Maharani

*

*

Seorang gadis berjalan tak tentu arah mengikuti kemana kakinya melangkah. Lututnya sudah terasa lemas akibat berjalan terlalu lama. Dia sudah tak tahu lagi harus pergi kemana. Pulang kerumah tidak mungkin, ini baru jam 6 sore, dan belum waktunya jam pulang kerja. Dia tak tega harus mengatakan kepada ibunya bahwa hari itu akhirnya dirinya dipecat dari pekerjaannya di kafe sebuah mall besar dikotanya.

Maharani.

Salahnya sendiri selalu merasa was was ketika berhadapan dengan orang banyak. Dia masih tak bisa menguasai dirinya ketika harus pergi ke depan dimana banyak pengunjung di kafe tempat dia bekerja. Ini ketiga kalinya dia melakukan kesalahan ketika menabrak seorang pemuda hingga membuat barang kotor yang dia bawa dinampan tumpah mengenai tubuh pemuda itu.

Sebelumnya dia menjatuhkan pesanan ketika disuruh menyerahkannya kepada seorang pria dewasa yang malah menggodanya. Padahal Maharani hanya merasa ketakutan, tapi pria tersebut malah melayangkan keluhan tak masuk akal kepada manager kafe tersebut.

Apalagi ketika segerombolan pemuda yang memesan minuman melecehkannya secara terang terangan. Membuat dirinya histeris, namun tidak ada seorang pun yang percaya kepadanya. Mereka semua menuding bahwa dirinya sedang menarik perhatian.

Dan sepertinya inilah puncak dari segala nasib buruk yang dialaminya. Dikeluarkan dari pekerjaan yang dibutuhkannya untuk menyambung hidup dan meneruskan kuliahnya.

Sepertinya dia harus mengambil cuti dulu untuk beberapa tahun. Mencari pekerjaan yang cocok dengan dirinya, yang tidak harus berhadapan dengan orang banyak. Dan mengumpulkan uang untuk kuliah. Bagaimanapun dirinya tak mau berhenti begitu saja di tahun kedua. Setidaknya dia harus menyelesaikan studi nya hingga sarjana.

Maharani memilih berdiam diri ditaman kota yang kini disesaki pengunjung yang sengaja menghabiskan waktu mereka. Walaupun dia sangat merasa tidak nyaman karena keberadaan orang-orang, setidaknya tempat itu masih terasa aman bagi dirinya.

Hingga pada pukul sembilan malam dia memutuskan untuk pulang kerumah. Setidaknya jika dirinya pulang saat itu tidak akan ada pertanyaan dari ibunya tentang pekerjaan.

**

"Rani, sudah pulang?" ibunya ketika gadis itu baru mencapai pintu.

"Ya Bu." jawabnya, pendek. Tanpa menatap wajah sang ibu terlalu lama. Dia takut ketahuan.

"Hmm ... kamu pasti capek, Sana cepat mandi, terus makan." ujar sang ibu.

"Nggak usah, Bu. Rani mau langsung tidur." dia mencoba menghindar.

"Lho?"

"Besok Rani ada kuliah pagi." katanya lagi.

"Hhmm... baiklah kalau begitu." ibunya tak lagi bicara.

Maharani bergegas masuk kedalam kamar, dan menguncinya rapat-rapat, hal yang sudah dilakukannya dua tahun ini. Selalu memastikan pintu kamarnya terkunci sehingga tidak akan ada yang bisa masuk kedalam dan berbuat jahat kepadanya, lagi.

Dia segera membersihkan diri lalu mengistirahatkan tubuh nya dibawah selimut sambil memikirkan langkah apa yang akan dia ambil setelah ini.

*

*

*

*

Dering ponsel memekakkan telinga Anggara pagi itu. Sebelah tangannya nerayap-rayap diatas nakas mencari sumber suara. Sementara tangan yang satunya lagi menjadi alas tidur seorang perempuan cantik yang semalam dia gumuli hingga hampir dini hari.

Wina mengerang, mengeratkan pelukannya dipinggang pemuda itu. Kulit hangat mereka kembali bergesekan.

Anggara menatap layar ponselnya, tertera nama dan foto si penelfon, sang kakak Sagara. Matanya terbelalak.

"Ngapain dia pagi-pagi begini?" gumamnya, secara perlahan melepaskan diri dari rangkulan Wina yang masih terlelap.

Angga segera menjauh begitu turun dari tempat tidur.

"Angga?" suara nyaring dari seberang begitu Angga menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.

"Apaan sih kak? pagi buta begini lu nelfon?"

"Pagi buta lu bilang? ini matahari udah nongol lho!" Jawab Sagara dari seberang.

"Ya apaan sih?"

"Lu dimana, dek? Gue di kosan lu, tapi lu nya nggak ada.?"

"Apa? ngapain lu di kosan gue?"

"Gue cuma mau mastiin hari ini lu pergi kuliah apa nggak?"

"Ng ...

"Jangan bilang lu ingkar janji? lu udah janji sama gue!"

"Gini kak, ...

"Pokoknya lu harus kuliah, nggak ada tapi-tapi. Kalau nggak, gue nggak bakalan lepasin lu!" Sagara mengancam.

"Apaan? lu ngancam gue kak?" Anggara hampir tergelak.

"Gue nggak peduli. Gue bakal seret lu pulang kalau lu masih nggak mau nerusin kuliah."

"Tapi, ... "

"Kuliah, nggak? gue bisa nyuruh orang sekarang juga buat nemuin lu ada dimana.!" ancamnya lagi, kali ini membuat nyali Anggara menciut.

Apa jadinya jika ancaman kakaknya itu benar, dan dia mengetahui apa yang selama ini dilakukannya?

Walau bagaimanapun, Sagara merupakan orang yang paling dekat dengannya, saudara satu-satunya. Dan selama ini Sagara lah yang paling peduli kepadanya dibandingkan orang lain, apalagi ayahnya.

Kakak nya itulah yang selalu memperhatikan segala kebutuhan dan keinginannya sepeninggal ibu mereka. Ah, ... andai saja tidak ada ayah yang kejam itu, persaudaraan mereka pastilah akan sangat menyenangkan.

"Anggara!" Sagara berteriak dari seberang membuat Angga terhenyak.

"Iya, iya. Gue kuliah sekarang." akhirnya Angga menyerah.

****

Waktu sepuluh menit dia habiskan untuk membersihkan diri dan segera berpakaian. Namun sepasang tangan kurus merayap menyelinap dipinggangnya, lalu melingkari perut kotak-kotaknya yang masih telanjang.

Wina menempelkan tubuhnya dengan nyaman dipunggung kokoh pemuda itu.

"Masih pagi, sayang." bisiknya, sambil mengusap-ngusap perut berotot Anggara.

"Mm ... iya, Tan. Aku harus pergi. Ada jadwal kuliah pagi ini." jawab Angga, terbata. Mencoba menepis pikiran yang baru saja melintas karena tangan dengan jemari lentik itu mulai merayap kebawah perutnya. Mencari sesuatu yang mulai bangkit lagi dari tidurnya.

"Kuliah?" Wina dengan suara seraknya.

Anggara mengangguk.

"Bukannya semalam kamu bilang mau cuti dulu?"

"Ng ... iya. Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin sebaiknya aku lanjutin deh. Sayang. kan Tante bilang juga begitu. iya kan?" Anggara berusaha melepaskan tangan Wina dari tubuhnya yang mulai memanas lagi.

"Hhmmm, ... iya juga. Bagus dong." Wina melonggarkan lilitan tangannya.

"Ya udah, ..." Angga bangkit setelah Wina melepaskan lilitan tangan ditubuhnya. "Aku pergi sekarang, ya?" Angga memutar tubuh, dan menelan ludah kasar kala menatap tubuh telanjang itu bangkit dari tempat tidur.

"Emang harus perginya sekarang, ya? nggak bisa mundur sejam lagi, gitu?" perempuan 35 tahun itu kembali menempelkan tubuhnya telanjangnya pada Annga.

"Mm ... setengah jam lagi harus masuk kelas, Tan." Angga melihat layar ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi.

"Mm .. ya udah," tanpa canggung perempuan itu berjalan ke arah sofa disisi kiri tempat tidur, meraih bathrobe miliknya kemudian mengenakannya, melilitkan talinya secara asal. Lalu meraih tas yang terletak disudut sofa tersebut, mengeluarkan dompet dan menarik isinya. Sekitar dua puluh lembar uang seratus ribuan yang kemudian dia serahkan kepada Angga.

Tanpa banyak bicara Angga segera menerima lembaran uang itu dari tangan Wina.

"Makasih," Angga tersenyum, lalu memasukkan lembaran merah itu ke saku jaket bagian dalamnya.

"Makasih ya pakai bonus, dong." Wina berujar.

Angga mengerutkan dahi, "Maksud Tante?"

Perempuan itu mengulum bibir seksinya, kemudian tersenyum.

Angga sepertinya mengerti apa yang diinginkannnya. Lantas pemuda itu maju hingga tubuh tingginya merapat dengan Wina, dan menundukkan kepalanya untuk meraih bibir menggoda perempuan itu, lalu memagutnya dengan lembut.

Wina meremat ujung kaus yang melekat di tubuh Angga, ketika desiran halus menggetarkan tubuhnya. Pemuda itu memang begitu pandai mencumbu. Membuatnya tak ingin berhenti dan malah menginginkan lebih. Namun dia harus menelan kekecewaan ketika Angga malah menlepaskan tautan bibir mereka berdua.

"Kamu, ih ..." gerutunya, sambil memukul pelan dada Angga.

"Harus pergi sekarang, Tan." Angga tergelak menatap wajah merona perempuan 35 tahun itu yang membuatnya terlihat semakin seksi.

"Bye." katanya, seraya menghambur keluar dari unit apartemen mewah tersebut.

*

*

*

*

Bersambung ...

Hai lagi, ... masih mau baca ini nggak? janji deh sekarang up tiap hari. hehe ...😅😅😅

Terpopuler

Comments

Indah Retno Pratiwi

Indah Retno Pratiwi

aq 30annn tapi ngga gini 🤣🤣🤣

2023-11-01

0

H!@t>🌟😉 Rekà J♡R@

H!@t>🌟😉 Rekà J♡R@

klo aku 33.. tapi aku gak ky tante2 kok..

2023-02-17

0

𝐀⃝🥀🏘⃝Aⁿᵘ🍾⃝ᴄͩнᷞıͧᴄᷠнͣı📴

𝐀⃝🥀🏘⃝Aⁿᵘ🍾⃝ᴄͩнᷞıͧᴄᷠнͣı📴

🤦🏼‍♀ kelakuanmu sungguh terlalu dah, ga....

2022-01-30

4

lihat semua
Episodes
1 Pergi
2 Deal!!
3 Bebas
4 Play
5 Kedatangan Sagara
6 Easy
7 Maharani
8 Meet
9 Mimpi Buruk
10 Save
11 Sign
12 Rasa
13 Care
14 Tell
15 Hati Angga
16 Berbuat Baik
17 Heartbeat
18 Menyangkal
19 Perasaan Andra
20 Her
21 Bestfriend
22 Wound
23 Weak
24 Be Mine!
25 Fikka
26 Opened
27 Curiga
28 Sebuah Ide
29 Beast
30 Fall
31 Fight
32 Sadar?
33 Aku Sayang Kamu
34 Lies
35 Down
36 Hit!
37 Heal
38 The Thing
39 Romantis
40 Curhat
41 Sesuatu
42 Tentang Seseorang
43 Hal Menjengkelkan
44 Obrolan Pagi
45 Tugas
46 Hurt
47 The Cure
48 A Gift
49 Mengajari
50 Jadi Therapist Kamu?
51 Salah Faham
52 Salah Faham#2
53 Mengerti
54 Pulang
55 Seperti Anak Kecil
56 Memory
57 Kembali
58 Hugg
59 Tertangkap Basah
60 Baju
61 Curhat #2
62 Ngojek?
63 Rumah
64 Let
65 Orang Asing
66 Kabur
67 Taking
68 Meminta
69 Let Her Go
70 Menikah?
71 Pulang Ke Rumah
72 Malam Pertama
73 Fitting
74 Perempuan
75 Barchelor Party
76 Biar Kamu Terbiasa
77 Pernikahan Sagara
78 Jealoussy
79 Terjebak Hujan
80 Kekhawatiran Ayah
81 Tausiyah
82 Buku Harian Sagara
83 Di Suatu Pagi
84 Keluarga
85 Belajar Romantis
86 Belanja
87 Makan
88 Magang
89 Kecemburuan Angga
90 Kamu Bisa?
91 Obrolan Pagi#2
92 Bercanda
93 Punya Anak?
94 Hal Menjengkelkan #2
95 Sibuk
96 Elang
97 Hal kecil
98 Jadi Aneh
99 Pegang Aja?
100 Bekerja
101 Hal Konyol
102 Kangen
103 Tidak Pantas
104 Ingin Nonton Konser
105 Hanya Masa Lalu
106 Tentang Sebuah Rasa
107 Balas Dendam?
108 Baby nya Kangen!
109 Kamu Nakal!
110 Gerah
111 Konser Dan Mancing
112 Ibu
113 Kehilangan
114 Capcai Kenangan dan Kegagalan
115 Check Up
116 Check Up Lagi?
117 Kunjungan Andra
118 Belajar Dan Modus
119 Mandi Lagi?
120 Kangen #2
121 Cuma Cari Perhatian
122 Serius
123 Crash
124 Luka
125 Aku Membutuhkanmu!
126 Buta?
127 Aku Baik-baik Saja
128 Terungkap
129 Tidak Usah Di Bahas
130 Keras Kepala
131 Kabar Baik
132 50 persen
133 Mata Biru
134 Rasa
135 Bayinya Ngambek
136 Buku Harian Maria
137 Rasa Takut
138 Agony
139 Baby!
140 Hari Baru
141 Rania Khaira Yudistira
142 Ekstrapart#1
143 Ekstrapart#2
144 Ekstrapart#3
145 Ekstrapart#4
Episodes

Updated 145 Episodes

1
Pergi
2
Deal!!
3
Bebas
4
Play
5
Kedatangan Sagara
6
Easy
7
Maharani
8
Meet
9
Mimpi Buruk
10
Save
11
Sign
12
Rasa
13
Care
14
Tell
15
Hati Angga
16
Berbuat Baik
17
Heartbeat
18
Menyangkal
19
Perasaan Andra
20
Her
21
Bestfriend
22
Wound
23
Weak
24
Be Mine!
25
Fikka
26
Opened
27
Curiga
28
Sebuah Ide
29
Beast
30
Fall
31
Fight
32
Sadar?
33
Aku Sayang Kamu
34
Lies
35
Down
36
Hit!
37
Heal
38
The Thing
39
Romantis
40
Curhat
41
Sesuatu
42
Tentang Seseorang
43
Hal Menjengkelkan
44
Obrolan Pagi
45
Tugas
46
Hurt
47
The Cure
48
A Gift
49
Mengajari
50
Jadi Therapist Kamu?
51
Salah Faham
52
Salah Faham#2
53
Mengerti
54
Pulang
55
Seperti Anak Kecil
56
Memory
57
Kembali
58
Hugg
59
Tertangkap Basah
60
Baju
61
Curhat #2
62
Ngojek?
63
Rumah
64
Let
65
Orang Asing
66
Kabur
67
Taking
68
Meminta
69
Let Her Go
70
Menikah?
71
Pulang Ke Rumah
72
Malam Pertama
73
Fitting
74
Perempuan
75
Barchelor Party
76
Biar Kamu Terbiasa
77
Pernikahan Sagara
78
Jealoussy
79
Terjebak Hujan
80
Kekhawatiran Ayah
81
Tausiyah
82
Buku Harian Sagara
83
Di Suatu Pagi
84
Keluarga
85
Belajar Romantis
86
Belanja
87
Makan
88
Magang
89
Kecemburuan Angga
90
Kamu Bisa?
91
Obrolan Pagi#2
92
Bercanda
93
Punya Anak?
94
Hal Menjengkelkan #2
95
Sibuk
96
Elang
97
Hal kecil
98
Jadi Aneh
99
Pegang Aja?
100
Bekerja
101
Hal Konyol
102
Kangen
103
Tidak Pantas
104
Ingin Nonton Konser
105
Hanya Masa Lalu
106
Tentang Sebuah Rasa
107
Balas Dendam?
108
Baby nya Kangen!
109
Kamu Nakal!
110
Gerah
111
Konser Dan Mancing
112
Ibu
113
Kehilangan
114
Capcai Kenangan dan Kegagalan
115
Check Up
116
Check Up Lagi?
117
Kunjungan Andra
118
Belajar Dan Modus
119
Mandi Lagi?
120
Kangen #2
121
Cuma Cari Perhatian
122
Serius
123
Crash
124
Luka
125
Aku Membutuhkanmu!
126
Buta?
127
Aku Baik-baik Saja
128
Terungkap
129
Tidak Usah Di Bahas
130
Keras Kepala
131
Kabar Baik
132
50 persen
133
Mata Biru
134
Rasa
135
Bayinya Ngambek
136
Buku Harian Maria
137
Rasa Takut
138
Agony
139
Baby!
140
Hari Baru
141
Rania Khaira Yudistira
142
Ekstrapart#1
143
Ekstrapart#2
144
Ekstrapart#3
145
Ekstrapart#4

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!