Sejak Tommy menembakku di mobil dengan saksi si Jono itu, Tommy benar-benar jauh berbeda. Terutama saat hanya berdua saja denganku. Rupanya dia benar-benar ingin mengenalku lebih dekat.
Dia berubah jadi orang yang hangat dan menyenangkan. Banyak senyum dan tak lagi pelit bicara padaku. Meskipun saat tidak berdua dia kembali pada mode sillent nya.
Seperti pagi itu..
Aku mengisi kulkas kecil di ruangannya seperti biasanya. Sambil memberikan jadwal meeting dan kegiatan hari ini.
" Selamat pagi pak.." aku menyapanya sambil tersenyum.
"Pagi juga Sasi.." dia menatapku dan membalas senyumku.
Ehh! Aku sampai kaget. Dia senyum lho dan mengucapkan tiga kata plus sambil menatap wajahku. Padahal biasanya cuma " hmm" tanpa menoleh apalagi tersenyum. Boro-boro...
Aku mimpi nggak sih? Hihihi...tanpa sadar aku tersenyum-senyum sendiri. Tapi sedetik kemudian merinding. Jangan-jangan didepanku bos jadi- jadian.
" Kenapa? Kok mukanya aneh gitu?" suara Tommy menyadarkanku dari lamunan tak jelas.
" Nggak pak. Hehe...aneh aja dengar suara dan senyum bapak pagi-pagi. Dapat tender besar ya pak? " ocehku menutupi kegugupan.
"Duduk Sas..ngobrol sebentar.." titahnya sambil berjalan ke sofa di tengah ruangan.
Aku refleks mengikut dan duduk di sofa seberang bosku. Saat aku menatapnya, kebetulan dia juga sedang menatapku. Halah...ini kok suasana jadi syahdu begini sih? Tatapan matanya tampak sayu . Ehh ampun deh. Ini aku mikir apa si? Atau dia yang lagi mikir apa?
" Mau ngobrol apa boss? " akhirnya aku buka suara memutus mata kami yang saling tatap, yang kalau diteruskan takutnya malah aku yang pingsan..oh my!
" Santai aja. Kamu mau minum kopi atau yang lain biar aku suruh OB bikin sekalian?" tawarnya semakin aneh dan melenceng dari kebiasaan.
" Saya biasa minum teh pak" sahutku pelan
"Oke.."
Tommy berdiri ke arah meja kerjanya. Memencet tombol ekstension dan memerintah singkat.
" Tolong bikinin saya kopi sama teh manis hangat. Antar ke ruangan sekarang!"
"Rapat masih jam.sepuluh nanti kan?"
" Ehh, iya pak." aku tergeragap ketika sadar Tommy sudah duduk kembali di sofa depanku.
" Santai Sas, seperti yang kamu bilang, aku mau mencoba jadi temanmu. Teman kan harus sering ngobrol bareng. Bukan begitu Sas?"
" Iya pak. Tapi ini masih jam kantor. Takutnya ganggu kerjaan Bapak." aku sedikit berkilah.
" Kalau begitu kapan dong kita bisa ngobrol sebagai teman? Kita kan memang selalu di kantor. Sering lembur sampai malem."
Dia menyenderkan kepalanya ke sandaran sofa. Tangannya bersedekap di dada. Ya ampuun dengan senyum samar begitu, kenapa dia jadi kelihatan semakin tampan?
" Iya juga ya pak. Hehe..." aku juga bingung. Memang benar apa yang dia bilang.
Saat itulah pintu diketuk. Muncul Sarip OB kantor membawa nampan berisi dua cangkir di atasnya.
Sarip menaruh cangkir di meja. Lalu membungkuk dan keluar ruangan sambil menutup pintu.
" Jadi gini saja Sasi. Kalau lagi berdua sama saya, anggap saya teman kamu. Dimanapun itu. Mau di kantor, ataupun diluar juga. Tapi saat ada orang lain anggap saya teman sekaligus atasan kamu. Deal?"
" Siap pak!" Aku mengangguk dan tersenyum membalas senyumannya. Siapa juga yang gak mau punya teman ganteng kaya si boss?
Aku menatapnya.Lagi-lagi kami saling bersitatap. Tommy tersenyum membuat jantungku serasa berloncatan.
" Minum tehnya Sas. Sudah hampir jam sepuluh. Kamu siap-siap gih.." Tommy menyesap kopinya dan kembali ke kursi kebesarannya.
" Baik pak. Permisi." Aku mengangguk hormat padanya dan keluar untuk kembali ke ruanganku.
POV Tommy
Akhirnya aku benar-benar nembak Sasi. Dan apa jawabannya? Haha...dia menolakku. Apakah aku marah? Tentu saja tidak. Kalau aku jadi dia mungkin malah aku langsung tolak mentah-mentah.
" Bagaimana kalau kita berteman dulu?" katanya.
Sasi mungkin masih sungkan dan segan kepadaku karena aku bossnya, sehingga dia tidak menolak secara frontal dan menawarkan pertemanan padaku. Oke.
Aku sekarang mau jadi temannya. Setidaknya aku masih ada kesempatan bersaing dengan Reza dan Davin yang terang-terangan mengejar Sasi.
Sekarang dia lebih banyak tersenyum kepadaku. Senyum manis yang sedikit mengobati dahagaku akan keinginan lucknut mengeksplor bibirnya yang semanis madu itu, dalam mimpiku tentunya. Ahh..
Apa aku sudah mulai gila? Atau ini hanya sekedar obsesi gilaku gara-gara mimpi mesumku. Aku tidak tahu. Aku hanya merasa hari-hari terakhir ini pikiranku selalu terisi Sasi jika aku sedang sendiri dan tak ada yang ku kerjakan.
" tok tok" suara ketukan di pintu menyadarkanku.
" Masuk"
Sasi berdiri di ambang pintu. Shit! Kenapa dia cantik sekali pagi ini? Dan bibirnya yang merah muda tampak basah dan menggoda. Lagi-lagi pikiran gila itu datang lagi.
" Rapat segera dimulai boss" Sasi menunjuk jam tangannya.
" Oh, oke."
Aku meraih jasku dan mengenakannya cepat. Lalu menghampiri Sasi di depan pintu.
" Ehh maaf pak. Boleh saya betulin dasinya? Agak berantakan." Sasi tersenyum sambil menunjuk dasiku.
" Oh oke.Tadi agak gerah jadi saya memang agak longgarkan dasi saya" aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Aku memang lupa tidak merapikan dasiku kembali.
Sasi mengangguk dan mendekat ke arahku. Sangat dekat hingga dia meraih dasi di leherku. Tingginya yang sedikit di atas bahuku membuat puncak kepalanya berada tepat dibawah hidungku.
Aroma harum rambut dan parfumnya menyihirku. Seakan aku berada di taman bunga yang wangi dengan bunga beraneka warna yang memabukkan.
Sasi memelukku dan bersandar di dadaku. Aku membalas pelukannya dan mencium puncak kepalanya mesra. Deg! Tentu saja itu cuma halusinasiku. Sasi memang tampak dekat di dadaku. Tapi karena dia sedang merapikan dasiku. Ish!
" Sudah rapi pak!" dia mengangkat wajahnya sambil mengusap dasiku yang telah rapi.
" Terima kasih Sas." Aku berucap tulus. Syukurlah aku tidak nenar-benar memeluk dan menciumnya saat berkhayal tadi. Mau ditaruh di mana mukaku. Bisa-bisa aku dituduh melecehkan.
Kami berjalan bersama menuju ruang rapat.
" Nanti kamu saja yang presentasi ya Sas.." titahku pada gadis itu.
Sasi mengangguk. " Siap boss!"
Ah dia memang bisa diandalkan. Dan cantik. Dan bibirnya menggairahkan. Oh My..! Kenapa aku baru sadar sekarang? Padahal sudah empat tahun aku bersamanya hampir tak terpisahkan. Kemana saja kau selama ini Tommy? Aku merutuki diriku sendiri.
Menyesali waktu yang terbuang sia-sia. Mengacuhkan mutiara yang berkilau di depan mata. Demi sebuah keegoisan bertajuk balas dendam pada papa yang menikah lagi dengan gadis sebayaku.
Aku bertekad tak akan menikah atau berhubungan dengan wanita manapun kalau papa nekad menikahi gadis itu. Biar papa tahu dan merasa bersalah.
Kalau aku jadi bujang lapuk maka itu adalah salah papa. Aku berharap dia akan menyesalinya seumur hidup. Itu upah dari mengabaikan ketidak setujuanku sebagai anaknya dan lebih memilih gadis matre itu.
Oh..jadi itu alasan Tommy menjomblo selama ini?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
🍭ͪ ͩ🇸 🇺 🇱 🇱 🇾🍒⃞⃟🦅
akan segera berakhir jumbluu mu Tommy
2025-03-14
0
Santi👠
kalau peletnya hilang pas sasu sudah suka si boss gimana?
2024-04-13
0
Maz Andy'ne Yulixah
Owalah itu to Alasan bos Tommy jomblo🤨
2024-03-26
1