*
*
"Ini punya Angga, ini punya kamu, Andra." pagi itu tante Lucy menyerahkan masing-masing sebuah amplop yang isinya tentu saja uang. Pembayaran atas pekerjaan mereka menyenangkan perempuan-perempuan kesepian dalam beberapa hari ini.
"Oh iya," Lucy menoleh kearah Angga. "Kamu nggak ambil tawarannya Sherry? lumayan loh buat tambahan."
Angga berpikir sebentar, kemudian menggeleng. "Kayaknya aku ambil ONS aja Tan, atau BO an biasa aja. Nggak mau yang tetap kayak gitu." jawabnya, memasukkan amplop tersebut ke saku jaket denim bagian dalamnya.
"Kenapa?"
"Dia trauma, Tan." Andra menyela sambil tergelak.
"Trauma?"
"Dia takut dihajar kayak waktu itu, sama orang suruhannya mantan suami Tante Wina."
"Hah? beneran itu orangnya mantan si Wina?" Lucy mengerutkan dahi.
Andra mengangguk.
"Apa maunya coba?"
Andra mengangkat kedua bahunya bersamaan.
"Kalau Sherry emang single sih. dia belum nikah sama sekali, jadi nggak punya mantan." Lucy menjelaskan.
"Ah, ... sama aja. Lagian aku males diribetin. Cewek kalau udah kenal akrab suka banyak tuntutan, apalagi mereka merasa udah bayar. Jadi banyak maunya." Angga yang dari tadi diam saja.
Andra dan Lucy tertawa bersamaan.
"Eh, emang beberapa hari kemarin Wina nelfon sih, nanyain kamu, Ga." Lucy bicara lagi.
Angga terdiam.
"Kamu blokir nomornya ya?" lanjut Lucy.
Angga mengangguk. "Males lah." pemuda itu bangkit.
"Kemana lu?" Andra mengikuti dengan pandangan matanya.
"Pulang, terus kuliah." Angga menjawab.
"Tumben." Andra bergumam.
Angga mendelik, melanjutkan langkahnya keluar dari apartemen Lucy.
"Aku juga pulang ya Tan, makasih." Andra pun bangkit, lalu setengah berlari mengikuti sahabatnya keluar dari tempat itu.
*
*
*
*
"Mulai rajin lu?" Andra yang kini berada dibalik kemudi, memacu mesin beroda empat miliknya menuju kampus, bersama Angga yang tak membawa tunggangan garangnya kali ini.
"Kayaknya gue harus mulai mikir nih. Nggak mungkin selamanya hidup gue kayak gini." Angga merebahkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Apaan?" Andra terkekeh.
"Soal kuliah, ..."
Andra menganggukkan kepala apanya. "Bagus deh, akhirnya lu sadar juga."
"Anjim lu! emangnya selama ini gue nggak sadar apa?" Angga meninju pundak sahabatnya yang tengah memegang kemudi.
Andra tergelak, "Ya biasanya lu ogah-ogahan kalau kuliah. Tapi akhir-akhir ini lu ada peningkatan ya? udah mau Dua Minggu kayaknya lu hadir terus nggak pernah telat, apalagi bolos."
Angga terdiam.
"Lu lebih bersemangat ya sekarang?" Andra terkeheh, "Apa yang bikin lu semangat kuliah sekarang?" kini Andra bertanya, ketika mobil berhenti tepat pada saat lampu merah didepan menyala.
Angga berpikir, "Apa ya? nggak ada. Selain ..." pikirannya melayang kepada seorang gadis yang bekerja di gudang swalayan Vira. Yang setiap pagi dia kunjungi untuk sekedar melihat wajah bersemangatnya yang selalu menular padanya akhir-akhir ini.
Maharani, yang selalu bertanya setiap kali mereka akan berpisah. "Kamu hari ini kuliah, kan?" yang entah mengapa kalimat tersebut kini seolah-olah menjadi perintah permanen yang tertanam di alam bawah sadarnya. Yang membuatnya terus pergi ke kampus mengikuti pelajaran walaupun tak satupun dari hal itu yang dia mengerti.
"Sagara." ucap Angga dengan pandangannya yang tertuju ke luar jendela mobil yang ia tumpangi.
****
"Kayaknya gue nanti mau nemuin Rani ah, ..." Andra setelah terdiam cukup lama, kini mereka telah berada didalam kelas menunggu mata kuliah pertama dimulai.
Angga menoleh, "Dimana?" dia bertanya.
"Di tempat kerjanya." jawab Andra, bersemangat.
"Mau ngapain?" Angga bertanya lagi, tiba-tiba dirinya merasa penasaran.
"Mau ngajak dia jalan." Andra menjawab dengan santai.
Angga tertegun, dia mengulum bibirnya kuat-kuat. Entah mengapa hatinya terasa ngilu.
"Lu mau ikut?" kini Andra yang bertanya, lebih seperti sebuah ajakan.
"Ngapain gue ikut?"
"Ya kali aja lu juga mau nemuin dia," pemuda itu menoleh ke arah sahabatnya. "kayak kemarin-kemarin." lanjutnya, dingin.
"Hah? maksud lu?"
Andra terkekeh, "Gue kok ngerasa kalau lu suka sama dia?"
"Apaan? gue? suka sama Rani?" Angga menunjuk dirinya sendiri.
Andra mengangguk.
"Lu kalau bercanda suka kebangetan." Angga mendorong pundak sahabatnya diikuti tawa yang menggema di seluruh ruang kelas yang riuh pada pagi hari itu.
Andra memperhatikan.
"Dia bukan tipe gue. Tampang anak kecil gitu, terlalu imut buat gue mah." Angga melanjutkan.
"Yakin lu?" Andra bertanya lagi.
"Yakin lah."
"Awas nyesel lu!" Andra sambil tergelak.
Angga terdiam.
***
Dan, disinilah mereka akhirnya. Sepulang kuliah, duduk bertiga di teras swalayan pada sore hari saat gadis itu telah menyelesaikan pekerjaannya.
"Malah diem-dieman," Angga memecah keheningan yang tercipta diantara mereka setelah Andra dengan tiba-tiba mengungkapkan perasaannya kepada Maharani.
Gadis itu tertunduk seperti biasa, tak mampu mengatakan apapun.
Andra bersandar pada kepala kursi menatap pemandangan didepannya. Hatinya berkecamuk. Segala rencananya kacau sudah. Dia berniat mengutarakan perasaannya suatu saat nanti ketika telah lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang benar-benar layak untuk diakui, agar memiliki kebanggaan tersendiri. Tapi rencana tinggallah rencana, segalanya tiba-tiba saja berubah ketika dirinya mendapat sinyal tak biasa pada sikap sahabatnya. Yang membuatnya ingin segera mengungkapkan perasaannya.
"Ya udah, gue pergi deh. Brasa jadi kambing conge lama-lama disini." Angga bangkit dan meraih tas punggung yang dia letakkan dibawah meja. Lalu segera meninggalkan mereka berdua yang masih sama-sama diam membisu. Entah mengapa ulu hatinya terasa ngilu dan sesak.
Maharani mendongak, matanya mengikuti langkah pemuda itu pergi hingga ia menghilang di kejauhan. Hatinya berteriak memanggil dia yang selama beberapa hari mengisi pagi nya dengan celotehan tak karuan yang menurutnya terasa berarti setelah selama dua tahun dia tak pernah benar-benar berbicara dengan siapapun selain ibunya. Hatinya juga mencelos. Mendapati pemuda lain dihadapannya yang baru saja mengungkapkan perasaan yang tak pernah disangkanya.
"Mau jalan-jalan sebentar?" suara Andra menginterupsi, membuyarkan lamunan gadis itu.
Maharani mendongak, menatap wajah tampan didepannya yang kemudian tersenyum samar. Gadis itu berpikir.
"Aku belum pernah pergi dengan siapapun." ucapnya, pelan.
Andra kembali tersenyum.
"Aku juga." katanya.
"Masa?"
Andra mengangguk.
"Aku nggak terbiasa terlibat dalam satu hubungan, ..."
"Nanti juga terbiasa, kalau kita mau coba." Andra menyela.
Maharani mengulum bibirnya kuat-kuat. Benaknya berargumen, apakah ini hal yang tepat? apakah dirinya harus membuka diri? setelah mati-matian membangun benteng pertahanan agar tak ada siapapun yang mau mendekat demi membuatnya merasa aman sendirian.
Namun kini tiba-tiba hadir dua orang pemuda asing yang tak pernah ada dalam bayangannya sedikitpun untuk mendekat. Bahkan berharap pun dia tidak berani.
"Mau jalan sekarang? keburu sore." ucap Andra lagi, kembali membuyarkan pikiran gadis didepannya.
"Sebentar aja ya? aku nggak biasa pergi soalnya. Ibuku bisa khawatir." Maharani berujar.
Angga mengangguk sambil tersenyum.
*
*
Sebuah taman Kota akhirnya menjadi pilihan. Dua insan yang sedang mencoba saling membuka diri ini berjalan bersisian. Andra mencoba untuk membuka percakapan yang berusaha ditanggapi dengan riang oleh Maharani. Yang akhirnya membuat mereka bisa membicarakan banyak hal degan sendirinya.
Perlahan keduanya bisa saling menyesuaikan diri. Segalanya dia bicarakan tanpa canggung lagi. Celotehan Andra membuat gadis itu tertawa sesekali. Lalu diapun balas menceritakan hal lucu yang dia tahu, yang kemudian membuat pemuda itu juga tertawa.
"Kamu tahu, ternyata kamu lumayan menyenangkan kalau lagi ngobrol begini?" Andra berbicara lagi saat mereka kini duduk di kursi taman.
"Hm, ... aku terbiasa nggak banyak bicara."
"Kamu sepertinya nggak terlalu bergaul?"
"Aku nggak biasa. Aku lebih suka sendirian."
Angga menganggukkan kepala.
"Tapi akhir-akhir ini Angga suka nemenin aku. Setiap pagi dia pasti datang, nggak tahu mau apa. Tapi tiba-tiba dia datang, biarpun cuma sebentar. Cuma nanya kabar aja." tiba-tiba Maharani membicarakan hal yang beberapa hari ini dia alami.
"Oh ya?" Andra menanggapi.
Maharani mengangguk. "Atau waktu siang-siang, Angga juga pasti dateng, kadang bawa makanan, kadang dia juga nebeng makan dengan aku. Dia bilang bekal yang aku bawa selalu enak. Akhirnya kami sering makan bersama di teras swalayan. Kamu tau, dia juga sepertinya menyenangkan. Sebelumnya aku selalu merasa takut kalau ketemu dia, karena dia kelihatannya galak. Nggak kayak kamu yang selalu bersikap baik. Tapi setelah mengenalnya akhir-akhir ini kayaknya aku salah menilai dia. Dia kayaknya juga baik." dan gadis itu berbicara lebih jauh lagi.
"Iya, dia memang menyenangkan kalau kamu udah kenal," Andra menimpali.
Maharani mengangguk lagi, "Iya, kadang dia juga lucu. Bercandanya nggak aku ngerti, tapi bikin aku ketawa." gadis itu tergelak.
Andra menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Melihat binar dimata gadis itu ketika membicarakan sahabatnya. Pipinya yang bersemu merah ketika menceritakan bagaimana kebersamaannya dengan Angga, dan bibir mungilnya yang menyunggingkan senyum ketika menyebut nama sahabat karibnya itu. Ada sesuatu dibalik celotehan Maharani yang membuatnya cepat tersadar.
Perasaannya bertepuk sebelah tangan.
"Kamu suka ya sama Angga?" Andra tiba-tiba, membuat Maharani terdiam dan menyadari sesuatu.
"Aku, ...."
"Kayaknya kamu sukanya sama Angga," Andra mengulang perkataannya.
"Aku nggak tahu, ..." Maharani menjawab.
"Kamu suka nggak sama aku?" kini Andra bertanya.
"Kamu baik. Selalu bersikap baik. Aku suka sama kamu." jawab Maharani, namun tidak membuat pemuda didepannya merasa puas.
"Bukan itu. Maksud aku perasaan suka yang lain. Perasaan pribadi sama lawan jenisnya. Seperti yang aku rasain ke kamu. Aku suka sama kamu, dan ingin kita lebih dekat. Nggak cuma jadi temen." Andra menjelaskan.
"Oh, ..."
"Perasaan kamu ke aku nggak gitu ya?" Andra terdengar kecewa.
"Aku, ...aku ..." Maharani berpikir, memang tidak ada perasaan seperti itu kepada pemuda dihadapannya ini. Dia merasa biasa saja. Andra memang selalu bersikap baik, tapi tak ada perasaan lain dihatinya.
"Kamu sukanya sama Angga?" pemuda itu kembali bicara.
"Aku, ... nggak tahu." Maharani menjawab. Namun hatinya terasa berdebar tiap kali mendengar nama itu disebut. Ada perasaan lain yang menelusup didalam sana.
Andra tersenyum, dia telah menyadari sesuatu. Perasaannya tak berbalas. Dia tahu pasti, gadis didepannya ini tak memiliki perasaan seperti yang selama bertahun-tahun dia rasakan.
"Oke, ..." ucapnya.
Maharani mengerutkan dahi.
"Kayaknya aku salah udah menyatakan perasaan ini." dia terkekeh getir.
"Maaf, ..." Maharani dengan menyesal.
Andra menggelengkan kepala, "Nggak, lebih baik gini kan? aku tahu sebelum semuanya terlambat. Sebelum perasaan aku lebih besar sama kamu. Jadi hati aku nggak terlalu sakit." pemuda itu berujar.
"Maaf, Andra." maharani sekali lagi meminta maaf.
"Nggak apa-apa." Andra mengusap puncak kepala gadis disampingnya. Walau hatinya sesak, dia bisa menerima. Setidaknya dia sudah tahu yang sebenarnya.
"Kita masih bisa berteman, kan?" Andra bicara lagi.
Maharani mengangguk, "Kalau kamu masih mau temenan sama aku." katanya.
Andra tersenyum lagi.
"Ya udah," pemuda itu bangkit. "Aku antar pulang?" katanya.
Maharani mengangguk.
*
*
*
Bersambung ...
aih, ... nyesek euy..😥😥
like komen sama vote dulu dong biar nggak nyesek.😄😄
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Rizky Aidhil Adha
baca smpe khatam 4-5 kali,tteeeepp nyeeeeesss mak🥰😘😘
2024-05-11
0
Dewi Tarra
andra temen yg baik
2023-01-28
0
anja
sini bang sma aku aja...🤭
2022-03-01
1