Ketiga pemuda masih berdiri mematung di depan mayat makhluk yang berukuran paling besar. Dari kejauhan mereka mendengar langkah kaki dan orang yang sedang berbicara dalam bahasa kumur-kumur yang sudah tidak asing lagi bagi mereka bertiga.
Dengan tangan yang masih bergetar Hilmi berbisik, "Hurry Up guys. We need to cover his body. (Cepat. Kita harus menutup mayat ini)"
Mereka menyeret makhluk itu ke tempat yang rimbun dengan pohon-pohon kecil. Susah payah mereka menarik kaki makhluk itu dan menggesernya sejauh beberapa meter dari tempatnya tewas. Secepat kilat Chris memungut pelepah-pelepah daun besar dan ranting pohon untuk menutup tubuh besar makhluk itu. Hilmi mengumpulkan dedaunan di atas tanah untuk menaburkan di atasnya. Mirip kuburan besar yang terbuat dari dedaunan.
Mereka tidak mau kalau malam ini rekan makhluk itu menemukan temannya tak bernyawa. Mereka pasti tidak akan bisa beristirahat karena harus cepat-cepat pergi untuk mencari tempat baru yang aman.
Hilmi memberi kode kepada kedua temannya untuk berjalan mengikutinya. Ia melangkah menuju tempat awal mereka mengintai makhluk yang sekarang sudah terkubur dengan tumpukan dahan dan dedaunan.
Di sana mereka masih menemukan kantongan yang berisi murbei dan buah aneh yang mereka dapatkan tadi. Hilmi memungut kantong-kantong itu dan menyerahkannya kepada Chris.
Adly masih sibuk membersihkan darah dari mulutnya, kondisi pakaian dan wajah Adly sekarang benar-benar kacau. Mulutnya membengkak terluka karena pukulan makhluk tadi. Padahal pukulan itu hanya terlihat sedetik saja, tapi Adly sudah babak belur seperti baru saja ditabrak mobil.
Kemudian mereka bertiga merunduk untuk bersembunyi. Langkah-langkah kaki semakin mendekat, Chris sudah memejamkan matanya menunduk dan memegang erat kantongan yang berisi buah-buah itu. Dia tak berani menatap sekawanan makhluk-makhluk yang akan melintas di dekat tumpukan dedaunan yang berisi jasad temannya.
Parang yang dipinjam Hilmi dari Firza hilang jatuh entah dimana. Sebagai penggantinya sekarang Hilmi menggenggam sebuah kapak besar berbentuk aneh yang sangat berat. Senjata yang sangat tidak efisien sekali pikirnya. Perlu tenaga dua tangan untuk mengayunkannya, dan itu pun pasti akan sangat lambat karena berat.
Makhluk-makhluk itu melintas berjalan sambil berbicara gaduh dalam bahasa kumur-kumurnya. Mereka melintasi lokasi jasad temannya yang hanya berjarak dua meter dari kaki mereka tanpa curiga atau merasakan apapun. Hilmi yang sedari tadi mengamati tanpa berkedip menarik nafas panjang karena lega. Makhluk yang lewat berjumlah dua orang. Dan kemungkinan besar mereka sedang menuju ke kediaman mereka.
Ketiga pemuda menunggu makhluk-makhluk itu hingga hilang dari jangkauan pandangan mereka, sebelum mereka memutuskan untuk kembali ke tempat mereka beristirahat sekarang.
Dengan langkah sepelan mungkin, mereka bertiga berjalan di kegelapan tanpa berbicara sepatah kata pun. Adly menutup mulutnya yang terluka dengan mengangkat kerah kaosnya ke atas. Dia merasakan mulutnya sekarang berdenyut dan nafsu untuk segera mencoba buah-buah yang tadi didapatnya sudah terbang begitu saja.
...--oOo--...
Shena dan Firza sekarang saling bertatapan. Seperti dugaan Shena, pandangan mata sayu Firza seperti membiusnya. Shena tenggelam dalam pandangan mata pria itu. Tanpa disadarinya posisi tubuhnya telah condong ke depan.
Firza juga mulai mendekatinya, tangan kiri Firza sudah pindah bertumpu pada tanah di belakang tubuhnya. Shena merasakan nafas Firza semakin dekat, matanya mulai terpejam saat merasakan bibir Firza sudah menyentuh bibirnya. Tangan kiri Shena sudah berada di leher Firza dan mulai mengusap pipi dan jambang pria itu.
Ketika kehangatan baru saja akan mengalir ke seluruh tubuhnya, telinganya malah mendengar langkah kaki mendekat. Sontak Shena melepaskan tangannya dan beringsut menjauh, Firza yang juga sama terkejutnya segera mengambil tas mereka dan membuka isinya untuk mengambil air minum.
Ketiga pemuda itu telah sampai ke tempat mereka berada. Shena sudah hampir mengutuk dalam hati karena para pemuda itu datang di waktu yang sangat tidak tepat, tapi ketika dia melihat kondisi Adly yang pakaiannya penuh darah Shena terperangah.
Mereka bertiga terlihat sangat kacau dan berantakan, walau ketiganya kembali tidak dengan tangan kosong. Chris meletakkan kantong-kantong di hadapannya yang bisa ditebak oleh Shena jika itu berisi sesuatu yang bisa di makan.
Hilmi langsung duduk di sebelah Firza sambil mengatur nafasnya. Chris membasahi sesuatu di sungai dan memberikannya kepada Adly. Ternyata Chris membasahi sapu tangannya untuk Adly, agar pemuda itu bisa mengompres mulutnya yang membengkak.
"We just killed one of them. (Kami baru saja membunuh satu di antara mereka)" Hilmi membuka percakapan yang berhasil membuat Firza dan Shena terdiam mematung memperhatikannya.
"We just killed one of them when he walks alone. We ambushed him. But he is very strong. We also almost died. He hit adly, and somehow I could stab him in the eye with a stick. We pushed him blindly until he crashed into a big tree and broke his neck. Everything was terrible and very fast. (Kami baru saja membunuh salah satu dari mereka saat makhluk itu berjalan sendirian. Kami menyergapnya. Tapi dia sangat kuat. Kami juga hampir mati. Dia memukul dengan kuat, dan entah bagaimana aku bisa menusuk matanya dengan tongkat. Kami mendorongnya secara membabi buta sampai dia menabrak pohon besar dan lehernya patah. Segalanya mengerikan dan sangat cepat)" Hilmi mengelap wajahnya berkali-kali dengan telapak tangannya.
Firza menepuk-nepuk pundak Hilmi yang masih tak
percaya baru saja mengalami hal mengerikan.
"Its okay Bro... We are just waiting for the time they will surely find us. We found them. Or They will find us first. Siapa yang lebih dulu menemukan, itu menentukan nasib kita. Malam ini harus ada yang berjaga. Kita tidak boleh lengah."
Firza menenangkan Hilmi yang sekarang tampak seperti anak SMA yang baru saja mengadu telah berbuat salah. Firza mengatakan pada Hilmi bahwa itu hanya soal perkara waktu saja. Siapa yang lebih dulu menemukan. Makhluk itu atau mereka.
Adly masih mengompres lukanya dengan sapu tangan basah. Chris mulai membuka-buka kantong buah yang dibawanya tadi. Mengambil murbei dengan menggenggam dan mengulurkannya pada Shena dan Firza, Firza mengambil murbei itu dari tangan Chris. Chris membagikan murbei lain pada Hilmi yang segera mengambil dan memasukkannya ke mulut.
Sedangkan Adly menggeleng-gelengkan kepala tanda dia belum mau makan.
Kemudian Chris mengeluarkan beberapa buah aneh berbentuk pir yang tadi diambil Hilmi. Chris mengangkat buah itu ke depan Firza, dan bertanya
"Bro... Do you know this fruit? Apa buah ini memiliki racun?"
"Ini buah ackee yang tumbuh liar di Afrika Barat. Biasa dimasak lebih dulu. But we can it directly. The seeds should not be eaten because they are poisonous." Firza mengambil buah itu dari tangan Chris. Ia mengatakan bahwa mereka bisa memakan buah itu langsung tapi tidak dengan bijinya karena biji buah itu beracun. Chris terlihat sangat takjub dengan pengetahuan Firza.
"Woow... you are genius. You know this fruit just by glancing. (Kau jenius sekali. Kau langsung mengenali buah ini dengan melihatnya sekilas saja)" seru Chris berdecak kagum.
Firza yang melihatnya terkekeh dan berkata,
"You don't need to be a genius. You just need to watch Discovery Channels. (Kau tak perlu jadi seorang jenius. Kau hanya perlu menonton Discovery channel)" Mereka semua tertawa tertahan, termasuk Shena yang juga merasa geli dengan ekspresi polos Chris.
Firza menimang-nimang buah itu seperti hendak membelahnya. Matanya tertuju kepada Hilmi.
Sebelum sempat bertanya kepada pemuda itu, Hilmi langsung berkata, "Aku menjatuhkan parang tu entah di mana ketika tergesa mencengkam makhluk tadi." Hilmi mengangkat bahu dan Firza menghela nafas.
"Tapi aku membawakanmu ini sebagai gantinya." Hilmi menunjukkan kapak yang berhasil mereka rebut dari makhluk tadi. "You can cut that fruit using this." Hilmi mengatakan bahwa Firza bisa memotong buah itu dengan kapak besar yang berhasil mereka rebut dari makhluk tadi.
Firza menggeleng dan menyerahkan buah itu kepada Hilmi. "Kau saja yang memotongnya pakai kapak itu," tukas Firza.
Dan sekali lagi mereka semua tertawa tertahan.
...--oOo--...
Dalam kegelapan malam itu, seharusnya mereka diam dalam suasana yang mencekam. Mengingat makhluk-makhluk yang sedang berkeliaran mencari keberadaan mereka.
Tapi seperti hendak membohongi diri masing-masing, mereka mulai menjalani setiap detik waktu yang penuh ketidakpastian dengan suasana yang lebih pasrah.
Mereka menyadari selagi menunggu datangnya Tim Pencari menemukan mereka, mereka harus bisa bertahan dari makhluk-makhluk buas, bertahan dari rasa lapar dan bahkan harus bertahan dari kegilaan yang bisa menyerang kewarasan mereka kapan saja.
"Aku bisa memastikan bahwa di hutan ini hampir tidak ada hewan buas. We don't even see snakes. Only a few wild boars. Kita ga ada ngeliat ular, babi hutan aja cuma dikit banget. Aku mengingat tentang prinsip hewan yang akan menjauhi sebuah tempat jika tempat itu memiliki pemangsa yang lebih ganas. Makhluk-makhluk di rumah kayu itu juga pasti memangsa hewan-hewan di sini sebelum mereka menemukan jasad manusia atau pun manusia hidup. Kemungkinan besar keberadaan mereka juga tidak diketahui oleh pemerintah negara ini. Bisa jadi mereka merupakan salah satu suku terasing. Entahlah," tutur Firza yang terdengar lirih dan jelas dalam kegelapan malam itu.
Adly dan Chris sudah tertidur tak jauh di sebelah kiri Shena. Firza meletakkan tas parasut mereka yang berisi selimut di atas pangkuannya. Pria itu duduk dengan kaki disilangkan dengan posisi seperti akan bertapa ke arah lebih dekat dengan Shena.
Karena merasa dirinya sudah cukup tidur, maka malam itu Firza menawarkan diri untuk berjaga. Hilmi yang semula menolak keras karena merasa dirinya juga harus ikut berjaga sekarang malah sudah tertidur dengan bersandar pada sebuah pohon kecil dengan suara nafas yang sangat keras.
Ketiga pemuda itu terlihat benar-benar sangat lelah setelah bergumul dengan makhluk buas tadi.
Firza melihat Shena dan menepuk-nepuk tas di pangkuannya sebagai bahasa isyarat yang berarti "Tidur di sini."
Shena kemudian meletakkan kepalanya di tas yang dipangku Firza. Tangan kiri Firza memegang punggung wanita itu dan mengusap-usapnya.
Shena mendengar suara detak jantung Firza yang teratur. Ia menempelkan telinganya pada dada pria itu. Kepala Shena tidak bisa dibilang berbaring di atas tas sepenuhnya. Tapi ia lebih seperti menumpukan dagunya di atas tas.
Seperti sedang menidurkan seorang anak kecil, Firza sesekali mengusap dan merapikan rambut Shena. Shena merasakan kehangatan dan rasa nyaman yang luar biasa. Tangan kanan Shena terlipat di antara tas dan dadanya. Sedangkan tangan kirinya yang sedari tadi bebas tugas sekarang bergerak secara alami memeluk pinggang pria itu. Tangan kiri Shena mencengkeram kuat kemeja Firza di dalam genggamannya. Seolah Shena ingin menahan posisi itu selama mungkin.
Rasa nyaman yang dengan cepat menjalar membawa rasa kantuk yang tidak tertahan, akhirnya cengkeraman tangan kiri Shena pada kemeja Firza mengendur dan Shena jatuh tertidur.
Firza masih mengusap-usap lembut punggung wanita itu meski dia tahu kalau Shena sudah tertidur. Dia menikmati suasana nyaman yang hadir tiap mereka bersentuhan.
Berada di dekat Shena membuat dirinya merasa lebih tenang. Firza merasa satu perasaan yang pasti sekarang. Dirinya nyaman berada di dekat wanita yang sekarang sedang tertidur pulas di pangkuannya.
...--oOo--...
Matahari baru saja muncul ketika suara Adly yang mengerang didengar oleh Shena. Bibir pemuda itu masih bengkak dengan sisa-sisa darah kering yang masih menempel.
Shena mendapati dirinya terbangun dengan posisi tidur berbantalkan tas parasut berisi selimut dan tas tangannya yang berisi syal dan kemeja yang kemarin dilepasnya.
Firza baru saja selesai mengobati luka Adly menggunakan obat-obatan yang tersisa di kotak P3K yang dibawanya dari pesawat. Semua pria-pria di sekitarnya tampak sudah bangun lebih awal darinya.
Firza tampak sudah sangat segar meski Shena ragu kapan pria itu sempat tidur kemarin malam. Entah selelah apa dia tidur hingga dirinya tak terasa ketika Firza mengambil kotak P3K dan memindahkan kepalanya dari pangkuan pria itu.
Cepat-cepat Shena mengecek mata dan sudut bibirnya khawatir dia malah mengeluarkan liur saat tidur di pangkuan pria ganteng. Setelah memastikan aman, Shena bergegas berdiri dan mengambil tasnya.
"Fir... Aku mau bersih-bersih tapi ga di sini. Kemarin aku ngeliat kalo sungai di lekukan sebelah sana tempatnya agak terlindung. Aku ke sana ya, ga lama kok. Aku juga takut kalo sendirian lama-lama. Tapi aku bener-bener harus ke toilet sekarang." Shena berkata seraya menunjuk arah sungai yang lebih terlindung di balik sebuah lekukan.
Bagian sungai yang itu tidak terlihat karena letaknya seperti di tikungan jalan. Tapi yang ini namanya mungkin tikungan sungai.
"Kamu yakin ga apa-apa sendirian ke sana? Aku temenin deh." Firza bangkit tapi Shena buru-buru menahannya.
"Ga pa-pa kok, ga lama juga. Ntar kalo aku ga bersuara kamu panggil dari sini aku juga pasti denger." Shena berbicara sambil membuka sepatu dan kaos kakinya. Tasnya sudah sedari tadi disampirkannya di lengan kiri.
Entah kenapa sekarang Shena merasa malu dan gengsi melakukan hal pribadi di dekat Firza. Tidak seperti saat awal mereka menginjakkan kaki di hutan ini, saat Shena masih terpincang-pincang dipapah Firza, dia masih nyaman-nyaman aja menuntaskan kebelet pipis-nya dengan berjarak hanya beberapa meter dari pria itu.
"Oh oke. Jangan terlalu lama. Dan usahakan jangan bersuara. Kalo setengah jam kamu ga balik, aku susulin," ujar Firza yang kemudian kembali duduk di hadapan Adly.
"Iya Pak.. siap" tegas Shena.
Firza tersenyum mendengar jawaban Shena. Dan kemudian wanita itu pun berlalu ke arah sungai yang ditujunya tadi. Sungai yang dimaksudkannya tadi tidak jauh, Firza mungkin masih bisa mendengar suara Shena jika mereka berbicara sedikit keras.
Shena menaiki tepi sungai untuk mengambil jalan lewat hutan menuju sungai yang dimaksudnya. Masih menyusuri tepi sungai dan melihat-lihat situasi sungai saat itu Shena mengurungkan niatnya untuk ke tempat niat awalnya tadi.
Tak terasa dia berjalan sedikit jauh dari tempat mereka ketika dia melihat sebuah bagian sungai yang sangat bagus. Tepiannya sangat landai dengan banyak bebatuan kecil.
Shena langsung mencelupkan kakinya di air yang dingin dan sangat jernih itu. Shena sudah kebelet buang air kecil sejak tadi. Dan setelah melihat kanan dan kiri sudah aman, Shena menepi ke bagian sungai yang sedikit dialiri air. Dia telah menggulung bagian bawah celana jeansnya agar tidak basah. Matanya sampai terpejam karena merasa lega menuntaskan hasratnya yang tertahan sejak malam.
Shena mengamati ke mana aliran air itu dan berjalan beberapa langkah melawan arus sungai. Dia tidak mau mencuci wajah dengan air sungai yang telah dilewati oleh urinnya sendiri.
Jika tidak berada dalam situasi seperti sekarang, ingin rasanya dia mandi di sungai itu pakai sampo dan sabun. Badannya sudah terasa tidak nyaman karena empat hari memakai baju yang sama dengan keringat yang mengering di pakaiannya.
Shena meletakkan tas tangan yang dibawanya di atas batu. Dia berencana menukar kaos yang dikenakannya dengan kemeja yang dilipatnya kemarin. Kaos dan kemejanya harus digunakan bergantian untuk menghemat dan meminimalisir aroma tidak sedap karena keringatnya.
Iya. Dalam situasi seperti itu pun dia masih khawatir soal penampilannya.
Sejenak ingatannya kembali ke masa awal di kelas 1 SMA saat dia masuk sebuah organisasi pecinta alam di sekolahnya.
Anggota baru dalam organisasi diharuskan mengikuti perkemahan sabtu-minggu di pegunungan yang mereka sebut masa orientasi. Saat di pegunungan Shena tak menyangka jika seluruh isi ransel anggota baru akan diperiksa untuk mengumpulkan seluruh makanan dan cemilan untuk dibagi sama rata.
Ketika ransel Shena diperiksa, seniornya hanya menemukan makanan berupa 1 bungkus biskuit. Selebihnya senior Shena mengeluarkan Cleansing Milk, Toner, Sunscreen, Clay Mask, Moisturizer, kapas wajah dan compact powder.
Isi tas Shena hampir setengahnya berisi skincare yang membuat Shena di-bully akan hal itu. Para seniornya mengatakan kalau dirinya tak masalah mati kelaparan di pegunungan asal bisa tampil tetap cantik.
Dan seniornya tak sepenuhnya salah soal itu, jadi Shena tak merasa marah ketika di-bully. Dia malah merasa itu adalah hal yang lucu hingga sekarang.
Shena melepaskan kaos yang dipakainya dan hanya menyisakan dirinya berbalut bra hitam. Wanita itu melipat kaosnya dengan rapi dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian Shena mengambil dua lembar tisu basah dari dalam tasnya dan membasahi tisu itu dengan air. Ia mengelap lipatan ketiaknya dengan tisu yang sudah basah. Kemudian ia kembali membasahi tisu dan memerasnya untuk mengelap bagian tubuh yang lain.
Karena merasa lelah berdiri, Shena akhirnya duduk di sebuah batu. Posisinya saat itu menghadap ke aliran sungai.
Perlahan-lahan dia mengelap bagian-bagian tubuhnya yang dirasanya sangat lengket. Bahkan sepertinya dadanya berteriak kegirangan karena Shena membasuh bagian tubuh favoritnya itu dengan air dingin.
Kemudian dia sedikit menurunkan branya untuk menjangkau bagian dada yang tertutup. Shena juga menyeka bagian puncak dadanya berulang-ulang.
Shena melakukan aktifitas itu sambil terus melihat ke kiri dan ke kanan dengan was-was. Ingin cepat-cepat menyudahi, tapi rasanya belum cukup puas untuk bersih-bersih. Ia kemudian membuka ikatan rambut panjangnya yang hitam dan mulai menyisir rambutnya dengan jemari.
...--oOo--...
Di lain tempat Firza mulai berjalan ke bagian sungai yang dimaksud Shena tadi. Sudah hampir satu jam Shena pergi tapi belum kembali dan Firza sudah memanggil wanita itu berulang-ulang dengan hasil tanpa jawaban.
Firza menyusuri bagian tepi sungai yang seperti tikungan, tapi dia tidak menemukan Shena atau pun tanda-tanda wanita itu pernah berada di situ. Firza terus berjalan menyusuri tepi sungai itu melalui hutan.
Kemudian pandangannya terpaku pada pemandangan tidak lazim yang menjijikkan.
Firza melihat salah satu makhluk buas itu sedang berdiri merapat ke sebuah pohon seperti sedang mengamati sesuatu. Tangan kirinya berpegangan pada batang pohon dan tangan kanan makhluk itu sedang sibuk dengan kelaminnya yang terjulur keluar dari celana berwarna coklat kumal.
Makhluk itu sedang bermasturbasi dengan ekspresi yang sangat menjijikkan. Bahkan dia mengeluarkan suara lenguhan-lenguhan pertanda dia sedang sangat menikmati pemandangannya saat itu.
Firza melihat sebuah parang besar yang dikenalinya terletak tak jauh dari kaki makhluk itu. Ternyata parang yang dijatuhkan Hilmi sudah kembali ke pemilik aslinya. Dipinggang makhluk itu juga terselip sebuah belati.
Firza bergidik karena mengetahui makhluk besar itu membawa banyak senjata tajam. Dengan perlahan sekali dia mengambil sedikit jalan memutar supaya bisa sampai di belakang makhluk itu.
Firza sudah berada di balik pohon yang berjarak hanya beberapa langkah di belakang Makhluk itu. Dengan sedikit berjinjit dia melihat pemandangan yang sedang dinikmati makhluk menjijikkan di depannya.
Ternyata Shena yang sedang mencuci rambutnya hanya dengan mengenakan bra dan celana jeans. Firza mengingat kejadian saat dirinya dan Hilmi berada di rumah kayu untuk menyelamatkan Saida.
Mereka melihat makhluk itu sedang bercinta bersama-sama sekaligus dengan seorang makhluk perempuan yang tampak sebagai pemimpin mereka.
Saat itu Firza sempat heran karena Saida tidak disentuh oleh para makhluk laki-laki yang berada disana.
Namun sekarang Firza memahaminya. Hubungan para makhluk ini pastilah hubungan incest turun temurun.
Mereka berkembang biak dengan melakukan hubungan seksual di antara mereka saja. Dan saat ini jumlah mereka terbatas dikarenakan jenis kelamin wanita di antara mereka semakin lama semakin berkurang.
Dan makhluk wanita yang menjadi pemimpin mereka itu sudah mulai tua dan tidak produktif. Tapi ikatan hubungan mereka yang tidak biasa menjadikan sang wanita itu begitu posesif dan cemburu luar biasa jika makhluk laki-laki yang selalu tersedia untuknya itu menyentuh wanita lain selain dirinya.
Selebihnya ketika para makhluk laki-laki ini sendiri tanpa pengawasan dari si makhluk perempuan, mereka tetaplah makhluk laki-laki buas dengan nafsu yang buas juga.
Dan sekarang Shena sedang dijadikan bahan masturbasi oleh makhluk menjijikkan di depannya. Hampir meludah Firza melihat makhluk itu terus melenguh-lenguh dengan menggerakkan tangan kanannya naik turun.
Tampaknya puncak kenikmatan si makhluk semakin dekat, suaranya hampir melolong tertahan. Firza mengambil sebuah batang pohon kecil yang patah dan telah mati, diameter batang pohon itu lebih besar dari pemukul baseball.
Jika makhluk ini sudah melihat Shena, maka situasi Shena akan berbahaya seterusnya. Dia pasti akan penasaran dengan keberadaan manusia perempuan lainnya.
Firza harus melumpuhkan makhluk itu secepat mungkin saat dia sedang asik berkonsentrasi menuju puncak kenikmatannya.
Selagi Firza menggenggam erat batang pohon itu, Firza menyadari ada sebersit rasa tak rela kalau makhluk itu telah menikmati tubuh Shena melalui pandangannya
Emosi Firza memuncak membayangkan apa yang akan dilakukan makhluk itu dengan Shena jika dirinya tidak segera datang. Ia keluar dari persembunyiannya secepat kilat.
BUGG!!
Firza memukul belakang kepala makhluk itu dengan dahan kayu yang digenggamnya erat-erat. Makhluk itu terkejut tapi tidak menunjukkan ekspresi kesakitan. Firza mundur dua langkah.
Sepasang mata putih seperti tertutup lendir menatap Firza dengan tajam dan marah. Sambil menaikkan celana coklat kumalnya, makhluk itu memungut parang besar di kakinya.
Tanpa jeda waktu yang lama, makhluk itu menyabetkan parangnya ke arah Firza. Firza menangkisnya dengan batang kayu yang masih digenggamnya erat.
Tinggi makhluk itu dan Firza hampir sama sehingga jangkauan pukulan si makhluk masih bisa dihindarinya dengan mudah. Batang pohon yang dibawa Firza memiliki panjang melebihi parang yang sedang diayunkan makhluk itu kepadanya. Setelah tebasan yang pertama Firza punya kesempatan memukul leher makhluk itu.
Langkah Firza memutar hingga keluar dari pepohonan dan mencapai tepi sungai. Saat makhluk itu melolong marah, Firza kembali mengayunkan batang kayu yang dipegangnya ke kepala makhluk itu.
Tapi ternyata makhluk itu bisa menghindar dan secepat kilat gantian menebaskan parangnya ke arah Firza.
Karena buru-buru mengelak, Firza terjatuh ke tepi sungai. Shena terlompat kaget. Sesaat pikirannya terhenti mencoba memahami situasi. Kemudian tampak olehnya Firza terjatuh sambil memegang batang kayu dan seorang makhluk buas yang mengejarnya dengan parang besar di tangan.
Shena menjerit saat makhluk itu mengarahkan parang ke arah Firza yang belum bangkit. Tebasan itu ternyata berhasil ditangkis oleh Firza dengan sekuat tenaga. Pria itu memukul tangan penyerangnya dengan batang kayu yang masih tergenggam.
Ternyata pukulan keras Firza ke tangan makhluk yang bersenjata membuat parang itu terlempar beberapa meter dari mereka. Detik berikutnya makhluk itu langsung mencabut belati yang terselip di pinggangnya. Firza sedang terpojok. Ia belum bisa bangkit dan senjatanya hanyalah sebuah batang kayu yang ia gunakan untuk menahan belati yang sedang diarahkan ke matanya.
Firza mengangkat lututnya dan menendang bagian bawah tubuh makhluk itu yang membuatnya mengerang lebih marah. Dan saat Firza baru saja bangkit dan memukul wajah lawannya dengan batang kayu, tiba-tiba makhluk yang bobotnya lebih besar dari Firza itu kembali menerjangnya dengan brutal.
Sekelebat Firza menangkis dengan tangan kirinya yang membuat lengan tangannya tersayat cukup panjang oleh belati. Makhluk itu tampak sangat marah karena ia segera mengeluarkan suara melolong yang mengerikan seperti sedang memanggil teman-temannya.
Shena terpaku sesaat saat tubuh Firza berada di bawah makhluk yang menghujamkan belati ke arah pria itu untuk kedua kalinya.
Firza masih menahannya dengan batang kayu, hingga pria itu merasa pegangannya semakin melemah. Belati itu semakin mendekati wajahnya. Sekuat tenaga Firza menahan hujaman belati itu, kakinya sudah terkunci tidak bisa bergerak.
PRAAKKK
Sedetik saat Firza melihat belati itu berjarak hanya 1 cm di atas kepalanya, tiba-tiba percikan cairan hangat mengenai wajahnya.
Pegangan belati makhluk itu mengendur dan kemudian hilang tak bertenaga. Firza mendongak melihat bahwa mata putih lawannya sekarang hanya berupa tatapan kosong.
Leher makhluk itu tiba-tiba terkulai ke samping, nyaris putus. Firza segera menendang makhluk bau dan kumal itu untuk disingkirkan dari bagian atas tubuhnya.
Kemudian Firza menatap Shena memegang sebuah parang besar dengan nafas terengah-engah. Airmata berlinang dan darah makhluk itu telah mengotori wajah dan tubuhnya.
Shena membunuh seorang makhluk lainnya di bawah sinar matahari pagi.
10 detik berlalu...
Nafas Shena masih terengah-engah, dadanya naik turun dan bibirnya bergetar. Di tangan kanannya masih tergenggam parang besar berkilauan yang hanya sedikit terkena noda darah makhluk itu.
Firza mendekati Shena dan memeluk wanita yang hanya mengenakan bra dan celana jeans itu.
Firza memeluk Shena sambil menciumi kepala wanita itu dan berkata,
"Its okay, Its okay. (Gak apa-apa, gak apa-apa)"
Firza mengambil parang itu dari tangan kanan Shena dan mencampakkannya agar jauh dari mereka.
Shena menangis dan Firza semakin mengeratkan pelukannya.
Dalam tangisnya Shena berkata,
"Aku ga mau jadi pembunuh. Aku ga mau Fir... Aku cuma takut kamu kenapa-napa, aku ga mau kamu terluka. Aku takut kehilangan kamu."
Firza kembali mencium kepala Shena yang basah. Telapak tangannya kini menyentuh kulit punggung wanita itu. Ia kemudian berbisik di telinga Shena yang terasa sangat mungil di pelukannya, "Aku ga apa-apa, Aku ga akan ke mana-mana "
Tak jauh dari mereka terbaring sosok makhluk dengan posisi terlentang yang ganjil dan leher nyaris putus.
...***...
...To Be Continued...
...Terimakasih karena telah menekan tombol like...
...Salam sayang dari juskelapa :*...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Huufft...
gak apa² Shen, kamu hebat...
2024-11-01
2
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
perutku rasanya mual, Hueekkm🤮🤮🤮
2024-11-01
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
ampun deh shen, ada yg lagi c*Li d balik pohon sambil ngeliatin kamu😬
2024-11-01
0