Tommy segera turun dari mobil dan bergegas mengejar Sasi yang lebih dulu berjalan ke arah lift . Saat itulah tiba-tiba dari arah kanan area parkir di bassement mall sebuah mobil melaju ke arah Sasi. Sasi tidak melihatnya dan terus melangkah. Dengan refleks Tommy meraih tubuh Sasi dan menariknya sehingga tubuh Sasi jatuh ke pelukannya.
Sasi terkejut setengah mati. Apalagi sedetik kemudian sebuah mobil melaju kencang dibelakang tubuhnya yang tengah di peluk Tommy.
" My God , Sasi! Hati-hati dong kalau mau jalan" Tommy memekik pelan sambil tetap memeluk erat Sasi. Jantungnya hampir copot membayangkan Sasi diterjang mobil itu.
" Mmmaa..af mas.." wajah Sasi memucat. Dadanya berdebar kencang.
" Hampir saja Sas, berarti bener yang ibu kamu bilang. Kamu itu ceroboh kalau di tempat ramai."
Sasi meringis. Ya ampuun. Kenapa aku bisa seceroboh itu? Sasi merutuki kelalaiannya sendiri.
Sesaat kemudian ia baru sadar jika saat itu mereka masih berpelukan. Sasi bisa mencium aroma parfum Tommy yang membuatnya nyaman dan enggan melepas pelukan bos tampannya itu. Tapi rasa malunya masih bekerja.
" Emmm..maaf mas. Boleh lepas pelukannya ngga? Malu dilihat orang.." Sasi agak menjauhkan wajahnya yang menempel di dada Tommy.
Tommy tergeragap sadar dan buru-buru melepas pelukannya pada Sasi.
" Ehh..sorry..sorry. Bener-bener ngga sengaja loh Sas. Refleks aja tadi"
" Iya mas, saya tahu. Thanks, kalau ngga ada mas tadi mungkin saya udah celaka."
" Sudah...sudah , yang penting kamu masih selamat,yuk jalan!" Tommy menarik dan menggenggam lembut tangan Sasi.
" Mas? "
" Apa?" Tommy menoleh ke arah Sasi
" Tangannya..." mata Sasi melihat ke arah tangannya yang digenggam Tommy.
" Ngga usah protes. Biar aman, jangan lepasin pegangan tangan saya. Jangan-jangan di mall nanti ilang kamu." Gerutu Tommy sambil menarik pelan tangan Sasi.
Kejadian yang baru saja hampir mencelakakan Sasi membuat Tommy merasa perlu lebih waspada menjaga Sasi.
Mau-tak mau Sasi mengikuti langkah Tommy. Berjalan bergandengan tangan menuju ke arah lift untuk naik ke lantai atas tempat movie area berada.
" Ya nggak mungkin ilang lah Mas, saya bukan anak kecil..." Sasi masih mencoba protes dan berusaha melepas genggaman tangan Tommy.
Tapi Tommy malah mempererat genggamannya. Genggaman yang hangat dan lembut. Cowok kok tanganya halus banget ya...Tubuh Sasi meremang.
Tanpa sadar Sasi tersenyum. Sesekali menatap wajah bos tampannya itu dari samping sambil berjalan.
Keduanya segera memasuki lift yang kebetulan sedang kosong.
" Berarti kamu dulu pernah ilang. Ngaku kamu!" Tommy tersenyum meledek Sasi.
" Eh kok mas tahu?" Sasi malah keceplosan mengaku
" Itu tadi kamu yang bilang sendiri..." Tommy terkekeh.
Sasi ikut tertawa mengenang kecerobohannya saat masih anak-anak yang pernah hilang di pasar malam . Saat itulah lift terbuka kembali dan sekelompok remaja lelaki dan perempuan masuk. Sasi refleks merapat ke arah Tommy, memberi ruang pada mereka yang baru masuk lift. Melihat itu, Tommy pun refleks merangkul pundak gadis itu.
Sasi merasakan tangan Tommy yang hangat melingkar di pundaknya. Jantungnya serasa berloncatan. Berada begitu dekat dan menempel pada tubuh Tommy seperti ini sungguh berbahaya bagi jantungnya. Harum parfum Tommy kembali memanjakan hidung Sasi.
Dua lantai kemudian remaja-remaja itu keluar dari lift. Tapi sebelum keluar, salah seorang dari ABG-ABG tanggung itu sempat menyeletuk.
" Lift pun serasa milik berdua ya kak, yang lain numpang.." disambut tawa teman-temannya.
" Sialan" Gumam Tommy sambil tertawa kikuk.
Sasi ikut tertawa. Tommy melepas rangkulannya di pundak Sasi. Tapi kembali menggenggam tangan gadis itu.
Sampai di lantai sepuluh mereka keluar. Suasana mall di lantai ini tampak ramai. ada beberapa orang mengantri di depan loket. Sementara beberapa yang lain tampak duduk-duduk di kursi ruang tunggu. Ada juga yang sedang membeli popcorn dan makanan ringan. Khas pemandangan di gedung bioskop.
" Lihat - lihat filmnya dulu yuk. Kamu pengen nonton apa?" tanya Tommy.
Keduanya merapat ke dinding ruangan. Terpampang poster thriller film-film yang diputar hari ini.
" Nonton ini saja ya mas, aku suka Scarlet Johanson. Cantik banget." Sasi menunjuk poster film Black Widow
" Kamu juga cantik.." Tommy bergumam pelan sambil menatap Sasi.
Sasi mendongak menatap Tommy. Meyakinkan apa yang baru didengarnya. Tapi Bos tampannya itu cuma mengulum senyum. Santai, seakan tak pernah mengucapkan sesuatu, padahal Sasi sudah hampir pingsan mendengarnya. Sasi mendesah kesal.
Dasar! Tadi nyuruh manggil sayang, sekarang bilang cantik. Terus bersikap santai seolah tak mengatakan apa-apa. What the hell boss. Apa kau mau bikin asistenmu ini jantungan?? Sasi menggerutu dalam hati.
Sambil mendecak sebal Sasi mengikuti langkah Tommy ke loket untuk membeli tiket. Ternyata film masih akan diputar satu jam lagi.
" Wah, kelamaan ini kalau nunggu. Makan dulu yuk, masih lama ini. Yang sesi pertama baru diputar." Tanpa bertanya pada Sasi Tommy menggandeng Sasi ke food court mall. Jiwa bossynya muncul.
" Kamu pengen makan apa?" Tommy bertanya.
" Masih kenyang mas. Saya temani aja. Nanti saya makan salad aja atau es krim"
" Makan pempek aja yuk. Kan gak berat-berat amat. Gak bikik kenyang."
" Boleh deh." Sasi akhirnya setuju.
Mereka menikmati pempek di food court. Di selingi obrolan dan canda tawa yang semakin lancar mengalir.
" Makanan favorit kamu apa Sas?"
" Masa ngga tahu. Padahal sudah empat tahun hampir tiap hari makan bersama." Sasi menatap Tommy heran.
" Kamu kayanya gak pilih-pilih makanan deh. Semua kamu makan. Jadi saya nggak tahu mana yang favorit" Tommy tampak mengingat-ingat kebiasaan Sasi.
" Iya juga sih mas. Tapi kalau boleh milih, yang penting banyak sayurnya saya pasti lebih semangat makan. Kalau nggak ada ya...apa saja yang penting kenyang...hehe.."
" Kalau favorit saya, ngga usah tanya juga kamu pasti tahu kan? Wong kamu yang pesankan tiap hari buat saya" Tommy tersenyum menatap Sasi.
Sasi membalas senyuman bossnya.
" Iya dong pak, Eh..mas...saya kan sekretaris plus asisten teladan..hehe.." Sasi tertawa sambil menepuk dadanya bangga.
Tommy ikut tertawa. " Iya.....asisten kesayangan..." celetuk Tommy lagi-lagi santai tanpa menatap Sasi, sambil menarik tangan Sasi keluar food court area setelah membayar bill makanan mereka.
Membiarkan Sasi bergelut dengan degup jantungnya yang lagi-lagi bertalu. Boss..Sasi nggak kuat...mau pingsan ditembak rayuan maut beruntun yang tak berperasaan dari boss...pekik hati Sasi sambil lekat memandangi wajah bossnya yang pura-pura tak peduli.
Tommy melangkah santai kembali ke movie area sambil terus menggenggam tangan Sasi . Sebelum masuk gedung pertunjukan, Tommy sempat membeli dua kantong cemilan dan dua botol air mineral.
Ketika sudah hampir memasuki pintu gedung, Sasi tiba-tiba mendengar suara seseorang memanggil namanya.
" Sasi..!"
Sasi menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tak kunjung menemukan orang yang memanggilnya. Akhirnya Sasi mengikuti langkah Tommy yang sudah menarik tangannya masuk gedung.
" Siapa? Tanya Tommy.
" Ngga tahu, ngga kelihatan." Sasi mengangkat bahunya.
" Ohh..." sahut Tommy cuek.
Tommy dan Sasi mengikuti petugas yang menunjukkan kursi mereka. Tak lama lampu penerangan mulai dimatikan, pertanda film akan segera dimulai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Ass Yfa
kalo ndak Reda ya Davin
2024-05-07
0
Adhy comel
kirain demit yg pnggil ☺☺😀😃😃
2021-09-25
3
mintil
sapa yg manggil.jangan2 demit
2021-09-06
2