*
*
Angga terbangun saat merasakan pergerakan disampingnya. Rasa hangat menjalari tubuhnya saat sebuah tangan kurus merayap melingkari pinggangnya.
Pemuda 22 tahun itu mengerjap berkali-kali. Memori diotaknta berputar mengingat kejadian semalam. Saat seorang perempuan cantik berusia 35 tahun mengerang dan berteriak dibawah kendalinya. Meracau tak karuan dengan bibir seksinya menyebutkan kata-kata erotis yang membuatnya sangat bergairah.
Menaklukan perempuan dewasa memang selalu membuatnya merasa sangat bergairah. Ah, bukan!! Mengapa otaknya selalu tertuju ke bagian itu?
Angga menggeleng. Lalu menoleh ke sebelah kiri, dimana perempuan itu masih terlelap.
Tante Wina.
Nama yang indah, sesuai dengan paras yang cantik khas campuran Eropa sepertinya. Dengan hidung mancung, alis tebal bermata bulat dengan iris coklat tua. Rambut berwarna agak kemerahan, entah alami atau ditimpa pewarna. Dengan kulit putih kaukasia yang terasa begitu lembut saat disentuh.
Dia perempuan pertama yang menawarinya dengan harga tinggi tadi malam, sebelum tante-tante yang lain berdatangan. Ah, dia merasa seperti anak anjing yang berada di petshop. Yang dilelang kemudian diserahkan kepada si penawar yang berani membayar dengan harga yang tinggi.
Huh!! petshop. Anak anjing? Angga terkekeh.
Tante Wina menggeliat. Bulu mata lentiknya bergerak-gerak lucu. Lalu kelopak mata indah itu terbuka lebar. Mendapati wajah tampan yang juga tengah menatap wajah ngantuknya.
"Kamu sudah bangun." ucapnya, dengan suara serak khas bangun tidur.
"Hmm ..." Angga menggumam.
Tante Wina bangkit, menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya, kemudian berjalan ke arah kamar mandi tanpa rasa malu sedikitpun.
Angga menatap dalam diam namun merasakan sesuatu dibawah sana terbangun saat tubuh molek itu berlenggok sensual dihadapannya. Angga kembali menggeleng.
Sepuluh menit kemudian, perempuan itu telah keluar dari kamar mandi dengan keadaan segar. Bathrobe putih yang melilit tubuh sempurnanya, dan rambut merah basah yang menguarkan aroma segar dan harum.
"Kamu, mandilah." perintahnya, dan dijawab dengan anggukan oleh Angga.
Pemuda itupun memasuki kamar mandi dan segera membersihkan dirinya.
*******
Sebuah amplop kecil berwarna coklat disodorkan Tante Wina kehadapan Angga. Sudah bisa ditebak isinya adalah uang.
Angga mendongak, menatap wajah cantik yang sedang berdiri dihadapannya. Kemudian matanya beralih pada amplop digenggaman perempuan cantik itu.
"Nanti, kalau saya telfon kamu bisa kan datang lagi?" katanya.
Angga masih menatap dengan pikiran yang, ... entah. Namun pemuda itu mengangguk, lalu meraih amplop di tangan Tante Wina, dan memasukkannya kedalam saku jaket kulit miliknya.
"Oke. Kamu masih mau disini? Karena saya harus segera pergi."
Angga hanya mengangguk.
Wina melenggang pergi, tapi dia sempat berhenti sebentar diambang pintu.
"Kamu tahu Angga, kamu sebaiknya belajar untuk bersikap ramah. Dan sesekali mengobrol. Karena hebat diatas ranjang saja nggak cukup." ucap Wina, seraya melenggang keluar dari villa yang dia sewa sendiri khusus untuk dirinya dan Angga malam itu.
Angga mengangkat satu alisnya keatas. "Apa dia bilang?"
*
*
*
Andra tertawa dengan keras ketika sahabatnya itu bercerita tentang kejadian dimana Wina mendiktenya soal sikapnya yang harus dirubah.
Harus lebih ramah apanya? Para gadis dikampusnya menyukai sosok laki-laki seperti dirinya. Yang cool dan tidak banyak omong. Tidak terlalu ramah tidak apa-apa. Justru mereka lebih senang mengejar laki-laki yang pendiam dan cuek seperti dirinya. Buktinya, banyak gadis yang dengan suka rela menyerahkan tubuh mereka.
Tidak pernah ada yang bisa mengaturnya sedemikian rupa. Apalagi orang yang baru saja dikenalnya dalam waktu satu malam saja.
"Yang lu hadapi sekarang beda, bro!"
"Ck!! tetep aja mereka hanya perempuan!"
"Lu nggak bisa samain Tante Wina sama cewek dikampus. Udah jelas mereka beda. Cewek dikampus maunya dimanja, diperhatiin sama dibaperin. Beda sama perempuan dewasa kayak Tante Wina."
Angga mendengus, lalu terdiam.
"Udah, kagak usah lu pikirin. Tar juga lu terbiasa beramah tamah sama mereka. Lama-lama lu bakalan pinter ngobrol dengan sendirinya." lanjut Andra.
"Gue ikut tidur disini dulu, ya. Sebelum bisa ngekos sendiri." Angga setelah beberapa lama terdiam.
"Lu yakin nggak mau pulang?" Andra menatap wajah sahabatnya yang kini agak murung.
"Yakin." jawabnya, tanpa keraguan.
"Serah lu deh. Pintu apartemen gue selalu terbuka buat lu. Tapi jangan bawa cewek kesini. haram buat gue." katanya, memperingatkan.
"Jiah, haram. Kek masuk mesjid aja haram. Gerayangi Tante Tante nggak haram. bawa masuk cewek lu bilang haram." Angga menendang kaki sahabatnya sambil mengejek.
"Serah gue dong, ini kan apartemen gue. klo lu mau bebas bawa cewek, sana lu sewa apartemen lu sendiri." ucapnya sambil melenggang pergi.
"Iye, tar kalo duit gue udah banyak."
Andra tak menjawab lagi. Pemuda itu masuk kedalam kamarnya dan membersihkan diri. Perjalanan dari Bogor ke Bandung memang lumayan melelahkan. Tapi sepadan, setidaknya untuk dirinya sendiri. Bulan ini dia sudah bisa mengumpulkan lebih banyak uang untuk di kirim kepada orangtuanya di kampung. Dia membayangkan dua adik kecilnya akan melonjak kegirangan saat sepeda baru mereka datang nanti. Dan tidak akan mendapat cibiran lagi dari tetangga karena selalu meminjam sepeda butut temannya. Andra tersenyum.
*
*
*
*
Angga menatap amplop coklat diatas meja. Dia belum membukanya sejak dari villa tadi pagi. Tidak tahu juga berapa isinya. Tapi dilihat dari ketebalannya mungkin jumlahnya lumayan.
Angga meraih amplop tersebut, kemudian membukanya. Tampak lembaran uang berwarna merah tersusun rapi. Bibir pemuda itu melengkung membentuk sebuah senyuman ketika telah mengetahui jumlah yang diterimanya.
"Not bad. Kayaknya gue bakalan suka kerjaan ini." Angga bermonolog, kemudian dia tergelak.
Banyak rencana diotaknya yang ingin segera dia realisasikan. Dia ingin hidup mandiri. Berada diatasnya kakinya sendiri. Tidak lagi tergantung kepada orang lain, apalagi kepada keluarganya. Tidak lagi menggantungkan hidup dari uang transferan Ayah ataupun kakaknya yang membuat dirinya bagai terhina.
Angga tersenyum kecut. Keluarga. Apa artinya itu untuk dia? Bukan, apa artinya dia untuk mereka? Sepertinya tidak ada. Hanya seorang anak yang kebetulan lahir didalam keluarga Mahendra yang mungkin tidak mereka inginkan.
Terserah saja, toh dirinya sudah membulatkan tekad akan meninggalkan itu semua. Kini yang dia pikirkan hanyalah bagaimana caranya bertahan hidup setelah ini. Jika memang jalannya harus seperti ini, biarkan saja begitu. Yang penting sekarang dia bisa bebas sebebas-bebasnya.
Membayangkan kehidupan bebas yang akan dia jalani. Terlepas dari bayang-bayang keluarga, terutama ayahnya. Apalagi mengingat dirinya tidak akan lagi menjadi bahan perbandingan dengan kakak laki-lakinya. Terutama, Takan lagi menatap wajah perempuan yang begitu dibencinya. Perempuan yang telah merenggut kebahagiaan ibu tercintanya. Perempuan yang dibawa ayahnya sesaat sebelum ibunya sekarat karena kanker serviks.
*
*
*
*
Bersambung ...
like
koment
vote!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Bzaa
bener2 kerjaan yg gampang dan ngasilin duit banyak🤣
2022-10-11
1
De Embun
baru mampir sekarang..
baca ini sekarang jd inget cerita rezki iyah ....
2022-05-31
1
Nur Hayati
ini kebalikan dr cerita Anna yg melayani om om... dan angga melayani tante2
2022-03-30
1