*
*
Angga mengendarai CBR merahnya membelah jalanan kota Bandung yang padat sore itu. Tante Wina menelfon nya tadi siang.eminta bertemu disalah satu mall terkenal dikota itu.
Tiga puluh menit kemudian pemuda itu tiba didepan mall, masuk kebasement untuk memarkirkan motor miliknya disana. Lalu masuk kedalam lift, dan yang segera melesat membawanya dan beberapa pengunjung mall lain kelantai dua.
Ting!!
Lift berhenti lalu pintunya terbuka. Semua yang berada didalam berhamburan keluar.
Angga merogoh ponsel dari saku jaket kulitnya, membuka aplikasi telfon, lalu menghubungi nomer Tante Wina.
"Kamu dimana?" suara seksi dari seberang sana.
"Baru keluar dari lift." jawab Angga, mengedarkan pandangan kesekitar tempat yang mampu dijangkauan matanya.
"Aku di food court, Kafe latte." jawab dari seberang lagi.
"Oke. aku kesana." lalu panggilan diakhiri.
Beberapa gerai makanan pun terlewati, dan disanalah dia, perempuan cantik berwajah Kaukasia dan berambut panjang kecoklatan. Tak sulit menemukannya karena dia memang paling mencolok diantara pengunjung kafe sore itu.
Wina melambai, Angga pun mempercepat langkahnya. Dan disaat tersisa beberapa langkah lagi, Wina menghambur begitu saja kepelukanya. Merangkul pundak kekar Angga, dan menciumi pipi kiri dan kanan pemuda itu.
Angga tertegun.
"Ayo duduk." Wina menarik tangan pemuda itu hingga ia menghempaskan bokongnya di kursi disampingnya.
"Mau pesan apa?" tawarnya, menatap wajah tampan pemuda didepannya. Senyuman manis terbit disudut bibir seksinya.
"Umm ... mocca latte?" jawab Angga, masih canggung.
Wina tersenyum, lalu melambaikan tangannya kepada seorang waiters yang kemudian datang menghampiri.
"Satu mocca latte, satu espresso." katanya, kepada sang waiters, yang kemudian menulis pesanan.
"Makannya apa?" dia menoleh lagi kepada Angga yang telah menempelkan punggungnya di sandaran kursi.
Pemuda itu menggeleng.
"Itu aja." Wina kepada waiters tersebut, yang segera pergi untuk membuat pesanan.
"Kamu kalau lagi gini pendiam banget, ya?" Wina memulai percakapan.
Angga melirik, menatap manik coklat yang indah didepannya. Bibirnya berkedut, dia mencoba tersenyum.
Wina malah terkekeh. "Kamu lucu banget, sih?" perempuan itu mengulurkan tangannya mengelus pipi sang pemuda dengan lembut.
Beberapa menit kemudian pesanan merekapun datang menjeda percakapan.
"Kamu kuliah?" tanya nya kepada Angga setelah waiters pergi.
Pemuda itu mengangguk. "Lagi cuti, sih." katanya kemudian.
"Kenapa?"
Angga tertegun. "Rencananya mau keluar aja."
"Lho? kok bisa? kenapa?"
"Nggak apa-apa. Cuma ...
"Nggak ada biaya?" Wina menyela.
"Mm ... bukan, masalahnya...
"Kamu terusin aja. Masalah biaya, aku yang tanggung." Wina dengan tiba-tiba.
What?
Tubuh Angga mengejang.
"Nggak usah, Tante. Bukan itu."
"Sebentar lagi lulus, kan? kalau nggak diterusin sayang. Nggak apa-apa, aku yang biayain." katanya lagi.
Angga terbengong. Karena memang bukan itu masalahnya, tapi dia bingung harus memakai alasan apa untuk Wina. Malas? mana mungkin, dia malu. Tidak mampu apalagi, karena memang jelas-jelas dirinya sangat mampu, Sagara yang mampu.
"Udah, jangan kelamaan mikir. Nanti bilang aja berapa kebutuhan kamu untuk bayar kuliah."
"Nggak usah, Tante. Asli. Aku lagi nggak mood lanjutin kuliah, akunya capek." sergah Angga, tetap menolak.
"Lho?"
"Serius, untuk sekarang kayaknya aku nggak bisa kuliah. Mungkin nanti."
Wina terdiam. "Ya udah lah, terserah kamu. Tapi kalau mau lanjutin lagi kuliah, bilang aja ya. Nggak usah sungkan." ujar Wina, lalu menyesap espresso pesanannya.
Angga mengangguk, juga melakukan hal yang sama dengan mocca latte yang dia pesan. Lalu perbincangan hangat pun mulai mengalir dari keduanya. Pembawaan Wina yang ramah dan asik saat mengobrol sepertinya mulai menular kepada Angga yang biasanya senang menutup mulutnya daripada berbasa basi. Hingga tawa renyah pun sering terdengar mengiringi obrolan mereka.
Hingga pada pukul delapan malam, mereka memutuskan untuk keluar dari kafe tersebut.
Angga bangkit dari kursi dan memutar tubuhnya mengikuti Wina saat tanpa diduga seorang waiters perempuan yang membawa nampan penuh dengan wadah kotor bekas pengunjung menabraknya dengan keras. Menyebabkan semua yang ada pada nampan yang dibawanya berhamburan mengotori tubuh Angga. Keributan pun tak dapat dihindarkan.
"Astaga!! maaf, maaf. Saya nggak sengaja." waiters tersebut mundur dua langkah kebelakang.
"Kamu nggak punya mata ya?" Wina bereaksi.
"Maaf, Bu. saya nggak sengaja." ulang waiters itu, dengan kedua tangan tertangkup didepan dada.
"Kamu nggak apa-apa kan sayang?" Wina kepada Angga yang masih tertegun.
"Kamu harus tanggung jawab, ya. saya nggak terima kejadian ini." Wina beraksi lagi.
"Maaf Bu, maaf mas." sang waiters meraih beberapa tisyu dimeja dan mengelap pakaian Angga yang terkenal kotoran sampah dari nampan yang dibawanya barusan. Namun bukannya bersih, pakaian pemuda itu jadi terlihat tak karuan.
"Udah, udah. nggak apa-apa." Angga menghindar.
"Aduh, ... maaf sekali." seorang pria datang menghampiri, dari nametagg nya, sepertinya dia seorang manager di kafe itu. "Maafkan kelalaian pegawai kami, izinkan kami mengganti kerugian yang dialami mas nya." katanya lagi.
"Bapak yang benar dong kalau memperkerjakan orang. jangan orang ceroboh macam ini." Sina meradang.
"Iya maaf, Bu. ini kelalaian kami."
"Nggak bisa gitu lah. Harusnya bapak tuh pecat pegawai nggak becus seperti ini. bikin rugi perusahaan tau Nggak?" sambung perempuan itu. Mendelik kepada waiters yang mengkerut dibelakang si manager.
"Udah, udah. Aku nggak apa-apa kok, nggak usah berlebihan." Angga menyela.
"Tapi baju sama jaket kamu kotor, sayang. Nggak bisa dipakai lagi." Wina mengusap-usap pakaian yang menempel di tubuh Angga.
"Nggak apa-apa. baju bisa beli lagi, banyak kok." ucap Angga, sesekali melirik waiters yang masih tertegun didepan mereka.
"Yaudah, ayo kita beli. Nanti yang ini buang aja." Wina berujar, seraya menarik tangan Angga untuk mengikutinya keluar dari kafe tersebut. Tapi dia berhenti sebentar, lalu menoleh kearah manager, dan melirik waiters yang kini sedang membereskan kekacauan yang barusaja terjadi. "Saya pelanggan tetap kafe ini, lho pak. Sayang banget kalau pekerja bapak seceroboh itu, bisa bisa kafe ini kehilangan banyak pelanggan setianya. Saran saya sih bapak nggak usah memperkerjakan orang ini. diluar sana masih banyak yang lebih mampu bekerja." ucapnya, seraya memalingkan muka. Lalu keluar dari tempat itu.
Waiters perempuan itu membeku, tangannya bergetar. Ini kesekian kalinya dia mengalami hal seperti ini.
Angga menoleh, terlihat sang manager tengah mengomel sambil menunjuk-nunjuk wajah waiters tersebut dari kejauhan. Sementara sang waiters hanya menunduk dan mengangguk. Tiba-tiba rasa iba menggelayut dihatinya.
"Disini aja." Wina menarik Angga kesebuah toko baju terkenal di mall tersebut. Memilihkan beberapa kaus dan jaket yang dirasa cocok untuk pemuda itu.
"Kamu coba sana." katanya, menunjuk ruang kecil di ujung toko tempat pengunjung mencoba pakaian yang dipesan.
Angga menurut. Diraihnya beberapa kaus dari tangan Wina, lalu masuk kedalam kamar pas itu.
"Udah ini aja." katanya, seraya keluar dari ruang kecil itu. Kaus putih polos berlogo kelinci kecil berwarna hitam di dada sebelah kiri atas menjadi pilihannya. Dan sebuah jaket denim yang terlihat sangat cocok ditubuh tinggi Angga. Membuat mata Winna tak bisa berkedip. Terpesona oleh ketampanan pemuda dihadapannya.
Setelah yakin dengan pilihannya, Wina memutuskan untuk kekasir membayar barang belanjaannya mereka. Beberapa potong kaus, juga celana jeans dan jaket, yang semuanya dia belikan untuk Angga. Sementara pemuda itu hanya menurut, mengekor dibekakang Wina yang sangat antusias dengan apa yang dilakukannya hari itu. Lalu mereka keluar dari toko tersebut.
"Kamu malem ini ada janji sama yang lain nggak?" Wina saat mereka berjalan ke parkiran.
Angga menggeleng. "Nggak."
"Kalau begitu, kita ke tempat aku ya." Wina dengan senyum menggodanya.
Angga tertegun.
"Udah, ayo!" katanya, menarik lengan pemuda itu kearah mobil Porsche berwarna merah menyala miliknya.
"Tapi aku bawa motor," Angga menyela.
"Udah, disini aman kok. Kamu bisa bawa besok. Kita titip ke sekuriti." katanya, tanpa bisa dibantah lagi.
Angga hanya menurut saja. Dia masuk kedalam mobil merah itu, lalu duduk dengan tenang.
Nikmati saja Angga, ini mudah. Hanya tinggal menerima semua yang dia berikan. Dan melakukan apa yang dia inginkan. Dan hidupmu akan baik-baik saja. See, mudah bukan? Batinnya.
*
*
*
Bersambung ...
hai reader tersayang, kita ketemu lagi. Maaf novel ini baru dilanjutin, maklum, emak sibuk... ( sok sibuk padahal 🤣🤣)
Enjoy ajalah.
jangan lupa like koment sama vote nya ya.. buat Dede Angga 😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Bzaa
semoga angga terbuka hatinya, jdi mao kuliah deui... 😊
2022-10-11
0
🇵🇸яιѕηαzι∂αηєαяƒα
aduh angga 🙈
2022-09-14
1
Lusiana Hp
ini kopi hitam, bukan suger🤣🤣kalau suger identik cewek2 sama om2
ini ganteng2 sama tante2😉🤣🤣🤣
2022-02-07
2