa magic, dukun dan sejenisnya itu nonsens. Bohong dan gak masuk akal.
Ibu mendesah pelan. Ibu tahu Sasi sama sekali tak percaya pada mbah Ageng atau siapapun yang namanya dukun atau paranormal. Bagi Sasi mereka itu cuma manusia-manusia aneh dan sok tahu.
"Ya karena kamunya gak sungguh-sungguh percaya mbah Ageng Sas, makanya susah tembusnya. Coba kamu percaya. Pasti cepet prosesnya" ibu menggumam pelan namun Sasi masih bisa mendengarnya.
" Sasi lebih percaya diri Sasi sendiri bu. Dan Tuhan. Ngapain percaya sama orang lain yang nggak kita kenal?"
" Iya ibu tahu. Tapi kan kita juga harus usaha ndhuk?"
" Iya bu. Sasi nurut ibu saja deh. Sasi istirahat dulu ya bu. Capek banget nih..." Sasi tidak mau memperpanjang perdebatan lagi. Dia tak ingin menyakiti hati ibunya.
Ibu mengangguk. " Istirahatlah. Kamu sudah makan malam Sas?"
" Sudah bu, tadi sama bos" jawab Sasi sambil berlalu ke kamarnya.
Sasi berendam air hangat di bathtube. Meredakan otot dan tubuhnya yang penat. Harum aroma therapy membuatnya rileks.
Tiba-tiba sekelebat bayangan wajah bosnya terlintas di kepalanya. Anehnya wajah Sang bos yang terlintas sangat jauh berbeda dengan yang sehari-hari dilihatnya. Jika sehari-hari si bos bertampang dingin dan cuek, dalam bayangannya Tommy tampak tersenyum lembut padanya.
" Ehh...!" Sasi menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir bayangan aneh itu. Pasti aku ketiduran nih . Rutuknya lalu segera bangkit dari bathtube. " Aneh!" gumamnya pelan.
Di tempat lain. Di bathtube yang lain, Tommy juga sedang berendam air hangat. Entah kebetulan atau tidak, tiba-tiba Tommy juga melihat sekelebat bayangan wajah asistennya yang cantik itu. Wajah cantik itu tampak tersenyum mesra padanya.
Waduh! Apaan nih? Tommy mengerjapkan matanya berulang kali mengusir wajah cantik yang tiba-tiba muncul di depan matanya itu. Kenapa wajah Sasi tiba-tiba hadir dalam pikirannya? Dan kenapa senyumnya tampak begitu menawan dimatanya? Ahh pasti karena seharian ini Sasi bersamanya.
Dari pagi sampai malam. Semobil, jalan berdua, makan berdua pulang pun berdua. Jadi sampai terbawa dalam khayalan. Atau jangan-jangan aku ketiduran dan mimpi?
Tommy membuang jauh-jauh pikiran aneh di kepalanya. Segera keluar dari Bathtube dan membersihkan dirinya kemudian bergelung selimut di ranjang kamarnya yang empuk.
Beberapa saat terlelap Tommy merasakan sesuatu yang hangat menyentuh dan melingkari pinggangnya. Dadanya berdesir, tubuhnya meremang merasakan kehangatan tangan dengan jemari lentik itu kini di pinggangnya. Dan punggungnya merasakan kehangatan yang sama.
Tommy membalikkan tubuhnya pelahan. Dan tersentak kaget ketika mendapati siapa yang berada didepannya.
" Kamu??!" pekiknya tertahan.
" Kenapa kamu bisa disini?"
" Bagaimana kamu bisa masuk kamar saya?"
Tanya Tommy bertubi-tubi pada sesosok wajah cantik yang kini berbaring dihadapannya.
Gadis cantik itu tidak menjawab. Tapi tersenyum sambil membelai lembut rahang Tommy. Tangan gadis itu kemudian beralih ke leher Tommy dan menariknya mendekat hingga keduanya tak berjarak.
Entah siapa yang memulai, yang terjadi kemudian adalah dua insan itu saling memagut mesra. Lembut dan saling menggoda. Begitu hangat dan memabukkan hingga Tommy merasa melayang di udara. Bibir gadis itu benar-benar semanis madu. Hingga Tommy enggan melepaskannya. Semakin hanyut dalam gelora kenikmatan yang fana.
" Sasi..." Desah Tommy di sela ciumannya yang membara pada gadis itu.
" Bibirmu semanis madu..." bisiknya merayu.
" Tubuhmu begitu hangat dan memabukkan.." racau Tommy.
" Jangan tinggalkan aku....jangan pergi...tinggallah lebih lama lagi..." tangan Tommy menggapai-gapai tapi bayangan gadis itu telah menghilang.
Brukkk.....
Tommy membuka matanya. Tubuhnya terlentang di lantai kamar dengan nafas memburu...
Astaga..!! Mimpi apa aku barusan? Gumamnya dengan pikiran kacau.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
AZ zahra
mau..dong alamat .mbahnya... torrr😔
2025-02-22
0
YuniSetyowati 1999
Nah nah pak bos pun sudah terpelet-pelet juga kan.
2025-03-28
0
YuniSetyowati 1999
Walah peletnya udah bekerja ternyata
2025-03-28
0