*
*
Maharani berjalan pelan memasuki gerbang kampus. Langkahnya terasa berat. Hari ini dia akan memutuskan mengambil cuti kuliah untuk sementara waktu. Dan memilih bekerja untuk mengumpulkan uang.
Belum lagi pikirannya tertuju kepada ibunya. Dirinya harus segera memberitahukan tentang masalah ini. Karena tak mungkin dia simpan sendiri. Sudah terbayang seberapa kecewa perempuan 50 tahun itu dengan keputusannya ini, namun dia tidak punya pilihan.
****
Deru mesin motor terdengar meraung-raung dari arah belakang. Maharani menoleh, begitu juga beberapa orang mahasiswa yang juga berjalan menuju gedung kampus mereka.
Sebuah motor berwarna merah terlihat melesat dengan suara garang yang memekankan telinga. Sebagian besar dari mereka sudah hafal siapa yang berada dibalik kemudi motor itu.
"Angga!!!" seseorang berteriak dari kejauhan. Sang penunggang motor melambai sekilas tanpa mengurangi kecepatannya sedikitpun, membuat beberapa orang menahan napas.
Maharani menggelengkan kepala. "Sudah seperti rajanya kampus aja tuh orang." gumamnya.
Dan langkahnya pun terhenti disebuah bangunan beberapa blok dari fakultas tempat dia mengikuti mata kuliah setiap hari.
***
"Kamu yakin mau cuti dulu? sayang loh, tinggal beberapa bulan lagi skripsi kalau cutinya sekarang." seorang dosen pembimbingnya meyakinkan.
Maharani mengangguk, "Saya nggak punya pilihan lain, Pak. Biaya jadi kendalanya." gadis itu menjawab sambil menunduk. Mempermainkan jari-jari tangan diatas pangkuannya. Dia gugup.
Dosen tersebut menatap Maharani, "Mungkin saya bisa membantu kamu, Rani." ucapnya kemudian.
"Nggak usah, pak. Makasih." Maharani masih menunduk.
"Nggak usah sungkan, kalau kamu butuh bantuan, tinggal bilang saja. Saya akan membantu kamu." menyentuh tangan Maharani yang bertumpu diatas pangkuannya. Gadis itu tersentak. Buru-buru menarik tangannya.
"Maaf, pak. Saya mau cuti, saya permisi." Maharani bangkit, lalu segera keluar dari ruang dosen itu.
Dan setelah menenangkan diri sebentar, gadis itu segera menuju ke ruang admin untuk mengurus segala hal.
*
*
*
Andra tertegun menatap seseorang dari kejauhan. Seorang gadis yang selalu berjalan dengan menundukkan kepalanya. Dia ingin menyapanya, namun yang terjadi pasti tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya.
Berkali-kali Andra mencoba menyapa Maharani, tapi gadis itu tak pernah menggubrisnya. Dia selalu menarik diri dari siapapun didekatnya.
"Bro!" sebuah tepukan dipundak menyadarkan Andra dari lamunan. Pemuda itu menoleh.
"Lu? ngapain disini?" Andra terheran mendapati Angga yang berada disampingnya.
"Kuliah, lah. Ngapain lagi?" jawab Angga dengan pandangan tertuju kearah tatapan sahabatnya tadi.
"Serius?" Andra tergelak, " Bukannya lu mau berhenti?"
Angga mendengus, "Sagara ngancem mau ngurung gue kalau gue nggak nerusin kuliah."
Andra terbahak mendengar jawaban sahabatnya tersebut.
"Jangan ketawa lu!" Angga mendelik.
"Lagian, lu kayak anak TK yang diancam ibunya. Takut lu sama Sagara?"
Angga terdiam sebentar.
"Bukannya takut, sih. Apa ya? Dia keluarga gue satu-satunya yang peduli gue dari kecil. Gue cuma, ..." Angga menggantung kata-katanya.
"Ya ya ya ..." Andra terkekeh. "Gue ngerti. Keluarga."
Angga menggendikkan bahu.
Andra kembali mengarahkan pandangannya kepada gadis yang sedang berjalan tertunduk.
"Apa sih yang lu liatin, ndra?" Angga menginterupsi, mengikuti arah pandangan sahabatnya.
"Apa? nggak. Gue nggak lihatin apa-apa." kini memalingkan perhatiannya ketika gadis itu melintas didepan mereka.
*
*
*
*
Maharani hanya duduk disebuah kursi taman dekat rumahnya sore itu. Menatap gerombolan anak-anak yang tengah bermain sepak bola di lapangan kecil didepannya ketika sebuah tangan kokoh menepuk bahunya berulang-ulang.
"Mbak, ... mau tanya." suara seorang pria membuyarkan lamunan gadis mungil itu.
Maharani mendongak, seketika dia terkesiap menatap seorang pemuda tinggi menjulang disampingnya.
"Mau tanya alamat ini, ..." Angga memperlihatkan layar ponselnya yang tertera alamat sebuah ruko.
"Saya udah keliling, tapi nggak ketemu." sambung Angga, menjelaskan.
Maharani masih terdiam, entah mengapa tubuhnya bergetar. Namun dia mencoba untuk tetap tenang.
Angga mengerutkan dahi.
Alih-alih memberi jawaban tentang apa yang ditanyakannya, gadis itu malah mengeluarkan buku dari dalam tasnya, lalu menulis sesuatu. Dan merobek kemudian menyerahkannya kepada Angga, lalu lari terbirit-birit.
Pemuda itu membatu. "Gadis aneh," gumamnya. Lalu dia mengerutkan dahi, seperti mengingat sesuatu.
Angga membaca tulisan yang tersusun rapi diatas kertas yang diserahkan Maharani, terlihat seperti petunjuk menuju alamat yang dia maksud.
Dan benar saja, setelah dia mengikuti petunjuk yang Maharani tulis, akhirnya Angga menemukan bangunan tinggi disebuah kawasan tak jauh dari taman kota tempat dirinya singgah tadi. Sebuah ruko yang merupakan butik milik Wina.
Motor merah itu berhenti tepat didepan ruko. Setelah melepaskan helm dan merapikan rambutnya yang terburai, Angga memutuskan untuk masuk.
Wina menyambut kedatangan pemuda itu dengan suka cita. Dan memperkenalkan pemuda tersebut kepada beberapa temannya yang ada disana.
"Aku butuh model buat desain terbaru aku. Kamu mau ya?" Wina tanpa basa basi.
"Model?" Angga mengerutkan dahi.
Wina mengangguk.
"Emang aku cocok, ya?" Angga tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Hmm ... cocok banget. Mau ya? bayarannya gede lho." Wina membujuk.
Sebuah senyuman terbit disudut bibir pemuda itu.
"Kalau ada duitnya sih oke, Tan." katanya.
Wina memutar bola matanya, "Dasar mata duitan!" sahutnya, kemudian mereka berdua tertawa.
*
*
*
*
Maharani langsung menerobos pintu rumahnya begitu terbuka, dan membantingnya dengan keras, lalu menguncinya rapat-rapat.
"Kenapa, Ran?" ibu yang muncul tiba-tiba mengagetkan putrinya yang tertegun di depan pintu yang sudah terkunci.
"Ibu?" napasnya masih tersengal akibat dia berlari sangat kencang dari taman tadi. "Ibu kok udah pulang kerja?"
"Kamu kenapa?" ibu bertanya lagi.
"Itu. Mmm ...ada orang jahat, Bu." katanya, melangkah maju menghampiri ibunya.
"Apa?" menarik tubuh putrinya dengan panik, "Kamu diapain, nak?" memutar tubuh kecil itu untuk memindainya kalau-kalau terjadi sesuatu padanya. "Kamu nggak apa-apa?" katanya lagi, masih dalam mode panik.
"Nggak, Bu. Rani lari." gadis itu menjawab.
"Apa yang dia lakukan sama kamu, nak?" ibu bertanya lagi.
Maharani menggeleng, "Dia nggak ngapa-ngapain."
"Terus?" ibu mengerutkan dahi.
"Dia tanya alamat." menatap sang ibu dengan mata bulatnya yang berwarna hitam pekat.
"Tanya alamat?"
"Mm ... dia temen sekelas Rani dikampus," katanya, dengan polosnya.
"Astaga!" ibu mengusap wajahnya, "Laki-laki?" tanyanya.
Putrinya mengangguk pelan.
"Oh Tuhan!" perempuan paruh baya itu menggelengkan kepalanya. "Dia cuma tanya alamat, dan kamu bilang dia orang jahat?"
Maharani mengangguk lagi. "Dia nakal, Rani nggak suka dia, Bu." matanya semakin membulat.
Sang ibu menghela napas dalam-dalam. "Hanya karena dia laki-laki, dan nakal dikelas kamu sebut dia orang jahat? memangnya kejahatan apa yang pernah kamu lihat dia lakukan?"
Maharani terdiam. Mengingat-ingat apa saja yang pernah dia lihat dengan mata kepalanya sendiri hal yang dilakukan Angga.
Tidak ada.
Selain para gadis dikampusnya yang selalu mengejar-ngejar pemuda itu. Dan ada beberapa orang dari mereka yang telah menyerahkan tubuhnya secara sukarela.
Cih! Manusia bejat macam itu, mengapa aku harus bertemu dia lagi disini? Tidak cukupkah kesialanku gara-gara dia kemarin? gumamnya dalam hati.
"Oh iya, bukankah kamu bekerja? kenapa sekarang masih ada disini?" melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. "Ini sudah terlambat satu jam."
Maharani terhenyak, dia lupa belum memberitahukan masalah ini kepada ibunya.
"Mmm .. itu, Rani ... Rani ... " dia ragu.
"Kenapa?"
"Rani dipecat lagi, Bu."
"Apa?"
"Maaf, kemarin Rani nggak sengaja numpahin barang kotor sama customer, dan mereka nggak terima. Jadinya Rani dipecat." gadis itu menunduk, takut dengan reaksi sang ibu.
"Astaga, Rani!"
"Udah Rani bilang ke temen-temen, kalau Rani nggak bisa tugas didepan, tapi mereka nggak mau tahu, Bu. Rani terpaksa, jadinya gitu." keluhnya, masih menunduk.
"Tapi nggak apa-apa, Rani akan cari kerja di tempat lain. Yang nggak perlu ketemu orang banyak lagi."
"Rani, sayang, ... sudah ibu bilang, kamu jangan mikirin kerja, fokus kuliah aja. Ibu yakin ibu bisa."
Maharani menggeleng, "Rani nggak tega biarin ibu kerja sendirian, lagipula Rani udah urus ijin cuti dulu ke kampus. Jadi Rani bisa fokus kerja dulu setahun ini buat cari tambahan biaya. Mudah-mudahan tahun depan bisa lanjutin lagi setelah uangnya terkumpul." sekalian saja dia membicarakan masalah ini. Mumpung sedang ada kesempatan, pikirnya.
"Apa? nggak boleh! kamu harus tetep kuliah, masalah biaya, biar ibu yang memikirkan." ibunya menyerah.
"Tapi Bu ..."
"Nggak ada tapi, nurut sama ibu. Ibu nggak mau kamu sampai berhenti kuliah."
"Tapi Rani ..."
"Ibu nggak mau dengar alasan lagi, pokoknya kamu harus kuliah sampai lulus. Sudah sejauh ini nggak boleh ditunda lagi. Biar ibu yang cari biayanya." katanya, dengan tegas
Maharani tertegun. Lagi-lagi dia merasa telah menjadi beban ibunya yang harus banting tulang sendirian memikirkan biaya hidup dan pendidikan baginya.
Hatinya mencelos.
"Tidak apa-apa. Kita pasti bisa." ucap perempuan paruh baya itu sambil merengkuh tubuh mungil anak gadisnya.
*
*
*
*
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
𝐀⃝🥀🏘⃝Aⁿᵘ🍾⃝ᴄͩнᷞıͧᴄᷠнͣı📴
Rani Taruma kenapa ya... kok dia takut bgt sama laki² dan keramaian 🤔🤔🤔🤔🤔
2022-01-30
4
Aprilia***
ap Maharani punya kenangan buruk dimasa lalu🤔🤔🤔
2022-01-26
3
Osin Saharamaryana
Rani tuh kaya kena sindrom tempat keramaian ya..
2021-12-03
1