*
*
Wina berkali-kali melakukan panggilan ke nomor ponsel Angga. Namun pemuda itu tak sekalipun menjawab, padahal ponselnya selalu aktif. Entah mengapa dia mengkhawatirkan pemuda itu setelah mendapat ancaman dari Haris yang telah mengetahui perihal kelakuannya akhir-akhir ini.
Perempuan 35 tahun itu menjatuhkan bokongnya di kursi kerja. Pikirannya melayang pada saat-saat dimana dirinya merasa sudah putus asa dengan hubungan bersama Haris, sang mantan suami yang tidak pernah membiarkannya bebas. Walau status mereka kini sudah tak lagi terikat pernikahan, namun pria itu selalu ikut campur terhadap apapun yang dia lakukan. Apalagi alasannya selain karena pria itu ingin kembali merajut asa dengannya. Membangun kembali mahligai pernikahan yang sudah hancur berantakan karena orang ketiga.
Berkali-kali perempuan cantik 35 tahun itu menolak, namun berkali-kali pula Haris mengusik kehidupan pribadinya.
Dan kini ancamannya malah mengarah kepada pemuda yang selalu menemaninya melewati malam-malam tertentu ketika dirinya butuh hiburan, teman ngobrol dan sekaligus menghangatkan ranjangnya yang tidak pernah dia dapatkan dari Haris saat mereka masih bersama dulu.
Kesibukan Haris di dunia bisnis tambangnya yang sering kali harus pergi keluar pulau menyebabkan mereka tak memiliki banyak waktu bersama. Belum lagi pekerjaannya pula yang sebagai designer top dikota Bandung yang sangat menyita waktu dan perhatian, membuat mereka lupa akan perannya masing-masing sebagai suami istri.
Hingga akhirnya hal itu terjadi juga. Ketika kepulangan Haris dari Kalimantan yang membawa kabar mencengangkan bagi dirinya terutama, tentang sosok seorang perempuan yang berusia beberapa tahun lebih muda darinya. Yang seketika menghancurkan pernikahan yang telah dibangun selama lima tahun.
Namun rupanya mantan suaminya itu tak merasa puas dengan semua yang telah dia lakukan. Satu tahun belakangan, Haris dengan gencar mendekatinya lagi dan mengutarakan niatnya yang ingin kembali. Entah apa penyebabnya, Wina tak ingin tahu. Meskipun penolakan pun sering kali dia lontarkan. Namun pria 37 tahun itu tetap kukuh dengan keinginannya untuk kembali.
Hingga suatu hari Haris menyelidiki dan mendapat informasi tentang hubungannya dengan seorang pemuda yang usianya cukup jauh dibawahnya, maka ancaman demi ancaman lah yang perempuan itu dapatkan.
Padahal dirinya baru saja merasakan sedikit kebahagiaan yang tak pernah didapatkannya bersama siapapun. Bertemu dengan sosok Angga membuatnya kembali merasakan gairah hidup yang indah. Pemuda tersebut kembali membangkitkan semangat hidupnya yang sempat jatuh setelah perceraian yang menguras hati dan pikirannya. Walaupun posisinya hanya sebagai penjual jasa dan pengguna jasa yang dihubungkan oleh kebutuhan masing-masing. Dirinya yang butuh kepuasan, dan Angga yang membutuhkan uang untuk hidup.
Angga yang cuek, Angga yang acuh, Angga yang tak peduli dengan sekelilingnya walaupun profesinya sebagai pria pemuas nafsu para perempuan kesepian seperti dirinya sebenarnya mengharuskan pemuda itu untuk bersikap ramah. Tapi tidak dengan Anggara, dia selalu menjadi dirinya sendiri dengan tetap bersikap tak banyak bicara. Walaupun Winna berkali-kali menyelipkan sindiran halus dalam setiap candaannya ketika mereka bersama. Tapi pemuda itu tetap dengan sikap aslinya yang seperti itu.
Tapi entah mengapa Wina malah menyukainya. Sikapnya yang tak terlalu banyak bicara membuatnya menjadi sedikit misterius, membuat siapapun merasa penasaran dengan sosoknya.
Angga tak pernah melontarkan rayuan gombal seperti yang sering dia dengar dari pemuda sebelumnya, atau pujian berlebihan yang biasanya akan membuat para perempuan pengguna jasanya merasa melambung tinggi. Tidak dengan Angga. Dia akan selalu bersikap cuek, dan membiarkan apapun yang Wina lakukan. Tanpa menginterupsi, atau memuji berlebihan. Membuatnya merasa bebas tanpa harus terlihat terlalu sempurna dimata siapapun. Angga juga menularkan keacuhan yang selama ini tak pernah dimilikinya. Yang biasanya dirinya selalu ingin tampil sempurna dimata orang lain agar selalu mendapat pujian dan decak kagum, tapi Angga membuatnya tak lagi memikirkan pandangan orang lain. Hanya berpikir tentang bagaimana untuk menyenangkan dirinya sendiri tanpa harus khawatir dengan penilaian orang lain terhadapnya.
[Angga, aku ingin bertemu.] sebuah pesan dikirimnya ke nomor ponsel Angga.
Ceklis dua, yang berarti pemuda itu masih aktif, tanda online juga tertera dibawah nama kontaknya. Namun ceklis tersebut belum berubah warna.
Wina menghela napasnya pelan.
*
*
*
*
Angga dan Andra baru saja keluar dari sebuah factory outlet ketika seseorang yang mereka kenal melintas didepan. Kebiasaannya yang selalu berjalan menunduk membuat gadis itu tak menyadari keberadaan orang yang mengenalinya. Maharani lewat begitu saja sebelum akhirnya suara khas itu terdengar memanggil.
"Rani?"
Maharani berhenti melangkah, dia tertegun, lalu celingukan kesana kemari mencari asal suara.
"Rani?" suara terdengar dari belakang, Maharani menoleh. Hatinya mencelos, mengapa dia bertemu mereka lagi? dunia ini rasanya sempit sekali! gumamnya.
"Dari mana lu?" Angga berjalan menghampiri, diikuti Andra. Sementara Maharani mundur beberapa langkah kebelakang.
"Gue nanya, lu dari mana?" Angga mengulang pertanyaan.
Gadis itu terdiam menatap dua pemuda dihadapannya.
Kenapa mereka peduli? kenapa mereka selalu ingin tahu? batinnya.
"Malah bengong? woy!" Angga melambaikan tangannya didepan wajah gadis itu.
Maharani tergagap. "Hah? Ng ... aku habis dari ... mm ... cari kerjaan." jawabnya, terbata.
"Cari kerjaan?" Angga melipat kedua tangannya di dada.
Maharani mengangguk.
"Lu dari kemarin cari kerjaan melulu, apa nggak capek?" tanya Angga lagi, tiba-tiba merasa ingin tahu.
Maharani menggeleng.
"CK!" pemuda itu berdecak kesal.
"Ehm, ..." dehaman Andra menginterupsi.
Angga tersadar dari sikapnya. Dan langsung mengingat sesuatu.
"Ikut gue!" katanya, ditujukan kepada Maharani.
Gadis itu mendongak, membuat tatapan mereka berdua bersirobok. Ada sesuatu yang berdesir didalam hatinya. Tubuh Maharani menegang.
Apa ini? batinnya.
"Malah diem? gue bilang ikut gue!" Angga kembali mengulang kata-katanya.
"Maaf, aku nggak bisa. Aku harus pergi." Maharani menjawab.
"Mau kemana?" Angga bertanya.
"Cari kerja."
"Cari kerja melulu, ..." Angga memutar bola matanya, "Tar gue yang cariin, sekarang ikut gue!" katanya lagi, tiba-tiba menarik lengan kecil gadis itu hingga membuatnya terhuyung.
"Ke-kemana?" Maharani menarik lengannya dari genggaman Angga. Rasa takut tiba-tiba menyeruak.
Pemuda itu menariknya kedalam sebuah kafe yang terletak di pinggir factory outlet tempat mereka berbelanja barusan.
***
Tiga orang itu kini duduk berhadapan. Belum ada yang memulai percakapan, hanya saling diam dan saling pandang.
"Lu mau pesan apa?" Angga mencoba mencairkan suasana canggung ini.
Dua orang didepannya terdiam. Maharani yang terus menunduk, dan Andra yang terus menatap gadis itu dengan tatapan lembut, sesekali senyum kecil muncul disudut bibirnya.
"Gue nanya, lu mau pesan apa?" Angga setengah membentak, membuat Maharani gelagapan.
"Bisa nggak sih, lu nggak usah pake bentak-bentak kalau nanya? kasian anak orang tar sawan denger lu ngomong?" Angga akhirnya menyela.
Angga memutar bola matanya. "Abisnya nih cewek kalau gue tanya jarang jawab. Kalau nggak ngangguk, ya geleng-geleng. Ngeselin." katanya, masih menatap Maharani.
Andra menggelengkan kepalanya.
Pemuda itu melambaikan tangannya kepada waiter didepan. Lalu memesan minuman.
Sepuluh menit kemudian, pesanan mereka pun datang. Satu gelas mocca latte untuknya, colla untuk Angga, da segelas lemon tea dingin untuk Maharani, yang membuat mata bulat gadis itu berbinar seketika. Itu minuman favoritnya!
"Silahkan?" ucap Andra, meraih cangkir mocca latte miliknya, lalu menyesapnya perlahan. Hal yang sama pun dilakukan oleh Angga.
Maharani masih terdiam, sesekali melirik dua pemuda dihadapannya secara bergantian.
"Ayo minum!" Angga berujar, sedikit membuat gadis itu tersentak dengan suara ketusnya.
"CK!" Andra berdecak. "Jangan galak-galak kenapa sih Ga?!"
Dengan pelan Maharani menggerakkan tangannya untuk meraih gelas dimeja, menariknya hingga hampir mendekat, lalu menyesap minuman dingin tersebut.
Rasa dingin memenuhi rongga mulut hingga ke tenggorokannya, membuat gadis itu memejamkan mata. Rasanya segar, membuat lelah dan haus menghilang seketika.
Dua pemuda didepan menatapnya dalam diam, memperhatikan raut menyenangkan yang terpancar diwajah gadis itu ketika dia tersenyum sambil memejamkan mata menikmati minuman dingin yang tersuguh dimeja.
Andra ikut tersenyum melihat ekspresi gadis manis itu.
"Cantik," kata itu tiba-tiba lolos dari mulutnya Angga. Andra menoleh.
"Apa lu bilang?"
"Dia cantik kalau lagi senyum gitu." Angga berbisik.
Andra mengerutkan dahi. "Nggak biasanya lu ngomong kayak gitu."
sahabatnya itu mencebik.
"Makasih," Maharani berucap, membuat pemuda dihadapannya menoleh kearahnya. "Ehm, ..." gadis itu berdeham. "Apa aku bisa pergi sekarang? aku mau cari kerja lagi." ucap Maharani, bicara sedikit lebih lama dari biasanya.
Sebuah senyum terbit disudut bibir Angga. Suara gadis itu terdengar menyenangkan di telinganya. Namun dia segera tersadar, lalu menendang pelan kaki sahabatnya yang berada dibawah meja.
Andra menoleh.
Angga menggendikkan kepala, memberi isyarat kepadanya untuk berbicara.
Andra lalu berdeham, tiba-tiba saja dirinya merasa gugup.
"Kamu nggak kuliah?" akhirnya Andra memulai lagi percakapan.
Maharani mendongak, lalu menatap wajah pemuda tampan itu dengan mata bulatnya yang bening. Lalu menggeleng.
"Kenapa?" tanya Andra lagi.
"Aku cuti."
"Udah berapa lama cuti?"
"Dua Minggu."
"Kenapa cuti?"
"Aku harus kerja." jawab Maharani dengan suara pelan.
"Kenapa kamu kerja?"
"Karena aku harus."
Andra menghela napas pelan.
"Aku mau ngumpulin uang biar tahun depan bisa kuliah lagi." akhirnya gadis itu membuka suara lebih lama.
Tubuh Angga menegang.
"Lu berhenti kuliah gara-gara gue ya?" Angga menginterupsi.
Maharani melirik pemuda itu, lalu menggeleng.
"Lu dipecat dari kerjaan setelah numpahin barang-barang itu ke gue kan?"
Maharani mengangguk.
"Iya, berarti gara-gara gue." Angga merasakan hatinya mencelos. Baru kali ini dia merasa bersalah kepada seseorang.
"Nggak, kok." Maharani menggeleng lagi. "Mungkin aku nggak cocok aja kerja disitu, terlalu banyak orang. Aku nggak bisa." gadis itu berbicara.
"Maksudnya?" Andra mengerutkan dahi.
Maharani menggelengkan kepala, lalu tersenyum sekilas.
"Lu biayain kuliah sendiri?" Angga bertanya lagi.
"Cuma bantu ibu, kasian ibu kerja sendirian." tiba-tiba ingin menjelaskan.
"Bapak lu?"
Deg!!
Maharani merasakan jantungnya meledak ketika mendengar kata itu.
Bapak.
Dalam benaknya langsung hadir bayangan wajah seorang pria dewasa yang sangat dia benci.
Maharani menggelengkan kapala untuk mengusir bayangan mengerikan itu, yang selalu membuatnya bermimpi buruk setiap malam selama dua tahun belakangan.
"Aku harus pulang." Maharani bangkit, "Makasih minumnya. Lain kali kalau aku ada rizki, aku yang traktir kalian ya?" senyuman ceria muncul dibibir merahnya. Lalu segera pergi darisana.
"Gue bakal nyariin lu kerjaan." Angga setengah berteriak sesaat sebelum Maharani mencapai pintu. Gadis itu memutar tubuhnya.
"Makasih, sebelumnya." katanya, lalu melanjutkan langkahnya keluar dari tempat itu.
****
Dua sahabat ini terdiam untuk beberapa saat. Pikiran mereka berputar-putar tak tentu arah.
"Tumben lu ?" Andra memulai pembicaraan.
"Apa?"
"Biasanya lu nggak sepeduli itu sama orang." Andra melanjutkan kalimatnya.
Angga menggendikkan bahu, lalu terdiam lagi.
Kenapa ya gue begitu? kok aneh ... batinnya.
"Mungkin gue ngerasa bersalah aja. Secara nggak langsung dia dipecat gara-gara nabrak gue waktu itu. Kalau aja Tante Wina nggak ngotot ke managernya minta dia dipecat mungkin sekarang ini dia masih kerja. Dan masih kuliah."
"Dan lu peduli?"
Angga mencebik.
"Tenang, bro! gue nggak akan nikung lu." Angga menepuk pundak sahabatnya sambil tertawa.
"Maksud lu?" tubuh Andra menegang.
"Gue tahu lu suka sama dia. hahaha..." pemuda itu tergelak.
"Lu ngaco!" Andra memalingkan wajah kesisi lain agar sahabatnya tidak melihat rona merah di pipinya yang mulai memanas.
"Helehh, ... kagak usah pura-pura. Tampang lu yang sekarang ini tampang-tampang bucin sebentar lagi. Lihat aja."
"Sembarangan lu."
Angga semakin tergelak hingga kepalanya tertarik kebelakang.
*
*
*
*
Bersambung ...
Anggara Yudistira
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
Cici_sleman
knp angga mirip yg lg viral skg y,, mayted.
mayor tedy pengawal pk gemoy😅
2024-03-24
0
Cici_sleman
g cm nikung aj, tp nikh e jg sm angga🤣
2024-03-24
0
Bonaria Marmata
gantengnya kebangetan,,,,,,😘😘😘😘😘
2022-04-12
1