The Past (Masa lalu)
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Caraka hanya tersenyum melihat Kirana yang cemberut selama perjalan pulang dari Sentul.
“Hari ini, kamu sudah izin kan?”
Kirana mengangguk-anggukan kepala, membuat Caraka kembali menahan senyum.
“Kita main dulu … mau ke mall?”
Kirana langsung menggelengkan kepala.
“Puncak?”
Kirana terdiam beberapa saat terlihat berpikir sebelum kembali menggelengkan kepala.
“Dufan?”
Kirana menatap Caraka dengan pandangan horor membuat Caraka tertawa.
“Hmmm … pantai?”
Kirana kembali terdiam terlihat berpikir sebelum akhirnya dia mengangkat bahu, membuat Caraka kembali tertawa sambil berkata,
“Oke! Kita ke pantai.”
Perjalanan dari Sentul menuju Ancol cukup memakan waktu dengan jalanan yang padat. Tidak aneh bagi warga Jakarta ketika harus menghadapi kemacetan bahkan ketika di jalan tol sekalipun, tapi menghadapi kemacetan dalam keheningan … itu bukan sesuatu yang menyenangkan.
Sepanjang jalan Caraka mencoba memecah keheningan dengan menceritakan segala macam, tapi itu tidak berhasil, Kirana masih terdiam. Dia hanya menanggapi dengan … hmmm, iya, tidak, terserah dan jawaban pendek lainnya.
Caraka hanya bisa mengehela napas melihat tingkah Kirana, dan akhirnya menyerah dengan hanya membiarkan musik-musik yang mengalun lembut menemani sisa perjalannya.
Sebetulnya dia bisa menebak alasan Kirana marah seperti sekarang … sepertinya Sherly si lalat hijau yang tadi Kirana sebutkan ketika ke luar dari toilet, telah mengatakan atau menyinggung sesuatu. Caraka sadar cepat atau lambat Kirana harus mengetahui masa lalunya, dan dia mau Kirana mendengarnya langsung dari mulutnya sendiri bukan dari mulut orang lain.
Sekaranglah saatnya, tapi tidak di sini … berbicara di antar kemacetan jalanan Ibu Kota bukanlah pilihan yang tepat. Dia harus mencari tempat yang benar-benar nyaman untuk mereka berbicara.
Sekitar jam empat, mereka telah memasuki Ancol. Caraka membelokkan mobilnya ke arah Masjid Baiturrahman, kemudian memarkirkannya.
“Kita sholat ashar dulu, mumpung masih ada waktu.”
“Di dalam ada mukena tidak ya? Lupa tadi tidak bawa mukena.”
“Ah! Hampir lupa.” Caraka membalikkan badannya mengambil paper bag dari kursi belakang. “Aku sengaja membelinya untukmu, biar kamu tidak repot bawa mukena kalau kita jalan.”
Kirana melihat isi paper bag, kemudian mengeluarkannya. Sebuah tas mukena berwarna peach dengan bunga-bunga kecil yang sangat cantik. Kirana terdiam beberapa saat memandangi tas mukena itu, ada rasa haru yang tiba-tiba dirasakannya.
“Suka?”
Kirana mengalihkan tatapannya ke arah Caraka kemudian mengangguk.
“Suka sekali … terima kasih banyak.”
Caraka tersenyum sambil mengelus rambut Kirana.
“Kita shalat sekarang?”
Kirana mengangguk sebagai jawaban. Mereka bersama-sama berjalan menuju masjid yang terlihat sejuk. Bangunan teras depan terlihat sangat luas dengan mengusung tema seperti pendopo Jawa yang luas dengan disangga beberapa pilar besar, terlihat beberapa orang yang sepertinya wisatawan tengah duduk beristirahat berkerumun bersama sanak saudara mereka.
Tempat wudhu yang berada di luar terlihat nyaman dan bersih dengan beberapa keran air yang menempel di dinding batu alam berwarna hitam, selaras dengan lantainya. Setelah berwudhu Kirana masuk dalam masjid yang terasa sejuk dari pendingin ruangan yang terpasang membuat suasa dan hati semakin damai dan khusyuk saat shalat.
Setelah selesai shalat Caraka dan Kirana kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju pantai Ancol. Caraka kembali memarkirkan mobilnya, kemudian mereka mulai berjalan di promenade atau jalan setapak seperti jembatan di sepanjang garis pantai Ancol yang mengitari bibir pantai.
Berjalan di jembatan jalan setapak dari kayu, angin pantai yang menyejukan, matahari yang sudah tak begitu terik, dan biru laut yang berpadu dengan putihnya awan di langit. Pemandangan yang memberi kenyamanan bagi semua orang bukan? Ditambah berjalan sambil bergandengan tangan dengan orang yang kita sayangi. Semua sangat sempurna, Kirana pun sudah tidak secemberut tadi lagi, dia sudah mulai tersenyum dan menimpali percakapan Caraka seperti biasanya.
“Sudah tidak marah lagi?” Caraka bertanya setelah mereka duduk di salah satu kursi yang berada di restoran The bridge. Sebuah restoran yang berada di tengah jembatan Ancol dengan tenda putih, dan kursi-kursi dengan warna senada.
“Aku tidak marah, hanya … sedikit kesal.”
“Kesal?”
“Iya, kesal … aarrgghhh, seandainya tadi bukan di acara salah satu kenalanmu, aku akan dengan senang hati main cakar-cakaran, atau jambak-jambakan dengan si Mumu Peri.”
“Mumu Peri?” Caraka terlihat bingung tak mengerti dengan apa yang dibicarakan Kirana.
“Iya, Mumu Peri … mantan yang tak bisa move on!”
“Ah!” Caraka tersenyum mengetahui siapa itu Mumu Peri. “Bukankah tadi kamu bilang dia … lalat hijau?”
“Iya Mumu Peri yang dikutuk jadi lalat hijau, karena tidak bisa move on dari Pangeran.”
“Hahahaha.”
“Awas, jangan berani-berani menciumnya untuk menghilangkan kutukan!”
“Tidak … aku tak mau ikut dikutuk jadi katak.”
Kirana berdecak sambil tersenyum. Matanya kini memandang lautan dengan langit yang sudah mulai menua, berlatar bangunan-bangunan tinggi pencakar langit.
“Jadi … apa yang dia katakan padamu? Apa dia menyinggung masa lalu kami?”
Sesaat Kirana terdiam menatap Caraka yang juga tengah menatapnya.
“Apa ada cerita masa lalu kalian yang tidak seharusnya aku tahu?”
Caraka terdiam kemudian tersenyum.
“Tidak … tidak ada yang aku sembunyikan, hanya saja aku ingin kamu mendengar cerita masa laluku dari mulutku langsung bukan dari mulut orang lain, apalagi dari mantan yang tidak bisa move on.”
Seorang pelayan membawa pesanan minuman mereka. Blue lemonade punch, segelas minuman soda berwarna biru dengan potongan lemon untuk Caraka, dan rasberrry lemonade punch yang berwarna merah dengan buah beri dan potongan lemon di dalamnya untuk Kirana.
“Seperti yang pernah aku ceritakan … masa laluku tidaklah terlalu lurus, malah banyak belokannya.” Caraka memulai ceritanya ketika pelayan pergi.
“Balapan liar, tawuran, bahkan … perempuan.”
Kirana terperangah mendengar ucapan terakhir Caraka.
“Tidak. Bukan yang seperti kamu bayangkan.”
Kirana menghela napas lega mendengarnya.
“Aku tahu batasanku ketika harus berhadapan dengan perempuan … tapi aku tak akan berbohong dengan mengatakan kalau aku tak pernah berciuman … itu bull shit! Tentu saja aku pernah melakukannya.”
“Stop!” potong Kirana. “Bisa kita skip bagian itu? Biarkan itu hanya menjadi rahasiamu.”
“Aku hanya tak ingin ada rahasia di antara kita.”
“Masalah lain tentu saja tidak boleh ada rahasia, tapi soal … kissing? Apa aku harus mendengar kamu telah berciuman dengan berapa orang perempuan dan bagaimana kalian berciuman? Tidak terima kasih, lebih baik itu menjadi rahasia pribadimu saja.”
Kirana meneguk minuman bersoda yang terasa segar untuk meredakan panas yang menguasai hatinya. Hei! Bagaimana tidak panas ketika mendengar kekasih kita berciuman dengan perempuan lain. Ya, walaupun itu terjadi sebelum Caraka berhubungan dengannya, tapi tetap saja membayangkan dia melakukan itu dengan perempuan lain? Tidak! dia tidak ingin membayangkannya.
“Baiklah … tapi kamu juga harus tahu, bahwa tidak sedikit juga perempuan yang dengan suka rela menyerahkan dirinya padaku.”
“Uhuk-uhuk-uhuk!!!” Seketika Kiran tersedak dan terbatuk-batuk mendengar pengakuan Caraka.
“Kamu tidak apa-apa?” Caraka menjulurkan tangannya untuk menepuk-nepuk Kirana.
“Sudah aku bilang … skip! Past! Lewat!” Kirana menatap Caraka dengan tatapan horor.
“Baiklah … skip, past, lewat.”
Kirana mengangguk puas dengan ucapan Caraka, tapi kemudian wajahnya terlihat penasaran. Beberapa kali dia menatap Caraka, mulutnya sudah ingin mengucap sesuatu, tapi dia urungkan. Caraka yang melihat itu berusaha menahan tawa dengan menyeruput minumannya, tak berapa lama Kirana pun menyerah dengan mengungkapkan apa yang membuatnya penasaran. Kirana dan rasa penasarannya.
“Hmmm … tapi … kamu tidak … mmm … itu kan?”
“Itu kan? Apa?”
“Itu … yang menyerahkan diri … kamu tidak … menerimanya kan?”
Caraka tersenyum mendengar pertanyaan Kirana.
“Skip! Past! Lewat!”
“Ckkk!”
“Hahaha … tidak, sudah ku katakan, aku tahu batasanku tentang perempuan, kamu tidak perlu khawatir.”
Kirana tersenyum, ada kelegaan di sana … dia harus dan akan menerima masa lalu Caraka apapun itu, tapi mengetahui kalau Caraka bisa menahan dan tidak tergoda oleh nafsu membuatnya bertambah yakin kalau dia tidak salah karena telah menyerahkan hatinya kepada seorang Caraka Benua.
“Kenakalanku di masa lalu mungkin hanya kenakalan yang biasa anak-anak lelaki seusiaku dulu lakukan, tawuran, balapan liar, tapi … ketika tinggal di luar aku pernah minum-minuman keras, bahkan obat-obatan terlarang, dan hampir terjerumus dalam dunia gelap.”
Kirana membelalakan mata terkejut. Caraka hanya tersenyum miris sambil meyulut rokoknya, matanya menerawang mengingat masa lalunya yang cukup kelam.
“Namun, Allah ternyata sangat menyayangiku … disaat aku mulai terjerumus dalam dunia gelap, aku dipertemukan dengan Darek, temanku yang dari Jerman. Aku sudah menceritakannya kan?”
Kirana mengangguk mengingat Caraka pernah menceritakannya tentang teman muslimnya yang berasal dari Jerman. Caraka kembali menghisap rokoknya sebelum melanjutkan ceritanya.
“Darek mengenalkanku pada Abdul yang berasal dari Serawak- Malaysia dan Hafiz dari Lampung … dari mereka bertiga inilah aku belajar agama dengan sungguh-sungguh, minimal aku jadi tahu bacaan shalat, dan sedikit-sedikit mengenal huruf hijaiyah. Dari sana lah aku mulai meninggalkan dunia kelamku, minuman beralkohol, dunia malam, obat-obatan terlarang, pelan-pelan aku meninggalkannya. Dan aku patut bersyukur karena aku bisa lepas dari itu semua.”
Kirana tersenyum, tangannya menggengam tangan Caraka yang dibalas caraka dengan senyuman.
“Itulah masa lalu ku … aku bukan Pangeran sempurna seperti yang selama ini semua orang bayangkan. Hidupku bahkan jauh dari kata sempurna … I’m just human being, not a perfect Prince (Aku hanya manusia biasa, bukan Pangeran yang sempurna).”
Kirana masih terdiam dengan tangan masih menggenggam tangan Caraka, matanya memandangnya dengan penuh kasih sayang.
“Terima kasih untuk menjadi manusia biasa yang tidak sempurna … dan terima kasih untuk menjadi dirimu yang sekarang, yang membuatku menyerah dan akhirnya jatuh cinta pada sosok seorang Caraka Benua, terlepas dia seorang Pangeran atau bukan, bagiku kamu adalah kamu … just the way you are.”
Untuk pertama kalinya hati Caraka bergetar mendengar perkataan seorang perempuan, dan untuk pertama kalinya dia mendengar seseorang berterima kasih padanya karena ketidak sempurnaannya.
Selama ini dia selalu bertanya apakah ada perempuan yang menyukainya karena dia Caraka Benua, manusia biasa yang jauh dari kata sempurna? Bukan Caraka Benua sebagai putra sulung keluarga Mahesa yang dijuluki Pangeran perhotelan Indonesia?
Dan kini jawaban itu ada di hadapannya, gadis yang tengah menggenggam tangannya, tersenyum lembut dan mentapnya dengan penuh kasih kasih sayang … iya, dia adalah Kirana Az Zahra, jawaban yang Allah berikan padanya atas pertanyaan-pertanyaannya selama ini.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Sandisalbiah
perasan nereka tulus.. saling mengagumi krn ke elokan pribadi mereka tp akankah perjalanan nereka bakal mulus seperti rasa yg ada di antara mereka??
2024-12-28
0
Reni Ajja Dech
🤣🤣🤣🤣🤣😂😂😂😂😂
2024-11-15
0
sakura🇵🇸
skip next lanjut dah kayak main kuis😄😄😄 tp ternyata tetep kepo juga
2023-11-08
1