*
*
*
"Angga!" suara seorang gadis meneriakkan namanya ketika pemuda itu baru saja memarkirkan motor merahnya.
Angga menoleh, membuka helm dan meletakkannya di atas tangki bensin.
Seorang gadis cantik berjalan tergesa kearahnya.
Fikka.
"Lu kemana aja tiga hari ini?" mata indahnya membulat kala melihat wajah tampan adik kelasnya babak belur. "Lu abis berantem?"
Angga menggeleng.
"Terus kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa." pemuda itu berjalan, diikuti Fikka yang berusaha mensejajari langkah lebarnya.
"Tapi muka lu?"
"Udah, nggak usah dibahas." dia melanjutkan langkahnya, namun berhenti setelah menyadari kehadiran seseorang.
Angga tertegun menatap gadis yang menolongnya tiga hari yang lalu berdiri didekat area parkir kampus seperti sedang menunggu sesuatu.
Maharani mendongak, tatapan mereka bersiribok.
Entah mengapa pemuda itu tiba-tiba ingin menyapanya.
"Hey, apa kabar?"
Fikka mengerutkan dahi. Dia diabaikan.
Maharani tak menjawab, namun gadis itu segera menghampiri pemuda yang selama ini paling dia hindari. Dia merogoh kedalam saku jaketnya, lalu mengeluarkan sesuatu. Sebuah amplop.
"Apa ini?" Angga mengerutkan dahi.
"Aku mau balikin ini." Maharani dengan suara pelannya.
Angga meraih amplop itu, lalu membukanya. Lembaran uang seratus ribuan sepertinya yang dia berikan pada gadis itu tempo hari.
"Maksud lu apa?"
"Aku nggak bisa menerima ini. Aku ikhlas menolong kamu." lalu gadis itu berlari pergi. Meninggalkan Angga yang berdiri membeku.
"Bro!" Andra yang baru saja tiba menepuk pundak sahabatnya.
Angga bergeming, masih menatap kosong kearah Maharani berlari.
"Liat apa sih lu?" Andra mengikuti arah tatapan sahabatnya itu.
"Baru gue nemuin cewek kayak gitu." Angga bergumam.
"Apaan?"
"Cewek yang aneh." gumamnya lagi.
"Lu ngomong apa sih, gue nggak ngerti deh."
"Itu, siapa namanya, yang nolongin gue waktu itu?" Angga kini berpaling kepada sahabatnya.
Andra mengerutkan dahi. "Rani?"
"Iya. cewek itu." Angga mengangguk.
"Kenapa emang?"
"Aneh tuh cewek."
"Aneh kenapa?"
"Gue kasih duit malah dibalikin."
"Hah? masa?"
"Nih, ..." Angga memperlihatkan sebuah amplop yg terbuka yang tadi diserahkan Maharani kepadanya.
"Kenapa?"
Angga menggendikkan bahu. "Nggak tahu. Katanya dia nggak bisa Nerima ini. Aneh, kan? mana ada orang yang nggak bisa Nerima duit? dikasih duit malah nolak? aneh emang." Angga menggerutu.
"Yang lu kasih kurang kali." Andra sambil terkekeh.
"Ya tinggal bilang aja. gampang. Tar gue tambahin." jawab pemuda itu, sinis.
Andra mencibir, satu sudut bibirnya terangkat keatas.
"Ya udah, nanti lu kasih lagi aja kalau ketemu dikelas."
"Hah? emang kita sekelas sama dia?"
"Jiah, .. lu nggak nyadar selama ini?"
Angga menggeleng.
"Kemana aja sih lu, bro? Temen sekelas aja lu nggak hafal."
"Ye, ... emang gue nggak tahu. Semenjak pindah ke kampus ini gue nggak kenal siapapun selain lu sama Fikka." melirik gadis cantik dibelakang yang mengikuti mereka.
"Hmm ..." Andra mencebik. "Iye, tapi Kakak kelas yang seksi lu kenal semua." pemuda itu terbahak.
"Hm, ... itu ceritanya lain lagi." Angga tergelak. Lalu mereka berjalan beriringan menuju kelas.
Fikka tertegun.
****
Andra celingukan, mencari-cari wajah yang dikenalnya di satu sudut tempat biasa sosok itu duduk mengikuti mata kuliah setiap hari. Tapi hingga bel berbunyi tanda perkuliahan dimulai, sosok itu tak menampakkan batang hidungnya.
"Lu cari siapa sih? dari tadi celingukan mulu?" Angga yang memperhatikan tingkah sahabatnya sejak masuk kelas tadi.
"Gue nggak lihat Rani. Biasanya dia ada di kursi itu," menunjuk satu sudut terjauh dari tempat mereka duduk.
"Oh ya?"
"Bukanya tadi dia nemuin lu pas di gerbang? kok dia nggak ada ya?"
"Kagak tahu, tadi dia perginya kearah luar." Angga menggendikkan bahu.
"Serius lu?"
Pemuda itu mengangguk.
"Dia nggak kuliah?" Andra bergumam.
"Mana gue tahu. Lagian kenapa sih lu merhatiin tuh cewek?"
"Gue nggak merhatiin tuh cewek, cuma heran aja. Biasanya dia duduk disana, tapi kayaknya udah beberapa hari ini dia nggak ada." Andra menjawab.
"Serius lu? sampe segitunya lu ingat? jangan-jangan lu suka ya sama dia? cieee..." Angga terbahak.
"Gila, lu!" Andra memalingkan wajahnya yang hampir memerah.
"Nah, lu? lu suka ya sama dia?" Angga tertawa lagi.
"Diem lu, pea!" Andra mengacungkan tangannya yang terkepal kearah sahabat yang sedang menggodanya itu. Tapi malah membuat Angga semakin tertawa terbahak-bahak.
"Gue pikir selera lu cuma tante-tante doang, .." Angga berbisik, "Taunya lu juga suka yang sebaya?" lagi, pemuda itu tertawa.
"Tante-tante cuma buat cari duit." Andra ikut berbisik.
"Nah, berarti beneran dong lu suka sama cewek itu, ... siapa tadi namanya? Rani? hahaha..." Angga tertawa hingga kepalanya tertarik kebelakang. Menggoda sahabatnya ini terasa sangat menyenangkan.
"Serah lu dah, ..." Andra mendelik.
*
*
*
Dua puluh panggilan tak terjawab dari nomor ponsel Tante Wina.
Angga menghembuskan napasnya kasar. Sambil memutar-mutar benda pipih berukuran 6 inchi itu dengan tangannya.
"Dia Tante pertama dan paling royal yang udah gue layani. Masa harus gue tinggal gitu aja?" Angga berujar, ketika mereka duduk disebuah kafe pada saat pulang kuliah.
Andra menghela napas dalam.
"Masih banyak Tante yang lebih royal dari dia. Lu kagak usah khawatir. Banyak yang mau sama lu." Andra tergelak.
"Tapi gue seneng sama dia." Angga menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Jatuh cinta lu sama dia?" Andra tergelak lagi.
"Kagak lah. Cuma, ... gue ngerasa nyaman aja sama dia. Dia baik, juga menyenangkan. Walaupun rada jutek dan seenaknya sama orang lain, tapi kalau lagi sama gue dia sebenernya orang baik." Angga menerawang ke langit-langit kafe yang dipenuhi ornamen abstrak.
"Ya, tapi hidup lu dalam bahaya kalau terus sama dia."
"Gue nggak ngerti deh, dia piaraannya seseorang, tapi dia juga nyari kepuasan dari cowok lain, yang lebih muda lagi dari dia. Apa nggak gila tuh?"
Andra terkekeh, "Ini belum seberapa, entar lu bakalan lebih terkejut. Kalau suatu hari lu nerima job dari tante-tante yang hidupnya lebih parah dari Tante Wina. Yang dalam pandangan orang lain tuh hidup mereka indah, sempurna, banyak kemudahan. Nggak mungkin susah, deh."
"Apa gue berhenti aja ya?" Angga tergelak. "Gak bisa bayangin gue nemu yang lebih gila dari Tante Wina."
Andra menggendikkan bahu. "Serah lu."
"Tapi kayaknya gue nggak bisa." Angga terkekeh. "Gue suka kerjaan ini." pemuda itu lalu terbahak hingga kepalanya tertarik kebelakang.
"Pea, lu!" Andra menendang kaki sahabatnya yang berada dibawah meja.
Pandangan Andra menangkap sosok yang dia kenal tengah melintas didepan kafe. Pemuda itu bangkit.
"Rani?"
"Siapa?" Angga mengikuti pandangan sahabatnya.
"Maharani." ulang Andra, lalu segera berlari keluar dari kafe tersebut, diikuti Angga.
"Yaelah, ... ngapain tuh anak?"
***
"Rani!" Andra berteriak ketika dia telah berada di area parkir kafe.
Maharani menghentikan langkahnya yang tergesa, dia menoleh. Lalu tertegun.
Kedua pemuda itu datang menghampiri, refleks Maharani mundur beberapa langkah kebelakang untuk menjaga jarak yang dirasa aman baginya.
"Kamu dari mana?" Andra bertanya.
Maharani tak menjawab, hanya menatap sekilas, lalu menunduk.
"Kamu tadi nggak kuliah?" Andra bertanya lagi.
Gadis itu hanya menggelengkan kepala.
"Jawab kenapa kalau orang nanya? diem aja!" Angga menggerutu.
Maharani mendongak sebentar, namun kembali menundukkan pandangannya.
"CK! gue ***** juga lu!" Angga tiba-tiba mengikis jarak diantara mereka. Mengulurkan tangannya untuk meraih lengan Maharani.
Gadis itu terperanjat, kembali memundurkan langkahnya kebelakang.
"Nggak! Aku baru melamar pekerjaan." jawabnya, dengan takut-takut.
Angga berhenti tepat dua langkah didepan gadis itu yang sudah mengkeret. Bibirnya menyeringai.
"Gitu dong, jawab yang bener kalau ada yang nanya. Jangan cuma geleng-geleng, atau ngangguk-ngangguk. Lu kan punya mulut. Dipake kenapa?" Angga mengomel. Tiba-tiba dia jadi banyak bicara. Padahal sebelumnya dia juga sangat jarang bicara kepada orang yang tidak terlalu akrab.
Maharani mendongak.
"Lu kerja di sini sekarang?" Angga kini yang bertanya.
Maharani menggeleng.
"Malah geleng-geleng lagi. Lu beneran minta gue cium ya?" pemuda itu mengancam.
"Nggak! aku melamar kerjaan, tapi nggak diterima. Lowongan yang udah penuh. Aku telat sehari." Maharani menjawab dengan kalimat panjang kini.
Angga terkekeh, "Lu kalau lagi ngomong kelihatan imut." tiba-tiba saja kalimat itu lolos dari mulutnya.
Andra terkejut, sahabatnya mengucapkan kata-kata yang tak pernah dia dengar sebelumnya diucapkan kepada gadis lain.
Maharani juga tentu saja semakin terperanjat.
"Lu mau minum? kayanya lu kecapean." Angga yang melihat dahi gadis itu yang berkeringat.
"Nggak usah, aku mau pulang." Maharani kini menjawab, dia takut kembali diancam pemuda sialan dihadapannya.
"Serius," Angga meyakinkan.
Maharani menggeleng. "Aku harus pulang. Makasih." katanya, lalu setengah berlari keluar dari area parkir kafe itu meninggalkan dua pemuda yang paling dia hindari selama dia menempuh pendidikan di kampus.
"Nah, kan? Dia aneh!" Angga setelah terdiam beberapa saat.
"Lu aja yang pea! tiba-tiba ngomong macem-macem. Pake ngancem dengan pikiran mesum lu lagi!" Andra kesal setengah mati. Sahabatnya itu telah mengacaukan rencana yang terlintas dibenaknya barusan.
"Gue gemes aja. Dia kalau ditanya nggak pernah lebih dari geleng-geleng, atau ngangguk-ngangguk." Angga terbahak.
"Dasar!" Andra mendorong kepala sahabatnya dengan keras.
"Kenapa lu! cemburu? sana Pepet!"
"Lu pea!" Andra berjalan kembali masuk kedalam kafe.
"Lah, dia ngambek?" Angga tergelak sambil mengikuti langkah sahabatnya.
Andra segera membayar minuman mereka, lalu meraih tasnya.
"Kita pulang nih?" Angga bertanya.
Andra tak menjawab.
"Lah, lu ngambek bro?"
"Lu gila!" jawab Andra, lalu segera pergi dari kafe tersebut.
*
*
*
*
Bersambung ...
Hai kesayangan! Maaf masih slow update ya. Masih banyak hal yang harus emak kerjain. tapi mudah-mudahan cepetan beres deh.
like, koment vote nya ya buat Dede Angga.😂😂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Cipika Cipiki
Angga mudanya cool gemesin, udah tuanya malah kocak gokil 😂 suka banget sama Angga yg udah jadi aki anom di novel Dimitri 🤗
2023-12-30
1
Bonaria Marmata
kangen ni ma Angga,, Mak,,,,,
balek baca lagi,,,,😀😀😀😀
2022-04-12
0
Bonaria Marmata
kangen ni ma Angga,, Mak,,,,,
balek baca lagi,,,,😀😀😀😀
2022-04-12
0