Shena tersentak saat roda menyentuh landasan. Wanita di sebelahnya seketika tersenyum saat ia menoleh.
Ibu di sebelahku pasti ramah. Padahal cuma ngomong sebentar aja tadi. Tapi dia masih mau senyum denganku yang nggak pinter basa-basi.
"Nyenyak banget tidurnya," ucap wanita di sebelah Shena mengawali pembicaraan.
Shena membetulkan duduknya. Ia mengulas senyum sebelum menjawab. "Iya, Bu. Saya udah beberapa malem nggak enak tidur. Ibu turun di Singapura?" Shena memiringkan tubuhnya untuk melihat wajah wanita ramah di sampingnya itu.
"Di Singapura tukar pesawat. Ibu mau ke Cape Town." Wanita paruh baya itu menjadi semakin ramah setelah mendapat respon Shena.
"Sama, Bu." Mata Shena membulat. "Saya juga mau ke sana. Ibu keren bisa berangkat sendiri. Eh, sebelumnya mari kita kenalan dulu. Nama saya Shena." Shena mengulurkan tangannya.
"Nama saya Sofia. Senang berkenalan dengan kamu. Gadis cantik dan ceria." Sofia membalas uluran tangan Shena. "Saya mau mengunjungi anak saya. Anak saya kerja di sana, perempuan. Suami istri bekerja di sana. Cucu saya juga sudah ada satu disana. Perempuan. Kamu pergi sendirian?" tanya Sofia.
Shena mengangguk. "Saya pergi sendiri. Afrika Selatan adalah negara impian yg sudah masuk bucket list saya sejak lama. Lagian ... saya baru punya waktu sekarang." Entah kenapa saat mengatakan itu raut Shena berubah muram.
Sofia wanita yang lebih berpengalaman dibanding Shena menangkap perubahan itu. "Putus cinta?" tanya Sofia. Pertanyaan itu membuat Shena kembali mengangkat pandangannya.
"Putus cinta?" tebak ibu tadi. Shena mengerucutkan mulutnya dan mengangguk. "Saya juga putus cinta," sambung Sofia.
"Sama sia...." Shena langsung terdiam. Tiba-tiba ia merasa pertanyaannya sudah kelewat batas.
"Anak saya. Saddam namanya. Tampan dan sangat keras kepala." Giliran Sofia memalingkan wajahnya. Lalu ia kembali menatap Shena yang sabar menunggu. "Tapi bukan itu yang membuat saya payah hati dengan dia."
"Jadi apa, Bu?"
"Rasa sayang saya, Shen. Kalau rasa sayang saya tidak terlalu banyak menuntut dan bisa lebih mengerti dia, Saddam pasti nggak seperti sekarang." Sofia kembali menunjukkan wajah sedih.
"Ibu saya bilang kalau apa yang dilakukan orang tua pasti hal baik yang sudah dipertimbangkan matang-matang. Bagaimana yang dipraktikkan si anak, sebenarnya adalah pilihan anak itu sendiri." Shena menyentuh tangan Sofia. Ia lalu melihat pada penumpang yang berjalan pelan-pelan ke pintu keluar. "Ayo, Bu. Kita keluar sekarang." Shena berdiri lebih dulu."
Yah, iya juga, sih. Yang bikin kecewa emang rasa sayang kita ke orang lain. Kalau kita nggak sayang, kita pasti nggak akan peduli dengan orang itu. Siapa pun itu.
*****
Perjalanan ke Johannesburg memakan waktu sekitar 13 jam, dan waktu selama itu tidak mungkin dipakai Shena untuk terus-terusan tidur.
Shena mulai membayangkan kalau cerita perjalanannya ini bisa seindah drama dan novel romantis yang pasti diselipi kisah manis. Dalam novel mungkin ia akan bertemu pria tampan berpakaian rapi dengan aroma parfum hangat. Juga profesi CEO yang bisa dilihat dari jam tangan mahal yang dikenakan pria itu.
Tapi kisah hidupku nggak seperti novel romantis. Thriller. Mengerikan.
Shena dan Sofia berjalan berdampingan dalam diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Langkah kaki mereka mengikuti penumpang yang sudah turun lebih dulu. Mereka menuju ruang tunggu transit untuk mendaftarkan paspor mereka ke penerbangan selanjutnya.
"Ayo, kita duduk di sebelah sana." Bagai sudah kenal sejak kecil, Shena menyentuh bahu Sofia dan membawanya ke sebaris bangku kosong.
"Bu Sofia di seat nomor berapa?" tanya Shena saat mereka sudah mapan duduk berdampingan.
"Sudah check-in berikutnya bu? Saya di 40A." Shena memperlihatkan boarding pass-nya.
"40 D." Sofia menunjukkan boarding pass-nya. "Kita cuma dipisahkan si C dan lorong." Sofia tertawa kecil.
Shena ikut tertawa. Tawa pertama dalam Minggu ini, pikirnya. "Saya senang ketemu Bu Sofia," ucap Shena pelan.
Sofia menatap Shena lekat-lekat. "Kamu anak manis yang baik hati. Saya juga senang ketemu kamu. Andai saat ini saya bersama Saddam, saya pasti bisa memastikan bahwa kalian bisa berjodoh." Meski ucapan Sofia terdengar bagai candaan, wanita itu tersenyum tulus sambil membelai rambut Shena.
"Saya juga pastikan Saddam akan jatuh cinta dengan saya," sahut Shena. Keduanya lalu kembali tertawa.
Duduk berdampingan sambil sesekali mengobrol dengan Sofia, membuat Shena kembali bosan. Mengingat bandar udara Changi yang sangat besar, Shena berdiri dari bangkunya.
"Bu Sofia, saya muter-muter dulu, ya. Ibu bisa pakai bantal leher dan tidur sebentar kalau udah ngantuk." Shena meletakkan bantal leher Sofia ke pangkuan pemiliknya.
"Iya, silakan. Saya duduk di sini aja. Dan saya akan pakai bantal leher ini." Sofia memungut bantal leher yang disodorkan Shena.
Shena meninggalkan Sofia untuk berjalan-jalan di sekitar ruang tunggu sambil mencari toilet. Waktu telah menunjukkan pukul 10 malam, penerbangan ke Johannesburg pukul 02.10 pagi. Masih ada waktu 4 jam yang bisa dipergunakannya untuk menjelajahi Bandara Singapura.
Counter kosmetik menjadi tujuan utamanya. Lumayan kalau bisa dia bisa mencoba lipstik atau parfum mahal di sana.
Keluar masuk toko kosmetik, toko buku dan toko permen berhasil membuat Shena menghabiskan waktunya satu setengah jam. Ia kembali ke ruang tunggu dengan satu tentengan kecil.
"Belanja?" tanya Sofia dengan tatapan pada paper bag mungil di tangan Shena.
"Lip balm. Tadi saya udah nyoba hampir semua lipstik di konter kosmetik bermerek itu. Saya beli karena sungkan," ucap Shena diiringi dengan tawa. "Ngomong-ngomong ... Ibu suka Dan Brown?" Shena gantian memandang buku di tangan Sofia.
"Saya juga suka, Bu," jawab Shena.
"Dia penulis yang baru-baru ini jadi favorit saya. Semua ceritanya menarik."
"Dan dia berhasil membuat kita meragukan sejarah." Shena tertawa.
Percakapan Shena dan Sofia hilang timbul. Malam yang semakin larut mau tak mau membuat energi semua orang menulis. Lewat tengah malam hampir semua orang mencari posisi nyaman untuk lehernya. Sedangkan Shena yang memang sulit sekali tidur dalam perjalanan, duduk bersandar sambil menggulir ponselnya.
Ada 27 pesan?
Apa sih maksud laki-laki ini nggak berhenti?
Dia kan udah tau banget maksud ibunya apa. Apa dia nggak ngerasa isi chatnya salah? Ngapain dia chat -chat aku kalau nggak akan ada yang berubah. Aku tetap nggak diterima ibunya dan dia tetap nggak akan memperjuangkanku.
Dengan mata nyaris basah, Shena memalingkan wajahnya ke deretan kursi kosong di seberangnya. Ia mengerjap beberapa kali untuk menghalau air mata secepatnya. Di saat bersamaan juga bayangan seorang pria berjalan mendekat dan berhenti tetap di seberangnya. Pria itu mengisi kursi yang kosong tak sampai tiga meter di hadapan Shena.
Tas coklat, celana chinos abu-abu gelap lalu kemeja putih. Buku panduan wisata? Hari gini masih ada bawa bawa yang begini. Sangat vintage. Tapi ....
Shena memperhatikan pria di seberangnya dengan seksama.
Tingginya sekitar 180 cm, mungkin lebih.
Ini memang cowo yang nabrak gue tadi. Kayaknya tadi gue cuma bisa lihat kancing kedua kemejanya. Artinya gue cuma setinggi dada laki-laki ini.
Sepatunya loafer simpel coklat gelap. Tasnya bumb bag kulit coklat muda. Dan buku itu ... buku itu bukan buku panduan wisata. Itu buku pelajaran? Hah? Pelajaran? Jadi, ni cowo profesinya apa? Guru? Atau dosen?
Pikiran Shena soal Ramon terjeda sesaat. Tatapan Shena beralih ke sepasang tangan yang sedang membalik-balik halaman buku.
Jari-jarinya panjang pipih dan langsing. Kuku di jarinya tergunting rapi dan rata. Ukurannya juga yang hampir sama. Elegan dan indah. Dan ... kayanya gue pernah liat. Di mana ... di mana?
Lalu Shena tiba-tiba mengingat gesture tangan pria yang sempat serah terima ponsel jatuh karena insiden kecil tadi.
Raut wajahnya tegas tapi lembut. Matanya sedikit sayu dan terlihat ramah. Tak seputih mulus Ramon, tapi pria di hadapannya ini malah terlihat lebih jantan. Jambangnya merambat hingga ke bawah telinganya. Hidungnya tinggi tegak ideal.
Khayalan romantisnya kembali merayu. Kepalanya sibuk memikirkan kemungkinan bisa bersebelahan dengan pria itu. Ia kembali membujuk hatinya untuk bisa pulih secepatnya.
Nggak perlu jadi pacar. Nggak harus punya pacar. Sekarang-sekarang ini aku nggak butuh itu. Aku butuh teman ngobrol. Seperti Kak Shinta, tapi yang masih singel. Biar dia bisa mencurahkan waktunya lebih banyak ke aku. Kalau aku punya teman dekat, mungkin aku akan cepat lupa dengan manusia yang jahatin aku.
Pikiran Shena kembali buyar saat wanita di pengeras suara mengumumkan kalau pesawat ke Johannesburg akan boarding. Shena menoleh ke samping dan melihat Sofia tengah membereskan bawaannya. Tak sampai lima menit para penumpang sudah mulai berduyun-duyun menuju gate.
"Kamu senang?" tanya Sofia tiba-tiba. Shena menoleh dan melihat wanita itu tersenyum menatapnya. "Kamu akhirnya bisa mewujudkan impian jalan-jalan ke Afrika."
"Perasaan saya campur aduk, Bu. Sedih, bahagia, juga berdebar. Saya sedih sekaligus nggak sabar dengan petualangan yang menanti di depan saya." Shena mengalungkan lengannya pada Sofia. Ia merasa sudah akrab sekali dengan Sofia.
"Kamu memang harus senang. Apa pun pilihan kamu, jalani dengan penuh keyakinan." Sofia menepuk-nepuk punggung tangan Shena.
Pesawat dengan perjalanan jauh ke luar negeri, meski kelas ekonomi selalu tampak mewah di mata Shena. Tampak mewah karena kalau dia sedang berada dalam sebuah pesawat raksasa itu, berarti dia sedang bepergian jauh dengan waktu perjalanan yang panjang.
Shena berjalan di lorong mencari nomor kursi. Dari kejauhan ia bisa melihat kalau kursi yang dipilihnya sama sekali belum ditempati siapa pun. Setelah mengantarkan Sofia ke kursinya, Shena menghempaskan tubuh di kursi dekat jendela.
"Pokoknya nggak boleh ada yang ambil dekat jendela," ucap Shena yakin tak didengar orang lain. Pesawat dengan barusan kursi 2-4-2 membuat Shena menunggu seorang partner perjalanan panjangnya. "Mungkin memang nggak ada orang," bisik Shena, memasang safety belt dan merapikan tas di pangkuannya. Ia hendak menyiapkan headset untuk kembali tidur tanpa terganggu suara-suara sekitarnya.
"Tadi kayanya di sini, deh. Masa sebentar aja dimasukin tas udah nggak keliatan lagi." Shena menggerutu sendiri memasukkan tangan ke tas dan meraba-raba headset di dalamnya.
Kesibukan Shena itu membuat ia lupa dengan rekan perjalanan yang sedang menuju kursinya. Tanpa terlalu ia perhatikan, seseorang itu sedang membuka kompartemen di atasnya dan memasukkan tas.
Shena mendongak karena bayangan tinggi itu mengalihkan perhatiannya. Setengah terperangah ia memandang ke atas. Pria dengan sepasang tangan indah itu kini menambah portofolio baru di benak Shena.
Parfumnya benar-benar hangat seperti khayalanku tadi. Terus kenapa pakai acara mempertontonkan perut six pack itu di depan mata gue? Kenapa? Why?
Saat pria itu menutup kompartemen, cepat-cepat Shena mengalihkan pandangannya. Ia merasa tiba-tiba tenggorokannya kering. Berdeham saat itu juga akan memperlihatkan kegugupannya.
Dengan kesadaran penuh, Shena berusaha menyibukkan diri meski ia tahu apa saja kegiatan pria di sebelahnya. Pria itu memakai safety belt-nya dengan tenang. Pria itu juga mengubah mode ponsel setelah mengetik pesan entah pada siapa.
Kacamata ... kacamata. Aku harus pake kacamata item. Kacamata item bisa nyelamatin aku. Dengan kacamata item aku nggak harus ngobrol dengan siapa pun. Aku nggak har....
"Halo ... boleh kenalan? Nama saya Firza. Apa kita boleh berteman dalam perjalanan ini? Setidaknya ... untuk 13 jam ke depan." Senyum Firza merekah ramah. Tangan kanannya terulur mengajak Shena berjabat.
Shena diam. Bergeming. Tidak melakukan apa pun. Ia bengong dengan kacamata hitam di tangannya. Firza berdeham dan kembali menyodorkan tangannya berharap Shena membalas jabat tangannya dan memecahkan kecanggungan di antara mereka.
"Oh, ya. Maaf. Saya Shena." Shena menyambut uluran tangan Firza.
"Oke, Shena. Mari berteman."
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Tp aku kurang setuju sama yg kedua Thor, yg d pinjami kadang lebih garang dari yg meminjami ketika d tagih ..
🤭
2024-11-01
1
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
langsung pening 🤣🤣🤣🤣
2024-11-01
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
😔😔😔😔
Ya Allah, Sadam menyesal .. dan ibunya tidak kembali lagi
2024-11-01
0