*
*
Maharani masih berdiri di teras menatap mobil hitam milik Andra yang bergerak menjauh, memperhatikannya hingga benda itu menghilang ditikungan. Lalu memutuskan untuk masuk ketika malam telah beranjak turun.
Harum aroma masakan menguar ketika gadis itu memasuki ruangan sederhana yang dihuni oleh dia dan ibunya selama dua tahun terakhir ini.
"Tumben kamu pulang telat?" ibunya menyapa dari arah dapur. Melirik jam yang menempel di dinding yang menunjukkan pukul 18.30 petang.
"Ada urusan dulu tadi, Bu." Maharani menjawab. Lalu menghampiri ibunya, mencium punggung tangan perempuan itu kemudian duduk di kursi makan.
Maria tersenyum sambil menyerahkan segelas air putih untuk putrinya yang langsung ditenggak oleh gadis itu hingga habis setengahnya.
"Siapa yang ngantar kamu pulang hari ini?" Maria bertanya.
Maharani mendongak, "Ibu lihat?" gadis itu balik bertanya.
Maria tersenyum.
"Andra, Bu." lanjut Maharani.
"Andra?" Maria duduk di kursi diseberang anak gadisnya.
"Temennya Angga."
"Angga?" perempuan paruh baya itu mengerutkan dahi.
"Yang ngasih Rani kerjaan di swalayan kak Vira. Yang waktu itu datang pagi-pagi pakai motor merah." Maharani malu-malu.
Maria mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tersenyum.
"Pacar?" terdengar seperti sebuah pertanyaan.
Maharani mendongak, lalu menggelengkan kepala. "Bukan. Hanya temen sekelas di kampus."
Maria mengangguk lagi.
"Hati-hati, Rani." ibunya mengingatkan.
"Iya Bu." lalu gadis itu melahap makanan yang di sediakan ibunya dimeja makan dalam diam.
****
Maria tiba-tiba menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat kehadapan putrinya yang baru saja selesai makan.
Maharani tertegun menatap benda tersebut.
"Ini apa Bu?" tanya gadis itu, lalu mendongak ke arah ibunya.
"Besok, kamu pergi ke kampus. Bayar semester ini, terus batalkan cuti kamu, ya? kalau ada sisa bisa kamu belikan buku yang kamu perlu." Maria dengan senyuman lembut di bibirnya.
Maharani terhenyak, mulutnya menganga.
"Ibu dapat uang dari mana?" dia bertanya.
"Kamu nggak usah tahu, yang penting kamu bisa melanjutkan kuliah." jawab Maria.
Maharani menggelengkan kepala. "Rani nggak mau kalau ibu sampai berhutang demi kuliah. Rani nggak apa-apa cuti dulu barang setahun atau dua tahun. Rani akan kerja keras untuk ngumpulin uang." gadis itu dengan mata berkaca-kaca.
Maria juga menggeleng, dia menyentuh lengan anaknya dengan lembut. "Rani, sayang, ibu mendapatkan uang itu dengan cara yang benar. Ibu nggak berhutang. Itu tabungan ibu."
"Ibu bohong!" Maharani meraih amplop berisi uang itu, lalu membukanya, melihat dan memperkirakan tumpukan uang itu sepertinya berjumlah lebih dari lima juta rupiah.
Bibir Maria bergetar, "Nggak sayang, ibu nggak bohong. Selama kerja ibu nabung, ditambah juga ada bonus dari atasan ibu. Dan uang lebih lainnya."
Maharani terdiam menatap kedalam mata tua ibunya. Mencari kebohongan atau hal lainnya yang dia curigai. Tapi nihil. Perempuan itu tampaknya mengatakan hal yang sebenarnya.
"Beneran?" ucapnya, bertanya.
Maria mengangguk. "Ibu mau besok kamu ke kampus. Bayar yang harus dibayar biar kamu bisa kuliah lagi."
Tetesan air lolos dari sudut mata Maharani, dia tergugu. Lalu meraup kedua tangan keriput ibunya dan menciuminya dengan bercucuran air mata.
"Makasih, Bu. Makasih. Rani janji akan kuliah dengan baik. Nggak akan ngecewain ibu." ucap Maharani.
"Iya, iya. Ibu tahu Rani pasti akan melakukannya."
Gadis itu mengangguk, lalu menghambur ke pelukan ibunya. Mereka berdua menangis penuh keharuan.
*
*
*
*
Hingar bingar musik menggema begitu Andra melangkahkan kakinya memasuki sebuah bar dipusat kota. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Pemuda itu mengedarkan pandangannya mencari sosok yang biasanya sudah berada disana pada jam-jam seperti ini. Menemani beberapa wanita untuk minum dan bersenang-senang yang biasanya dilanjutkan ke arah yang lebih intim ketika malam semakin larut.
Dan disanalah dia, sahabatnya yang tengah duduk dengan seorang perempuan berpakaian minim yang duduk manja dipangkuannya. Menuangkan minuman beralkohol, kemudian meneggaknya dalam sekali tegukan. Lalu bercumbu tanpa sedikitpun merasa malu.
Terdengar tawa riuh yang seketika pecah, yang entah menertawakan apa. Barangkali menertawakan kekonyolan hidup mereka yang tidak berguna, yang hanya menikmati kesenangan sesaat, menghindar dari kesibukan dunia kerja yang tak ada hentinya. Atau juga menghindari masalah hidup untuk psementara waktu. Berpura-pura bahagia seakan esok hari mereka tidak akan bertemu dengan masalah itu lagi.
"Ga?" panggil Andra, ketika kini dia berada didepan pemuda yang selisih usianya tak jauh dengan dirinya itu.
Angga menghentikan kegiatannya mencumbu perempuan cantik dipangkuannya. Lalu menoleh. Seringaian terbit disudut bibirnya yang masih basah bekas cumbuanya beberapa detik yang lalu.
"Kok lu ada disini?" Angga tanpa melepaskan perempuan dipangkuannya.
"Gue mau ngomong." ucap Andra, seraya menggendikkan kepalanya memberi isyarat kepada sahabatnya untuk keluar.
"Ngomong aja." Angga berujar.
"Nggak disini." Andra melirik kesekeliling.
"Penting?" pemuda itu bertanya lagi.
Andra mengangguk.
"Soal apa?" Angga masih bertanya.
Andra tak ingin menjawab, hanya memiringkan kepalanya sedikit.
Angga terdiam sebentar, mendorong tubuh perempuan seksi itu dari pangkuannya, lalu bangkit dari sofa.
"Apaan?"
Andra malah memutar tubuh, melangkahkan kakinya keluar dari ruangan temaram itu. Langkah lebarnya menuju ke area parkir didepan bar tersebut.
"Ada apa sih? lu ada masalah? bukannya lu tadi ngedate sama Rani, ya?" Angga mulai meracau, padahal alkohol yang ditenggaknya belum seberapa banyak. Tapi entah mengapa perasannya mendadak terasa kacau seperti tadi sore setelah dirinya mendengar dan melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika sahabatnya mengutarakan perasaannya kepada gadis yang baru-baru ini selalu memenuhi pikirannya.
Andra masih berdiri membelakanginya, dia terdiam tak bersuara.
"Ndra? ada masalah ..." belum Angga menyelesaikan kalimatnya, Andra tiba-tiba saja berbalik dan langsung melayangkan bogem mentah ke wajahnya. Membuat pemuda itu terhuyung kebelakang, tak siap dengan serangan tiba-tiba dari sahabatnya itu.
"Aarrggh!" Angga menggeram, merasakan sakit pada rahangnya. Seketika bau anyir menguar, sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Ini pertama kalinya dalam kurun waktu dua tahun sejak mereka bersahabat, Andra berlaku kasar kepadanya.
"Lu kenapa sih? gue ada salah apa sama elu?" Angga yang berusaha mempertahankan kesadarannya. Bogem yang dilayangkan sahabatnya itu cukup membuat kepalanya terasa pening, wajahnya kini terasa kebas.
Napas Andra memburu, dadanya naik turun. "Kenapa harus lu, Ga? Lu sahabat gue!" Andra setengah berteriak.
"Maksud lu?" Angga mengerutkan dahi, belum mengerti arah pembicaraan sahabatnya itu.
"Kenapa mesti lu!" Andra berteriak lagi.
"Lu ngomong apa? gue nggak ngerti!"
"Sialan lu!" Andra merangsek, kembali melayangkan pukulan mengarah ke wajah sahabatnya, namun kali ini Angga sudah bersiap dengan kemungkinan tersebut. Ia menangkis tangan sahabatnya yang hampir mendaratkan kukulan dikepalanya. Lalu menggenggam tangan Andra dengan kuat.
Andra tak kehilangan akal, kini dia menggunakan tangan yang lainnya untuk memukul bagian tubuh sahabatnya itu. Rasa marah dan kecewa telah meliputi dirinya.
Marah karena gadis yang disukainya ternyata malah menyukai sahabatnya, dan kecewa karena ternyata pemuda itu malah berusaha mendekati gadis itu selama ini. Dia berusaha mati-matian untuk menahan emosinya, mengingat persahabatan mereka yang sudah cukup lama terjalin, segalanya telah mereka lalui. Namun semuanya kini sudah tak bisa dikontrol lagi.
"Lu munafik, Ga!" Andra masih berusaha melepaskan cengkeraman pemuda itu pada tangannya.
"Lu bilang dia bukan tipe lu, tapi nyatanya lu deketin dia selama ini!" Andra melayangkan tangan sebelahnya dengan membabi buta.
Angga terhenyak, tanpa sadar dia melepaskan cengkeramannya pada tangan sahabatnya. Diapun terlepas. Dan pukulan bertubi-tubi pun diterimanya dalam diam. Entah mengapa dia tak ingin melawan, atau setidaknya menghindar dari pukulan sahabatnya itu. Angga malah terdiam menerima hal tersebut. Pikirannya hanya tertuju kepada Maharani.
Andra menggunakan segala yang dia miliki untuk meluapkan kemarahannya kepada sahabatnya itu. Memukul, menendang, meninju. Segalanya dia lakukan hingga tubuhnya merasa lelah. Namun orang yang dia pukuli hanya terdiam tanpa perlawanan. Dia masih tetap berdiri kokoh didepannya. Angga hanya memejamkan matanya dengan erat ketika setiap pukulan dan tendangan sahabatnya itu mendarat ditubuhnya. Kekuatan Andra yang diliputi emosi bagai tak berarti bagi tubuh tinggi Angga.
Andra berhenti ketika dirinya sudah merasa lelah dan puas memukuli sahabatnya. Pemuda itu menjatuhkan dirinya ke aspal, berlutut.
Napasnya menderu-deru.
"Gue suka sama dia sejak masa orientasi. Dia yang lugu dan pintar, juga ceria. Lain dari cewek kebanyakan."
Angga terdiam. Menatap sahabatnya dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bersalah menyeruak dalam dadanya. Diapun menjatuhkan dirinya, duduk diatas aspal berdebu itu.
"Bertahun-tahun gue menahan perasaan ini. Dan sekarang setelah gue barani ngungkapin, ternyata dia nggak memiliki perasaan yang sama kayak yang gue rasain."
Angga masih menatap dalam diam. Tidak mau menginterupsi sahabatnya. Dia membiarkan Andra mengeluarkan segala yang disimpan dalam hatinya.
"Tahu apa yang dia omongin selama gue ngajak dia jalan tadi?"
Angga mengulum bibirnya kuat-kuat.
"Lu." Andra bangkit.
"Gue juga tahu, beberapa Minggu ini lu sering nemuin dia di tempat kerjanya." Andra kini berdiri.
"Ndra, gue ..." Angga pun bangkit.
"Sekali aja lu sakiti dia, gue nggak akan pernah anggap lu sebagai sahabat gue lagi. Dan gue pasti akan langsung berusaha merebut dia lagi dari lu." Andra mengancam. Lalu segera pergi dari sana meninggalkan Angga yang masih mencerna kata-kata yang dia lontarkan.
*
*
*
*
Bersambung ....
Omegat, Dede Andra serem ih kalo marah, emak jadi takut ...😬😬😬
kasih like koment sama vote nya dong biar Dede Andra nggak marah lagi. Pliss😳😳
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Tami Andriani
hhhmmm... gitu dah cowok
2024-01-14
0
Sofia Gisheilla
lahhh jadi emosi Ndra
2023-04-22
0
Magdalena Ambatoding
cinta emang gak bisa dipaksakan
2022-06-11
0