*
*
Suara musik menghentak keras disebuah ruangan besar temaram itu. Puluhan orang bergoyang mengikuti irama yang keluar dari speaker besar yang terus menggema hingga hampir dini hari, pada malam akhir pekan itu.
Angga duduk bersandar pada kepala sofa di sisi lain ruangan. Dengan segelas minuman beralkohol ditangannya. Beberapa menit kemudian datang Andra diikuti beberapa orang perempuan berpakaian minim. Sebagian dari mereka tampak berusia dewasa, seperti biasa, namun masih terlihat cantik. Entah memang cantik asli atau polesan make up.
"Angga!" seorang perempuan dibelakang Andra yang sudah dikenalnya memanggil.Tante Lucy. Lalu mengulurkan tangannya untuk merangkul pundak pemuda tampan itu, yang kemudian memeluknya.
"Hai Tan, ..." balas Angga, dengan senyuman dari bibir seksinya.
"Lama nggak ketemu ya? kamu langsung anteng sama Wina." ucapnya, diiringi gelak tawa yang ceria.
Angga terkekeh.
"Sekarang nggak lagi sama Wina?" tanya nya lagi.
Angga menggeleng.
"Bisa dong kalau aku kenalin sama yang lain?" Lucy menawarkan.
Angga mengangguk.
Kemudian Lucy mengenalkan beberapa teman yang dia bawa. Dan begitulah seterusnya. Perkenalan berlanjut ke obrolan ringan, diiringi dengan saling menuangkan minuman. Sebagian dari mereka turun kelantai dansa. Bergoyang mengikuti irama yang menghentak. Dan setelah beberapa jam larut dalam pesta, mereka memutuskan untuk keluar dari diskotik. Menuju sebuah hotel dipusat kota Bandung.
****
Pesta belum usai bagi pemuda ini. Ia menerima tawaran lain dari seorang perempuan berusia sekitar 34 tahun bernama Sherry. Perempuan cantik berwajah oriental dengan mata agak sipit yang berambut kecoklatan sebahu.
Yang terus meracau dibawah kendali Angga. Tubuh sintalnya bergerak-gerak tak karuan. Sesekali mengeliat lalu melengkung menerima sentuhan nakal dari pemuda itu. Desahan erotis terus keluar dari mulut seksinya. Dua tangannya menggapai-gapai meraih tubuh kekar diatasnya yang sedang berpacu memuaskan hasratnya.
"oh, ... sayang..." desahannya memenuhi ruangan temaram itu. Napasnya kian memburu seiring sesuatu yang terus mendesak. Yang susah payah ditahannya sejak tiga puluh menit yang lalu. Namun sepertinya dia sudah tak bisa lagi menahannya. Kini hal itu terus berkumpul di satu titik inti pada tubuhnya.
Tubuh Sherry mengejang, kedua tangannya memeluk tubuh Angga dengan erat, jeritan lolos begitu saja dari mulutnya seiring tubuh bagian bawahnya yang mengetat dan berdenyut kencang.
Sementara Angga memacu tubuhnya semakin cepat. Mengejar pelepasan yang telah dicapai perempuan dibawahnya. Dan didetik berikutnya, klimaks pun menggulung semua indera pada tubuhnya. Pada hentakan terakhir yang begitu dalam Angga menggeram.
***
Pemuda itu menarik diri setelah beberapa saat. Melepaskan pengaman yang telah dipenuhi cairan dari tubuhnya, lalu melemparkannya kearah tong sampah disisi tempat tidur. Kemudian menghambur kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
****
"Umur kamu berapa?" tanya Sherry ketika mereka kini sudah sama-sama berpakaian. Angga duduk ditepi ranjang, mengenakan sepatu yang tadi dia lepas sebelum pergumulan terjadi. Sementara Sherry duduk bersandar pada kepala ranjang.
"22." jawab Angga, pendek seperti biasa.
"Kamu sangat muda." ucap perempuan itu, "Sudah lama kerja seperti ini?" tanyanya lagi.
"Beberapa bulan." Angga menoleh, lalu meraih lembaran uang merah yang disodorkan perempuan cantik itu. Memasukkannya kedalam saku Jeansnya.
"Tapi kamu seperti yang sudah lebih berpengalaman." Sherry melanjutkan.
Angga hanya tersenyum. Jelas saja dirinya berpengalaman. Kemampuan nya memuaskan hasrat lawan jenis sudah diasah sejak bangku awal kuliah. Setelah dirinya mengalami hal tersebut pertama kali dengan Mischa, kakak kelasnya ketika masih tinggal di Jakarta beberapa tahun yang lalu.
Heh, Mischa.
Perempuan pertama yang dia tiduri, yang merenggut keperjakaannya di semester awal kuliahnya. Yang kemudian harus berhenti kuliah karena menikah akibat hamil diluar nikah. Sangat disayangkan, hubungan rahasia mereka harus berakhir ketika kehamilan gadis itu menginjak usia dua bulan dan harus menikah dengan tunangannya, mahasiswa tingkat akhir yang masih satu kampus dengan mereka.
Segila itu hidup.
Angga terkekeh, lalu dia sadar dari lamunannya.
"Kamu bisa nggak kalau nanti saya hubungi lagi?" Sherry mendekat, lalu mengusap pundak lebar dihadapannya.
"Mmm ... lihat aja nanti, ya Tan? aku nggak bisa janji." jawab Angga, lalu bangkit dari duduknya. Kemudian meraih jaket kulit kesayangannya dan mengenakannya saat itu juga.
"Oke, aku nanti hubungi Lucy, ..." ucap Sherry.
"Kalau gitu aku pamit."
Sherry mengangguk.
Pemuda itu segera keluar dari kamar hotel tempat mereka bergumul beberapa saat yang lalu.
*
*
*
*
*
"Bangun lu!" Andra mengguncangkan tubuh tinggi sahabatnya yang terlelap di sofa sejak subuh tadi. Angga memutuskan untuk pulang ke apartemen nya setelah pemuda itu menghubunginya begitu urusannya dengan Lucy selesai. Dan mereka pulang bersama.
"Lu nggak tidur?" tanya Angga pada sahabatnya yang baru saja mandi. Terlihat dari rambut lurus pemuda itu yang masih basah.
"Tanggung, gue mau pergi." jawab Andra, sambil mengusak rambut basahnya yang masih meneteskan air.
"Kemana lu?" Angga masih mengerjap-ngerjap mengumpulkan kesadarannya disela rasa pening yang menyerang akibat minuman beralkohol yang ditenggaknya semalam.
"Ada deh."
"Cih, maen rahasia-rahasiaan." Angga bangkit dan merubah posisinya menjadi duduk bersandar. Menyugar rambut hitamnya dan mengusap wajahnya kasar.
Andra tak menyahut. Pemuda itu mengenakan stelan olahraga. Joggerpants berwarna abu-abu dipadukan dengan kaus putih polos dilapisi Hoodie Hitam agak kedodoran.
"Lu mau olahraga?" Angga bertanya.
"Kali-kali jogging lah hari Minggu ini." jawab Andra, sambil mengenakan sepatu olahraganya.
"Sejak kapan lu jogging?"
Andra tak menjawab lagi. Kini dia telah siap pergi.
"Lu mau disini atau balik ke kosan?" sebelum pergi Andra bertanya pada sahabatnya yang masih betah duduk di sofa dalam keadaan berantakan.
"Kosan deh. Tunggu." jawab Angga seraya bangkit dari sofa dan menghambur ke kamar mandi untuk mencuci muka dengan cepat.
****
"Gue turun disini deh," Andra menepuk pundak Angga yang mengemudikan CBR merahnya. Mereka berhenti tepat di sekitar lapangan Gazebo yang sudah ramai pengunjung yang berolahraga pada Minggu pagi itu.
"Lu serius?" Angga mencibir
"Udah, lu pulang aja sono, bobo yang nyenyak, siapa tahu tar malem Tante Sherry booking lu lagi." Andra sambil tergelak.
"Idih, ... ogah." Angga bergidik.
"Kenapa lu? dia nggak enak? atau bayarannya kecil?" Andra mengangkat kedua alisnya secara bersamaan.
"Setelah kejadian gue dipukul orang yang nyari tante Wina itu, kayaknya gue mutusin untuk one night stand aja. Satu orang sekali BO. Nggak mau lanjutin sampai berkali-kali. Males gue." ujar Angga, melepas helm full face ya sebentar.
"Hahaha ... kapok lu?" Andra kembali tergelak.
"Ya, ... nggak gitu juga. Gue males aja. Harus berurusan sama orang yang gue nggak tahu apa masalah yang lagi mereka hadapi. Gue udah cukup pusing mikirin hidup gue sendiri, masa harus ditambah sama masalah hidup orang lain.?"
"Curhat lu bro?" Andra menepuk pundak sahabatnya itu.
Angga mencebik sambil mengangkat kedua bahunya bersamaan.
"Ya udah, Gue joging dulu." Andra berpamitan.
Angga mengangguk, diapun melakukan hal yang sama. Kembali memacu motor besarnya ke arah kosan tempat dimana dirinya tinggal beberapa bulan ini.
*
*
*
Gadis itu disana, tengah menyebarkan famflet ke setiap pengunjung yang memenuhi sekitaran lapangan Gazebo pada Minggu pagi itu.
Maharani.
Sekuat tenaga dia menghalau rasa gugupnya setiap menghadapi orang banyak. Tekadnya sudah bulat dia harus bisa menangkal rasa paniknya ketika berhadapan dengan orang-orang.
Apalagi ditengah kerumunan seperti ini. Tidak mungkin selamanya dia hidup dalam keadaan yang sama untuk selamanya. Menghindari orang-orang untuk meredam ketakutan. Karena nyataannya itu sama sekali tidak membantunya. Yang ada hanya menghambat hidupnya selama ini. Dia harus kehilangan pekerjaan dan itu berdampak pada apa yang diimpikannya yang harus tertunda.
Berkali-kali Maharani menghirup napas dalam-dalam sekedar untuk menetralisir kegugupannya. Dan ini berhasil. Walaupun kepalanya masih tetap agak tertunduk untuk menghindari pandangan orang-orang, tapi setidaknya dia bisa menjalani ini pelan-pelan. Dia harus meringankan beban ibunya dan mendapatkan uang demi melanjutkan cita-citanya.
***
Andra berdiri menatap gadis itu dari kejauhan. Sebuah senyum terbit disudut bibirnya. Perasaannya tak dapat digambarkan ketika menemukan wajah lugu itu. Yang sesekali mencoba menegakkan kepala. Menjalani pekerjaan diakhir pekan sebagai penyebar famflet sebuah kafe cepat saji yang baru saja buka minggu ini.
"Gue pikir lu beneran olah raga?" suara yang dikenal Andra menginterupsi lamunan pemuda itu. Dia menoleh kebelakang. Seketika senyuman itu sirna dari bibirnya.
"Taunya lu anteng liatin tuh anak." Angga melanjutkan.
"Ngapain lu disini? bukannya tadi lu pulang?" Andra dengan raut kesalnya.
"Tadinya. Tapi gue males. Di kosan sendirian. Gue balik lagi kesini." Angga dengan seringaian jahilnya.
"CK!" Andra berdecak kesal. Dia mendelik.
"Apaan?" Angga dengan tidak tahu malunya.
"Lu ngeselin, Ga!" ucap pemuda yang usianya selisih beberapa bulan dari Angga itu.
"Lu ngecengin dia ya, Ndra?" Angga masih menatap kearah Andra menatap beberapa menit yang lalu.
"Bukan urusan lu." pemuda itu memutar tubuhnya, berjalan menjauh.
"Lu beneran suka sama dia?? Kenapa nggak bilang aja langsung? malah diem-dieman gini?" Angga mengikuti langkah sahabatnya.
"Terserah gue lah." Andra duduk
"Bilang gih. Geli gue lihatnya . Lu kayak anak SMP lagi puber." Angga tergelak.
"Sialan lu anjim!" Andra berbalik, menendang kaki sahabatnya sambil berjalan mundur.
Angga menghindar dengan gelak tawa puas hingga kepalanya tertarik kebelakang.
Mereka berdua duduk di pinggir lapangan, diantara kerumunan yang tengah beristirahat usai olahraga pagi mereka mengelilingi lapangan paling terkenal di kota Bandung itu.
"Gue malu." tiba-tiba Andra memulai percakapan setelah mereka terdiam cukup lama.
"Malu?" Angga menoleh, dia mengerutkan dahi.
"Rasanya gue nggak pantes deketin dia." Andra melanjutkan.
"Maksud lu?"
Andra menatap kedepan. Bibirnya berkedut hampir mengucapkan sesuatu.
"Rani kayaknya anak baik-baik. Gue bahkan nggak pernah lihat dia bergaul, atau senggaknya jalan sama temen-temennya. Yang gue tahu seringnya dia kerja. Walaupun berpindah-pindah." Andra mulai bercerita.
"Lu udah lama kenal sama dia?" Angga mulai penasaran.
"Gue tahu dia dari awal masuk kampus. Sejak orientasi. Tapi kayaknya dia nggak ngeuh."
"Sialan lu! selama itu tu bocah lu anggurin?"
"Gue suka diem-diem ngikutin dia ke perpustakaan, atau ketoko buku, atau kadang juga gue ikutin dia sampai di halte bus pas mau pulang." Andra tergelak mengingat kekonyolannya di tahun-tahun awal dia mengenal gadis itu.
"Dan dia nggak nyadar sama sekali?"
"Kayaknya nggak." Andra menggeleng.
"Parah lu, bro!" Angga menepuk pundak sahabatnya. "Lu pinter naklukin tante-tante sampai mereka ketagihan, tapi lu nggak berani deketin cewek seumur yang lu sukai."
"Itu lain ceritanya, pea!" Andra kembali menendang kaki sahabatnya yang bertumpu di tanah.
Angga tergelak.
"Deketin sana!" Angga mendorong pundak sahabatnya.
"Apaan?"
"Sana samperin dia, terus lu bilang kalau lu suka sama dia." ucap Angga.
"Ogah, gue malu."
"Dih, malu?"
"Udah gue bilang gue brasa nggak pantes deketin dia." Andra berujar.
"Kenapa lu nggak pantes? lu ganteng bro!"
"Ih, ..." Andra bergidik seolah baru saja menemukan hal menjijikan.
"Apaan?" Angga mengerutkan dahi.
"Lu bilang gue ganteng. Sehat lu?" pemuda itu bergeser menjauh.
"Apaan pea!" Angga berteriak.
"Lu masih normal, kan? masih suka cewek kan, Ga?"
"Maksud lu?"
"Lu barusan bilang gue ganteng, jangan-jangan lu udah berubah."
"B*go!" Angga memukul kepala Andra cukup keras, hingga pemuda itu berteriak. "Maksud gue kenapa lu merasa nggak pantes deketin Rani, padahal lu ganteng. Dia juga pasti suka sama lu." Angga menjelasksn.
"Oh, ..."
Angga menggelengkan kepala.
"Gue malu tiap mau deketin dia. Mau nyapa doang juga rasanya gue minder."
"Iya kenapa? apa yang bikin lu minder?"
"Karena kerjaan gue."
Lalu mereka berdua terdiam beberapa saat. Berkutat dengan pikirannya masing-masing.
"Nggak usah minder," Angga menepuk pundak sahabatnya, "Lu nggak akan selamanya kayak gini. Nanti, setelah lulus kuliah terus kerja, gue yakin lu bakalan jadi orang sukses. Dan keluar dari kerjaan ini." Angga seolah menguatkan.
Andra terkeheh, agak terharu sebenarnya mendengar kata-kata sahabatnya yang keras kepala ini.
"Tenang, ..." Angga berdiri, "Gue bantuin lu."
"Maksud lu?"
Angga menyeringai sekilas, lalu berjalan kearah tempat dimana dia melihat Maharani masih membagi-bagikan kertas kecil bergambar bermacam-macam makanan.
"Rani!" teriaknya yang langsung menarik perhatian beberapa orang ditempat itu.
*
*
*
Bersambung ...
Hai readers ... mau like komentar sama vote nya dong. ...
Maharani
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Cici_sleman
jd orng penting di nikolai grup donk😍
2024-03-24
0
Ai Aisah
cantik nya
2023-12-02
0
sweetheart quiny
whaaaa..... dilraba dilmurat euy yg jd maharani.. 😍😍😍
2022-04-16
1