*
*
Masa iya gue suka sama dia? aneh banget deh. Nggak mungkin. Batin Angga bermonolog. Namun tetap memperhatikan gadis yang tengah memeriksa dan mencatat barang-barang yang baru saja diturunkan dari mobil box.
Seminggu ini memang banyak barang yang masuk dan butuh perhatian secara khusus. Membuat Maharani benar-benar sibuk di Minggu pertamanya dia bekerja di swalayan tersebut.
"Bantuin kenapa, jangan dilihatin melulu!" Vira menepuk pundak pemuda itu, membuat dia tergagap.
Angga terkekeh.
"Dia rajin. Nggak banyak omong juga. Apa-apa cepet tanggap, nggak susah lah ngajarin dia." Vira ikut memperhatikan. Dua tangannya dilipat di dada.
"Wih, ... bagus kan? nggak mengecewakan." Angga dengan bangganya.
Vira tersenyum melihat tingkah calon adik iparnya tersebut yang tak biasanya seramah ini. Sebelumnya Angga selalu bersikap acuh tak acuh pada apapun yang berada disekelilingnya.
"Apa kak?" Angga mengerutkan dahi, melihat senyuman diwajah calon kakak iparnya tersebut.
"Kamu tahu, kamu menyenangkan kalau bersikap ramah seperti ini." jawab Vira.
"Emangnya selama ini gue nggak ramah gitu?"
Vira tergelak, lalu menggelengkan kepala. Perempuan itu menepuk bahu Angga pelan lalu meninggalkannya yang masih berdiri diambang pintu gudang.
****
"Bisa?" suara bariton itu memecah keheningan didalam gudang ketika Maharani masih berkutat dengan pekerjaannya. Dalam keadaan duduk bersila dilantai dengan kepala menunduk.
Gadis itu mendongak.
Tampak pemuda tinggi itu yang tengah berdiri menjulang dihadapannya.
Angga tersenyum.
"Kamu ngapain disini? nggak kuliah?" melihat layar ponselnya yang baru menunjukkan pukul 10 pagi.
"Gue kuliah siang." jawab angga, yang kini ikut duduk dilantai.
Maharani terdiam. Kembali pada pekerjaannya. Menulis nama barang dan produk yang masuk hari itu.
Angga terus memperhatikan dalam diam. Gadis ini, ... tingginya tak lebih dari sebatas dada, tubuhnya kecil, dia bahkan terlihat lemah. Tidak seperti perempuan-perempuan yang pernah berkencan dengannya. Yang berpenampilan dewasa dengan segala dandanannya.
Tapi dia manis. Lihat matanya yang bulat dan bening itu, sesekali melirik kearahnya, mencuri pandang.
Tanpa sadar sebuah senyuman terbit disudut bibir Angga.
Maharani mendongak ketika merasa tengah diperhatikan. Seketika membuat senyuman dibibir Angga sirna, dia tersadar dari lamunannya.
"Kamu nggak ada kegiatan?" Maharani bertanya.
Angga masih menatap wajah lugu itu, lalu menggeleng.
"Nggak ngojek?" tanya gadis itu lagi, membuat Angga mengerutkan dahi.
"Ngojek?" ucap pemuda itu, kebingungan.
"Iya. Bukannya kamu nyambi jadi ojek online ya?" Maharani menghentikan kegiatannya sejenak.
Tubuh Angga menegang. Dia baru ingat dengan kebohongan yang pernah dibuatnya kepada Sagara. Tentang pekerjaan yang dijalaninya untuk mendapatkan uang.
"Itu, ..." pemuda itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Bukannya harus ngejar pendapatan minimal ya kalau ngojek online gitu?" ucap Maharani lagi, membuat pemuda dihadapannya sedikit gelagapan.
"Mmm ... itu, gue ... lu tahu darimana gue ngojol?"
Maharani berangsur bangkit dari duduknya. Menaruh pulpen dan kertas dilantai lalu mulai mengangkat barang-barang untuk ditaruh di rak yang tersedia didalam gudang tersebut.
"Kak Vira kemarin tanya. Aku malah nggak tahu kamu ngojol." jawab Maharani, mengangkat satu-persatu barang yang terserak dilantai.
Angga pun bangkit, mengikuti apa yang tengah dilakukan gadis dihadapannya. Mengangkat beberapa barang, lalu menyerahkannya kepada Maharani. Yang kemudian menyusunnya ditempat yang sudah dia atur sedemikian rupa.
"Aduh, ... tinggi." keluhnya, ketika hendak menaruh barang ke bagian tak paling tinggi.
Maharani menoleh kesisi kanan dan kiri, mencari sesuatu untuk dia naiki agar bisa menaruh benda tersebut ke tempat itu.
Angga mendekat, Maharani menoleh dan mendapati pemuda itu persis berada dibelakangnya. Dia terkesiap. Lalu memutar tubuhnya dengan cepat. Dia mundur dua langkah hingga tubuh bagian belakangnya membentur rak.
Tanpa aba-aba Angga merebut barang itu dari tangan Maharani, lalu menaruhnya dengan mudah ke rak bagian paling atas. Dengan tinggi badannya yang menjulang, pemuda itu hanya perlu sedikit berjinjit untuk meletakkan barang tersebut diatas.
Tanpa sadar hal tersebut mengikis jarak diantara mereka. Tinggi badan Maharani yang hanya sebatas dadanya membuat wajah gadis itu hampir menempel padanya.
Seketika aroma maskulin menguar di Indra penciuman Maharani. Gadis itu memejamkan matanya. Menghirup aroma tubuh Angga yang mengaburkan konsentrasinya. Rasa hangat menjalari wajahnya hingga kedua pipinya bersemu merah. Dadanya berdegup kencang.
"Kenapa lu?" Angga menunduk. Menatap wajah yang hampir menempel didadanya. Maharani mendongak, kini wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
Mata bening itu menatapnya untuk beberapa saat sebelum sebuah panggilan telfon diponsel angga mengganggu suasana hening diantara mereka.
Keduanya tersadar, Angga mundur kebelakang untuk menjauhkan diri. Sementara Maharani segera melanjutkan pekerjaannya dengan perasaan canggung.
"Ya Ndra?" Angga menjawab telfon.
"....
"Jam berapa?"
".....
"Oke, nanti gue nyusul. Gue ada urusan dulu dikit."
Dan percakapan pun diakhiri.
*****
Maharani membuka kotak bekalnya yang disiapkan ibunya seperti biasa. Nasi putih dengan ayam goreng tepung ditambah sedikit cah sawi hijau dicampur tahu. Terlihat menggiurkan membuat gadis itu hampir meneteskan air liurnya karena lapar.
Seseorang meletakan sebotol air mineral didepannya. Maharani mendongak. Lagi-lagi Angga ada didepannya. Pemuda itu duduk di kursi disampingnya, dipelataran teras swalayan tersebut.
"Udah siang. Kamu nggak pergi kuliah?" gadis itu bertanya. Melirik ponsel yang menyala menunjukkan pukul 12.10.
"Bentar lagi."
Maharani kembali dengan makanannya. Menyuapkan ke mulut kecilnya sedikit demi sedikit dengan perasaan canggung karena merasa sedang diperhatikan.
"Ehm, ..." Maharani berdeham, tenggorokannya terasa tercekat.
Angga menggeser botol air mineral kedekat gadis itu setelah membuka segel penutupnya terlebih dahulu.
"Minum?" katanya.
Maharani terdiam menatap benda tersebut, lalu melirik kepada pemuda disamping.
"Nggak diracun kok, minum aja." Angga berkelakar. Dia menyandarkan punggung kokohnya pada kepala kursi.
Maharani terkekeh pelan, lalu meraih botol tersebut untuk kemudian dia tenggak perlahan.
Angga tak melepaskan pandangannya sedikitpun dari gadis itu. Menikmati setiap detiknya dengan perasaan yang entah dia harus menyebutnya apa. Yang dia tahu, saat ini hatinya merasa senang melihat pemandangan di sampingnya ini.
"Kamu nggak makan?" Maharani buka suara.
"Nggak." Angga menjawab.
"Nggak lapar emang?" dia berhenti sejenak.
"Lapar sih."
"Terus kenapa nggak makan?" gadis itu menoleh.
"Males beli nya. Bingung juga mau makan apa." Angga menjawab asal.
Maharani mendongak. "Mau ini?" entah kenapa dia tiba-tiba ingin menawarkan makan yang dibawanya.
"Boleh?" Angga menegakkan posisinya.
Maharani mengangguk, lalu menggeser kotak bekalnya. Sebelumnya dia mengelap sendok yang barusan dipakainya dengan tisyu, lalu menyerahkannya kepada Angga.
"Lu gimana?"
"Makan aja. Aku udah kenyang." jawab Maharani yang kemudian kembali meneguk air mineral pemberian Angga.
Pemuda itu tertegun, kemudian tersenyum meraih sendok tersebut dari tangan Maharani. Lalu meraup makanan dan memasukkannya kedalam mulutnya, mengunyahnya dengan riang.
Rasanya nikmat. Padahal hanya nasi putih, sepotong ayam dan sedikit sayuran hijau. Tapi membuatnya merasakan sesuatu yang lain didalam hatinya. Ada rasa yang membuncah memenuhi rongga dadanya. Menyebar kesegala arah. Dia bahkan merasa seperti ada kupu-kupu yang bergerak didalam perutnya. Dan itu rasanya menyenangkan.
Angga terus mengunyah makanannya dengan tersenyum hingga suapan terakhir.
"Habis." katanya, meletakkan sendok kedalam kotak makan tersebut.
Maharani menoleh lalu tersenyum.
"Bekalnya enak." ucap Angga, sambil merebut minuman ditangan gadis itu. Lalu meneguknya dengan cepat.
"Itu buatan ibu." Maharani menjawab.
Angga terdiam. Ibu.
Seketika berkelebat dibenaknya wajah perempuan paruh baya yang cantik sedang tersenyum lembut.
Ibu.
Perempuan penuh kasih sayang yang dia ingat selalu mencurahkan segala perhatiannya dengan segenap jiwa. Tak peduli pekerjaan apa yang sedang dia lakukan, perempuan itu pasti selalu menuruti segala keinginannya. Memberikan segala yang dia mau.
Ibu.
Yang setiap saat ada untuk dirinya. Meredam sedih dan marah. Menenangkan disaat gundah. Menenangkan dikala dia gelisah dan membutuhkan sandaran.
Ibu.
Bertahun-tahun dirinya merindukan kasih sayang. Namun hanya mampu mengenang sosok itu yang telah lama jauh dari jangkauan. Yang tak dapat tergantikan oleh siapapun dengan kasih sayang dalam bentuk apapun.
"Ibu?" ucapnya pelan.
Maharani mengangguk. Dia menarik kotak bekalnya, lalu bangkit dan membereskan meja sebelum bersiap untuk kembali bekerja.
"Kamu kuliah kan?" tanyanya, ketika melihat pemuda yang masih duduk di kursi seperti semula.
Angga mendongak, wajah lugu dengan mata bulat bening itu menggetarkan hatinya. Dia mengangguk pelan.
"Ya udah, aku mau kerja lagi." ucap Maharani seraya berjalan menjauh, kembali kedalam gudang disisi belakang swalayan tersebut. Menenggelamkan diri pada pekerjaan yang kini disenanginya. Tanpa banyak bicara, tanpa banyak berpikir. Hanya bekerja. Dengan terfokus hanya pada satu tujuan, mengumpulkan uang agar dirinya bisa melanjutkan kuliah satu hari nanti.
Angga masih disana terdiam menikmati perasaan yang tiba-tiba menyeruak dalam dadanya. Memenuhi relung hatinya hingga yang paling dalam. Menghadirkan sesuatu yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Entah bagaimana dia menyebutnya.
Sementara diseberang jalan, didalam sebuah Honda jaz hitam seorang pemuda merebahkan punggungnya pada sandaran kursi, menikmati pemandangan yang cukup menyesakkan dada. Melihat kebersamaan antara sahabat karibnya dengan gadis yang selama bertahun-tahun memenuhi kepalanya.
Andra menghela napasnya pelan. Lalu menghidupkan mesin mobilnya, dan segera pergi dari sana membawa rasa kecewa.
*
*
*
Bersambung ....
Aduh, kok gitu dek? terus gimana?
gak tau ah, ... yang penting like komen sama vote nya jangan lupa.😉😉
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Tami Andriani
😌😌
2024-01-14
0
Mbah Gindhoez
sabar ndra, jodohmu masih kecil. namanya Vivian😁
2023-02-25
0
Tian Ae
karna bukan rani jodoh andra 🤣🤣🤣 tpi vivian
2022-11-25
0