Chapter 4

"Sepertinya yang khawatir itu bukan aku, tapi kamu. Kenapa? Apa Jordan tidak memilihmu dan malah memilihku? Perlu aku sampaikan lagi pernyataan cintamu padanya?"

"Tirta!" geram Elisa dengan wajah penuh kesal. Entah kenapa, justru dirinya yang terlihat lebih tersulut emosi.

Kenapa aku tidak merasa cemburu sedikit pun? Sejak kapan perasaan ini menghilang?

Apa sudah saatnya aku pergi?

Batinnya mulai mempertanyakan semua yang selama ini terjadi.

Di saat Tirta masih tenggelam dalam pikirannya, entah bagaimana gadis di depannya itu tiba-tiba terjatuh dengan keras ke lantai. Bahkan kursi yang tadi didudukinya ikut bergeser dan membentur lantai dengan suara nyaring.

Brak!

"Akhh!!"

Elisa menjerit sangat keras.

Teman-teman mereka langsung menghampiri dan membantu Elisa berdiri. Mendengar keributan itu, Jordan dan Bobby segera keluar dari belakang restoran.

Sementara Tirta hanya berdiri dengan wajah kebingungan, alisnya bertaut.

Tunggu dulu... apa aku sedang berada di situasi seperti drama-drama itu? Apa gadis bernama Elisa ini terlalu sering menonton sinetron? Tirta justru tersenyum tipis pada pikirannya sendiri.

"Kamu tidak apa-apa, Elis? Kenapa bisa jatuh?" Edwin terlihat begitu panik. Sepertinya pria itu memang memiliki ketertarikan kepada Elisa.

Siapa juga yang tidak tertarik? Elisa memang terlihat sangat cantik, berkulit putih, dan memiliki wajah yang begitu polos.

Meski sayangnya... isi hatinya tidak sepolos penampilannya.

Di dalam lingkaran pertemanan itu, hanya Elisa satu-satunya perempuan. Dan sepertinya ia memang sangat haus akan perhatian sekaligus ingin selalu menjadi pusat perhatian.

"Aku tidak apa-apa. Tadi aku cuma ingin mengobrol dengan Tirta, tapi sepertinya dia tidak mau berteman denganku. Tidak apa-apa... nanti aku coba lagi." Ucap Elisa sambil sesekali mengusap lututnya yang memerah.

Permainan psikologi.

Batinnya langsung memahami arah permainan gadis itu.

"Kamu benar-benar ya, Tirta. Elisa datang dengan niat baik, tapi kamu malah bersikap sombong seperti ini?" Edwin langsung menyudutkan Tirta dengan tatapan yang begitu meremehkan.

"Sudahlah. Dia baru pertama kali datang ke sini, mungkin masih sedikit canggung." Elisa menahan lengan Edwin, seolah ingin menenangkan pria itu.

"Kampungan." Umpat Edwin sambil melengos karena sudah ditenangkan oleh wanita pujaannya.

"Minta maaf saja. Setidaknya dengan begitu semuanya selesai. Elisa bukan orang yang pendendam, dia pasti akan memaafkanmu."

Bobby mencoba menengahi. Ia tidak ingin keributan itu berlangsung lama karena restoran sedang ramai oleh pengunjung.

Tirta kemudian menoleh kepada Jordan.

"Kamu juga ingin aku minta maaf?" Jordan masih diam. Ia sama sekali tidak membela Tirta.

Bahkan... bertanya pun tidak.

Melihat sikap pria itu, Tirta kembali teringat pada kehidupannya selama ini.

Bukan hanya sekarang.

Dulu, di keluarganya...

Lalu di tempat kerjanya...

Tidak pernah ada yang benar-benar bertanya apa yang sebenarnya ia alami. Bagaimana kejadian yang sesungguhnya. Semua orang hanya lebih memilih mendengarkan pihak yang suaranya lebih keras. Validasi yang selama ini ia cari memang terkadang diberikan.

Namun...

Tidak pernah benar-benar dipercaya.

"Minta maaf saja, supaya semuanya cepat selesai." Ucapan Jordan membuat dada Tirta semakin sesak.

"Kamu bahkan tidak bertanya bagaimana aku menjatuhkannya." Suara Tirta mulai bergetar. Tatapannya kini benar-benar lurus menatap Jordan.

"Bukan begitu. Aku cuma ingin semuanya selesai. Hari ini hari yang bahagia. Jangan sampai rusak hanya karena masalah kecil seperti ini." Jordan menggenggam tangan Tirta. Namun tatapan kecewa gadis itu tidak berubah sedikit pun.

"Penyelesaian sepihak?"

Tirta tersenyum tipis.

"Baik. Akan aku lakukan." Tatapan matanya kemudian beralih kepada Elisa. Tatapan yang kali ini dipenuhi kemarahan.

"Maaf, Elisa... karena aku tidak benar-benar mendorongmu." Semua orang langsung terdiam.

"Maaf juga karena saat kamu menyatakan perasaan sukamu kepada Jordan, aku tidak langsung menamparmu." Wajah Elisa perlahan berubah pucat.

"Harusnya sekalian saja aku jambak rambutmu dan menyiram wajah polosmu itu." Suasana restoran langsung menjadi hening. Semua mata kini tertuju kepada Elisa.

"Apa maksud ucapanmu, Tirta?" Jordan tampak panik. Tirta hanya terkekeh pelan.

Jadi... ternyata dia memang sudah tahu.

"Kenapa? Sepertinya kamu sudah tahu tentang itu. Kalau begitu, buat apa aku menjelaskan lagi?"

"Tirta, jangan mengada-ngada. Elisa tidak sepicik dirimu." Edwin kembali menyindir dengan nada penuh kemarahan.

"Aku tidak peduli kalian mau percaya atau tidak." Tatapan Tirta menyapu wajah mereka satu per satu.

"Setidaknya jejak digital tidak akan pernah berbohong."

Ia menunjuk ke arah sudut ruangan.

"Di sini ada banyak CCTV. Tapi lucunya, kalian sudah lebih dulu menuduh orang tanpa bukti." Setelah mengucapkan itu, Tirta langsung berbalik dan berjalan keluar.

Ia sudah lelah.

Terlalu lelah menghadapi semua drama dalam hidupnya.

Sekarang... Masih harus ditambah drama percintaan seperti ini.

"Aku sungguh tidak mengatakan itu..." Tangis Elisa kembali pecah. Tangisan buaya.

Namun Tirta sudah tidak peduli. Lagipula, ia tidak akan rugi hanya karena tidak menanggapi sandiwara gadis itu.

"Aku percaya sama kamu. Tenang saja." Edwin langsung menenangkan Elisa.

Padahal...

Yang sebenarnya ingin ditenangkan oleh gadis itu adalah Jordan. Sayangnya, pria tersebut justru mengejar Tirta keluar restoran.

"Siapa yang salah dan siapa yang benar nanti akan ditentukan oleh rekaman CCTV." Bobby berjalan menuju kasir.

Namun sebelum ia sampai di sana, Elisa yang mulai panik karena takut semuanya terbongkar tiba-tiba memejamkan mata dan berpura-pura pingsan. Seketika suasana restoran kembali menjadi ricuh.

Semua orang panik.

Sementara di luar restoran, sepasang kekasih sedang berada di ujung perpisahan. Tirta tidak lagi ingin mendengar apa pun yang keluar dari mulut Jordan. Ia sudah terlalu muak.

Sudah cukup.

Ia benar-benar lelah.

"Kita putus." Kalimat itu keluar dengan sangat mantap. Keputusan yang akhirnya ia ambil setelah terlalu lama bertahan.

"Enggak! Aku tidak mau! Kita tidak bisa putus." Jordan langsung menolak.

"Berhentilah, Jordan." Suara Tirta terdengar jauh lebih tenang daripada sebelumnya. "Aku lelah."

Ia menatap pria di depannya untuk terakhir kalinya.

"Aku sudah muak. Kesempatan yang kuberikan sudah habis. Sepertinya kita memang tidak berjodoh." Ia menarik napas panjang.

"Kita lanjutkan hidup kita masing-masing saja." Setelah mengucapkan itu, Tirta menaiki motornya dan mengenakan helm.

"Setidaknya biarkan aku mengantarmu pulang. Ini sudah malam." Jordan kembali menggenggam tangan Tirta.

Namun kali ini, Tirta langsung menepisnya dengan kasar.

"Apa kamu sudah lupa? Selama ini aku sering pulang larut malam sendirian." Tatapan Tirta begitu dingin.

"Apa kamu benar-benar sudah melupakan itu?" Tanpa menunggu jawaban, ia menyalakan motornya lalu melaju meninggalkan tempat itu.

"Bro... ternyata memang Elisa yang jatuh sendiri."

Bobby datang sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Raut wajahnya dipenuhi rasa bersalah kepada Tirta. Jordan mengepalkan kedua tangannya.

"Brengsek! Bangsat!!" Amarahnya akhirnya meledak. Ia menendang salah satu pot bunga hingga pecah berkeping-keping. Tanpa berpikir panjang, Jordan kembali masuk ke dalam restoran.

Sepertinya...

Malam ini bukan hanya menjadi akhir hubungan asmaranya.

Melainkan juga awal dari putusnya persahabatan yang selama ini ia pertahankan.

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜

Episodes
1 Chapter 1
2 Chapter 2
3 Chapter 3
4 Chapter 4
5 Chapter 5
6 Chapter 6
7 Chapter 7
8 Chapter 8
9 Chapter 9
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
92 Chapter 92
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Chapter 1
2
Chapter 2
3
Chapter 3
4
Chapter 4
5
Chapter 5
6
Chapter 6
7
Chapter 7
8
Chapter 8
9
Chapter 9
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91
92
Chapter 92

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!