*
*
Maharani mendongakkan wajahnya mendengar suara yang dia hafal. Gadis itu terhenyak menatap sosok tinggi menjulang yang tengah berjalan ke arahnya.
Anggara Yudistira yang tak pernah ada dalam bayangannya kini tengah berjalan menghampirinya. Tiba-tiba nyalinya menciut, tubuh Maharani terasa mengkeret ditengah kerumunan.
Dunia bebar-benar sempit. Mengapa pula aku harus selalu bertemu dengan pemuda sialan ini? gumam Rani dalam hati.
Angga berdiri dengan senyuman lebar. Pemuda itu hampir saja mengatakan sesuatu sebelum akhirnya Andra pun berlari menghampiri, menepuk pundak sahabatnya agak keras.
"Ga!" Andra setengah berteriak.
"Paan?"
"Gue harus pergi. Ada telfon." Andra yang melirik sekilas gadis itu yang diam membeku.
"Pergi?" kini perhatian Angga beralih kepada sahabatnya.
Andra mengangguk. "Tante Lucy manggil." dia berbisik.
Angga mengerutkan dahi. "Bentar, gue kan belum ngomong ..."
"Gue pergi sendiri. Lu nggak usah ikut." Andra menyela kalimat yang hampir keluar dari mulut Angga.
"Oh, ..." Angga dengan mulut nya yang membulat.
"Gue pergi." lanjut Andra,
"Tapikan gue mau bantuin lu ngomong ..."
"Lain kali aja, gue ada urusan." Andra kembali memotong perkataan sahabatnya itu. Lalu dia pergi dari sana.
Angga terdiam menatap punggung sahabatnya hingga ia menghilang ditelan kerumunan.
Maharani mundur beberapa langkah, mencoba menyembunyikan dirinya di tengah kerumunan untuk menghindari pemuda didepannya yang perhatiannya sedang teralihkan. Gadis itu memutar tubuh, lalu melangkah tergesa, mencoba untuk kabur.
"Kemana lu?" suara bariton itu terdengar jelas ditelinganya.
Maharani membeku.
"Lu menghindar dari gue ya?" Angga mendekat. Kini dia berada persis di samping Maharani, memiringkan kepalanya menatap gadis itu yang terdiam.
"Aku ... harus kesana, ya kesana." menunjuk area lain di tempat itu. "Bagiin brosur ini." mengangkat tumpukkan brosur ditangannya. Tentunya tanpa melihat kearah orang yang sedang mengajaknya berbicara, seperti biasa.
Tanpa aba-aba Angga tiba-tiba saja merebut brosur itu dari tangan Maharani, membuat gadis itu agak terkejut. "Gue bantuin." katanya.
"Eh, nggak usah." namun terlambat, pemuda itu sudah mulai membagikan lembar demi lembar brosur berwarna warni tersebut kepada setiap orang yang dia temui. Maharani terus mengikutinya dari belakang, berusaha menghentikan kegiatannya. Hingga brosur ditangan Angga habis tak bersisa.
"Ada lagi?" pemuda itu setelah kegiatannya usai. Menoleh kearah gadis pendiam yang terus mengikutinya.
Maharani melepaskan tas punggung ya, membuka sleting, lalu memperlihatkan isinya. Tumpukkan brosur yang mengisi hampir setengah dari tas tersebut.
Angga tergelak.
"Banyak amat?" katanya.
Maharani melirik sebentar, kemudian menundukkan pandangannya lagi.
"Gue minta yang banyak." Angga dengan sebelah tangannya yang dia tengadahkan.
Maharani mendongak, menatap wajah tampan didepannya. Desiran halus itu terasa lagi.
Sialan, apa ini? batinnya.
Angga tersenyum. Menatap wajah manis yang juga sedang menatapnya. Mata keduanya bersirobok. Sesuatu didalam dadanya berdegup duakali lebih kencang dari biasanya, dan tubuh pemuda itu menegang.
"Ehmm ..." Angga berdeham, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering.
Maharani tersadar dari lamunannya.
"Sini," pemuda itu merogoh tas ditangan Maharani, lalu mengambil kertas-kertas didalam benda itu sebanyak yang dia bisa. Lalu kembali membagikannya.
"Eh, ... nggak usah, aku bisa sendiri." Maharani kembali mengikuti langkahnya.
Namun Angga tak mendengar, pemuda itu terus berjalan menghampiri setiap orang. Memberikan selembar demi selembar kertas ditangannya. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Entah mengapa hal ini terasa menyenangkan.
"Lu, daripada merengek-rengek larang gue, mending lu juga ikut bagiin brosur nya. Biar kertas-kertas ini cepet habis." Angga setelah beberapa lama Maharani tetap melarangnya membantu.
Gadis itu terdiam.
"CK! diem lagi." Angga menggerutu.
Dia kembali membagikan brosur ditangannya, dengan senyum ramah kepada setiap orang yang ditemuinya. Padahal sebelumnya dia tak pernah seperti ini. Bersikap ramah kepada orang yang belum dikenalnya adalah hal yang tak pernah Angga lakukan. Apalagi ditambah senyuman dan sapaan, rasanya hal ini mustahil. Tapi entah mengapa hari ini dia melakukan hal itu. Dan ternyata rasanya menyenangkan.
****
"Haaaa ..." Angga merentangkan kedua tangannya sambil duduk di trotoar diluar area lapangan. Beristirahat setelah hampir lebih dari setengah tas brosur telah habis dibagikan.
Satu cup minuman dingin disodorkan kedepan wajah Angga. Pemuda itu mendongak. Maharani dengan ragu-ragu menatap wajah itu.
"Aku nggak tahu kamu sukanya apa, ini cappucino cincau." katanya, dengan suara pelan.
Angga segera menyambar minuman itu dari tangan Maharani. Lalu menyesapnya dengan cepat hingga habis setengahnya.
"Seger, ..." mata pemuda itu terpejam erat. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
Maharani mengulum bibirnya kuat-kuat, menatap pemandangan didepannya.
"Kayaknya sekarang gue suka cappucino cincau," Angga terkekeh.
Maharani tersenyum sekilas.
"Lu nggak pegel apa berdiri terus disitu?" Angga kini menatap gadis itu yang masih betah terdiam didepannya.
"Duduk sini," menepuk tempat kosong disampingnya.
Maharani masih terdiam, menatap tempat itu.
"Sini, gue nggak bakalan gigit kok." Angga berkelakar.
Agak ragu sebenarnya, namun Maharani memberanikan diri menuruti perkataan pemuda itu. Dia duduk disamping Angga, namun dengan jarak yang agak jauh.
"CK!" pemuda itu berdecak. "Gue nggak akan gigit!" Angga mengulang perkataannya saat merasa jarak mereka terlalu jauh. Lalu dia bergeser mendekat. Menyisakan ruang hanya beberapa jengkal saja dari Maharani.
Gadis itu mengkeret, sinyal bahaya seakan berdenging dikepalanya. Padahal ini hanya duduk berdekatan, dan mereka berada ditempat umum. Tapi dia merasa seakan tengah berada dalam ancaman.
Maharani gugup.
"Lu kenapa sih, tiap deket gue kayaknya gugup?" Angga yang menyadari tingkah gadis disampingnya.
Maharani mendongak, lalu menoleh pemuda itu.
"Gue nggak bakal ngapa-ngapain lu!" katanya lagi. Kembali menyeruput minuman dingin ditangannya. "Gila aja. Ini tempat umum pula." Angga bergumam.
"Ma-maaf," Maharani bersuara.
"Kenapa lu minta maaf?"
"Aku hanya nggak terbiasa." Maharani dengan suara pelan.
"Maksud lu?"
"Aku nggak terbiasa bicara dengan orang asing. Atau seperti ini ..."
Angga tergelak. "Orang asing? kita udah sering ketemu kali. Lu bahkan udah pernah nyelametin gue waktu itu."
"Aku tetap nggak terbiasa."
"Lu aneh." Angga terdiam.
"Makasih, ya?" kini Maharani berbicara lagi.
Angga menoleh.
"Udah bantuin aku nyebarin brosur ini." menepuk tas punggung yang dia letakkan di antara dirinya dan Angga.
Angga terkekeh lagi. "Rasanya menyenangkan bisa bantu orang. Baru gue,"
Lalu mereka diam lagi.
"Maaf ya?" Angga memulai lagi pembicaraan.
Maharani mendongak.
"Gara-gara gue lu dipecat." katanya, dengan wajah sendu.
"Masih membahas itu?" gadis itu sedikit terkeheh.
Angga menatap wajah disampingnya. Lagi-lagi dadanya berdegup lebih kencang.
"Suara lu kedengaran enak kalau lagi ketawa." kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
Angga tergelak, "Gue jadi b*go gini ya?" menepuk kepalanya pelan. Lalu dia tertawa.
Tawa yang menyenangkan. Yang tiba-tiba menular kepada gadis disampingnya. Maharanipun ikut tertawa.
"Lu cakep kalau ceria gini." Angga kembali melontarkan kata yang tak pernah dia ucapkan kepada siapapun. Membuat Maharani terdiam.
"Lu jarang ngomong sama orang. lu seringnya murung." katanya lagi.
"Aku nggak terbiasa." Maharani menjawab. "Kamu juga jarang ngomong. Kamu kelihatannya galak." akhirnya dia bicara banyak.
"Galak?" Angga dengan kening berkerut dan kedua alis tebal yang hampir bertautan.
Maharani mengangguk.
"Aku selalu ketakutan kalau ketemu kamu. Kamu pasti marah." ucap gadis itu lagi.
"Gue nggak marah, gue cuma ..." Angga berpikir, "apa ya? kebiasaan aja kali." Angga menjelaskan.
Maharani mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oh iya, gue lupa!" Angga menepuk keningnya beberapa kali. "Gue mau bilang kalau sebenernya Andra, ..."
"Angga?" suara bariton menginterupsi percakapan dua insan muda ini. Memotong kalimat yang hampir keluar dari mulut Angga.
Mereka menoleh.
"Kak Gara?" Angga menyahut.
Tampak kakak laki-lakinya datang menghampiri, diikuti seorang gadis cantik yang menyunggingkan senyum manis.
"Tumben?" Sagara terlihat heran. Pagi-pagi begini melihat adiknya berada di area olahraga, seang duduk bersama seorang gadis.
"Lu ngapain?" bertanya dengan heran, karena tidak mungkin adiknya juga sedang berolah raga seperti dirinya, dilihat dari penampilannya yang mengenakan jeans dan jaket kulit hitam kesayangannya.
"Gue ..." Angga berpikir.
"Lu udah ngojek pagi-pagi?" tanya Sagara, lalu melirik pada gadis disamping adiknya.
"Heuh? ngojek?" Angga seperti mendapatkan ide. "Iya, ngojek. terus mampir kesini sebentar." jawab pemuda itu, agak terbata.
Sagara mengangguk-angguk.
"Oh iya, soal kerjaan buat temen lu itu, udah ada. Ditempatnya Vira. Di gudang tokonya kayak yang lu minta." Sagara kembali berbicara, seketika membuat mata adiknya berbinar.
"Serius lu kak? kapan kerjanya? bisa sekarang, atau besok?" Angga antusias, dia bangkit dari duduknya, lalu menghampiri sang kakak yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Buru-buru amat?" Vira menyela.
"Kebetulan, kak. Orang nya disini. Tuh, ..." Angga menunjuk ke arah Maharani yang terdiam.
"Oh, ..."
"Rani!" Angga setengah berteriak memanggil gadis yang masih duduk di trotoar. Lalu menggendikkan kepala, memberi isyarat kepada gadis itu untuk mendekat.
Maharani bangkit, lalu datang menghampiri.
"Ini Rani." Angga memperkenalkan gadis itu kepada kakaknya. "Rani, ini kak Gara. ini kak Vira." katanya lagi kepada gadis itu.
Maharani mengangguk, dengan senyum seramah mungkin. Yang dibalas dengan ramah pula oleh dua orang didepannya.
"Kalau bisa besok dia masuk. Dia butuh banget kerjaan," Angga kembali bicara, setengah meminta.
Sagara megerutka dahinya. Tampaknya adiknya ini bersungguh-sungguh membantu orang lain. Si kepala batu ini sedang membantu orang lain.
Sagara tergelak.
"Eh, malah ketawa?" Angga bergumam.
"Nanti siang datang ke toko, biar besok bisa langsung kerja." Vira menyela.
"Serius?" Angga dengan matanya yang kembali berbinar.
Vira mengangguk.
"Oke." pemuda itu mengangkat dua jempolnya keatas.
Sagara mengerutkan dahinya.
Sejak kapan sikeras hati ini mau membantu orang lain? dia bahkan sangat bersemangat, lebih bersemangat dari orang yang dia carikan pekerjaan.
" Ya udah kak, nanti siang gue anterin dia ketoko." ucap Angga setelah dia bicara dengan Vira.
Vira mengangguk.
Kemudian Angga menarik lengan gadis itu menjauh. Yang lagi-lagi membuat kening Sagara mengerut. Namun kemudian membuat dia tergelak.
"Gebetan Andra, katanya?" dia bergumam.
*
*
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Tami Andriani
tanda tanda niii
2024-01-14
1
Bonaria Marmata
mampir bentar Mak,,,
kangen ma Andra,,,😀😀😀
ternyata Rania keturunan Mak nye ya suka capucino cincau,,,😅😅😅😯
2023-05-15
1
Nenk Manieez
siap2 andra d tikung sm angga
2022-10-19
1