" Sudah siap semua Sas?" sapa Tommy lalu berjalan mendahului Sasi.
" Sudah pak!" jawab Sasi bergegas mengikuti langkah panjang Tommy ke ruang meeting.
Sasi dan Tommy duduk berdampingan di ruang meeting yang luas itu. Tommy memimpin rapat dengan tegas dan lugas. Mengevaluasi laporan dari semua departemen dan mengoreksi kesalahan yang ada dengan kata-kata yang singkat dan jelas. Meeting berakhir tepat jam makan siang.
Semua peserta meeting sudah keluar. Tinggal Tommy dan Sasi yang masih membereskan berkas-berkas dan notulen rapat.
""Belum beres Sas?" Tommy menatap Sasi yang masih fokus pada laptopnya sambil mengetik.
" Sedikit lagi pak. Banyak sekali revisi. Silakan Bapak istirahat dulu. Saya akan menyelesaikan ini sebentar. Nanggung pak.." Sasi tersenyum ke arah Tommy sejenak, lalu kembali menekuni laptopnya.
Tiba-tiba Tommy bangkit dan berdiri di belakang Sasi. Ikut melihat ke arah laptop Sasi.
" Eh??" Sasi sedikit kaget dan refleks menoleh ke belakang.
"Sini aku bantu!" Tiba-tiba saja Tommy meraih berkas yang ada di depan Sasi. Membacanya dan menyebutkan poin-poin rapat dan laporan departemen yang sudah dikoreksi.
Harum segar mint menguar memenuhi rongga hidung Sasi saat Tommy mulai membantu mendiktenya. Sasi merasakan bulu kuduknya meremang. Ya ampuun..! Mau pingsan rasanya.
"Hufft!" Sasi menghembuskan pelan nafasnya. Menetralisir jantungnya yang berdegub kencang berada begitu dekat dengan Tommy yang kini setengah membungkuk dan tangannya bertumpu pada meja.
Setelah detak jantungnya kembali pada ritme normal, Sasi segera mengerjakan tugasnya denga bantuan Tommy dan..taraaa...pekerjaan mendebarkan itu selesai dalam sepuluh menit saja.
Sebenarnya bukan pekerjaannya yang mendebarkan, tetapi harum parfum maskulin dan nafas mint segar yang menguar dari bossnya lah yang membuat Sasi serasa sesak nafas. Entah mengapa jantungnya seakan berloncatan . Oh my...akhirnya selesai juga.
" Makasih pak boss." Sasi mengangkat wajahnya. Tepat pada saat Tommy menundukkan wajahnya hingga pandangan mata mereka bertabrakan.
Tommy membeku menatap bibir Sasi yang tampak tersenyum. Tiba-tiba bayangan saat dirinya begitu rakus ******* bibir basah itu dalam.mimpi kembali berkelebat di kepalanya. Membuat Tommy reflek mendekatkan wajahnya ke wajah Sasi di bawahnya.
" Sudah selesai pak. Apa bapak ingin dipesankan makan siang?"
Suara Sasi menyadarkan Tommy. Shit! Rutuknya dalam hati. Aku benar-benar sudah gila. Keluhnya dalam hati.
" Emh. Kita keluar saja. Makan siang di luar langsung berangkat ke PT. Exo. Jadwalnya jam dua kan?" Tommy kembali ke kursinya dan beranjak keluar setelah membereskan berkas di mejanya dan menyerahkannya pada Sasi.
" Siap pak!" Sasi berdiri dan mengikuti langkah bossnya. Menjinjing tas laptop dan map berisi berkas-berkas.
" Sini, biar saya yang bawa tasnya." tanpa menunggu jawaban Sasi Tommy mengambil tas laptop yang dijinjing SAsi.
" Ehh? Ngga papa pak. Biar saya yang bawa.." Sasi merasa tak enak hati. Biasanya juga aku yang bawa. Kok tumben si boss perhatian mau bawain tas. Hati Sasi bertanya-tanya.
" Gak papa. Bawaanmu sudah banyak. Saya kan gak bawa apa-apa."
" Terima kasih pak" Sasi tersenyum tulus.
Tommy tidak menjawab.
Keduanya kemudian berjalan beriringan ke ruangan Tommy untuk menaruh berkas rapat. Lalu keluar kembali untuk makan siang.
POV Tommy
Entah apa yang terjadi padaku. Sejak mimpi gila itu aku rasanya ingin selalu dekat dengan gadis itu. Ingin membantunya. Tidak tega jika dia sedikit lelah atau kerepotan akibat banyaknya pekerjaan. Jadilah habis meeting itu aku temani dia sampai pekerjaannya selesai. Aku merasa aneh kenapa aku mendadak jadi boss baik.
Ingin selalu bicara dengannya, menyapanya dan ingin sekali mewujudkan mimpi gilaku saat mencumbuinya...Shit!
Bibirnya yang terasa semanis madu dalam mimpiku seakan selalu memanggilku untuk menyentuhnya. Gilaaaaaa!! Dan saat ini dia di depanku. Dibatasi meja kecil tempat kami makan.
Bibir tipis nan menggoda itu sedang mengunyah makanan. Bergerak pelan dan anggun seperti biasanya. Dia memang gadis yang tampak selalu lembut dan tenang . Tapi saat ini di mataku bibir itu seperti sedang melambai memanggilku untuk **********. Double shit!!
"Ehm...." Suaranya mengagetkanku. Sendok yang ku pegang sampai jatuh dan berdenting mengenai piring didepanku. Untung tidak jatuh ke bawah. Mau ditaruh mana mukaku. Gengsi ditangkap basah lagi melototin anak buahku sendiri.
" Maaf" gumamku pelan.
" Ada yang dipikirkan pak, kelihatannya Bapak kurang fit? tanya Sasi.
Aku tercekat. Kamu! Ya kamu itu yang bikin semua jadi jungkir balik tak karuan. Kamu yang bikin otak kotorku selalu penasaran merasakan kembali bibirmu. Apakah benar-benar semanis madu seperti dalam.mimpiku.? Oh shit..shit..!!
Seandainya bisa dibeli aku pasti sudah melakukannya sejak kemarin. Atau seandainya kamu adalah kekasihku. Tentu semuanya jadi mudah.Tapi apa yang bisa kulakukan?
Bagaimana aku memuaskan dahagaku akan bibirmu sedangkan kamu bukan apa-apaku selain asistenku? Oh bukan hanya itu yang jadi masalah. Bahkan sebelum ini aku hanya bicara padamu tentang pekerjaan. Tak pernah sekalipun bicara non formal atau bercandaria seperti layaknya teman. Apalagi bicara masalah pribadi. Big no! Jadi apa yang haruss kulakukan agar aku bisa menciummu dan rasa penasaranku terobati, Sasi??
" Ah tidak, semalam.kurang tidur jadi agak kurang fit, tapi masih aman.." aku menjawab cari aman.
Dia tersenyum, dan entah setan apa di kepalaku, rasanya otakku hari ini dipenuhi hasrat menggebu untuk ******* bibir itu. Bibir Sasi.
" Kamu sudah selesai?" kulihat makanan di piringnya sudah habis. Jus strawberry di gelasnya juga sudah kosong. Ck...pertanyaan macam apa itu? Bisa-bisanya aku menanyakan hal bodoh seperti itu. Padahal biasanya aku malas sekali berbasa-basi. Apa aku kerasukan? Entahlah..
Eh...sudah pak.." Sasi tampak sedikit kaget dengan pertanyaanku. Tentu saja, itu bukan aku banget.
" Ayo berangkat sekarang.." Aku beranjak setelah membayar bill. Sasi mengikutiku seperti biasa. Tapi bagiku hari ini tidak biasa.
Jono sudah menunggu di mobil. Dia tidak ikut makan siang karena sudah makan di kantin saat meeting tadi.
" Ke Exo Jon!"
" Siap pak!" Jono menjawab perintahku.
Sasi sudah duduk di disampingku. Harum parfumnya yang manis dan menenangkan menyapa penciumanku. Eh! Sejak kapan bau parfumnya jadi manis seperti ini? Membuatku ingin menghirupnya lagi dan lagi.
"Kamu sudah punya pacar Sas?" entah setan mana yang mendorongku bertanya. Sesudahnya aku merasa menyesal. Apalagi melihat wajh bengong Sasi mendengar pertanyaanku.
" Maaf pak?" dia sampai bertanya lagi saking tidak percayanya mendengar pertanyaanku.
Tentu saja dia kaget. Bossnya yang super dingin dan cuek, jarang ngomong apalagi senyum. Nggak pernah nanya masalah pribadi. Eh tiba-tiba nanya pacar. Are u okey boss? Mungkin itu yang ada di benak Sasi.
" Kamu boleh tidak menjawab kalau keberatan..." gumamku tak yakin.
" Hehe...belum ada pak. Nggak laku.." jawab Sasi sambil meringis.
" Mau nggak jadi pacar saya?" tiba-tiba saja suaraku keluar entah dari mana. Karena sesudah aku mengatakannya, aku sendiri terkejut dan shock. What the hell? Apa yang sudah kukatakan?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
YuniSetyowati 1999
Lah kan kanpak bos keceplosan 😱
Lagian mana ada cowok nembak cewek tanpa sadar? dasar pak bos.Tp apa memang seperti itu ya efek pelet?
2025-03-29
0
🍭ͪ ͩ🇸 🇺 🇱 🇱 🇾🍒⃞⃟🦅
sama2 tak terduga
ada obroaln bgtu
2025-03-12
0
YuniSetyowati 1999
Gubrak 🙃😂🤣
2025-03-29
0