Chapter 2

Sore harinya, tepat pukul lima, Tirta melangkah dengan senyum bahagia yang menghiasi wajahnya. Jordan sudah mengirim pesan untuk bertemu dengannya. Dari isi pesannya, terlihat bahwa pria itu sudah tidak marah lagi. Tadi pagi pun Tirta sempat mengirim beberapa makanan sebagai permintaan maaf.

"Hari ini apa yang sedang dia persiapkan untukku? Apa sesuatu seperti lamaran atau bahkan pernikahan? Ah! Tapi aku belum siap untuk itu. Sudahlah, Tirta, jangan berpikir yang aneh-aneh lagi. Dia pasti akan kesal kalau aku terlambat."

Tirta segera menghentikan khayalannya yang mulai melambung terlalu jauh. Tanpa membuang waktu, ia mengendarai motornya menuju kafe yang lokasinya sudah dikirimkan oleh sang kekasih.

Gadis itu memang sudah bersiap sejak dari kantor. Pakaiannya telah ia ganti dengan yang lebih bagus, lengkap dengan parfum yang semerbak menguar. Ia begitu bersemangat hingga senyum itu tak kunjung luntur dari wajahnya.

Sesampainya di depan kafe, motornya diparkirkan dengan rapi. Tirta turun, lalu melepaskan helm dan jaketnya. Dari luar, ia bisa melihat Jordan sedang duduk sambil menatap layar ponselnya.

Dengan menarik napas pelan, Tirta berjalan masuk. Namun, senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar ketika segerombolan orang datang menghampiri Jordan.

Mereka terlihat saling menyapa. Jordan pun tampak begitu senang bertemu dengan teman-temannya.

Tirta yang masih bingung memilih maju atau mundur hanya bisa terdiam. Ia takut harus mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ia dengar. Lebih baik tidak tahu apa pun daripada harus kembali melukai hatinya sendiri.

Dengan mantap, gadis itu berbalik. Ia memutuskan akan keluar lebih dulu dan masuk lagi setelah teman-teman Jordan pergi.

Namun, obrolan mereka yang terdengar begitu keras tetap berhasil masuk ke telinganya.

"Kamu sungguhan sama pacarmu itu, Jordan?" tanya seorang gadis. Dari nada suaranya terdengar jelas ia sedang menggoda sekaligus meledek.

"Apa maksud pertanyaanmu, Elisa? Tentu saja teman kita ini serius sama hubungannya. Iya, kan, Jordan?" sahut salah satu teman pria mereka.

Elisa hanya tertawa, seolah benar-benar meremehkan.

"Oh, ayolah. Aku tidak bilang apa-apa, kok. Aku cuma bertanya. Soalnya selama ini Jordan tidak pernah membawa pacarnya ke tempat tongkrongan. Jadi aku pikir dia cuma main-main saja."

Kelakarnya langsung disambut tawa teman-teman yang lain.

"Aku tidak bermaksud menghina, tapi apa yang dibilang gadis cantik ini benar. Kalau memang mau putus, ya putus saja secepatnya. Pacarmu itu jelek, hitam lagi. Aku rasa kamu juga tidak dapat apa-apa kalau terus pacaran sama dia." Ucapan itu disambut tawa yang semakin keras.

Jordan yang dianggap sebagai kekasihnya hanya diam sambil melengos. Hatinya memang terusik, tetapi rasa tidak enak untuk menegur teman-temannya jauh lebih besar.

"Benar. Mending sama Elisa, kan? Sudah cantik, putih, seksi lagi."

"Jangan-jangan karena Jordan belum pernah tidur sama dia, bro?"

"Bisa jadi. Soalnya yang kudengar semua mantannya sudah pernah dia tiduri. Tinggal si itik buruk rupa ini saja yang belum."

Tirta memejamkan matanya rapat. Air mata yang hampir jatuh segera ia seka sebelum benar-benar mengalir.

"Nona, ada yang bisa kami bantu?"

Suara seorang pelayan membuat Tirta tersadar. Pelayan itu tampak bingung karena sejak tadi gadis itu hanya berdiri di depan pintu tanpa berniat mencari tempat duduk.

Mendengar suara pelayan itu, Jordan menoleh dan menatap punggung kekasihnya. Ia langsung mengenali siapa gadis yang berdiri tidak jauh dari mereka.

Tanpa pikir panjang, Jordan menyela obrolan teman-temannya dan berjalan menghampiri Tirta.

Sayangnya, gadis itu sudah lebih dulu melangkah keluar dengan rasa kecewa yang selama ini terus ia telan.

Rasanya ia muak. Ia ingin berhenti. Namun, sayangnya ia masih belum menyerah, seolah masih menunggu pria yang dulu pernah mencintainya dengan begitu besar untuk kembali.

Jordan mengejar Tirta dan mencekal pergelangan tangannya agar gadis itu berhenti.

"Sayang, kenapa tidak jadi makan malam denganku?" tanyanya sambil menatap kedua mata Tirta yang sudah memerah.

Ia tidak buta. Namun, tetap saja bertanya seolah tidak tahu apa-apa.

Apa pria itu bodoh? Atau memang pura-pura bodoh?

Ah, tapi sayangnya bukan Jordan yang bodoh. Melainkan dirinya yang masih memilih diam dalam keadaan seperti ini.

"Aku ingin pulang saja. Aku sudah lelah."

Tirta melepaskan tangan besar yang menggenggam pergelangannya. Jordan mengernyitkan dahi melihat sikap itu.

"Kamu marah karena perkataan teman-temanku? Oh, ayolah. Mereka cuma bercanda." Ujarnya sambil terkekeh pelan. Tirta tersenyum. Tatapannya sudah benar-benar menyerah. Bahkan rasanya, amarah itu sudah tidak lagi ada di dalam hatinya.

Dan mungkin... perasaan cinta itu pun sebenarnya sudah ikut menghilang.

"Oh...."

"Hanya itu? Kamu tidak marah? Ini tidak seperti dirimu." Jordan menatapnya heran.

"Kamu tahu hari ini hari apa?" tanya Tirta sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat.

"Ada apa dengan hari ini? Hari anniversary kita? Sepertinya bukan."

"Lalu kenapa kamu mengajakku makan malam?"

"Karena tadi pagi aku marah padamu. Aku ingin minta maaf."

Jawaban itu justru membuat Tirta tertawa cukup keras. Air matanya ikut jatuh bersama tawanya.

"Sayang, kamu kenapa? Tidak seperti biasanya. Apa ada masalah di kantor?"

"Meminta maaf, katamu?" Tirta tertawa lagi. "Lucu sekali kata itu keluar dari bibirmu. Lalu besok kamu akan melakukan hal yang sama, atau bahkan lebih buruk, lalu meminta maaf lagi. Bukankah meminta maaf itu memang hal yang paling mudah diucapkan?"

Jordan memegang kedua pundak gadis di depannya. Tirta sesekali mengusap air matanya, tetapi tawanya masih terdengar.

"Sayang, kamu marah? Aku tidak bisa membaca setiap perasaanmu kalau kamu tidak mengatakannya dengan jujur." Jordan membelai pipi Tirta. Namun, gadis itu langsung menepis kedua tangan pria tersebut.

"Marah?" Tirta menatap Jordan dengan sorot mata yang tegas. "Apa aku masih pantas marah?"

Jordan terdiam.

"Aku tidak peduli kamu ingat atau tidak hari ini hari apa. Tapi dengarkan aku baik-baik." Tirta menarik napas pelan. "Kesabaranku juga ada batasnya dalam sebuah hubungan. Selama dua puluh satu tahun hidupku, aku tidak pernah merendahkan diriku serendah ini."

Ia menatap Jordan tanpa berkedip.

"Jadi... ini adalah kesempatan terakhir yang bisa aku berikan."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Tirta langsung menaiki motornya dan pergi meninggalkan tempat tersebut.

Sementara Jordan masih berdiri mematung. Untuk pertama kalinya, ia melihat tatapan mata Tirta yang benar-benar kosong.

Tatapan yang tidak lagi dipenuhi amarah.

Tatapan yang hanya menyisakan kehampaan.

Saat Jordan hendak mengejar, Elisa tiba-tiba datang dan meraih lengannya, menghentikan langkah pria itu.

"Pacarmu itu terlalu serius menanggapi candaan tadi. Biarkan saja. Nanti juga baik sendiri." Ucapnya dengan suara manja sambil bergelayut di lengan Jordan. Jordan langsung menepis tangan gadis itu dan menatapnya tajam.

"Sepertinya kamu lupa. Perlu aku ingatkan lagi kalau aku sudah punya pacar?" Tanpa menunggu jawaban, Jordan berbalik dan kembali masuk ke dalam kafe, tempat teman-temannya masih menunggu.

Sementara itu, Tirta sempat melihat melalui kaca spion bagaimana gadis cantik itu bergelayut manja di lengan pria yang masih ia sebut sebagai kekasihnya.

Senyum tipis kembali terukir di wajahnya.

Senyum yang terasa begitu pahit.

Betapa bodohnya dirinya selama ini.

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜

Episodes
1 Chapter 1
2 Chapter 2
3 Chapter 3
4 Chapter 4
5 Chapter 5
6 Chapter 6
7 Chapter 7
8 Chapter 8
9 Chapter 9
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
92 Chapter 92
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Chapter 1
2
Chapter 2
3
Chapter 3
4
Chapter 4
5
Chapter 5
6
Chapter 6
7
Chapter 7
8
Chapter 8
9
Chapter 9
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91
92
Chapter 92

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!