*
*
Maharani merasa sesak, seperti ada sesuatu menindih tubuhnya. Dia tidak bisa bergerak. Matanya terbuka, tampak seseorang berada diatasnya. Wajahnya samar dalam kegelapan lampu kamar pada tengah malam itu.
"Ibu, ..." dia merintih.
"Ssstt ... jangan berisik," ucap orang itu yang dia kenali dari suaranya sedang mengecupi lehernya.
"Ayah?"
Pria itu mengangkat kepala dan menyeringai dalam kegelapan.
"Ayah, aku ...
"Diamlah, maka ini akan berlalu dengan cepat." pria itu menarik piyama tidur Maharani, namun gadis itu menahannya sekuat tenaga.
"Jangan!" cicitnya, hampir menangis.
Pria itu mendengus. Meneruskan aksinya menarik pakaian tidur putrinya.
"Tidak, jangan. Ibu!" Maharani hampir berteriak sebelum akhirnya pria itu membungkam mulut kecil gadis itu dengan tangan besarnya. Sementara tangan satunya melucuti pakaiannya hingga tak tersisa satupun.
Maharani meronta, dua tangannya berusaha melepaskan tangan lelaki itu dari mulutnya agar bisa berteriak dan bernapas. Sementara dua kakinya menendang kesegala arah. Namun percuma, tubuh besar pria itu terlalu kuat, dia tak bisa melepaskan diri.
Maharani menjerit dalam bungkaman tangannya ketika pria itu memasuki dirinya secara kasar, mengoyak keperawanan gadis berusia 20 tahun itu dengan kejam.
****
Maria menggedor pintu kamar Maharani dengan keras. Perempuan itu mendengar putrinya menjerit-jerit tak karuan.
"Rani! ini ibu sayang! bangun! buka pintunya." dia berteriak.
Perempuan itu nenggapai-gapai ke atas pintu, siapa tahu kunci cadangan masih tersimpan disana. Sengaja, dia selalu menyimpan kunci cadangan disana agar dia bisa masuk ke kamar putrinya jika sewaktu-waktu Maharani mengalami mimpi buruk lagi semacam ini. Dia tahu, putrinya itu selalu mengunci rapat kamarnya selama dua tahun ini.
Ketemu!
Maria lantas memasukkan kunci kelubangnya, dan memutar searah jarum jam. Kebiasaan Maharani yang melepaskan kunci dari tempatnya memudahkan dia untuk membuka pintu itu, dan masuk.
Maharani terus menjerit dibawah selimut. Maria berlari menghampiri putrinya yang tengah dikuasai mimpi buruk. Wajahnya telah basah oleh keringat. Gadis itu terlihat sangat menderita.
"Sayang, ..." Maria mengguncangkan tubuh kecil putrinya, namun tak berhasil menyadarkan gadis itu dari mimpi buruknya.
"Ibu! ibu! ibu!" jerit pilu Maharani mengoyak hati Maria.
Sekali lagi Maria mengguncang tubuh Maharani dengan keras. Dan berhasil. Gadis itu tersadar, dan berhenti menjerit.
"Rani?" panggilnya, kemudian gadis itu menoleh, napas memburu cepat keluar masuk paru-parunya
"Ibu!!" Maharani mencicit, lalu menghambur kepelukan ibunya.
"Hanya mimpi, sayang. Sudah. Ibu ada disini sekarang."
"Ibu, ... huhu...." gadis itu meraung sejadi-jadinya.
*
*
*
*
Angga melepaskan pengaman yang membungkus alat tempurnya setelah pergumulan dengan Wina berakhir. Lalu beringsut untuk membersihkan diri setelah memastikan perempuan cantik disampingnya telah tumbang kelelahan. Pemuda itu menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang Wina hingga kelehernya.
Dua puluh menit kemudian Angga keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar, menoleh kearah tempat tidur, Wina masih terlelap tak terganggu. Dia segera mengenakan pakaian, meraih ponsel, lalu menenteng helm fullface miliknya. Kemudian segera keluar dari dalam kamar hotel tersebut.
****
Angga mengendarai CBR 250 RR nya dalam kecepatan sedang tanpa mengenakan helm pada menjelang subuh itu. Bahkan bisa dibilang pelan, dia menaruh helm diatas tangki motor tak seperti biasanya. Melewati taman kota yang masih remang-remang ditengah udara dingin kota Bandung yang membekukan hingga ketulang. Dia menikmati udara dingin itu dengan memejamkan mata.
Bugh!
Tiba-tiba sesuatu menghantam punggungnya dari belakang. Serangan mendadak yang tak disangka-sangka oleh pemuda itu membuat motor yang tengah dia kendarainya oleng ketengah jalanan yang lengang. Angga tersungkur, dengan kaki kiri yang tertimpa motor besarnya.
Angga berusaha bangkit.
Belum pemuda itu menyadari apa yang tengah terjadi, sebuah kaki dengan sepatu boot hitam menghantam wajahnya bertubi-tubi, membuat pelipis kirinya robek dan mengeluarkan darah segar.
"Arrgghh!!" Angga menggeram, ketika seseorang menginjak punggungnya dengan keras. Lalu ada yang menjambak rambut lurusnya dengan kasar hingga kepalanya mendongak.
"Berani lu deketin lagi Wina, abis lu!" bisik seorang pria ditelinganya. Lalu mematikan puntung rokok yang masih berpendar di punggung tangan pemuda itu hingga dia meraung.
Pria itu menghempaskan kepala Angga hingga membentur aspal, lalu kembali menendang bagian tubuh lain pemuda itu, beberapa orang lainnya pun ikut melakukan hal yang sama kepadanya, hingga dia tak sadarkan diri.
*
*
*
*
Maharani menatap kepergian ibunya dari luar kereta api yang mulai melaju subuh itu. Perempuan 50 tahun itu harus pergi keluar kota untuk menjalani tugasnya sebagai asisten koki disebuah catering yang cukup besar dikota kembang. Maria terpilih dalam tim koki yang akan menangani pesta pernikahan disebuah hotel besar.
Maharani segera keluar dari area statsiun, memberhentikan sebuah angkot yang menuju kearah kontrakan sederhana tempat dimana dia tinggal selama dua tahun ini bersama ibunya.
Sepuluh menit berlalu, dan sampailah Maharani disebuah pemberhentian bus dekat taman kota yang sering dia kunjungi.
Angkot segera berlalu setelah gadis mungil itu turun dan memberikan beberapa lembar uang duaribuan kepada sang sopir.
Namun betapa terkejutnya dia ketika berniat menyeberangi jalan, tampak seseorang tergeletak tak sadarkan diri tertindih motor besar berwarna merah ditengah jalan.
Maharani melihat kesekeliling, tidak ada siapapun. Jalan itu masih sepi. Gadis itu melihat layar ponselnya, waktu menunjukkan pukul setengah empat dini hari.
Hatinya yang lembut tergerak untuk melihat keadaan orang itu yang ternyata sudah tak sadarkan diri.
"Astaga, mas!" Maharani bersimpuh memeriksa keadaannya. Meraih kepala pria yang tersungkur ke atas aspal.
Deg!
Orang ini?! gumamnya.
Segera tangannya melepaskan kepala pemuda itu yang telah dia kenali. Anggara Yudistira, playboy terkenal di kampus yang dikelilingi banyak mahasiswi yang rela menyerahkan tubuhnya demi kekuasaan sesaat.
Angga mengerang, dalam ketidak sadarannya dia merasakan sakit pada bagian wajahnya yang kembali membentur aspal. Lalu terdiam lagi.
Tangan Maharani bergetar, menyibak rambut lurus pemuda itu untuk meyakinkannya bahwa penglihatannya tidak salah.
Ya, benar! Meskipun wajahnya telah dipenuhi darah, namun tetap terlihat jelas jika itu dia.
Pemuda sialan yang membuatnya dipecat dari kafe tempatnya bekerja selama tiga bulan ini. Si pemuda bejat yang dia ketahui sering bergonta-ganti ganti pasangan. Banyak gadis dikampusnya yang sudah rela menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati pemuda ini.
Arrgghh! Sialan! kenapa aku harus bertemu lagi dengan dirinya?
Maharani mundur beberapa langkah. Namun tatapannya masih tertuju ke tubuh yang tertelungkup di aspal. Kembali dia melihat sekeliling, belum ada orang yang lewat pada subuh itu.
Suara orang mengaji terdengar dikejauhan tanda sebentar lagi adzan subuh akan berkumandang.
Nanti pasti akan ada yang menolong dia. batinnya, lalu memutar tubuhnya untuk segera pergi dari sana. Namun sayup-sayup terdengar gumaman.
Maharani menghentikan langkahnya.
"Tolong!" pemuda itu bergumam.
Maharani berbalik.
Tampak jari-jari Angga bergerak samar. Perlahan dia mengangkat kepalanya. Lalu mendongak, pandangan mereka bersirobok.
"Tolong," Angga kembali bergumam.
*
*
*
*
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Rini Lawati
hajar ran Bang annga nya, 😂😂😂
2022-01-27
2
Aprilia***
aduh bang Angga kalo Deket mah aq tolongin😁😁😁
2022-01-26
3
Osin Saharamaryana
ketemu jodohnya 🤭🤭
2021-12-03
1