4. Mister Fingers

Shena tersentak saat roda menyentuh landasan. Wanita di sebelahnya seketika tersenyum saat ia menoleh.

Ibu di sebelahku pasti ramah. Padahal cuma ngomong sebentar aja tadi. Tapi dia masih mau senyum denganku yang nggak pinter basa-basi.

"Nyenyak banget tidurnya," ucap wanita di sebelah Shena mengawali pembicaraan.

Shena membetulkan duduknya. Ia mengulas senyum sebelum menjawab. "Iya, Bu. Saya udah beberapa malem nggak enak tidur. Ibu turun di Singapura?" Shena memiringkan tubuhnya untuk melihat wajah wanita ramah di sampingnya itu.

"Di Singapura tukar pesawat. Ibu mau ke Cape Town." Wanita paruh baya itu menjadi semakin ramah setelah mendapat respon Shena.

"Sama, Bu." Mata Shena membulat. "Saya juga mau ke sana. Ibu keren bisa berangkat sendiri. Eh, sebelumnya mari kita kenalan dulu. Nama saya Shena." Shena mengulurkan tangannya.

"Nama saya Sofia. Senang berkenalan dengan kamu. Gadis cantik dan ceria." Sofia membalas uluran tangan Shena. "Saya mau mengunjungi anak saya. Anak saya kerja di sana, perempuan. Suami istri bekerja di sana. Cucu saya juga sudah ada satu disana. Perempuan. Kamu pergi sendirian?" tanya Sofia.

Shena mengangguk. "Saya pergi sendiri. Afrika Selatan adalah negara impian yg sudah masuk bucket list saya sejak lama. Lagian ... saya baru punya waktu sekarang." Entah kenapa saat mengatakan itu raut Shena berubah muram.

Sofia wanita yang lebih berpengalaman dibanding Shena menangkap perubahan itu. "Putus cinta?" tanya Sofia. Pertanyaan itu membuat Shena kembali mengangkat pandangannya.

"Putus cinta?" tebak ibu tadi. Shena mengerucutkan mulutnya dan mengangguk. "Saya juga putus cinta," sambung Sofia.

"Sama sia...." Shena langsung terdiam. Tiba-tiba ia merasa pertanyaannya sudah kelewat batas.

"Anak saya. Saddam namanya. Tampan dan sangat keras kepala." Giliran Sofia memalingkan wajahnya. Lalu ia kembali menatap Shena yang sabar menunggu. "Tapi bukan itu yang membuat saya payah hati dengan dia."

"Jadi apa, Bu?"

"Rasa sayang saya, Shen. Kalau rasa sayang saya tidak terlalu banyak menuntut dan bisa lebih mengerti dia, Saddam pasti nggak seperti sekarang." Sofia kembali menunjukkan wajah sedih.

"Ibu saya bilang kalau apa yang dilakukan orang tua pasti hal baik yang sudah dipertimbangkan matang-matang. Bagaimana yang dipraktikkan si anak, sebenarnya adalah pilihan anak itu sendiri." Shena menyentuh tangan Sofia. Ia lalu melihat pada penumpang yang berjalan pelan-pelan ke pintu keluar. "Ayo, Bu. Kita keluar sekarang." Shena berdiri lebih dulu."

Yah, iya juga, sih. Yang bikin kecewa emang rasa sayang kita ke orang lain. Kalau kita nggak sayang, kita pasti nggak akan peduli dengan orang itu. Siapa pun itu.

*****

Perjalanan ke Johannesburg memakan waktu sekitar 13 jam, dan waktu selama itu tidak mungkin dipakai Shena untuk terus-terusan tidur.

Shena mulai membayangkan kalau cerita perjalanannya ini bisa seindah drama dan novel romantis yang pasti diselipi kisah manis. Dalam novel mungkin ia akan bertemu pria tampan berpakaian rapi dengan aroma parfum hangat. Juga profesi CEO yang bisa dilihat dari jam tangan mahal yang dikenakan pria itu.

Tapi kisah hidupku nggak seperti novel romantis. Thriller. Mengerikan.

Shena dan Sofia berjalan berdampingan dalam diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Langkah kaki mereka mengikuti penumpang yang sudah turun lebih dulu. Mereka menuju ruang tunggu transit untuk mendaftarkan paspor mereka ke penerbangan selanjutnya.

"Ayo, kita duduk di sebelah sana." Bagai sudah kenal sejak kecil, Shena menyentuh bahu Sofia dan membawanya ke sebaris bangku kosong.

"Bu Sofia di seat nomor berapa?" tanya Shena saat mereka sudah mapan duduk berdampingan.

"Sudah check-in berikutnya bu? Saya di 40A." Shena memperlihatkan boarding pass-nya.

"40 D." Sofia menunjukkan boarding pass-nya. "Kita cuma dipisahkan si C dan lorong." Sofia tertawa kecil.

Shena ikut tertawa. Tawa pertama dalam Minggu ini, pikirnya. "Saya senang ketemu Bu Sofia," ucap Shena pelan.

Sofia menatap Shena lekat-lekat. "Kamu anak manis yang baik hati. Saya juga senang ketemu kamu. Andai saat ini saya bersama Saddam, saya pasti bisa memastikan bahwa kalian bisa berjodoh." Meski ucapan Sofia terdengar bagai candaan, wanita itu tersenyum tulus sambil membelai rambut Shena.

"Saya juga pastikan Saddam akan jatuh cinta dengan saya," sahut Shena. Keduanya lalu kembali tertawa.

Duduk berdampingan sambil sesekali mengobrol dengan Sofia, membuat Shena kembali bosan. Mengingat bandar udara Changi yang sangat besar, Shena berdiri dari bangkunya.

"Bu Sofia, saya muter-muter dulu, ya. Ibu bisa pakai bantal leher dan tidur sebentar kalau udah ngantuk." Shena meletakkan bantal leher Sofia ke pangkuan pemiliknya.

"Iya, silakan. Saya duduk di sini aja. Dan saya akan pakai bantal leher ini." Sofia memungut bantal leher yang disodorkan Shena.

Shena meninggalkan Sofia untuk berjalan-jalan di sekitar ruang tunggu sambil mencari toilet. Waktu telah menunjukkan pukul 10 malam, penerbangan ke Johannesburg pukul 02.10 pagi. Masih ada waktu 4 jam yang bisa dipergunakannya untuk menjelajahi Bandara Singapura.

Counter kosmetik menjadi tujuan utamanya. Lumayan kalau bisa dia bisa mencoba lipstik atau parfum mahal di sana.

Keluar masuk toko kosmetik, toko buku dan toko permen berhasil membuat Shena menghabiskan waktunya satu setengah jam. Ia kembali ke ruang tunggu dengan satu tentengan kecil.

"Belanja?" tanya Sofia dengan tatapan pada paper bag mungil di tangan Shena.

"Lip balm. Tadi saya udah nyoba hampir semua lipstik di konter kosmetik bermerek itu. Saya beli karena sungkan," ucap Shena diiringi dengan tawa. "Ngomong-ngomong ... Ibu suka Dan Brown?" Shena gantian memandang buku di tangan Sofia.

"Saya juga suka, Bu," jawab Shena.

"Dia penulis yang baru-baru ini jadi favorit saya. Semua ceritanya menarik."

"Dan dia berhasil membuat kita meragukan sejarah." Shena tertawa.

Percakapan Shena dan Sofia hilang timbul. Malam yang semakin larut mau tak mau membuat energi semua orang menulis. Lewat tengah malam hampir semua orang mencari posisi nyaman untuk lehernya. Sedangkan Shena yang memang sulit sekali tidur dalam perjalanan, duduk bersandar sambil menggulir ponselnya.

Ada 27 pesan?

Apa sih maksud laki-laki ini nggak berhenti?

Dia kan udah tau banget maksud ibunya apa. Apa dia nggak ngerasa isi chatnya salah? Ngapain dia chat -chat aku kalau nggak akan ada yang berubah. Aku tetap nggak diterima ibunya dan dia tetap nggak akan memperjuangkanku.

Dengan mata nyaris basah, Shena memalingkan wajahnya ke deretan kursi kosong di seberangnya. Ia mengerjap beberapa kali untuk menghalau air mata secepatnya. Di saat bersamaan juga bayangan seorang pria berjalan mendekat dan berhenti tetap di seberangnya. Pria itu mengisi kursi yang kosong tak sampai tiga meter di hadapan Shena.

Tas coklat, celana chinos abu-abu gelap lalu kemeja putih. Buku panduan wisata? Hari gini masih ada bawa bawa yang begini. Sangat vintage. Tapi ....

Shena memperhatikan pria di seberangnya dengan seksama.

Tingginya sekitar 180 cm, mungkin lebih.

Ini memang cowo yang nabrak gue tadi. Kayaknya tadi gue cuma bisa lihat kancing kedua kemejanya. Artinya gue cuma setinggi dada laki-laki ini.

Sepatunya loafer simpel coklat gelap. Tasnya bumb bag kulit coklat muda. Dan buku itu ... buku itu bukan buku panduan wisata. Itu buku pelajaran? Hah? Pelajaran? Jadi, ni cowo profesinya apa? Guru? Atau dosen?

Pikiran Shena soal Ramon terjeda sesaat. Tatapan Shena beralih ke sepasang tangan yang sedang membalik-balik halaman buku.

Jari-jarinya panjang pipih dan langsing. Kuku di jarinya tergunting rapi dan rata. Ukurannya juga yang hampir sama. Elegan dan indah. Dan ... kayanya gue pernah liat. Di mana ... di mana?

Lalu Shena tiba-tiba mengingat gesture tangan pria yang sempat serah terima ponsel jatuh karena insiden kecil tadi.

Raut wajahnya tegas tapi lembut. Matanya sedikit sayu dan terlihat ramah. Tak seputih mulus Ramon, tapi pria di hadapannya ini malah terlihat lebih jantan. Jambangnya merambat hingga ke bawah telinganya. Hidungnya tinggi tegak ideal.

Khayalan romantisnya kembali merayu. Kepalanya sibuk memikirkan kemungkinan bisa bersebelahan dengan pria itu. Ia kembali membujuk hatinya untuk bisa pulih secepatnya.

Nggak perlu jadi pacar. Nggak harus punya pacar. Sekarang-sekarang ini aku nggak butuh itu. Aku butuh teman ngobrol. Seperti Kak Shinta, tapi yang masih singel. Biar dia bisa mencurahkan waktunya lebih banyak ke aku. Kalau aku punya teman dekat, mungkin aku akan cepat lupa dengan manusia yang jahatin aku.

Pikiran Shena kembali buyar saat wanita di pengeras suara mengumumkan kalau pesawat ke Johannesburg akan boarding. Shena menoleh ke samping dan melihat Sofia tengah membereskan bawaannya. Tak sampai lima menit para penumpang sudah mulai berduyun-duyun menuju gate.

"Kamu senang?" tanya Sofia tiba-tiba. Shena menoleh dan melihat wanita itu tersenyum menatapnya. "Kamu akhirnya bisa mewujudkan impian jalan-jalan ke Afrika."

"Perasaan saya campur aduk, Bu. Sedih, bahagia, juga berdebar. Saya sedih sekaligus nggak sabar dengan petualangan yang menanti di depan saya." Shena mengalungkan lengannya pada Sofia. Ia merasa sudah akrab sekali dengan Sofia.

"Kamu memang harus senang. Apa pun pilihan kamu, jalani dengan penuh keyakinan." Sofia menepuk-nepuk punggung tangan Shena.

Pesawat dengan perjalanan jauh ke luar negeri, meski kelas ekonomi selalu tampak mewah di mata Shena. Tampak mewah karena kalau dia sedang berada dalam sebuah pesawat raksasa itu, berarti dia sedang bepergian jauh dengan waktu perjalanan yang panjang.

Shena berjalan di lorong mencari nomor kursi. Dari kejauhan ia bisa melihat kalau kursi yang dipilihnya sama sekali belum ditempati siapa pun. Setelah mengantarkan Sofia ke kursinya, Shena menghempaskan tubuh di kursi dekat jendela.

"Pokoknya nggak boleh ada yang ambil dekat jendela," ucap Shena yakin tak didengar orang lain. Pesawat dengan barusan kursi 2-4-2 membuat Shena menunggu seorang partner perjalanan panjangnya. "Mungkin memang nggak ada orang," bisik Shena, memasang safety belt dan merapikan tas di pangkuannya. Ia hendak menyiapkan headset untuk kembali tidur tanpa terganggu suara-suara sekitarnya.

"Tadi kayanya di sini, deh. Masa sebentar aja dimasukin tas udah nggak keliatan lagi." Shena menggerutu sendiri memasukkan tangan ke tas dan meraba-raba headset di dalamnya.

Kesibukan Shena itu membuat ia lupa dengan rekan perjalanan yang sedang menuju kursinya. Tanpa terlalu ia perhatikan, seseorang itu sedang membuka kompartemen di atasnya dan memasukkan tas.

Shena mendongak karena bayangan tinggi itu mengalihkan perhatiannya. Setengah terperangah ia memandang ke atas. Pria dengan sepasang tangan indah itu kini menambah portofolio baru di benak Shena.

Parfumnya benar-benar hangat seperti khayalanku tadi. Terus kenapa pakai acara mempertontonkan perut six pack itu di depan mata gue? Kenapa? Why?

Saat pria itu menutup kompartemen, cepat-cepat Shena mengalihkan pandangannya. Ia merasa tiba-tiba tenggorokannya kering. Berdeham saat itu juga akan memperlihatkan kegugupannya.

Dengan kesadaran penuh, Shena berusaha menyibukkan diri meski ia tahu apa saja kegiatan pria di sebelahnya. Pria itu memakai safety belt-nya dengan tenang. Pria itu juga mengubah mode ponsel setelah mengetik pesan entah pada siapa.

Kacamata ... kacamata. Aku harus pake kacamata item. Kacamata item bisa nyelamatin aku. Dengan kacamata item aku nggak harus ngobrol dengan siapa pun. Aku nggak har....

"Halo ... boleh kenalan? Nama saya Firza. Apa kita boleh berteman dalam perjalanan ini? Setidaknya ... untuk 13 jam ke depan." Senyum Firza merekah ramah. Tangan kanannya terulur mengajak Shena berjabat.

Shena diam. Bergeming. Tidak melakukan apa pun. Ia bengong dengan kacamata hitam di tangannya. Firza berdeham dan kembali menyodorkan tangannya berharap Shena membalas jabat tangannya dan memecahkan kecanggungan di antara mereka.

"Oh, ya. Maaf. Saya Shena." Shena menyambut uluran tangan Firza.

"Oke, Shena. Mari berteman."

To be continued

Terpopuler

Comments

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

Tp aku kurang setuju sama yg kedua Thor, yg d pinjami kadang lebih garang dari yg meminjami ketika d tagih ..
🤭

2024-11-01

1

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

langsung pening 🤣🤣🤣🤣

2024-11-01

0

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

😔😔😔😔
Ya Allah, Sadam menyesal .. dan ibunya tidak kembali lagi

2024-11-01

0

lihat semua
Episodes
1 1. Secangkir Kopi Stres
2 2. Pengangguran Officially
3 3. Berangkat ...!
4 4. Mister Fingers
5 5. One of Destiny?
6 6. Malam Panjang
7 7. Serangan Panik
8 8. Orang Asing
9 9. Luluh Lantak
10 10. First Night
11 11. Makhluk Asing
12 12. Bangsa Pemangsa
13 13. Potongan Lain
14 14. Tepian Sungai
15 15. Puisi Pendek
16 16. Konspirasi Tim Pencari
17 17. Mulai Membunuh
18 18. Hari Keempat
19 19. Terperangkap
20 20. Busur Silang
21 21. Api Unggun Besar
22 22. Para Teman Baru
23 23. Tiga Pemuda
24 24. Poor Me
25 25. Relationship
26 26. A Last Dinner
27 27. Let You Go
28 28. Naja Alshena
29 29. Firza Alamsyah
30 30. Segelas Kopi Rindu
31 31. It's You?
32 32. Persiapan
33 33. The Crew
34 34. Menuju Bukaan Sempurna
35 35. Yes, It's You
36 36. Z-na-ctk-bgt
37 37. Hari Yang Apes
38 38. Tamu Tak Diundang
39 39. Finally Meet You
40 40. Di Teras Temaram
41 41. Dalam Sebuah SUV
42 42. The Surgeon
43 43. Young, Dumb and Broke
44 44. The Warm You
45 45. Dari Shena Tentang Firza.
46 46. Dari Firza Tentang Shena
47 47. Our First Trip
48 48. Janji Di Atas Atap
49 49. Perkenalan Kembali
50 50. Mantan (1)
51 51. Mantan (2)
52 52. Kesan Pertama
53 53. Naik Daun
54 54. Pendatang Baru
55 55. Mulai Ngelunjak
56 56. Tinggalkanku
57 57. Dilema
58 58. My Medicine
59 59. Note Paper
60 60. Get Me Wrong
61 61. Jalan Malam
62 62. Berpapasan
63 63. Let Me Explain Later
64 64. Kemana Kita?
65 65. Bukan Pecundang
66 66. This is The End
67 67. Post it Again
68 68. My Limit
69 69. Kabur
70 70. Tamu Tak Diundang
71 71. Firza Saha?
72 72. Penjelasan
73 73. Drama Kampung
74 74. Can't Let You Go
75 75. Deep Conversation
76 76. Sabtu Malam Ala Subang
77 77. Gara-Gara Dadang
78 78. Restu
79 79. Back to Coffeeshop
80 80. Kejutan Lainnya
81 81. Strong Shena
82 82. Are You Okay?
83 83. Buntu
84 84. SHM
85 85. To My Beloved
86 86. Thankyou Dear
87 87. Melepas Rindu
88 88. Forum di Dalam Forum
89 89. Focus on You
90 90. Prepare
91 91. Makan Besar
92 92. Negeri Asal Rendang
93 93. XL
94 94. Obat Gelisah
95 95. Ketemu Mamak
96 96. Cinta di Ranah Minang
97 97. Demam Panggung
98 98. Akhirnya Sah
99 99. Meriang
100 100. Positif ??
101 101. Mules
102 102. Tahan Dulu
103 103. Our Sunshine
104 104. Alya Anak Ayah
105 105. This is Our Fate
106 PENGUMUMAN
107 EXTRA PART 1
108 EXTRA PART 2
Episodes

Updated 108 Episodes

1
1. Secangkir Kopi Stres
2
2. Pengangguran Officially
3
3. Berangkat ...!
4
4. Mister Fingers
5
5. One of Destiny?
6
6. Malam Panjang
7
7. Serangan Panik
8
8. Orang Asing
9
9. Luluh Lantak
10
10. First Night
11
11. Makhluk Asing
12
12. Bangsa Pemangsa
13
13. Potongan Lain
14
14. Tepian Sungai
15
15. Puisi Pendek
16
16. Konspirasi Tim Pencari
17
17. Mulai Membunuh
18
18. Hari Keempat
19
19. Terperangkap
20
20. Busur Silang
21
21. Api Unggun Besar
22
22. Para Teman Baru
23
23. Tiga Pemuda
24
24. Poor Me
25
25. Relationship
26
26. A Last Dinner
27
27. Let You Go
28
28. Naja Alshena
29
29. Firza Alamsyah
30
30. Segelas Kopi Rindu
31
31. It's You?
32
32. Persiapan
33
33. The Crew
34
34. Menuju Bukaan Sempurna
35
35. Yes, It's You
36
36. Z-na-ctk-bgt
37
37. Hari Yang Apes
38
38. Tamu Tak Diundang
39
39. Finally Meet You
40
40. Di Teras Temaram
41
41. Dalam Sebuah SUV
42
42. The Surgeon
43
43. Young, Dumb and Broke
44
44. The Warm You
45
45. Dari Shena Tentang Firza.
46
46. Dari Firza Tentang Shena
47
47. Our First Trip
48
48. Janji Di Atas Atap
49
49. Perkenalan Kembali
50
50. Mantan (1)
51
51. Mantan (2)
52
52. Kesan Pertama
53
53. Naik Daun
54
54. Pendatang Baru
55
55. Mulai Ngelunjak
56
56. Tinggalkanku
57
57. Dilema
58
58. My Medicine
59
59. Note Paper
60
60. Get Me Wrong
61
61. Jalan Malam
62
62. Berpapasan
63
63. Let Me Explain Later
64
64. Kemana Kita?
65
65. Bukan Pecundang
66
66. This is The End
67
67. Post it Again
68
68. My Limit
69
69. Kabur
70
70. Tamu Tak Diundang
71
71. Firza Saha?
72
72. Penjelasan
73
73. Drama Kampung
74
74. Can't Let You Go
75
75. Deep Conversation
76
76. Sabtu Malam Ala Subang
77
77. Gara-Gara Dadang
78
78. Restu
79
79. Back to Coffeeshop
80
80. Kejutan Lainnya
81
81. Strong Shena
82
82. Are You Okay?
83
83. Buntu
84
84. SHM
85
85. To My Beloved
86
86. Thankyou Dear
87
87. Melepas Rindu
88
88. Forum di Dalam Forum
89
89. Focus on You
90
90. Prepare
91
91. Makan Besar
92
92. Negeri Asal Rendang
93
93. XL
94
94. Obat Gelisah
95
95. Ketemu Mamak
96
96. Cinta di Ranah Minang
97
97. Demam Panggung
98
98. Akhirnya Sah
99
99. Meriang
100
100. Positif ??
101
101. Mules
102
102. Tahan Dulu
103
103. Our Sunshine
104
104. Alya Anak Ayah
105
105. This is Our Fate
106
PENGUMUMAN
107
EXTRA PART 1
108
EXTRA PART 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!