Chapter 3

Semalaman gadis itu menangis dalam pelukan Lala. Sahabatnya itu memang sudah sangat tahu bahwa Tirta akan sangat kecewa. Sudah berkali-kali Lala bertengkar dengan Tirta hanya untuk menjelaskan betapa bodohnya gadis itu yang terus mempertahankan hubungan tersebut. Namun, saat mendengar semua pengakuan yang keluar dari mulut sahabatnya, hati Lala justru ikut terasa sesak.

Andai bisa, ia ingin Jordan kembali peduli seperti saat mereka baru menjalin hubungan.

Selama tiga tahun, Tirta menjalani hubungan yang begitu manis di tahun pertama, tetapi berubah menjadi sangat menyesakkan di tahun-tahun berikutnya, saat pria itu mulai bergaul dengan orang-orang yang tak memiliki empati.

Pagi ini, dengan mata yang masih sembab, Tirta duduk termenung menatap sarapan yang sudah disiapkan oleh Lala. Gadis itu memutuskan untuk menginap beberapa hari dengan alasan tidak ingin meninggalkan Tirta sendirian di kontrakan.

Tirta bukan tipe orang yang mudah mengungkapkan semua perasaannya. Jadi, jika ia sudah bercerita dengan sangat detail, itu berarti kepercayaannya kepada orang tersebut begitu besar.

"Makanlah. Kita berangkat bersama nanti." Lala mendorong sepiring nasi beserta lauk yang telah ia siapkan ke hadapan Tirta. Tirta menarik piring itu dan mulai menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Ia memiliki penyakit asam lambung. Jika tidak sarapan, meski hanya sedikit, perutnya pasti akan kembali terasa sakit.

"Terima kasih, Lala." Ucapannya lirih sambil menunduk. Air matanya kembali jatuh tanpa bisa ditahan.

"Makanlah. Jangan menangis di depan nasi. Nenekku bilang nanti nasinya merasa kamu tidak bersyukur atas rezeki yang diberikan." Lala mencoba menghiburnya, meski suaranya sendiri terdengar tercekat.

Setelah selesai makan, Tirta keluar lebih dulu. Ia akan memanaskan motornya sambil menunggu Lala yang masih memasukkan beberapa berkas dan keperluan lainnya ke dalam tas.

Ceklek!

Tirta terkejut ketika melihat sebuah buket bunga berada tepat di depan wajahnya. Seorang pria sedang memegang buket itu. Jordan perlahan menurunkan bunga tersebut lalu menyodorkannya kepada Tirta yang masih terpaku.

"Selamat ulang tahun, Sayang. Aku baru sadar kalau kemarin hari ulang tahunmu. Aku benar-benar minta maaf karena melupakannya. Untuk hadiahnya akan aku berikan nanti malam." Pria itu tersenyum, berharap kekasihnya sudah tidak marah lagi.

"Sayang, kesempatan yang kamu berikan kemarin tidak akan aku sia-siakan. Aku tahu selama ini aku benar-benar sudah mengecewakanmu. Aku tidak menghargaimu sebagaimana mestinya, dan aku sungguh minta maaf." Jordan menggenggam tangan Tirta yang masih memilih diam.

"Kamu bisa memaafkanku, kan? Apa kamu masih marah?" Ia berusaha mengajak Tirta berbicara.

Padahal tanpa ia sadari, semakin Tirta memaklumi semua kesalahannya dan tidak lagi menunjukkan amarah, semakin hilang pula perasaan yang selama ini ia pertahankan.

"Hm... terima kasih."

Hanya itu yang mampu Tirta ucapkan dengan senyum yang dipaksakan.

Lala yang melihat semuanya mulai naik pitam. Rasanya ia ingin menghajar wajah pria yang merasa dirinya begitu sempurna itu.

Gadis itu hanya bersandar di dinding, ingin melihat sejauh mana sahabatnya masih akan bersikap baik kepada Jordan.

"Aku tahu kamu masih marah. Tapi kali ini percayalah padaku. Aku akan membuktikan kalau aku benar-benar mengakui kesalahanku. Malam ini datanglah ke tempat tongkronganku. Aku akan memperkenalkanmu kepada mereka sekaligus memberi pelajaran atas ucapan mereka kemarin."

Jordan memohon dengan sungguh-sungguh.

Tirta terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepala.

"Jam berapa? Aku akan datang."

Entah mengapa, hatinya sama sekali tidak menerima semua kata maaf yang keluar dari mulut pria itu.

"Nanti jam delapan malam, di Blok A. Aku jemput kamu, ya."

"Tidak usah. Aku akan datang sendiri. Kita bertemu di sana saja. Aku harus ke kantor, sudah terlambat. Ayo, Lala." Panggilnya kepada sahabatnya yang sejak tadi menatap Jordan dengan tatapan tajam.

"Ckckck... sudah miskin, tidak tahu diri lagi." Lala menyenggol bahu Jordan saat melewatinya. Jordan hanya mendecak kesal. Gadis itu memang tidak pernah menyukainya, bahkan setiap hari ucapannya semakin pedas.

...****************...

Tepat pukul tujuh malam, Tirta sudah bersiap dengan pakaian kasual. Malam ini ia mengenakan celana jeans biru, tanktop sebagai dalaman, dan kemeja putih sebagai outer.

Lala duduk di atas kasur sambil memakan sepiring buah.

"Yakin mau pergi sendiri? Aku bisa ikut." Tanya Lala, masih merasa khawatir Jordan akan bertindak sesuka hati.

"Aku bisa sendiri. Nanti aku kabari." Jawab Tirta sambil meraih tas selempangnya dan mengambil kunci motor.

"Kamu sudah siap dengan apa pun yang akan terjadi nanti setelah memberinya kesempatan lagi?" Lala memastikan sahabatnya benar-benar memahami konsekuensi dari keputusan itu.

Tirta menoleh lalu tersenyum tipis.

"Sepertinya hatiku hanya sedang menunggu dia membuat satu kesalahan lagi. Sudah cukup aku berjalan terlalu jauh meninggalkan diriku sendiri hanya demi pria seperti dia." Tatapannya menerawang jauh.

Setelah berpamitan, Tirta segera pergi menuju tempat yang telah ditentukan.

"Tirta sudah mulai bangkit lagi. Aku harap setelah ini kamu benar-benar mendapatkan seseorang yang lebih baik." Itulah doa yang selalu Lala panjatkan.

Ia akan selalu menemani sahabatnya dalam keadaan apa pun, karena Tirta pun selalu melakukan hal yang sama untuknya. Gadis polos itu tidak akan ia biarkan jatuh ke lubang yang tak berujung.

Sepanjang perjalanan, Tirta memandangi jalanan yang ia lewati.

Ini adalah pertama kalinya Jordan akan memperkenalkannya kepada teman-teman tongkrongannya.

Ia tidak merasa senang.

Ia juga tidak merasa sedih.

Yang ada hanyalah kehampaan.

"Kamu sudah datang, Sayang. Ayo masuk." Jordan ternyata sudah menunggu di depan sebuah restoran yang berada di Blok A. Dari luar, tempat itu terlihat modern, dipenuhi anak-anak muda, dan cukup ramai.

"Ini salah satu restoran milik temanku. Kami sedang merayakan kelulusannya. Ayo, aku kenalkan kamu." Jordan menggenggam tangan Tirta, lalu mengajaknya masuk ke dalam bangunan bernuansa cokelat itu.

Namun, kedatangan Tirta tidak disambut dengan hangat. Sebagian dari mereka hanya memandang tanpa ekspresi, seolah sedang menilai dirinya.

"Guys! Perhatian semuanya!" Jordan bertepuk tangan.

"Perkenalkan, ini Tirta. Pacarku." Kemudian ia menunjuk satu per satu.

"Itu Elisa, Bobbi, Edwin, Gangga, dan masih ada beberapa teman yang belum datang." Seperti biasa, Tirta hanya membalas dengan senyum ramah.

Ia adalah tipe orang yang mudah bergaul dengan siapa pun selama orang tersebut bisa diajak berkomunikasi dengan baik.

Namun entah mengapa, ia merasa teman-teman Jordan bukanlah orang-orang yang bisa ia ajak berbicara dengan nyaman.

"Kamu mau ikut ke belakang? Aku harus membantu Bobbi sebentar." Jordan mengusap pelan pundak Tirta.

"Aku tunggu di sini saja. Kamu pergilah." Jawab Tirta dengan sedikit ragu. "Lagi pula hanya sebentar."

"Kamu yakin?" Tirta mengangguk.

Setelah Jordan pergi, ia duduk di salah satu meja sambil memainkan ponselnya.

Beberapa menit kemudian, Elisa datang dan duduk tepat di hadapannya.

"Hi! Kamu Tirta, ya?"

Elisa menatapnya dari ujung kepala hingga kaki, lalu berdecak pelan.

"Tidak ada yang spesial darimu. Kok bisa, sih, kamu jadi pacarnya Jordan?"

Ia kembali mengamati Tirta sebelum menyeringai tipis.

"Jangan-jangan kamu menyerahkan tubuhmu? Aku lihat postur badanmu lumayan juga."

"Oh... jadi begini, ya, mulut yang tidak pernah dididik." Jawab Tirta dengan tenang, tetapi setiap katanya terdengar tajam. Sejak awal ia sudah tahu kalau gadis itu menyukai Jordan.

Tatapan matanya saja sudah cukup menunjukkan bagaimana murahnya harga diri seseorang yang terus menggoda kekasih orang lain.

"Tajam juga ucapanmu." Elisa menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kenapa? Apa hatimu mulai bergetar? Khawatir Jordan akan meninggalkanmu... lalu memilih aku?"

Ia sengaja mengucapkan kalimat itu untuk memancing emosi Tirta.

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜

Episodes
1 Chapter 1
2 Chapter 2
3 Chapter 3
4 Chapter 4
5 Chapter 5
6 Chapter 6
7 Chapter 7
8 Chapter 8
9 Chapter 9
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
92 Chapter 92
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Chapter 1
2
Chapter 2
3
Chapter 3
4
Chapter 4
5
Chapter 5
6
Chapter 6
7
Chapter 7
8
Chapter 8
9
Chapter 9
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91
92
Chapter 92

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!