*
*
"Yakin lu mau berhenti kuliah? sayang tinggal setahun lagi, bro!" Andra ketika sahabatnya tiba dan bercerita tentang kejadian tadi pagi dirumah.
"Yakin lah. Lagian, mana bisa gue bayar kuliah. Selama ini gue hidup dari uang bokap gue. Terus setelah sekarang gue keluar dari rumah emangnya lu bisa jamin dia masih mau biayain kuliah gue?" jawab Angga dengan malas.
"Makannya nurut sama orang tua kenapa? jangan kelayapan Mulu!! lu kalau nggak ada bokap, udah di DO dari tahun kemaren."
"Ck!! lu sama aja kayak dia. banyak bacot!!"
"Hadeh. .. lu harusnya bersyukur, lu lahir di keluarga yang sangat berkecukupan. lu bisa minta apapun yang lu mau dan mendapatkannya dengan mudah. Diluar sana banyak anak yang bahkan untuk sekedar sekolah Sampai SMA aja susahnya minta ampun."
Angga terdiam.
"Gue nih, Saking pengen kuliah sampai bela-belain sambil kerja. karena nyadar nggak mungkin minta sama orang tua gue yang cuma pekerja kasar di kampung."
"Orang tua lu nggak senyebelin bokap gue." sergah Angga, menyandarkan tubuh tingginya di sofa.
"Siapa bilang? setelah mereka tahu gue bisa nghasilin duit, hampir tiap Minggu mereka nelfon, bilang nggak punya inilah, itulah, adek-adek gue nggak punya seragam lah, buku lah. atau ada kegiatan luar sekolah yang butuh duit gede lah. lu kira nggak pusing?"
Angga tergelak. "Untung gue nggak punya adek." ucapnya, mengejek.
"Sialan lu!" Andra melemparkan bantal ke kepala sahabatnya itu.
"Ndra, gue ikut kerja lah." Angga dengan tiba-tiba.
"Hah? kerja?" Andra terkejut.
Angga mengangguk.
"Lu yakin?" Andra menatap sahabatnya itu seakan tak percaya. Seorang Angga Yudistira meminta pekerjaan kepadanya.
"Udah gue putusin, gue akan pergi dari rumah. Dan nggak mungkin kan tua Bangka itu ngasih gue bekal hidup. orang dia kelihatannya benci banget sama gue."
"Yakin lu mau kerja bareng gue?" Andra meyakinkan.
Angga mengangguk lagi.
"Kerja itu capek tahu. Lu mending berubah jadi anak yang baik, terus nurut sama bokap . bikin dia terus ngalirin duit nya ke elu. daripada harus capek-capek kerja."
"Hilih, ... ogah gue. jadi anak baik bukan karakter gue. baru mikirin nya aja gue geli. Cukup Sagara yang jadi anak baik. gue mah ogah."
"Pea!!" mendorong kepala Angga dengan ujung telunjuknya.
"Ndra, gue serius." Angga penuh harap.
Andra terdiam.
"Lu yakin?"
"Yakinlah, be*go!!" Angga menendang kaki sahabatnya yang seperti tak percaya dirinya mampu melakukan hal yang baru saja dia katakan.
"Oke. tar gue cariin kerjaan yang cocok sama lu." Andra kemudian mengangguk.
"Tapi jangan yang capek-capek, gue kan nggak biasa." Angga menawar.
"Heleh, baru aja mau gue cariin lu udah ngelunjak." sebuah bantal melayang lagi ke arah Angga. "Mana ada kerjaan yang nggak capek. ML aja bikin capek."
Pemuda 22 tahun itu tergelak. "Tapi enak."
"Mesum!!" Andra kembali mendorong kepala Angga hingga pemuda itu terjengkang ke sandaran kursi sambil tertawa.
"Kayaknya gue ada kerjaan yang cocok buat mengimbangi otak lu yang mesum itu." Andra mengutak-atik ponsel ditangannya.
"Apaan?"
"Tar malem lu ikut gue."
"Kemana?"
"Ada deh. pokoknya lu ikut gue. Ada kerjaan yang cocok sama passion lu."
"Passion gue emang apaan?"
"ML sama cewek yang
lebih tua kan passion lu, nyet!" Andra tergelak.
"Apaan? lu mau jual gue ke tante-tante yang miara lu?" Angga menjengit, merasa ngeri sendiri dengan pikirannya.
Andra tertawa. "Pan elu bilangnya pengen kerjaan yang gak capek tapi enak. ini cocok sama lu."
"*****!!! gue mesti ngelayani emak-emak gitu? najis gue!! sebutuh-butuhnya duit ogah gue musti gitu. Mendingan gue numpang di apartemennya Fikka aja. Gak perlu kerja. Tapi gue bisa hidup enak."
"Si pea!! pelanggan gue bukan emak-emak kali, nyet! tapinya tante-tante kesepian yang lakinya jarang dirumah, terlalu sibuk ngurusin bisnis diluar negri." jelas Andra.
"Sama aja. emak-emak."
"Bukan, be*go!!" Andra mengumpat. "terus ada lagi teteh-teteh jomblo yang nggak sempet menjalin hubungan karena karirnya yang melesat jauh. dan nggak bisa diimbangi sama cowok-cowok yang ngejar mereka."
Angga tergelak. Membayangkan dirinya harus bercinta dengan perempuan yang lebih tua darinya. Walaupun selama ini pada kenyataannya dia memang sering berkencan dengan gadis yang lebih tua seperti Fikka yang notabene adalah kakak kelasnya di kampus. Atau Vinna seorang SPG kosmetik yang usianya terpaut tiga tahun dari dirinya. Dan beberapa perempuan lainnya yang tidak dia ingat namanya saat bertemu di klub. Yang sering ber-one night stand dengan dirinya, dan kesemuanya rata-rata berusia lebih tua darinya.
Angga tidak ingat kapan dia berkencan atau setidaknya dekat dengan seseorang yang berusia setara bahkan lebih muda dibawahnya.
Seleranya seperti lain dari yang lain. Pemuda itu tidak tertarik dengan gadis yang seumuran ataupun yang lebih muda. Menatap perempuan yang lebih tua selalu membuat jantungnya kebat-kebit, memacu adrenalinnya ketika mampu membuat perempuan-perempuan itu bertekuk lutut di hadapannya. Apalagi sampai memohon untuk tidur dengannya.
Angga terkekeh.
Sebuah tendangan keras mendarat di kakinya.
"Dasar mesum!!" Andra kembali mendorong kepala sahabatnya itu.
"Lu bisa jamin gue nggak bakalan ngelayani emak-emak?" Angga meyakinkan.
"Iyalah."
"Deal!!" Angga mengulurkan tangan, mengajak bersalaman.
"Deal!!" Andra menyambutnya, kemudian mereka tertawa.
*
*
*
Pada malam hari, Andra dan Angga tiba di depan sebuah villa di kawasan puncak, Bogor setelah menempuh waktu empat jam dari Bandung.
Dua pemuda tampan itu disambut ceria oleh beberapa perempuan setibanya mereka di halaman villa tersebut. Seorang perempuan yang kira-kira berusia sekitar 38 tahunan, dengan dandanan modis ala sosialita bahkan merangkul pundak Andra dengan antusiasnya.
"Kamu lama banget sih... kangen tahu!!" perempuan itu merajuk degan manja. Angga tiba-tiba merasa merinding mendengar suara manja perempuan itu. Seketika dia ingin tertawa terbahak-bahak, namun ingat pesan sahabatnya sebelum mereka tiba di tempat tersebut.
"Lu harus jaga sikap, mereka nggak suka cowok yang kasar, apalagi tengil. Lu harus bisa kelihatan baik, imut dan manis. Mereka suka anak baik dan sopan." begitu katanya.
"Kenalin, ini temen yang Andra ceritain tadi siang, Tan." Andra membuka percakapan setelah berbasa-basi sedikit.
"Ohh ... ini.. Hmm..." perempuan itu menatap Angga dari atas kebawah. Tak butuh waktu lama, senyuman nakal terbit di bibir merahnya. "Not bad. Bawa masuk, sayang. Kita kenalin sama yang lainnya." katanya, kemudian melengos. Meninggalkan dua sahabat ini berdiri di ruang tamu, sementara dirinya menghampiri beberapa teman yang sedang berkumpul di ruang belakang.
"What?? not bad dia bilang?" Angga merasa kesal. Dia merasa disepelekan.
"Eezy, bro. Mereka belum kenal, lu kan masih fresh!!" Andra tergelak.
"Yeah, ... gue jamin, setelah mereka kenal, mereka bakalan teriak teriak manggil gue di ranjang saking enaknya.!!" Angga pun ikut tertawa.
Andra kemudian menarik sahabatnya itu untuk masuk kedalam villa luas itu. Dan seketika Angga tertegun. Didalam sana ada sekitar puluhan orang perempuan yang rata-rata berusia lebih dari tiga puluh tahun. Dilihat dari penampilan dan gaya mereka, jelas mereka bukan berasal dari kalangan biasa.
"Seriously?" Angga terkejut. Menatap puluhan pasang mata yang tertuju ke arah mereka. Sebagian dari perempuan-perempuan itu bahkan menjerit setengah histeris.
*
*
*
Bersambung....
apakah yang akan terjadi kepada Angga? hmmm.. otor jadi penasaran. Kalian penasaran nggak??
like koment sama vote kalo kalian juga penasaran. biar otor semangat untuk lanjutin cerita Angga nya.😘😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Dewi Tarra
OMg ini ceritanya angga di ajak jdi Sugar BoY ?? atau apa itu istilahnya ,,yg ngelayanin tante" girang?? 😆😆
2023-01-28
1
Eka Ayu Kartini
aku kok ngakak 🤣
2022-02-21
1
Tri Setyaningsih
mak fit omg.... ceritanya sll seru yah...
2022-02-08
1