Save

*

*

Maharani menatap wajah yang masih terpejam di sofa ruang tamunya. Antara berharap dia tidak terbangun, tapi juga merasa khawatir. Setelah dua orang tukang parkir yang datang sesaat setelah adzan subuh tadi yang membantunya membawa Anggara hingga kerumah sederhana ini.

Darah sudah dia bersihkan dari wajah dan sebagian dada Anggara yang mengalir dari pelipis kirinya yang sobek akibat tendangan dari ujung sepatu boot seseorang subuh tadi. Lalu memasangkan verban untuk menutup lukanya. Maharani bahkan menggunting kaus yang menempel di tubuh Anggara yang dipenuhi darah, walau harus menahan kegugupannya dengan susah payah, karena harus menatap pahatan tubuh yang sempurna dari pemuda yang sedang tak sadarkan diri itu.

Sudah hampir tiga jam Maharani duduk menunggui Angga, dia bahkan tak beranjak sedikitpun hanya untuk sekedar mengambil sarapan. Takut tiba-tiba pemuda itu terbangun.

Terdengar bunyi ponsel dari dalam jaket kulit Angga. Maharani memberanikan diri untuk mencari benda pipih tersebut, dan tertegun saat gambar seorang perempuan cantik terpampang di layar.

Tante Wina.

Tidak! Dia tidak ingin mengangkatnya. Dan tidak ingin menimbulkan kesalah pahaman terlepas dari siapapun orang yang menelfon.

Deringan ponsel berhenti setelah beberapa saat. Namun kemudian berbunyi lagi. Kali ini gambar seorang pemuda. Dengan nama kontaknya yang dia kenal.

Andra.

Maharani memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut setelah beberapa kali ponsel itu terus berbunyi.

"Ha. ..

"Lu dimana sih, ga? semaleman gue nyariin nggak ketemu? lu nginep di tempatnya Tante Wina lagi? bahaya, dia lagi dicariin orang."

Maharani tak berbicara.

"Ga? lu masih tidur? Ga, wooyy!!" Andra dari seberang sana.

"Halo? Angga, ... terluka. Dia masih belum sadar." Maharani dengan suara pelan.

"Ini siapa?"

"Ra-Rani. Angga disini. Dia ... pingsan." jawab Maharani, lalu menutup telfon.

Gadis itu kemudian mengetikkan sesuatu di aplikasi chat. Sebuah alamat tempat tinggalnya, lalu dia kirim ke nomer Andra.

*****

Andra mengetuk pintu sebuah rumah sederhana sesaat setelah menerima pesan alamat dari nomor Angga.

Pintu terbuka sedikit, tampak seseorang mengintip dari dalam.

"Andra?" Maharani berujar.

Andra mengangguk. Lalu pintu pun dibuka lebar.

Deg!!

Jantung pemuda itu seakan loncat dari tempatnya. Gadis itu tepat didepannya. Dan kini dia bahkan tengah berada di rumah Maharani. Gadis yang selalu berjalan menunduk itu.

Tidak ada yang bicara sepatah kata pun. Mereka berdua sama-sama terdiam menatap sang tokoh utama yang masih belum sadarkan diri.

"Gimana .. dia bisa disini?" Andra akhirnya memulai pembicaraan.

"Aku menemukan dia pingsan di jalan raya. Wajahnya berdarah, dia tertindih motor." Maharani dengan kepala terus tertunduk tidak mau menatap lawan bicaranya. Telapak tangannya bahkan kini sangat berkeringat.

Berhadapan dengan seorang pemuda dirumahnya yang tengah kosong membuatnya sangat gelisah.

Andra tak memalingkan pandangan dari gadis yang duduk disudut dekat pintu keluar yang dibuka lebar. Dia tampak sangat ketakutan.

"Bagaimana kamu membawa dia sampai disini?" Andra bertanya lagi. Karena tidak mungkin gadis bertubuh mungil itu memapah sahabatnya sendirian yang bertubuh tinggi itu.

"Aku dibantu tukang parkir didepan. Tadinya mau aku bawa kerumah sakit, tapi aku takut ditanya banyak hal. Aku juga takut nanti mereka malah menghubungi polisi." jawabnya, semakin menundukkan kepalanya.

"Hey, ... kamu nggak ingat aku?" Andra mengalihkan pembicaraan.

"Bukankah kita satu kelas selama ini?" Maharani menjawab.

"Iya. Aku pikir kamu nggak mengenal aku." Andra terkekeh.

"Siapa yang ngga kenal?. Kamu, dan dia ... kalian sangat terkenal dikampus." Maharani sedikit mengangkat kepalanya, namun kemudian menunduk lagi tidak berani menatap lawan bicaranya.

"Ah, ... terkenal ya?" Andra tergelak. Lalu terdiam lagi setelah tak mendapat respon yang sama dari gadis didepan nya. "Bukan itu maksudku."

Maharani mendongak, kali ini agak lama menatap pemuda didepannya hampir beberapa detik.

"Engh...." terdengar suara erangan dari arah samping. Andra menoleh.

Tampak Anggara menggerakkan kepalanya pelan. Lalu matanya perlahan terbuka, pemuda itu tercenung mencoba mengumpulkan kesadarannya.

"Ga?" Andra memanggil.

"Angga?" dia mengulangi panggilannya.

Anggara menoleh, dia mengerutkan dahi. Lalu mengalihkan pandangannya kepada gadis yang duduk didekat pintu.

"Lu udah sadar?" Andra mulai bertanya.

"Gue dimana?"

"Lu di ..."

Segelas air disodorkan Maharani kedepan wajah Andra. "Mungkin dia mau minum." ucap gadis itu denga suara pelan, lalu buru-buru kembali ke tempatnya semula setelah Andra menerima gelas berisi air putih tersebut.

Angga bangkit dan mendudukkan dirinya bersandar pada kepala sofa lalu menenggak air digelas yang disodorkan angga hingga hampir habis. Kepalanya terasa pening, dan terasa lebih sakit lagi ketika dia menyentuh pelipis kirinya yang terbalut verban.

"Gue kenapa?" Angga setelah rasa sakit di kepalanya sedikit mereda.

****

"Ada yang mukul gue dari belakang, terus pas gue jatuh punggung gue diinjek muka gue ditendang, terus tangan gue ..." Angga menatap punggung tangannya yang seingatnya menjadi pemadam puntung rokok pria yang menghajarnya tadi subuh sudah berbalut verban seperti pelipis kirinya. Lalu melirik Maharani yang mengkerut di dekat pintu.

Sejenak pemuda itu terdiam. "Makasih." ucapnya, ditujukan kepada Maharani. Gadis itu mengangguk pelan. Namun masih menundukkan pandangannya.

"Lu yang kerja di kafe itu ya?" Angga tiba-tiba mengingat kejadian beberapa hari lalu.

Maharani mendongak sebentar, kemudian mengangguk, lalu menunduk lagi.

"Kamu kerja?" Andra menyela. Sekali lagi Maharani mengangguk. Tak mengeluarkan sepatah kata pun.

"Lu masih kerja disana?" Angga bertanya lagi.

Maharani kini menggeleng.

"Udah nggak?" tanya nya lagi.

Maharani mengangguk.

"Lu dipecat?"

Maharani mengangguk.

"Gara-gara waktu itu?" Anggara kembali bertanya.

Maharani tak menjawab. Gadis itu terdiam.

"Maaf," Anggara tiba-tiba.

Maharani mendongak.

Andra mengerutkan dahi, tak mengerti dengan pertanyaan-pertanyaan sahabatnya itu.

"Ini maksudnya lagi ngomongin apa sih? gue nggak ngerti." katanya.

"Aku, ..."

"Dia, ..." Angga dan Maharani buka mulut bersamaan.

"Kayaknya dia dipecat gara-gara gue." akhirnya Angga buka suara.

"Maksudnya?"

"waktu itu gue nongkrong sama Tante Wina di kafe tempat dia kerja. pas mau pulang, dia nggak sengaja numpahin kotoran ke gue. Tante Wina nggak terima, akhirnya marah dan minta manager mecat dia." Angga menjelaskan.

"Serius lu? gara-gara numpahin gitu doang? ckckck!" Andra menggelengkan kepala.

"Udah berapa hari lu nggak kerja?" Angga kembali kepada Maharani yang masih menunduk.

Gadis itu tak menjawab.

"Gue tanya berapa hari lu nggak kerja?" Angga meninggikan suaranya, membuat gadis didepannya agak tersentak.

Andra menepuk pundaknya. "Jangan galak-galak, b*go!"

"Kamu udah berapa hari nggak kerja, Rani?" Andra bertanya dengan suara lembut. Angga malah mencibir. Satu sudut bibirnya terangkat keatas.

"Sa-satu Minggu." akhirnya Rani menjawab.

"Cih! padahal gue juga nanya gitu, tapi nggak di jawab tadi."

"Lu nanyanya sambil bentak-bentak, b*go!" Andra kembali menepuk pundak sahabatnya.

Angga hanya memutar bola matanya.

"Sikap lu jelek banget sama orang yang udah nolongin lu!" Andra menggerutu.

Angga menatap gadis yang terus tertunduk itu, dahinya mengernyit.

"Lihat orang nya kalau lagi diajak" ngomong kenapa sih?" Angga berujar, sedikit kesal karena gadis ini terus saja tertunduk. "Emangnya gue nggak enak dilihat ya?" katanya lagi.

Andra terkekeh, "Pertanyaan yang aneh."

"Hah, ..." Angga meraih jaket kulit miliknya yang tersampir di kepala sofa, lalu mengenakannya tanpa kaus pelapis karena sudah dirobek saat dirinya tak sadarkan diri tadi. Dia bangkit.

"Kemana lu?" Andra ikut bangkit.

"Pulang lah. Mau tidur gue. pusing." sambil berlalu dari hadapan dua orang dihadapannya.

Namun langkahnya terhenti diambang pintu. Menatap Maharani yang masih tertunduk, lalu merogoh sesuatu dari saku jaketnya.

Sepuluh lembar uang berwarna merah dia keluarkan lalu menyodorkannya kepada Maharani. Gadis itu mendongak.

"Buat lu. Makasih udah nolongin gue." ucapnya.

Maharani menggeleng.

Angga mendengus, lalu meletakkan lembaran uang tersebut di telapak tangan gadis itu yang bertumpu dipangkuannya. Lalu pergi.

*

*

*

Bersambung ...

Hai lagi. Maaf baru update, ada kesibukan yang nggak bisa ditunda. semoga kalian masih mau baca cerita ini. Sekalian juga like koment sama vote nya juga ya😁

Terpopuler

Comments

TongTji Tea

TongTji Tea

catut aja tuh gigi bungsu angga 😑

2022-11-17

0

𝐀⃝🥀🏘⃝Aⁿᵘ🍾⃝ᴄͩнᷞıͧᴄᷠнͣı📴

𝐀⃝🥀🏘⃝Aⁿᵘ🍾⃝ᴄͩнᷞıͧᴄᷠнͣı📴

gila ya.... masa gitu caranya berterima kasih sama orang?
setres tuh org 😠

2022-01-30

4

Osin Saharamaryana

Osin Saharamaryana

heleh ntar bucin lu ngga galak amat sama Rani

2021-12-03

2

lihat semua
Episodes
1 Pergi
2 Deal!!
3 Bebas
4 Play
5 Kedatangan Sagara
6 Easy
7 Maharani
8 Meet
9 Mimpi Buruk
10 Save
11 Sign
12 Rasa
13 Care
14 Tell
15 Hati Angga
16 Berbuat Baik
17 Heartbeat
18 Menyangkal
19 Perasaan Andra
20 Her
21 Bestfriend
22 Wound
23 Weak
24 Be Mine!
25 Fikka
26 Opened
27 Curiga
28 Sebuah Ide
29 Beast
30 Fall
31 Fight
32 Sadar?
33 Aku Sayang Kamu
34 Lies
35 Down
36 Hit!
37 Heal
38 The Thing
39 Romantis
40 Curhat
41 Sesuatu
42 Tentang Seseorang
43 Hal Menjengkelkan
44 Obrolan Pagi
45 Tugas
46 Hurt
47 The Cure
48 A Gift
49 Mengajari
50 Jadi Therapist Kamu?
51 Salah Faham
52 Salah Faham#2
53 Mengerti
54 Pulang
55 Seperti Anak Kecil
56 Memory
57 Kembali
58 Hugg
59 Tertangkap Basah
60 Baju
61 Curhat #2
62 Ngojek?
63 Rumah
64 Let
65 Orang Asing
66 Kabur
67 Taking
68 Meminta
69 Let Her Go
70 Menikah?
71 Pulang Ke Rumah
72 Malam Pertama
73 Fitting
74 Perempuan
75 Barchelor Party
76 Biar Kamu Terbiasa
77 Pernikahan Sagara
78 Jealoussy
79 Terjebak Hujan
80 Kekhawatiran Ayah
81 Tausiyah
82 Buku Harian Sagara
83 Di Suatu Pagi
84 Keluarga
85 Belajar Romantis
86 Belanja
87 Makan
88 Magang
89 Kecemburuan Angga
90 Kamu Bisa?
91 Obrolan Pagi#2
92 Bercanda
93 Punya Anak?
94 Hal Menjengkelkan #2
95 Sibuk
96 Elang
97 Hal kecil
98 Jadi Aneh
99 Pegang Aja?
100 Bekerja
101 Hal Konyol
102 Kangen
103 Tidak Pantas
104 Ingin Nonton Konser
105 Hanya Masa Lalu
106 Tentang Sebuah Rasa
107 Balas Dendam?
108 Baby nya Kangen!
109 Kamu Nakal!
110 Gerah
111 Konser Dan Mancing
112 Ibu
113 Kehilangan
114 Capcai Kenangan dan Kegagalan
115 Check Up
116 Check Up Lagi?
117 Kunjungan Andra
118 Belajar Dan Modus
119 Mandi Lagi?
120 Kangen #2
121 Cuma Cari Perhatian
122 Serius
123 Crash
124 Luka
125 Aku Membutuhkanmu!
126 Buta?
127 Aku Baik-baik Saja
128 Terungkap
129 Tidak Usah Di Bahas
130 Keras Kepala
131 Kabar Baik
132 50 persen
133 Mata Biru
134 Rasa
135 Bayinya Ngambek
136 Buku Harian Maria
137 Rasa Takut
138 Agony
139 Baby!
140 Hari Baru
141 Rania Khaira Yudistira
142 Ekstrapart#1
143 Ekstrapart#2
144 Ekstrapart#3
145 Ekstrapart#4
Episodes

Updated 145 Episodes

1
Pergi
2
Deal!!
3
Bebas
4
Play
5
Kedatangan Sagara
6
Easy
7
Maharani
8
Meet
9
Mimpi Buruk
10
Save
11
Sign
12
Rasa
13
Care
14
Tell
15
Hati Angga
16
Berbuat Baik
17
Heartbeat
18
Menyangkal
19
Perasaan Andra
20
Her
21
Bestfriend
22
Wound
23
Weak
24
Be Mine!
25
Fikka
26
Opened
27
Curiga
28
Sebuah Ide
29
Beast
30
Fall
31
Fight
32
Sadar?
33
Aku Sayang Kamu
34
Lies
35
Down
36
Hit!
37
Heal
38
The Thing
39
Romantis
40
Curhat
41
Sesuatu
42
Tentang Seseorang
43
Hal Menjengkelkan
44
Obrolan Pagi
45
Tugas
46
Hurt
47
The Cure
48
A Gift
49
Mengajari
50
Jadi Therapist Kamu?
51
Salah Faham
52
Salah Faham#2
53
Mengerti
54
Pulang
55
Seperti Anak Kecil
56
Memory
57
Kembali
58
Hugg
59
Tertangkap Basah
60
Baju
61
Curhat #2
62
Ngojek?
63
Rumah
64
Let
65
Orang Asing
66
Kabur
67
Taking
68
Meminta
69
Let Her Go
70
Menikah?
71
Pulang Ke Rumah
72
Malam Pertama
73
Fitting
74
Perempuan
75
Barchelor Party
76
Biar Kamu Terbiasa
77
Pernikahan Sagara
78
Jealoussy
79
Terjebak Hujan
80
Kekhawatiran Ayah
81
Tausiyah
82
Buku Harian Sagara
83
Di Suatu Pagi
84
Keluarga
85
Belajar Romantis
86
Belanja
87
Makan
88
Magang
89
Kecemburuan Angga
90
Kamu Bisa?
91
Obrolan Pagi#2
92
Bercanda
93
Punya Anak?
94
Hal Menjengkelkan #2
95
Sibuk
96
Elang
97
Hal kecil
98
Jadi Aneh
99
Pegang Aja?
100
Bekerja
101
Hal Konyol
102
Kangen
103
Tidak Pantas
104
Ingin Nonton Konser
105
Hanya Masa Lalu
106
Tentang Sebuah Rasa
107
Balas Dendam?
108
Baby nya Kangen!
109
Kamu Nakal!
110
Gerah
111
Konser Dan Mancing
112
Ibu
113
Kehilangan
114
Capcai Kenangan dan Kegagalan
115
Check Up
116
Check Up Lagi?
117
Kunjungan Andra
118
Belajar Dan Modus
119
Mandi Lagi?
120
Kangen #2
121
Cuma Cari Perhatian
122
Serius
123
Crash
124
Luka
125
Aku Membutuhkanmu!
126
Buta?
127
Aku Baik-baik Saja
128
Terungkap
129
Tidak Usah Di Bahas
130
Keras Kepala
131
Kabar Baik
132
50 persen
133
Mata Biru
134
Rasa
135
Bayinya Ngambek
136
Buku Harian Maria
137
Rasa Takut
138
Agony
139
Baby!
140
Hari Baru
141
Rania Khaira Yudistira
142
Ekstrapart#1
143
Ekstrapart#2
144
Ekstrapart#3
145
Ekstrapart#4

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!