*
*
"Gimana kuliah?" Sagara menyesap cappucino panas miliknya yang masih mengepulkan uap diudara. Sore itu dia sengaja menelfon adiknya untuk bertemu setelah pertemuan terakhir mereka dua bulan yang lalu.
"Biasa aja." Angga tampak tak peduli.
"Kerjaan?" tanya pria 27 tahun itu, menatap adiknya yang sibuk dengan ponsel ditangannya.
"Gitu deh." Angga masih fokus pada layar ponsel.
"Ngojek lagi sepi ya?" Sagara kembali bertanya, melihat Angga yang tampaknya tak membawa perlengkapan bekerja seperti ojek online yang biasa dia lihat, membuat adiknya kini beralih menatapnya.
Angga baru ingat jawabannya ketika beberapa Minggu yang lalu saat kakaknya bertanya mengenai pekerjaan.
"Gitulah, ..." pemuda itu menjawab sekenanya.
"Terus, gimana lu?"
"Gimana apanya?"
"Ya ... hidup lu?"
"Nggak gimana-gimana. Gini aja."
"Kan ngojek lagi sepi. Terus gimana lu dapetin duit buat makan sama bayar kontrakan?" Sagara mulai penasaran.
"Masih bisa." jawab Angga, tampak biasa.
"Serius?" Sagara sepertinya mulai khawatir.
Adik laki-lakinya itu menganggukkan kepala.
"Sebaiknya lu pulang aja deh." Sagara kembali berujar.
"Ngapain? ogah." jawab Angga, dua alis tebalnya bertautan.
"Gue cuma khawatir, lu ngekost, kerja, kuliah. ..."
"Khawatir apanya? gue bisa. Buktinya gue nggak apa-apa kan sekarang?"
"Lu fokus kuliah aja deh, terus pulang kerumah. Jangan gini terus."
"Gue mau fokus kuliah sekarang. Tapi kalau urusan pulang gue nggak mau."
"Kenapa sih lu keras kepala? ngalah dikit lah sama orang tua?"
Angga terdiam.
"Lu sebenernya mau apa sih ngajak gue ketemuan? mau nyuruh gue balik kerumah yang jelas-jelas nggak menginginkan gue itu? ogah. Gue lebih seneng hidup gini. Sendirian, nggak ada yang mendikte, ngatur apalagi marah-marah. Hidup gue tenang, udah."
Sagara menghela napas dalam. Kali ini adiknya benar-benar serius dengan ucapannya. Perkataan ayahnya beberapa bulan yang lalu tampaknya benar-benar melukai hati pemuda 22 tahun ini hingga dia tak mau kembali kerumah.
"Kalau karena lu yang biayain kuliah gue, terus lu mau atur-atur hidup gue lagi, mendingan udahan aja deh. Lu nggak usah capek-capek ngeluarin duit buat kuliah gue. Mendingan gue berhenti kuliah aja udah."
"Lu lihat gue aja, Ga. Nggak usah lihat ayah. Gue cuma punya lu. Ibu nyuruh gue buat jagain lu, tapi lihat sekarang, kalau kayak gini gimana gue bisa jagain lu?" Sagara mencoba berbicara pelan. Si kepala batu dihadapannya ini tidak akan mempan dengan gertakan apapun.
"Gue bukan bayi yang harus lu jagain, gue udah dewasa, kak. Gue bisa."
"Buat gue, lu masih adik kecil gue, Ga. Mau sedewasa apa juga. Lu tetep adik gue. Dan harus gue jagain." Sagara mengulang kata-katanya.
Angga mendengus.
"Dulu masih dirumah aja hidup lu udah berantakan, apalagi sekarang. Gue khawatir lu nyebur ke hal yang nggak-nggak." kalimat itu akhirnya lolos juga dari mulut Sagara. Tentang kekalutannya memikirkan keadaan adiknya yang hidup sendirian diluar rumah. Apalagi melihat hidup pemuda itu sebelumnya saat masih berada dilingkungan rumah. Angga yang bebas, Angga yang urakan, Angga yang hidup tanpa aturan.
"Maksud lu?" Angga meletakkan ponsel ditangannya keatas meja, kini dia tampak serius.
"Gue cuma takut lu makin masuk ke dunia yang nggak bener. Pergaulan lu mengkhawatirkan, Ga."
Angga tergelak. "Lu kuno deh kak!"
"Bukan kuno, gue cuma khawatir."
"Iya, iya, iya ..." Angga tertawa.
"Terus, bentar lagi lu kan harusnya magang? gimana udah lu pikirin mau magang dimana?" Sagara mengalihkan pembicaraan.
Angga terdiam. Tidak pernah dia pikirkan tentang hal ini sebelumnya. Pemuda itu menggeleng.
"Lu magang di tempat gue aja, biar gampang gue bantuinnya."
"Bercanda lu, kak. Jurusan ekonomi lu suruh benerin mesin?" Angga tergelak lagi.
"Ck! bukan dibagian itunya,"
"Bagian apanya? lagian gue heran sama ayah, pilihin gue jurusan ekonomi. Udah tahu gue butek kalau soal bisnis. Kenapa juga maksa gue masuk jurusan ini ya? bukannya masukin gue ke jurusan mesin. Kan sesuai sama kesenengan gue."
"Apapun jurusannya nggak penting. Yang penting itu ilmunya setelah lulus bisa praktekin buat bantuin gue ngurus usaha keluarga."
"CK! ogah gue."
"Kenapa? nanti akhirnya lu juga harus ikut ngurusin usaha ini juga kan. gue nggak bisa sendirian."
"Lu aja sana. Gue mah mau nyari jalan usaha sendiri. Nggak mau terikat sama usaha keluarga. Tar hidup gue ribet lagi kayaknya lu, kak." Angga mencibir.
Sagara menghela napas lagi dengan pelan.
"Oh, iya ..." Angga teringat sesuatu. "Ditempat lu ada lowongan buat cewek nggak?"
"Maksud lu?"
"Ada lowongan kerjaan buat cewek nggak?"
"Buat siapa? pacar?" Sagara menyeringai.
"CK! bukan. Buat gebetannya si Andra. Kasian dia kesana kesini cari kerjaan belum dapet."
"Gebetan Andra? atau gebetan lu?" Sagara menggoda adiknya.
"Andra lah. ...mana ada gue punya gebetan." Angga menggendikkan bahunya. Lalu menggigit bibir bawahnya agak lama. Matanya menatap ke arah lain seolah sedang menghindar.
Sagara menatap wajah adiknya yang tampak agak merona. Seperti sedang terjadi sesuatu dengan pemuda keras kepala itu.
"Nanti gue tanya sama Vira. Siapa tahu di tokonya dia butuh pegawai."
"Tapi jangan yang berhubungan sama orang banyak. Dia nggak bisa. Kalau bisa di bagian belakang aja. Yang nggak terlalu sering ketemu orang. Kayaknya dia di gudang juga nggak apa-apa."
Sagara mengangkat sebelah alisnya keatas. "Kok aneh? Ada orang macam itu?" katanya.
Angga mengangguk. "Dia memang aneh. Dia kayak ketakutan gitu kalau ketemu orang. Orangnya nggak suka banyak omong juga. Mungkin nggak terbiasa. Tapi kayaknya dia rajin. Sebenarnya dia kuliah, cuma gara-gara dipecat dari kerjaannya dia ambil cuti dulu sebentar. Dan beberapa hari ini dia nyari kerjaan, dan belum dapet. kasian." pemuda itu berhenti setelah bicara panjang lebar tanpa sadar membicarakan seseorang dengan begitu jelasnya. Lalu menangkap senyuman lebar di wajah Kakak laki-lakinya. Angga salah tingkah.
"Dia, dia, dia melulu. Dia pasti punya nama." Sagara tergelak.
Angga masih terdiam.
"Siapa namanya?" tanya Sagara, dengan bibir yang masih melengkung membentuk senyuman melihat tingkah si kepala batu yang terlihat lucu.
"Maharani." jawab Angga, senyuman kecil hampir terbit disudut bibirnya.
"Temen sekelas?" Sagara bertanya lagi.
"Hmm ... kata Andra sih gitu. Tapi gue nggak ngeuh. Udah dua tahun kuliah disini, tapi blom pernah lihat dia."
Sagara mencebik. "Sampai segitunya lu?"
"Janji ya tanya ke kak Vira. Kalau ada langsung kasih tahu gue."
Sagara mengangguk.
*
*
*
*
"Ndra!" teriak Angga dengan setengah berlari dari ujung lorong ketika melihat sahabatnya yang sedang berjalan menuju kelas pagi itu.
"Tumben lu? ada setan' lewat?" Andra mencibir.
"Maksud lu?"
"Pagi-pagi udah nongol aja di kampus. Biasanya beberapa menit setelah bel bunyi baru muncul."
"Ih, lu mah temen ada kemajuan dikit malah diledekin." keluh Angga.
Andra terkekeh.
"Gue udah minta kerjaan buat Rani sama kak Gara. Katanya dia mau nanya sama pacarnya. ditoko pasti ada lowongan."
"Serius juga lu? gue pikir lu bercanda kemaren?"
"Nggak lah. Gue udah janji kan sama dia."
Andra mengangguk.
"Kalau ketemu dia nanti lu bilangin ya. Jangan khawatir, dia pasti dapet kerjaan."
Andra mengerutkan dahi, tidak biasanya juga sahabatnya ini bersikap begitu.
"Dia nanti bisa kuliah lagi. Lu bisa sering ketemu lagi deh sama dia." Angga tergelak.
*
*
*
Bersambung ...
Ada yang kangen?😂😂😂
Andra
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Cici_sleman
andra swami vivian😍
2024-03-24
0
Kawaii 😍
lebih suka andra 😍 mantep banget
2023-11-19
1
Mbah Gindhoez
aku baca my sweet love dulu baru ke sini😀
2023-02-25
1